
Sylvia tidak bisa berhenti tertawa saat melihat Berlian turun dengan plastik merah di luar baju seragamnya. Hari ini MOS terakhir. Panitia MOS memberikan perintah untuk memakai plastik merah. Tas sekolahnya juga diganti dengan menggunakan plastik hitam. Untuk siswa perempuan, rambut mereka harus dikuncir menjadi tujuh dengan menggunakan pita yang berbeda warna. Sedangkan yang laki-laki menggambari pipi mereka dengan bentuk kumis.
Jika bukan karena terpaksa, ia juga tidak akan memakainya. Hukuman jika tidak memakainya adalah dengan menyanyi di tengah lapangan. Ini pasti memalukan. Jadi mau tidak mau ia harus mengenakannya.
"Jangan mengolok kakakmu Sylvia. Kalau tidak, di masa depan kakakmu juga akan menertawakanmu melebihi saat ini. Kamu juga belum melewati MOS SMP. Jadi kamu akan ditertawakan dua kali." Tegur Evelyn yang berjalan di belakang Berlian. Ia menunjukkan dua buah jarinya di depan Sylvia agar berhenti mengolok penampilan Berlian.
Sejak pagi Evelyn sudah membantu Berlian bersiap. Itulah mengapa Evelyn tidak sempat untuk membuatkan sarapan untuk keluarganya.
Awalnya Evelyn juga tercengang saat mendengar permintaan Berlian sambil membawa atribut yang harus dipakainya. Melihat keengganan Berlian, awalnya Evelyn menyarankan agar Berlian tidak perlu masuk. Tetapi Berlian menolak. Berlian bukan siswa yang tidak taat. Akhirnya Evelyn membesarkan hati Berlian dan terus menghiburnya saat ia menatap rambut Berlian menjadi bentuk yang aneh itu.
Johan juga terkejut melihat penampilan Berlian pagi ini. Ia menahan senyumnya saat Berlian semakin dekat.
"Tidak perlu ditahan. Nanti jadi jerawat." Dengus Berlian saat ia sudah dekat. Ia melihat sudut bibir Johan yang tidak bisa bohong.
"Tidak apa-apa juga jadi jerawat." Johan mengusap rambut Berlian dengan hati-hati. Takut usapannya takut merusak tatanan rambut yang diatur sedemikian rupa.
Berlian membeku merasakan telapak tangan yang hangat yang menyentuh kepalanya. Ia mendongak dan matanya bertemu dengan tatapan mata dengan pupil hitam pekat seperti sumur tua yang dalam yang membuat orang ingin menyelami kedalamannya. Mata ini mengintimidasi namun mempesona. Johan tanpa sadar juga menatap mata Berlian. Keduanya sama-sama tersadar dan menarik mata mereka. Johan menarik tangannya dan membukakan pintu untuk Berlian. Lalu mempersilahkan Berlian untuk masuk untuk menghindari suasana yang aneh.
"Terima kasih kak." Berlian masuk. Ia duduk dengan canggung.
Keduanya duduk dalam diam selama perjalanan. Mereka sama-sama canggung setelah kejadian sebelum masuk mobil. Bahkan saat sudah sampai, Berlian keluar dan mengucapkan terima kasih dengan suara yang pelan. Johan juga menanggapinya dengan deheham saja.
Kali ini, kegiatan MOS adalah mengenal para senior. Peserta MOS harus meminta tanda tangan dari anggota OSIS. Tentu saja mereka tidak akan mendapatkan tanda tangan itu dengan mudah. Sebagai ganti untuk mendapatkan tanda tangan, mereka harus melakukan sesuatu untuk itu.
__ADS_1
Gosip di forum semakin ramai. Foto Berlian yang berjalan masuk ke dalam mobil tersebar. Banyak siswa juga yang melihatnya. Karena itu pulalah Berlian menjadi target para senior.
Clara sudah menunggu Berlian di depan aula. Penampilannya tidak jauh beda dengan Berlian. Tapi raut wajahnya tidak seceria biasanya. Clara tidak seperti Berlian yang tidak ingin repot memikirkan orang lain. Clara memiliki beberapa kenalan baru di sekolah ini. Dan dia sudah mendengar gosip mengenai Berlian yang selalu diantar jemput oleh pria tampan.
