
Kejadian di kantin saat istirahat pertama langsung menjadi topik pembicaraan. Selama ini sudah beredar tentang bagaimana sikap Berlian. Gadis dingin yang cuek. Yang paling sering diucapkan saat para siswa lain menilai Berlian adalah bahwa dia adalah seorang gadis yang sombong yang tidak suka bersosialisasi dengan siswa lainnya.
Memang bukan salah juga jika menilai Berlian adalah gadis yang dingin dan tidak suka bersosialisasi. Tetapi tidak bisa dikatakan juga jika Berlian adalah seorang gadis sombong. Faktanya, Berlian hanya tidak menyukai keramaian dan juga tidak menyukai sesuatu hal remeh yang suka dibuat ribet oleh kebanyakan gadis pada umumnya. Yah! Berlian tidak cocok bergaul dengan mereka yang hanya suka mencampuri urusan orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Itulah yang menyebabkan Berlian dicap sebagai gadis sombong.
Rezvan juga mendengar gosip itu tentu saja. Jadi saat istirahat kedua, ia tidak tidur seperti biasanya tetapi menemani Berlian pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan bacaan yang mungkin menarik perhatiannya daripada menggunakan waktu unui hal yang sia-sia. Clara juga masih sibuk dengan organisasi nya. Clara bahkan tidak sempat membuka ponsel untuk mengetahui gosip mengenai Berlian, jadi Berlian tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Rezvan ikut dengannya.
"Mau cari buku apa?" Tanya Rezvan saat ia mengikuti Berlian dari belakang.
"Entahlah. Yang penting enak dibaca." Jawab Berlian berbohong. Ia tidak mungkin memberi tahukannya pada Rezvan atau pemuda itu mungkin akan menertawakannya. Setelahendengar jawaban ini Rezvan hanya membulatkan mulutnya mengerti. Ini noal baginya untuk tidak tahu apa yang ingin dibaca. Karnwa ia juga selalu seperti itu. Rezvan pun juga mengambil beberapa buku dan membaca judulnya sekilas lalu mengembalikannya. Baginya, buku ini tidak ada yang menarik.
"Aku menunggumu di sana ya. Aku mengantuk." Rezvan akhirnya menyerah meskipun ia baru lima menit mengikuti Berlian. Matanya terasa berat. Dua jam pelajaran sebelumnya ia sudah berjuang keras untuk bertahan membuka mata sepanjang pelajaran.
"Oke." Berlian mengangguk dan melirik sekilas Rezvan yang berjalan pergi sebelum ia kembali mengambil beberapa buku untuk ukuran ia Baca judulnya. Jika judulnya sepertinya menarik, ia akan membaca sinopsisnya. Jika sinopsisnya juga bagus ia akan membacanya. Tapi jika tidak, ia akan mengabaikan dan mencari lagi.
"Perlu bantuan?" Tanya seseorang di belakang Berlian saat ia berusaha mengambil buku di rak teratas. Judul bukunya terlihat menarik.
Berlian sebenarnya tidak bisa disebut pendek, tingginya saat ini memang masih belum berkembang dengan sempurna. Dengan tinggi mencapai seratus enam puluh lima di usia enam belas tahun. Tingginya masih bisa bertambah lagi. Dan rak tempat buku yang menarik perhatian Berlian memang cukup tinggi hingga Berlian harus berjinjit untuk dapat mengambilnya.
Namun saat tangannya baru saja memegang ujung buk itu, suara itu membuatnya terkejut. Berlian menoleh dan menemukan Raka berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Senyumnya terlihat sangat hangat. Kini Berlian tahu apa yang membuat para gadis di sekolah ini mengidolakan Raka. Itu tidak hanya karena penampilannya memang menarik, tetapi senyum dan sifatnya yang ramah.
"Terima kasih sebelumnya. Kalau tidak merepotkan tolong bilangin buku bersampul kuning itu." Ucap Berlian.
"Tentu saja tidak masalah. Biar aku ambilkan." Jawab Raka sambil mempertahankan senyumnya. Berlian menggeser tubuhnya ke belakang agar Raka bisa mengambilkan bukunya dengan mudah.
"Oh.. Kamu suka membaca novel detektif ternyata." Raka membaca judul buku itu sebelum memberikannya pada Berlian.
__ADS_1
"Sedikit. Terima kasih." Ucap Berlian tulus saat ia menerima buku dari Raka. Tidak bisa dikatakan suka juga. Sebenarnya Berlian sedangencari referensi untuk kasus yang diambil Deep Line akhir-akhir ini. Kasus pembunuhan satu keluaraga konglomerat di negara C. Kasus ini diambil dan ditangani oleh 'Star Menari' dan 'Sun Bercahaya' karena merekalah yang tinggal di negara itu.
Tetapi, meskipun begitu anggota yang lain akan terus mengawasi perkembangan kasus itu dan mencoba untuk membantu menyelesaikan kasus. Berlian belum pernah berurusan dengan masalah pembunuhan seperti ini sebelumnya. Lagi pula dia hanya seorang gadis enam belas tahun yang bergabung dengan Deep Line karena ia ingin memperdalam ilmu penyadapannya. Jadi saat ada kasus seperti ini Berlian benar-benar tidak tahu apa yang akan ia lakukan.
