Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_77. Kondisi Evelyn 2


__ADS_3

Semua masalah mengenai pelaku yang telah membantu Ani sudah Sean serahkan pada Justin sisanya, ia memiliki tugas yang lebih penting daripada mengejar penjahat. Biarkan saja Justin melakukan tugasnya. Evelyn masih belum sadarkan diri, Berlian, Bryan dan bayi cantik yang ia beri nama Sylvia Michelia Kingston masih membutuhkan perhatian darinya.


Sudah satu bulan berlalu sejak hari itu. Bayi Sylvia juga sudah dibawa pulang dan dirawat oleh Laura yang kini ikut tinggal bersama Maxim di mansion Kingston. Mereka membantu Sean merawat anak-anak. Sean akan menghabiskan banyak waktu menemani Evelyn di rumah sakit. Ia bahkan hampir setiap hari tidur dan berangkat kerja dari rumah sakit. Sepulang dari kantor baru ia pulang ke rumah untuk melihat anak-anaknya. Bryan dan Berlian setiap hari sepulang sekolah pasti akan mengunjungi mommy mereka yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit.


Dokter berkata jika kondisi Evelyn sebenarnya baik. Tidak ada apa-apa yang bisa menyebabkan wanita itu tidak sadar hingga begitu lama. Tidak ada penyakit maupun luka dalam. Dokter memprediksi jika itu karena alam bawah sadar Evelyn yang masih belum ingin bangun.


"Alat apa saja yang dibutuhkan selama perawatan di rumah?" Satu minggu yang lalu Sean memikirkan untuk membawa Evelyn pulang. Ia juga sudah membicarakannya dengan Laura dan Maxim. Kedua orang tua itu juga setuju. Mereka juga berpikir sama seperti Sean jika Evelyn ada di rumah, alam bawah sadar Evelyn akan segera tergerak dan bangun secepatnya. Pertimbangan yang lain adalah anak-anak masih kecil, akan ada dampak buruk jika mereka terus datang ke rumah sakit.


"Tidak perlu alat khusus tuan. Secara fisik nyonya sudah tidak apa-apa. Jika dalam keadaan normal, nyonya seharusnya sudah bangun paling lambat satu minggu setelah operasi."


"Baiklah. Dokter siapkan peralatan yang dibutuhkan. Aku akan menyiapkan ruangan di rumah untuk memindahkan Evelyn."


"Baik tuan. Saya juga akan datang setiap hari untuk memeriksa. Nanti saya juga akan mengatur perawat untuk menjaga nyonya."


"Bagus. Kalau begitu aku akan segera pulang dan menyiapkannya. Jika bisa, besok Evelyn sudah harus sudah berada di rumah."


"Baik tuan. Akan segera saya atur." Sean mengangguk sebelum bangkit dan pergi kembali ke ruang Evelyn dirawat.


Sean memandangi tubuh istrinya yang terbaring dengan nyaman. Jika seseorang melihatnya, mereka akan menyangka jika wanita itu sedang tidur dan bukannya sedang sakit. Wajah Evelyn sudah tidak terlihat pucat lagi. Perban di setiap tubuhnya yang terluka sudah dilepas. Hanya menyisakan perban yang ada di kakinya. Luka itu yang paling parah.


"Sayang, cepatlah bangun." Sean duduk sambil mengecupi tangan Evelyn.


"Lihatlah tanganmu sudah tidak lagi seperti sosis kan? Kamu boleh memukulku lagi. Tapi aku janji tidak akan lagi mengejekmu" Lanjut Sean.


"Kamu benar sayang. Ternyata bayi kita adalah perempuan. Dia cantik dan lucu. Sepertimu." Sean mengelus pipi Evelyn dengan lembut.


"Aku memberinya nama Sylvia. Sylvia Michelia Kingston. Semoga kamu tidak marah karena aku tidak bertanya dulu padamu." Sean kembali mencium telapak tangan Evelyn yang hangat.


"Sayang, cepatlah bangun. Anak-anak sangat merindukanmu. Aku juga merindukanmu." Sean bangun dan menciumi setiap inci wajah Evelyn.

__ADS_1


"Kau tahu sayang, senjataku sangat merindukan sarangnya. Cepatlah bangun."Sean berkata dengan Masih berada di atas wajah Evelyn lalu mencium bibir Evelyn dalam. Pria itu begitu merindukan bibir manis yang selalu cerewet itu. Bibir yang selalu men-de-sah indah setiap kali ia bergerak lincah di bawah sana. Semua perkataan Sean sudah ia ucapkan ratusan hingga ribuan kali selama satu bulan ini. Tapi Sean tidak pernah bosan untuk mengucapkannya.


Tok tok tok


Sean segera berdehem saat mendengar suara ketukan pintu. Ia sudah tahu pelakunya tidak lain adalah Soni.


"Tuan, sudah waktunya kita berangkat." Suara Soni terdengar dari balik pintu. Mereka masih harus berangkat ke kantor. Jam sepuluh nanti akan ada meeting dengan klien penting di kantor.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Aku kembali nanti malam, Dan saat aku kembali nanti kamu sudah harus bangun ya." Ucap Sean sambil mencium seluruh wajah Evelyn dan memberikan penutup di bibir wanita itu cukup lama.


**


Keesokan harinya, Evelyn benar-benar dibawa pulang ke rumah. Kamar Sean dan Evelyn sebelunya sudah disulap menjadi kamar rawat dadakan. Semua barang yang tidak begitu perlu dikeluarkan dan diletakkan di kamar sebelah kamar Berlian dan Bryan. Ruang kerja Sean juga dikosongkan untuk menyimpam peralatan dan obat-obatan yang kemungkinan akan dibutuhkan Evelyn.


