
Berlian sudah bersiap. Memakai kaos berwarna putih dengan celana panjang jeans biru. Rambutnya digerai seperti biasanya. Namun Berlian memasang jepit hitam untuk merapikan rambutnya agar tidak mudah berantakan. Johan sudah menunggunya di depan mobil. Saat Berlian keluar dari rumah, dirinya tanpa sadar melihat penampilannya sendiri. Pasalnya, dia sendiri juga memakai kaos putih dan celana jeans yang juga berwarna biru. Sylvia yang melihat keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha. Kalian ini sudah seperti pasangan saja." Ucap Sylvia.
Berlian mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian berbalik menyadari bahwa ia seperti memakai baju couple dengan Johan.
"Eit mau kemana kak?" Sylvia menghalangi jalan Berlian. Merentangkan kedua tangannya dan bergerak ke kanan dan ke kiri. Berusaha keras untuk menghalangi Berlian yang hendak masuk kembali ke dalam rumah. Sylvia tahu kakaknya itu akan berganti pakaian. Tentu saja ia akan menghalangi hal itu.
"Minggir! Aku mau lewat." Jika ini terjadi sebelum saat Johan yang mengatakan padanya bahwa ia menyukainya, Ia akan biasa-biasa saja. Tetapi saat ini perasaannya sangat canggung. Seminggu ini ia bahkan mendiamkan Johan. Ia tidak tahu bagaimana ia memperlakukan dirinya di depan Johan. Ucapan Johan sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Mau kemana? Kak Johan sudah menunggu." Sylvia masih terus menghalangi. Berlian hendak melewati Sylvia saat ponselnya berbunyi.
"Ya halo Cla." Ucap Berlian. Clara lah yang mmenghubunginya.
"Ayo berangkat." Desak Clara. Ia sudah bersiap sejak tadi. Menunggu Berlian menjemputnya dan berangkat bersama.
"Sebentar lagi. Aku mau..." sebelum ia selesai menyelesaikan kalimatnya, ponselnya sudah direbut oleh Sylvia.
"Kakak Berlian sudah siap kak Clara. Dia hanya ingin mengulur waktu."
"Apa? Berikan ponselnya pada Berlian." Sylvia menarik sudut bibirnya dengan licik sebelum menyerahkan ponsel Berlian kepada pemiliknya. Berlian mendengus sebelum menempelkan ponselnya di telinganya.
"Kata Sylvia kamu sudah siap. Kenapa kamu belum berangkat juga?" Ucap Clara dengan kesal.
"Iya iya. Aku berangkat." Berlian tidak bisa mengelak lagi. Lagipula ia tidak mungkin mengatakan kalau ia akan ganti baju karena ia dan Johan memakai pakaian dengan warna yang sama kan?
"Baiklah. Cepat berangkat. Aku menunggumu. Rezvan juga sudah berangkat."
"Hem."
"Jangan ham Hem ham Hem. Cepat berangkat." Clara menutup teleponnya. Berlian melirik Sylvia yang tersenyum puas di depannya.
"Tunggu apa lagi kak? Cepat berangkat." Sylvia mendoromendorong tubuh Berlian sambil tersenyum.
"Kak Johan aku titip kakakku yang cantik ini ya."
__ADS_1
"Dasar! Kabib kita aku anak kecil apa harus dititipkan." Dengus Berlian kesal. Ia melirik Johan dengan tidak nyaman.
"Jangan khawatir. Aku berjanji akan menjaga kakakmu dengan baik." Johan melirik Berlian sambil menarik sudut bibirnya. Berlian memutar bola matanya dan masuk ke dalam mobil. Namun sebelum Berlian meraih gagang pintu, Sylvia menghalanginya.
"Eh kak. Malam ini kalian akan pergi keluar untuk jalan-jalan. Jadi kakak harus duduk di depan. Ayo-ayo." Sylvia mendorong Berlian masuk ke dalam mobil dari pintu depan.
"Sudah. Puas sekarang?" Dengus Berlian setelah Sylvia bahkan mematangkan sabuk pengaman pada kakaknya.
"Sudah. Baiklah bersenang-senanglah malam ini." Sylvia mundur dan melambaikan tangannya. Berlian memalingkan wajahnya. Sedangkan Johan tersenyum simpul.
"Kalau kamu merasa canggung, kamu bisa pakai pakai ini." Johan menyerahkan paper bag pada Berlian. "Di dalamnya ada jamper. Sepertinya seukuran denganmu. Itu sebenarnya adalah hadiah untuk ulang tahun adikku. Tapi kamu pakai saja. Aku akan mencarikan hadiah lain untuknya nanti." Jelas Johan.
Berlian Membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Jamper berwarna hitam polos dengan tali berwarna putih dikeluarkan dari dalam. "Benar aku bisa memakainya?" Tanya Berlian. Jamper itu cukup bagus. Sesuai dengannya yang tidak menyukai sesuatu yang terlalu bermotif. Sesuai dengannya. Terlebih lagi ini tepat dia gunakan untuk saat ini. Ia tidak mungkin membiarkan Clara menyadari bahwa ia tanpa sengaja memakai baju couple dengan Johan.
"Hem." Johan Mengangguk. "Aku rasa itu akan terlihat bagus untukmu." Lanjut Johan yang membuat Berlian yang sudah stengah memakai jamper menghentikan langkahnya untuk sebentar.
"Terima kasih. Aku akan membantumu untuk mencarikan hadiah yang lain untuk menggantikan hadiah ini untuk adikmu." Ucap Berlian saat ia sudah selesai memakai jamper itu.
