Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_29. Siapa Raka?


__ADS_3

Vivi duduk dengan angkuh di antara keempat temannya. Dibandingkan dengan wajah Vivi yang masih mempertahankan sisi arogan nya, keempat yang lainnya berwajah pucat. Mereka tahu betul mereka dipanggil oleh pak Yono. Vivi masih bisa mempertahankan martabatnya dan menganggap dirinya tidak bersalah. Berdirinya belakangnya adalah papanya yang berkuasa. Tetapi mereka berbeda.


"Saya benar-benar tidak menyangka kalian berani melakukan hal tercela seperti itu." Pak Yono berkata menatap satu persatu gadis yang duduk di depannya. Saat ia melihat tampilan Vivi yang tanpa merasa bersalah, dia menggelengkan kepalanya. Karakter gadis ini benar-benar sudah rusak.


Pak Yono tidak sendiri di dalam ruangan. Beberapa guru juga ada di dalam sebagai saksi. Mereka juga menghela napas mereka melihat anak didik mereka yang mengembangkan karakter seperti itu. Siswa yang bersekolah di sekolah mereka memang memiliki latar belakang yang tidak bisa diremehkan. Tetapi selama ini, tidak ada dari mereka yang akan begitu arogan dan memiliki niat mencelakai temannya dengan cara yang begitu tidak terduga.


"Jangan berbelit-belit pak. Apa tujuan bapak memanggil kamu di sini?" Vivi menantang pak Yono. Ia tidak percaya dengan status papanya, masih ada yang akan berani menggertaknya.


"Saya yakin kalian lebih tahu daripada saya. Tolong jelaskan bagaimana kuda itu bisa terpelas dari kandangnya dan mengamuk di arena latihan?" Pak Yono dengan geram memandang Vivi dengan tajam. .


"Apa? Kami tidak mengerti." Vivi melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya.


"Dea, Kesya, ada yang bisa menjelaskan?" Pak Yono mengalihkan pandangannya pada dua gadis yang terlihat meringkuk ketakutan.


Vivi langsung mengalihkan pandangannya pada kedua temannya. Mengancam dengan tatapan matanya untuk melarang teman-temannya itu untuk diam. Tidak membocorkan rahasia mereka.


Dea dan Kesya melirik Vivi ketakutan. Pak Yono dengan jelas melihat itu.


"Dea... Kesya..." pak Yono merendahkan suaranya. Namun keduanya masih membungkam mulut mereka.


"Sebenarnya kami tidak membutuhkan pengakuan dari kalian. Kami sudah memiliki bukti untuk membuktikan keterlibatan kalian. Di sini, kami hanya ingin melihat sampai dimana keberanian kalian. Tidak menyangka, ck ck ck..." pak Yono menggelengkan kepalanya. Menatap kalimat anak didikan ya dengan kecewa.


Dea dan Kesya saling memandang sebelum mereka akhirnya bersuara.


"Kami tidak tahu menahu pak. Semuanya rencananya Vivi. Kami dipaksa untuk menurutinya." Dea berkata dengan takut.


"Dea! Apa yang kamu katakan? Beranikan kamu mengkhianati ku!" Vivi meraung marah. Bersiap untuk menerkam Dea. Tapi Dea menghindar dan bersembunyi di belakang Kesya.


"Hentikan Vivi! Kami masih di sini. Apa kamu tidak memandang kami sama sekali?" Pak Yono menghardik Vivi.


"Kamu bersalah dan masih berkelit." UcUcap pak Yono geram.


"Bapak menuduhku hanya karena pengakuan Dea yang tanpa dasar?" Vivi mengejek ke arah Pak Yono.

__ADS_1


"Pak Diki, tolong beritahu mereka buktinya." Pak Yono memandang Guru muda yang menunggu di salah satu sudut ruangan.


Bukti jelas di tunjukkan. Wajah Vivi mulai kehilangan warnanya. Antara marah Dan khawatir. Dia yakin jika di sekitar tidak ada kamera CCTV yang dipasang. Lagipula peternakan sangatlah luas. Jadi menurut mereka tidak mungkin untuk memasang CCTV di setiap sudut. Jadi darimana bukti itu didapat?


Dea dan Kesya sudah menangis sejak tadi. Sedangkan Lita dan Candra mulai berkaca-kaca. Mereka tahu bahwa nasib mereka kini berada dalam bahaya.  Bagaimana jika pihak peternakan melaporkan mereka ke pihak berwajib? Masa depan mereka dipertaruhkan.


"Jadi, bagaimana kalian akan menjelaskan semuanya?" Pak Yono memandang mereka bergantian.


"Lalu apa? Itu hanya kuda." Vivi masih berkeras.


"Itu memang kuda. Tetapi, apa kalian tahu jika kalian melepaskan kuda itu begitu saja bisa melukai banyak orang? Apa kalian berpikir itu hanyalah kuda mainan?" Pak Yono semakin murka. Dia berusaha untuk meminta keringanan hukuman dan membela anak didiknya ini. Dia masih berharap bisa merubah Vivi menjadi lebih baik dan mengerti kesalahannya. Tidak tahunya reaksinya akan begitu mengecewakan.


