
Evelyn baru saja sampai di rumah. Sean juga baru saja turun dari mobilnya. Jadi ia menunggu istrinya untuk bersama-sama masuk ke dalam rumah. Ia mengernyit saat melihat wajah Evelyn yang suram. Ia sepertinya bisa menebak apa yang menjadi beban pikiran istrinya ini.
Sean maju dan menarik tubuh Evelyn. Ia mencium sekilas kening wanita itu. Lalu merangkul pundaknya dan membimbingnya berjalan bersamanya. Perlahan-lahan mengelus pundak itu.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu begitu muram?" Tanyanya setelah mendengar Evelyn menghela napas dalam.
"Tidak apa-apa." Evelyn menggelengkan kepalanya pelan. Evelyn tidak ingin Sean juga tambah kepikiran.
"Apa karena Bryan?" Sean menghentikan langkahnya dan memandang Evelyn serius.
"Kamu tahu?" Evelyn cukup terkejut mengetahui jika Sean juga sudah mengetahui apa yang dilakukan Bryan.
Berita tentang kejadian di sekolah satu minggu yang lalu sudah tersebar luas. Untuk menghilangkan rasa was-was publik, polisi juga menutupi fakta jika penembak yang berhasil melumpuhkan perampok itu bukanlah dari pihak mereka. Sebagai gantinya mereka mengatakan kepada publik bahwa tim sniper mereka yang melakukannya.
Tapi polisi tentu saja tidak mengabaikan begitu saja fakta tentang ini. Dan mereka masih mencari 'orang' yang bertanggung jawab. Mereka harus memastikan jika 'orang' itu bukanlah orang jahat yang akan meresahkan masyarakat.
Awalnya Evelyn tidak begitu memperhatikan masalah yang terjadi. Ia benar-benar sibuk di perusahaan hingga tidak sempat berpikir jika Bryan lah yang ada di belakang semua kejadian yang membuat geger para polisi.
Sore ini ia sengaja mampir ke villa untuk menemui Maxim dan Laura. Siapa yang menyangka jika ia mendengar fakta dari kedua orang tua ini.
Saat Evelyn masuk ke dalam ruang keluarga, Maxim dan Laura sedang membicarakan kasus ini. Mereka tidak tahu jika Evelyn ada di belakang mereka dan dapat mendengar dengan jelas bahwa Bryan lah yang sebenarnya sendang dicari-cari oleh pihak kepolisian.
"Kenapa papi tidak mengatakan hal ini padaku?"
Mendengar suara rendah yang sangat mereka kenal keduanya berbalik. Evelyn menggunakan nada suara yang begitu rendah. Namun begitu dingin. Sangat jelas bahwa wanita itu sedang kecewa.
"Sayang...papi bisa menjelaskannya." Maxim segera berdiri. Menghampiri putrinya yang berdiri tidak jauh darinya. Namun Evelyn malah berjalan mundur menjauhi Maxim. Laura juga ikut berdiri. Menatap Evelyn dengan rumit.
"Aku kecewa pada papi. Papi tahu kan bagaimana kelamnya dunia luar kan?" Mata Evelyn begitu terlihat kelam.
"Maafkan Papi Evy, papi hanya tidak ingin kamu terlalu banyak pikiran."
"Lalu apa? Dengan menyembunyikannya dariku apa semua ini bisa kembali seperti sedia kala?" Maxim menggelengkan kepalanya.
"Sayang, papimu hanya takut ini membuatmu khawatir. Percayalah papimu sudah mempersiapkan segalanya." Laura berjalan maju. Ia tahu jika Maxim tidak akan bisa membela diri di hadapan Evelyn jika ia disalahkan.
__ADS_1
"Tapi tidak begini caranya papi, mami. Bryan adalah putraku. Jika terjadi sesuatu padanya aku akan hancur." Evelyn mulai terisak.
"Papi tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi pada Bryan dan Berlian sayang. Papi sudah meletakkan orang-orang kepercayaan papi untuk melindungi mereka." Maxim mendekati Evelyn. Kali ini wanita itu tidak menjauh sehingga Maxim bisa memeluknya.
"Papi tahu papi salah karena menyembunyikan hal ini padamu. Tapi ini demi kebahagiaan semua orang. Kita ada di Indonesia. Bukan lagi di Texas yang kejam. Itulah mengapa kami membawamu kembali ke sini. Semua demi kebaikan kita semua."
"Tapi Evy takut pi." Evelyn mendongakkan kepalanya. Menatap Maxim dengan mata yang sembab.
"Kamu tidak perlu cemas. Bukankah sekarang ini tidak hanya ada kami? Sean juga pria bertanggung jawab. Papi yakin ia bisa ikut melindungi kalian."
"Papimu benar sayang. Sudah. Jangan menangis lagi. Percayalah pada papi dan suamimu." Laura menepuk punggung Evelyn lembut.
Evelyn menghela napas. Kemudian mengangguk pelan. Lagipula Tuhan memang sudah mengatur takdirnya. Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Ia tidak bisa menyalahkan masalah ini pada siapapun. Apalagi pada Maxim yang sudah jelas sangat menyayanginya.