Sekali dengar saja Clara sudah tahu siapa pria yang dimaksudkan. Tentu zaja itu adalah Johan. Pemuda tampan yang menjadi incarannya.
Untuk memastikan, Clara meminjam ponsel salah satu senior kenalanya untuk melihat gosip yang tersebar. Di dalam forum memang tidak disebutkan dengan jelas hubungan antara Berlian dan pria tampan yang dibicarakan. Ada yang beranggapan bahwa Johan adalah saudara Berlian. Tapi ada yang langsung menepisnya dengan mengatakan bahwa Berlian tidak duduk di kursi depan. Melainkan kursi belakang. Dengan itu anggapan mulai mengarah jika Johan adalah supir Berlian. Tetapi banyak yang menyangkal karena menilai Johan terlalu tampan untuk menjadi seorang supir. Bahkan banyak gadis yang mengungkapkan niat mereka untuk menjadikan Johan supir pribadi mereka dengan gaji yang fantastis.
Dengan tangan yang mengepal dengan erat Clara menyerahkan ponsel itu kembali.
Melihat wajah Clara yang terlihat aneh, senior itu segera bertanya. "Kamu kan dekat dengan Berlian. Apa kamu tidak tahu hubungan mereka?" Beberapa gadis yang ada di sekitar memasang telinga mereka bersiap mendengar jawaban Clara.
"Yang aku tahu kak Johan adalah sopirnya Berlian. Tetapi... aku juga tidak tahu tepatnya." Ya. Clara memang tidak tahu. Jika Johan hanyalah sopir untuk Berlian kenapa sepertinya ia memiliki posisi yang istimewa? Perlakuan padanya jelas terlihat berbeda dengan perlakuan keluarga Sean memperlakukan bawahan mereka yang lain. Lalu apa sebenarnya posisi Johan?
Inilah hasil yang diinginkan Clara. Ia tentu saja tidak akan menginginkan jika pria yang dia inginkan juga diinginkan oleh gadis lain. Clara tidak peduli bahwa Johan hanyalah seorang sopir di keluaraga Kingston. Yang ia tahu ia menginginkannya.
Sementara itu, Berlian berjalan ke aula dengan Rezvan ada di sisinya. Rezvan tisak memakai perlengkapan apapun di tubuhnya sebagai pelengkap wajib bagi peserta. Berlian hanya meliriknya sekilas saat pemuda tampan itu berjalan di sampingnya dan mengulas senyum jahilnya yang menjengkelkan. Berlian tidak repot-repot menanyakan alasan mengapa Rezvan tidak memakai perlengkapan. Itu sudah jelas. Seorang siswa seperti Rezvan tidak akan mau memakai atribut seperti itu.
"Wah-wah! Ternyata kamu lebih menyukai pita warna-warni. Lain kali aku akan memberikannya untukmu." Ucap Rezvan.
"Dimana kamu membelinya?"
"Apa? Pita warna?" Rezvan tersenyum senang. Akhurnya Berlian mau berbicara denganya.
__ADS_1
"Bukan. Jepit rambut itu."
"Kenapa? Apa kamu menyukainya? Itu tidak bisa dibeli sembarangan." Berlian mengernyitkan alisnya.
"Dari mana kamu mendapatkannya?"
"Ah! Itu desain khusus. Kalau kamu mau aku bisa meminta mereka membuatkanya lagi." Rezvan tersenyum dengan lebarnya. Ia tidak menyangka Berlian akan menyukainya. Jepit rambut itu dibuat khusus oleh desainer perhiasan di Itali. Rezvan mendapatkannya beberapa hari yang lalu saat ia selesai membantu desainer tersebut untuk melacak keberadaan seseorang yang telah mencuri desainnya.
Awalnya Rezvan bingung akan digunakan untuk apa jepit rambut itu. Itu sudah ada di dalam tas sejak pertama ia mendapatkannya. Tapi setelah ia melihat Berlian, ia tahu untuk apa jepit rambut itu.
"Aku tidak suka." Senyum lebar di bibir Rezvan langsung layu. Binar matanya juga seketika redup.
"Tidak apa. Aku tetap akan membawanya lagi untukmu."
"Tidak perlu. Lebih baik kamu berikan pada gadis lain yang menyukainya." Rezvan tidak mendebat lagi. Setelah mengati Berlian dua hari terakhir, ia tahu gadis seperti apa Berlian itu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
__ADS_1