Vivi diam dan tidak menjawab.


"Kamu minta maaf pak. Kami benar-benar tidak berpikir jernih saat itu." Candra yang paling bisa berpikir cepat diantara mereka. Jadi dia tahu untuk saat ini tidak ada cara untuk mengeluarkan diri mereka selain dengan meminta maaf dan mengakui bahwa mereka terlalu impulsif.


"Kalian beruntung karena pemilik peternakan masih mau memberi keringanan kepada kalian dengan tidak membawa kasus ini ke polisi. Sebagai gantinya, kalian akan diberi hukuman." Pak Yono berkata dengan suara rendah.


"Kami akan melakukan apapun hukumannya. Tapi tolong jangan laporkan kami ke polisi." Dea semakin takut setelah mendengar kata polisi.


Vivi mendengus kesal. Wajahnya dipenuhi dengan kebencian. Baginya, daripada mengakui bahwa dia bersalah danenerima kekalahannya, ia akan lebih memilih mempertahankan harga dirinya. Berlian tahu betul semua itu, jadi dia tidak menginginkan permintaan maaf dari Vivi yang hanya akan berkata tanpa niat. Tidak dari hatinya. Itu akan percuma.


"Apa kamu yakin hanya akan menghukum mereka seperti itu?" Johan bertanya pada Berlian yang sedang memberikan rumput pada Aspradia. Mereka berdua ada di dalam kandang pemulihan.


"Ya. Kenapa?" Berlian mengangguk dan menoleh pada Johan.


"Kamu bisa memaksanya untuk meminta maaf padamu. Atau, kamu bisa membuatnya mengakui kesalahannya di depan semua orang. Kenapa kamu harus menahannya?"


Berlian menepuk kepala Aspradia sebelum ia menepuk tangannya sendiri dan berjalan mendekati Johan. "Karena dia tidak akan mau."


"Meskipun dia tidak mau, dia akan melakukannya."


"Tidak ada manfaat sama sekali yang dapat diambil dari permintaan maaf yang seperti itu kak. Yang ada, dia akan semakin memupuk kebenciannya."

__ADS_1


Johan memperhatikan Berlian yang masih fokus pada Aspradia. Dia sudah mengetahui jika Berlian adalah gadis yang baik. Dan bisa berpikir jernih.


"Kamu benar. Tetapi, aku masih merasa kamu terlalu bermurah hati."


Vivi dan teman-temannya dihukum untuk membersihkan kandang kuda di sisa hari itu sebelum mereka akan kembali pulang besok pagi. Meskipun hukuman itu termasuk ringan untuk masalah besar yang mereka timbulkan, tetapi hukuman seperti itulah yang paling sesuai untuk mereka.


Bagi gadis manja yang terbiasa berkuasa seperti Vivi dan teman-temannya, hilangnya harga dirinya akan menjadi hal yang paling tidak mereka inginkan. Mereka akan lebih memilih mereka terluka fisik daripada harga diri mereka yang terluka.


Dengan hmereka yang harus menjalankan hukuman membersihkan kandang kuda, meskipun hampir semua orang tidak mengetahui mereka dihukum untuk kesalahan apa, tetapi dengan mereka dihukum saja itu udah membuktikan bahwa mereka bersalah.


Saat keduanya hanya terdiam satu sama lain, susuara Vivi dan teman-temannya terdengar dari luar. Karena kandang pemulihan Aspradia tertutup, mereka tidak mengetahui jika Berlian dan Johan ada di sana.


"Sudahlah, jangan terus menggerutu! Kita harus menyelesaikannya dengan cepat." Lita kesal karena dari awal Vivi dan Candra menggerutu.


"Apa yang bisa aku lakukan?  Kandang ini begitu bau! Aku sudah memakai masker berlapis-lapis dan masih bisa mencium bau busuk!" Vivi melemparkan sapu di tangannya.


"Ini semua karena Berlian! Dia hanya anak baru, kenapa dia bisa mendapatkan perhatian dari kak Raka?!" Lanjut Vivi.


"Sudah Vi. Kita bisa cari cara lain untuk membalas Berlian itu nanti. Sekarang lebih baik kita selesaikan semua ini. Jangan sampai mereka melaporkan kita ke kantor polisi. " Candra berusaha menenangkan Vivi.


"Kamu dari Tadi bilang seperti itu. Mana orang yang kamu bilang akan membantu kita hahahaha?" Teriak Vivi marah.


"Mereka sebentar lagi akan sampai. Kita harus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Jadi dia hanya bisa datang salah tugas mereka selesai."


Tepat setelah Candra berbicara, dua orang laki-laki berpakaian seragam petugas peternakan datang menghampiri mereka. Mereka meminta maaf sebelum mengambil alat kebersihan dan mulai membersihkan kandang kuda.


Di dalam ruang pemulihan, Johan menatap Berlian. Matanya memicingkan menatap tajam Berlian.


"Siapa Raka?"


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2