"Kamu harus menepati janjimu." Johan mengangguk dan tersenyum. Ia menoleh dan memperhatikan bahwa rambut Berlian masih berada di dalam jamper.
"Kalau kamu tidak memakai topinya, kamu bisa mengeluarkan rambutmu." Johan mengulurkan tangannya untuk membantu Berlian mengeluarkan rambutnya. "Seperti ini." Ucap Johan setelah ia mengeluarkan seluruh rambut Berlian hingga terurai di belakang punggungnya.
"Terima kasih." Ucap Berlian canggung.
"Hem." Johan mengangguk. Ia kembali fokus pada jalanan di depannya. Sebentar lagi ia harus berbelok untuk pergi ke rumah Clara.
Clara sudah menunggu di depan rumahnya saat mobil Bentley yang dikemudikan Johan masuk ke dalam halaman rumah besar itu. Kaca depan terbuka dan memperlihatkan Berlian yang duduk di sana. Clara sedikit terkejut saat melihat Berlian ada di sana. Karena biasanya Berlian duduk di belakang. Bersamanya.
Saat mobil berhenti pintu terbuka dan Berlian keluar. Ia menyapa Clara yang malam itu tampil dengan sangat cantik. Gaun santai berwarna biru muda dengan rok lebar. Ada pita berwarna biru menyala di tepinya. Rambut sebahunya menyentuh pundaknya yang terbuka. Ada jepit dengan hiasan pita di atas rambutnya. Tampak manis dan sesuai untuk karakter Clara yang ceria.
"Akhirnya kamu sampai juga." Clara memegang lengan Berlian.
"Maaf membuatmu lama menunggu."
"Tidak masalah. Yang penting kamu sudah sampai kan?" Berlian mengangguk. "Baiklah. Sebaiknya kita cepat berangkat. Jangan sampai Rezvan keburu pulang karena kita tidak kunjung sampai." Clara menarik tangan Berlian masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Selamat malam kak Jojo. Terima kasih sudah mau menemani kami pergi jalan-jalan malam ini." Clara memajukan tubuhnya ke depan. Johan melirik nya sambil menjauhkan tubuhnya.
"Itu sudah menjadi tugasku untuk mengantar Berlian pergi kemanapun."
"Oke. Tapi aku masih tetap akan berterima kasih." Clara tersenyum dan kembali duduk di tempatnya. Namun pandangannya tidak lepas dari Johan. Malam ini pemuda itu tampak lebih segar.
Sementara itu, Rezvan sudah menunggu dua sahabatnya. Sebenarnya ia tidak begitu menyukai jalan-jalan yang direncanakan oleh Clara. Namun Clara memaksanya untuk ikut. Ia berkata bahwa ia harus menemani Berlian nantinya karena Clara memiliki urusannya sendiri. Karena itulah ia akhirnya setuju untuk bergabung.
Namun sekarang sudah hampir setengah jam ia menunggu di pintu masuk mall yang menjadi tujuan mereka. Namun kedua sahabatnya itu belum juga nampak.
Rezvan baru saja akan menghubungi Clara saat melihat gadis manis itu berjalan ke arahnya dengan Berlian dan pria asing lainnya yang... emp tampan. Rezvan sebenarnya enggan untuk mengakuinya.
Rezvan belum pernah melihat Johan sebelumnya. Sejak MOS berakhir, Berlian melarang Johan untuk keluar dari mobil saat menunggunya. Bahkan ia kita meminta Johan untuk membawa mobilnya ke bengkel modifikasi untuk membuat kaca mobil itu menjadi gelap dan tidak akan terlihat dari luar. Jadi sejak saat itu, tidak ada siswa di sekolah yang pernah melihat Johan lagi. Lama kelamaan perbincang mengenai Johan akhirnya berangsur-angsur menghilang.
"Kalian ini! Apa kalian tahu aku sudah hampir berlumut menunggu kalian disini?" Dengan kesal Rezvan menghampiri ketiganya.
"Maaf. He..." Clara mengangkat dua jarinya sambil memamerkan giginya yang putih dan kecil-kecil tersusun rapi.
"Ini...?" Johan yang berdiri di samping berlian menoleh pada gadis itu saat pandangannya bertemu dengan mata Rezvan yang terlihat tengil.
"Hem. Kak Johan, kenaikan ini Rezvan. Teman kami. Dan Rezvan ini kak Johan..." Berlian bingung memperkenalkan Johan pada Rezvan. Ia tahu bahwa posisi Johan tidak sesederhana itu.
"Sopir milik Berlian." Johan memotong dengan cepat dan memperkenalkan siapa dicarinya sendiri. Berlian melirik nya dengan perasaan yang tidak enak.
Ucapan Johan terdengar aneh bagi Rezvan. Meskipun dari jawabannya mengatakan bahwa ia hanyalah seorang sopir, mengapa itu terdengar seperti seorang penguasa yang sedang dalam mode posesif yang sedang mempertahankan wilayahnya? Apakah benar sesederhana itu?
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
Maafkeun akoh yang sibuk dengan kesibukan di dunia nyata hingga mengabaikan imajinasi di dunia maya. Akoh bisa apa saat ide-ide berlarian di dalam kepala tetapi tidak ada waktu dan tenaga untuk menuliskannya. Maafkan ya☺
__ADS_1
Doakan masalah akoh cepat selesai dengan sebaik-baiknya agar semuanya bisa kembali ke keadaan normal. Terima kasih 😊