Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_58. Kekhawatiran Johan


__ADS_3

Johan bergegas saat ia mendapatkan kabar dari anak buahnya. Wajahnya terlihat panik dan juga tegas. Dia pergi dengan terburu-buru hingga tidak sempat memberi tahu pada Sean atau siapapun yang ada di kantor.


Ponsel di tangannya terus menempel di dekat telinganya. Nama Berlian tertulis di sana menunjukkan bahwa orang yang sedang berusaha ia hubungi adalah Berlian. Johan mencoba beberapa kali dan mendengarkan hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor Berlian sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.


Johan panik. Ia berganti dengan menghubungi Bryan. Namun setelah beberapa panggilan, ponsel Bryan juga tidak bisa dihubungi.


Setelah sampai di bessmen, ia meletakkan ponselnya di depan dan menggunakan hedset bluetooth untuk menghubungi Clara.


"Hai kak Jojo. Aku sangat senang kamu menghubungiku." Suara cempreng Clara yang ceria langsung terdengar di telinganya. Namun dia tidak repot menanggapinya. Johan langsung ganti bertanya apakah ia bersama dengan Berlian.


Clara merengut seketika. Ia seharusnya tahu jika Johan tidak akan pernah menghubunginya terlebih dahulu kecuali itu mengenai Berlian. Namun meskipun ia kecewa, ia tetap menjawab dengan tenang bahwa ia dan Berlian sudah berpisah satu atau dua jam sebelumnya dan mengatakan bahwa Berlian bersama dengan Bryan.


"Apakah mereka mengatakan kemana mereka akan pergi setelah bersamamu?" Johan tidak ada waktu untuk berbasai-basi dengan Clara dan mengabaikan nada kecewa yang terdengar dengan jelas olehnya.


"Mereka tidak mengatakan apa-apa. Tapi seharusnya mereka langsung pulang karena Brily berkata bahwa ia sedikit lelah dan ingin segera istirahat. Memang ada apa kak Jo..." Clara belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia mendengar nada 'tut tut tut' yang menyebalkan.


Johan memukul kemudi nya dengan keras sebelum panggilan lain yang dia buat sudah tersambung. Johan meletakkan dua orang anak buahnya untuk mengawasi Berlian selama dia tidak berada di sekitarnya. Namun sejak ia menerima kabar, ia tidak bisa menghubungi keduanya.


"Dimana Berlian?" Tanya Johan dengan marah.


"B-bos...maafkan kami tidak bisa menjaga nona." Suara di seberang terdengar bergetar ketakutan.


"Aku tanya dimana Berlian?!" Tanya Johan lagi tidak sabar. Dia tidak membutuhkan ucapan maaf dari orang lain. Dia bisa menunda untuk memberi pelajaran pada mereka. Untuk saat ini yang terpenting adalah untuk menemukan keberadaan Berlian.


"Maaf bos. kami kehilangan jejak nona. saat ini Kami berada di daerah Y."

__ADS_1


Setelah mendengar itu, Johan menutup lagi dan membuat panggilan baru kembali. Kali ini dia menghubungi tim IT perusahaan dan meminta mereka mencari tahu posisi Berlian terakhir kali.


Sambil menunggu informasi, Johan mengemudi hingga ke daerah Y untuk mencari anak buahnya yang dia beri tugas untuk menjaga Berlian. Dia harus mengetahui dengan jelas bagaimana sampai Berlian dan Bryan lepas dari pandangan mereka.


**


Setelah keluar dari restoran, Bryan dan Berlian memang dalam perjalanan pulang. Karena mereka tidak searah dengan Clara dan Rezvan, mereka berpisah begitu keluar dari pintu restoran.


Hanya beberapa saat setelah Bryan menyadari bahwa mereka sedang diikuti. Diam-diam dia menambahkan kecepatan motornya.


Berlian juga mengetahui bahwa mereka diikuti. Tetapi karena dia sudah terbiasa dengan penjagaan yang dilakukan oleh Johan, dia tahu bahwa mereka adalah anak buah Johan karena tidak merasakan niat jahat dari keduanya. Berlian tahu bahwa Bryan menambah laju motornya karena hal ini dan dengan tenang menepuk pundaknya dan mengatakan pada saudaranya itu bahwa tidak perlu merasa cemas karena mereka tidak berbahaya.


Bryan ragu-ragu pada awalnya. Tetapi setelah mendengar Berlian mengatakan bahwa mereka berdua adalah orang yang memang akan mengikutinya jika dia tidak bersama dengan Johan, Bryan bisa menurunkan kewaspadaannya kepada mereka berdua.