Bahkan barang-barang kebutuhan Sean juga dikeluarkan dan dipindah di kamar yang sama dengan ruang kerja Sean. Dokter datang setiap hari untuk memeriksa perkembangan keadaan Evelyn. Ada satu orang perawat yang bertigas di sisi Evelyn jika Sean tidak berada di rumah


"Sayang, apa kamu tidak ingin melihat putrimu? Lihatlah dia begitu cantik sama sepertimu." Laura datang sambil membawa Sylvia. Meletakkan bayi dalam balutan selimut itu di samping tubuh Evelyn yang hanya diam.


Bayi Sylvia tiba-tiba rewel. Ia menggosokkan bibir mungilnya di tubuh Evelyn yang menempel dengannya. Laura merasa sangat kasihan. Wanita itupun membuka baju Evelyn dan membantu Sylvia meraih put*ng Evelyn. Sejak awal, pihak dari rumah sakit memang membantu untuk memompakan susu Evelyn agar susu yang keluar tidak sampai berhenti keluar meskipun hanya sedikit. Jadi saat wanita itu sadar nanti, ia akan tetap bisa memberi ASI pada bayinya.


Perawat yang menjaga di sisi Evelyn juga membiarkannya. Dokter pernah berkata ini baik untuk merangsang kesadaran Evelyn.


Laura semakin terisak saat melihat Sylvia dengan kuat menghisap ASI dari Evelyn. Laura membiarkan bayi itu menyusu pada Evelyn sampai bayi itu akhirnya tertidur karena kenyang. Tubuh Evelyn sudah tidak begitu banyak kemasukan obat-obatan. Seharusnya air susunya juga tidak begitu tercampur obat.


"Lihatlah sayang putrimu begitu pintar. Dia tahu mommynya masih sakit, dia tidak rewel." Laura meletakkan Sylvia yang sudah tertidur di samping Evelyn.


"Cepatlah bangun dan susui Sylvia sampai gemuk. Kamu melahirkan anak hanya satu kali ini. Kamu seharusnya cepat bangun dan susui anakmu. Bukankah dulu kamu sangat kesal karena ASI mu tidak cukup untuk kedua bayimu? Sekarang hanya ada satu bayi. ASI mu saja pasti cukup untuk membuatnya gemuk."


"Nyonya, sebaiknya nyonya bawa bayinya keluar dulu. Sudah waktunya nyonya Evelyn diberikan infus lagi. Apalagi nyonya baru saja diambil air susunya." Kata perawat menyadarkan Laura.

__ADS_1


"Apa ini berbahaya untuk Evelyn sus?" Tanya Laura ragu. Ia tadi tidak memikirkan hal itu. Sekarang jika hal ini berbahaya untuk Evelyn, ia tidak akan pernah melakukannya lagi.


"Tidak nyonya. Tubuh nyonya Evelyn sebenarnya sudah normal dan baik-baik saja. Tapi jika menyusui itu akan lebih banyak membutuhkan nutrisi. Selain mendapatkan asupan dari infus, saya juga sudah memberikan asupan lain dari makanan berupa sup yang rutin diiberikan tiga kali sehari. Jadi ini tidak akan berpengaruh pada kondisi nyonya Evelyn. Malah akan baik untuk merangsang kesadarannya." Jelas perawat itu.


"Baiklah. Kalau begitu itu bagus. Aku akan sering membawa Sylvia untuk menemui Evelyn." Laura mengangguk puas.


"Iya nyonya."


"Aku akan keluar dulu untuk menidurkan Sylvia. Terima kasih atas bantuannya beberapa hari ini." Ucap Laura tulus. Suster itu mengangguk.


Suster bernama Citra ini sudah bekerja di rumah mewah ini dua minggu belakangan. Suster Citra sangat kagum pada keluarga yang dimiliki Evelyn. Pasien yang dirawatnya selama dua minggu penuh ini.


Evelyn memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Anak-anak yang lucu dan pintar. Kedua anaknya selalu datang ke ruangan setiap kali mereka akan berangkat atau pulang sekolah. Mereka juga kadang mengerjakan pekerjaan rumah mereka di ruangan itu. Tak jarang kedua anak itu mengajak bicara mommy mereka yang bahkan tidak membalas sepatah katapun. Tapi mereka masih saja terus bicara dengan bahagia.


Ada lagi Maxim dan Laura. Kedua orang itu yang katanya adalah orang tua Evelyn tetapi tidak memiliki kemiripan sama sekali, bahkan Maxim terlihat jelas adalah orang asing. Wajah dan logatnya benar-benar bisa dilihat. Keduanya juga terlihat sangat menyayangi Evelyn.


Yang paling membuat kagum Citra adalah Sean. Suami pasiennya ini terlihat begitu mencintai wanita yang hampir dua bulan tertidur itu. Selama di rumah sakit ia memang pernah mendengar hal ini yang sempat menjadi bahan pembicaraan para perawat dan dokter. Sekarang setelah melihat sendiri bagaimana cinta Sean terhadap Evelyn, ia yakin jika hal ini akan membuat semua wanita meleleh karena iri.


Laki-laki setampan Sean yang bisa mendapatkan wanita manapun malah memilih menemani istrinya yang tidur sepanjang hari. Citra dapat melihat cinta di mata Sean setiap kali pria itu menatap istrinya. Dia juga selalu disuruh keluar jika Sean sudah pulang dan tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Citra melihat sendiri bagaimana telatennya Sean merawat Evelyn.


Melihat semua hal indah di depannya, Citra selalu berdoa agar Evelyn segera sadar dan kembali lada keluarganya yang sangat menyayanginya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


Jangan mewek....


Akan ada pelangi setelah badai πŸ˜‡


__ADS_2