Saat di Texas, beberapa kali Bryan dan Berlian hampir menjadi sasaran penjahat karena kemampuan yang mereka miliki. Selama ini Bryan dan Berlian selalu disembunyikan dengan cara menjadikan orang lain menjadi tameng untuk menyembunyikan keduanya. Bahkan saat ini ada anak lain yang sedang memakai topeng dan bsrpura-pura menjadi mereka. Jadi pihak-pihak yang mengincar kedua anak genius ini tidak akan tahu jika mereka sebenarnya sudah pergi.
"Pi maafkan Evy, tidak seharusnya aku marah pada Papi."
"Tidak nak. Ini memang salahku. Jika aku tidak menbawamu pergi saat itu, semua bahaya yang mengancam ini tidak akan terjadi."
"Dan aku juga tidak akan mendapatkan keluarga yang sangat menyayangiku?" Evelyn menatap Laura dan Maxim bergantian. Orangtua angkatnya ini bahkan lebih baik dari papa kandungnya.
"Kata 'jika' itu tidak ada gunanya pi. Semua sudah terjadi. Tidak ada lagi yang perlu diselali dan dilabeli dengan kata 'jika'."
"Kamu benar. Apapun yang terjadi kita akan menghadapinya bersama-sama. Benarkan?" Evelyn dan Laura mengangguk. Mereka pun saling memeluk sebelum Evelyn pamit untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
**
"Sejak kapan kamu mengetahuinya?" Evelyn memandang Sean dengan rumit. Bryan dan Berlian adalah anak Sean juga. Sudah seharusnya Evelyn tidak menyembunyikan apapun mengenai mereka dari Sean.
Selama ini Evelyn merasa Sean tidak perlu tahu karena ia yakin tidak akan ada masalah yang terjadi. Bahkan kemampuan Bryan ia juga belum memberi tahu Sean.
"Aku adalah daddy mereka. Tentu saja aku harus tahu sayang."
"Maafkan aku Sean. Tidak seharusnya aku menyembunyikan semua ini darimu." Evelyn merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku yakin kamu memiliki perhitunganmu sendiri. Mulai sekarang berbagilah denganku. Sudah cukup beban berat yang selama ini kamu tanggung seorang diri demi anak kita." Sean menarik Evelyn masuk ke dalam pelukannya. Evelyn mengangguk.
Di dalam pelukan Sean Evelyn perlahan merasa tenang. Ia kemudian mengajak Sean masuk ke dalam kamar mereka untuk memberi tahu secara detail apa yang selama ini terjadi.
"Aku tahu apa yang dilakukan Bryan hari itu demi kebaikan. Tapi aku takut karena itu ia malah mendapat ancaman." Ucap Evelyn setelah ia menjelaskan pada Sean.
Sean mengangguk paham. Sebelumnya ia hanya tahu jika selain Berlian yang sangat mahir dalam hal teknologi komputer, Bryan ternyata juga ahli dalam penggunaan senjata. Khususnya senjata api. Tapi ia tidak menyangka jika putra dan putrinya ternyata menjadi sasaran orang lain karena kemampuan mereka ini.
Berlian yang pandai dalam peretasan dan strategi digabungkan dengan Bryan yang hebat dalam hal senjata. Bukankah ini merupakan perpaduan yang sangat sempurna? Jika orang jahat memiliki orang-orang seperti Bryan dan Berlian di pihak mereka, bukankah kejahatan mereka akan lebih merajalela?
Lupakan orang yang memiliki niat jahat. Bahkan orang yang ada di pihak yang baik, katakanlah pemerintah juga berniat menggunakan mereka demi kepentigan mereka. Menjadikan keduanya sebagai bahan penelitian. Ini sungguh tidak manusiawi.
"Jangan terlalu banyak berpikir sayang. Bukankah ada aku dan juga papi. Apa kamu tidak percaya pada kami?"
Evelyn menatap Sean dan menggelengkan kepalana. "Aku percaya. Tapi aku seorang ibu Sean. Ibu akan menjadi orang yang paling menderita jika terjadi sesuatu pada anaknya."
"Aku mengerti. Tapi kamu harus yakin bahwa apapun yang terjadi nantinya, baik aku maupun papi akan melakukan hal terbaik yang kami bisa." Evelyn mengangguk. Ia kembali memeluk Sean dengan erat.
"Masalah sudah sampai seperti ini. Sudah tidak ada jalan untuk bersembunyi. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghadapinya."
"Kamu benar. Aku rasa sekaranglah waktunya."
"Hm. Sekarang mandilah dulu. Nanti kita bicarakan hal ini dengan anak-anak."
*
*
*
Terima kasih atas segala bentuk dukungan yang kalian berikan
Sudah mulai masuk dalam puncak cerita ya. Semakin ke depan akan banyak ketegangan dan cerita seru yang menanti. Juga akan dibumbui dengan kisah cinta Sean dan Evelyn.
Tetap dukung karya akoh dengan cara like, vote dan komen. Atau mau kasih akoh hadiah boleh juga. Apalagi kasih koin2 yang berkilauan itu. Hem....
__ADS_1
Jangan lupa mampir karya akoh yg lagi ongoing "Pernikahan Paksa Karina" nanti ketemu sama si kakak termenyebalkannya Nara sama Karina. Gadis tomboy yg dipaksa jadi Feminim karena dirinya tengah hamil.
Akoh tunggu kalian di sana... see you...π