Namun, tidak lama setelah itu, mobil lain juga mengikuti mereka. Dan kali ini Berlian merasa ada bahaya. Jadi dia memberi tahu Bryan agar berhati-hati. Bryan melirik mobil hitam yang tepat berada di belakang mereka dengan dingin sebelum ia mulai menambah laju motornya dan memilih jalan yang ramai untuk mengecoh dan dengan gesit menyelinap diantara keramaian.


"Bagaimana ini?  Mereka masih terus mengejar." Bryan bertanya tanpa menoleh ke belakang karena kecepatan motornya.


"Rumah masih jauh. Tapi kita tidak boleh terlalu lama berada di keramaian. Atau kita akan membahayakan orang lain." Jawab Berlian. Bryan mengangguk membenarkan. Dia melihat selama mengejar mereka, mobil yang mengikuti mereka menimbulkan beberapa kekacauan di jalan tanpa peduli. Jika mereka terus berada di keramaian, akan lebih banyak korban lagi.


Bryan akhirnya mengarahkan motornya ke tempat yang agak sepi. Namun mereka tidak menyangka jika ban motor mereka akan ditembak untuk menghentikan mereka dengan paksa.


Karena ban motor yang pecah, motor pun oleng. Bryan dan Berlian jatuh berguling di atas aspal. Mereka berdua terluka di beberapa bagian tubuhnya. Berlian mengerang kesakitan. Kakinya sepertinya patah setelah terlempar dari atas motor dan menabrak batu trotoar di pinggir jalan. Bryan segera bangun dan melihat keadaan Berlian. Dia baru saja akan mengangkat kepala Berlian saat Berlian berteriak padanya bahwa ada orang yang menyerang di belakang Bryan.


Bryan dengan sigap mengambil pisau miliknya. Namun mengumpat setelah melihat pihak lain ternyata memegang pistol di tangan mereka. Dan juga, mereka ada tiga orang dengan tubuh yang besar dan kuat. Ia menyesal karena dirinya tidak membawa pistol kesayangannya saat pergi keluar hari ini.

__ADS_1


"Menyerah saja. Kalian tidak ada pilihan." Salah satu pria itu mencibir dan mengejek.


"Mimpi!" Bryan mendengus dan mulai melempar pisau miliknya satu persatu.


Ketiga orang mengira bahwa ini akan mudah. Melihat dua orang yang tidak berdaya di depan mereka. Namun mereka tidak menyangka bahwa mereka akan mendapatkan serangan balasan.


Saat mereka menyadari, pistol di tangan mereka sudah terjatuh di atas tanah karena pergelangan tangan mereka tertancap pisau. Dari ketiganya, hanya seorang yang sempat menghindar.  Pria itu segera menyerang Bryan dengan tembakan. Bryan juga menyerang menggunakan pisau nya. Tetapi kecepatan antara Pisau dan pistol terlalu jauh berbeda. Jadi Bryan dipaksa mundur meskipun ia berhasil membuat luka kecil di tubuh lawan. Setelah menghindar beberapa kali, satu peluru akhirnya bersarang di paha kanan Bryan. Membuat Bryan terjatuh dan keadaan ini dimanfaatkan untuk menekannya di tanah.


"Bryan!" Teriak Berlian saat melihat Bryan tertembak.


"Nona manis, jangan melawan lagi. Kalian sudah kalah. Kami hanya menginginkan kamu. Jika kamu mau pergi dengan tenang bersama kami, kami akan melepaskan saudara tersayangmu." Bujuk pria yang mendekat ke arah Berlian. Pergelangan tangan kanannya terlihat kain yang membelit luka bekas pisau Bryan yang tertancap di sana sebelumnya. Namun masih ada darah mengalir di lengannya yang membuatnya terlihat mengerikan.


"Jangan dengarkan Dia Brily. Aku akan melawan mereka la..ugh!" Bryan memuntahkan seteguk darah setelah dadanya ditekan dengan keras di atas aspal yang keras.


"Bawa dia." Pria yang menekan Bryan menatap tajam dua orang lainnya dan memerintahkannya membawa Berlian masuk masukkan dalam mobil sementara dia mengikat Bryan dan menutup mulutnya.


"Kamu di sini saja." Pria itu menendang Bryan sekali dengan keras sebelum ikut masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana meninggalkan Bryan yang berteriak tanpa suara.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2