"Sama-sama. Kamu sudah mengucapkan terima kasih tadi. Satu saja cukup." Berlian mengangguk. Berlian segera pamit untuk pergi ke bangku yang memang disediakan untuk tempat membaca. Di sana sudah ada Rezvan yang meletakkan kepalanya di atas meja. Ia menggunakan tangannya sebagai bantal. Berlian hanya menggelengkan kepalanya pelan melihatnya ini. Dimanapun berada, Rezvan sangat mudah tertidur. Inilah kelebihan Rezvan selain wajahnya yang tampan.
Berlian duduk di sampingnya. Ada satu bangku kosong di antara mereka. Membuka bukunya dan mulai membaca.
Di ujung rak buku, Raka yang sudah hampir melangkah menghampiri Berlian mengurungkan niatnya saat melihat Rezvan ada di sebelah gadis itu. Ia meletakkan buku yang dibawanya sembarangan di antara buku di dalam rak dan berbalik arah. Keluar dari perpustakaan.
Sepertiga buku telah dibaca oleh Berlian, tapi apa yang dicarinya masih belum dapat ia temukan. Jadi ia memutuskan untuk meminjamnya untuk dibawa pulang karena melihat jam ditangannya yang hampir mendekati waktu masuk.
"Bangun Van. Aku sudah selesai." Berlian menggoyangkan lengan Rezvan untuk membangunkan teman tampan tukang tidurnya itu.
Rezvan mengerjapkan mata merahnya dan menguceknya dengan malas. "Kamu kembalilah dulu. Aku masih ingin di sini." Ucap Rezvan sambil menguap.
Berlian keluar dari perpustakaan sambil membawa sebuah buku di tangannya. Ia berjalan dengan santai di koridor yang panjang. Letak perpustakaan memang agak jauh dari kelasnya. Lagipula siswa kelas IPS kebanyakan tidak suka berkunjung ke perpustakaan.
"Way! Berhenti!" Sekelompok siswi tiba-tiba menghampiri Berlian dan menghalangi jalannya.
Berlian menaikkan alisnya dengan menatap lima gadis di depannya dengan tatapan tidak mengerti. Lima siswi itu sebenarnya adalah kakak kelasnya. Mereka semua duduk di kelas sebelas. Dari bet yang dikenakan kelimanya, mereka semua adalah siswa IPS. Sama sepertinya.
"Ada apa?" Tanya Berlian santai.
"Jangan belagu jadi cewek!" Salah satu dari kelima siswi itu menunjuk Berlian tajam dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
''Apa maksudnya?" Tanya Berlian lagi. Berlian benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud gadis di depannya ini. Ia juga jarang membuka grup forum OSIS. Jadi ia tidak tahu gosip apa yang sedang dihadapinya. Berlian mengira itu masih enten ai kak Johan yang sudah satu bulan ia paksa untuk bersembunyi di dalam mobil.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Semua siswa di sekolah ini tahu bahwa aku, Vivi yang paling cocok untuk kak Raka. Sebaiknya Kamu tahu diri dan menjauh darinya."
Berlian diam. Kini ia tahu apa yang dimaksud para gadis di depannya ini. Mereka pasti salah sangka padanya tentang kejadian siang tadi di kantin. Mereka pasti mengira kalau ia yang sengaja mencari perhatian pada Raka.
"Satu, aku dan kak Raka tidak dekat. Dua, aku tidak berniat mendekat. Paham?" Jawab Berlian sambil melangkah dengan acuh melewati lima gadis itu.
Jawaban yang diberikan Berlian membuat kelimanya tidak puas. Mereka benar-benar tidak menyangka jawaban Berlian. Mereka berharap jika Berlian akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan bukan malah mengatakan bahwa ia tidak berniat mendekati Raka! Bukankah ini mustahil? Setiap gadis di sekolah pasti memiliki keinginan itu.
Vivi melirik teman-temannya. Dua diantara mereka mengangguk dan maju, lalu merentangkan tangan mereka untuk memblokir langkah Berlian. Sedangkan dua lainnya merentangkan kaki mereka untuk menjegal Berlian. Vivi tersenyum menang melihat Berlian yang sudah dikepung.
Tapi Berlian juga bukan gadis yang dapat diintimidasi dengan mudah. Keterampilan dasar beladiri Berlian juga cukup mampu untuk melindungi dirinya jika ada lima datau enam pria yang mengepungnya. Jadi, empat gadis di depannya ini bukan apa-apa untuknya.
Dengan lincah Berlian bergerak menghindari kaki-kaki yang akan menjebaknya. Lalu dengan masing-masing Satu gerakan, ia telah memukul tangan-tangan yang menghalangi jalannya.
Dalam sekejap keadaan berbalik. Empat gadis yang memblokirnya telah ajalah di lantai dngan kesakitan. Mereka memandang Berlian tidak percaya. Melihat penampilan Berlian mereka tidak menyangka jika keterampilan Berlian ternyata cukup bagus.
"Aku memang tidak suka berurusan dengan orang lain. Tapi aku tidak akan membiarkan diriku tertindas." Ucap Berlian memandang keempat gadis yang terduduk di lantai.
Lalu pandangan matanya mengarah pada Vivi dengan dingin. Tatapannya penuh dengan ancaman. Membuat Vivi merasa dingin dil punggungnya. "Jangan mengira semua orang itu lemah. Kucing yang sudah jinak pun akan menggigit saat ekornya diinjak." Berlian mendengus saat ia berbalik dan meninggalkan lima gadis yang tidak percaya mereka.mereka.baru saja dikalahkan.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~