Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_66. Reina dan Daniel


__ADS_3

Reina lagi-lagi mengalami hal yang sama. Dikucilkan. Apalagi dirinya saat ini benar-benar tidak memiliki pendukung. Reina memang masuk ke sekolah bonafide itu melalui jalur khusus kerabat salah satu guru. Tidak ada yang dapat menemukan dukungan latar belakang yang dimilikinya. Apalagi dengan kaki yang terlihat tidak sama dan cara berjalannya yang dlsedikit pincang. Kebanyakan siswa di sekolah adalah siswa yang memiliki latar belakang kuat dan menonjol di lingkungannya. Jadi mereka akan mencoba sebaik mungkin untuk menjauhi gadis seperti Reina dari jangkauan matanya.


Duduk sendirian di koridor dengan buku di tangannya adalah sesuatu yang selalu ia lakukan setiap harinya pada jam istirahat. Tapi dia tidak merasa ada yang salah. Baginya lebih baik seperti ini, tidak memiliki teman daripada memiliki teman yang menyimpan niat lain di lengan bajunya. Namun kali ini pikirannya tidak fokus berpusat pada buku yang terbuka di depannya. Pikirannya melayang jauh ke kamar kos yang ia sewa untuk tinggal sementara jauh dari keluarganya.


Pagi ini dia tidak menyangka akan melihat Johan. Dia hanya ingin berlari. Sumber dayanya terbatas. Jadi tidak memeriksa apakah tempat itu akan steril dari orang yang kemungkinan akan mengenalnya nanti.


Dia bulan berjalan aman tanpa ada halangan. Dia selalu menjaga low profil agar tidak terlalu mencolok dan menjadi pusat perhatian. Dia berpikir dia bisa tinggal di tempat itu beberapa waktu. Bahkan, Reina telah menemukan pekerjaan sampingan untuk menghidupi dirinya sendiri di tengah kota.


Meskipun itu hanya sebuah kedai minuman kecil di pinggir jalan, ia bisa melewati dua bulan ini tanpa merasa kelaparan. Sedangkan biaya kos, dia sudah membayarnya untuk satu tahun penuh dengan uang Yang dia bawa saat ia melarikan diri dari rumah. Ia telah mengambil cukup sebelum ia tidak lagi menggunakan kartu yang selalu ia simpan di bawah bajunya di lemari.


Tempat yang ditemukannya lumayan bagus. Meskipun luas kamar tidak ada seperempat bahkan kamar mandi di kamarnya saja lebih luar dari kamar kaosnya,  lingkungannya cukup bagus. Ramah lingkungan untuk melindungi gadis muda yang sendirian seperti dia.


Mengingat tempat tinggalnya yang mulai nyaman ia tinggalin,  Reina berharap Johan tidak akan memiliki pendapat mengenainya jika kakaknya sampai tahu tempat itu.


Reina menghela napasnya dan melirik ponsel yang levelnya jauh di bawah miliknya sebelumnya. Ponsel miliknya sudah ia jual untuk membeli beberapa baju yang sesuai ia gunakan di lingkungannya tinggal saat ini. Beberapa kaos dan celana. Sisanya ia gunakan membeli ponsel yang layarnya terdapat sedikit keretakan. Pertama ia melihat ponsel ini ia ragu apakah benda dengan sudah 'cidera' seperti itu masih bisa digunakan. Tetapi ketika ia sudah menggunakan dan mulai terbiasa, ia melihat ponsel buruk itu dengan cara yang lain sekarang.


Ponsel yang sedari tadi ia tatap berkedip. Nomor yang ia hafal di luar kepalanya muncul di layar. Itu adalah panggilan dari Johan.


Reina mengernyi bingung. Tapi setelah ia melihat kakaknya tadi pagi mengantar seorang gadis kecil sekolah ini, kakaknya itu pasti sudah tahu dan hafal jam istirahat yang dia miliki. Tapi setelah mengingat kejadian tapi pagi ia baru saja teringat jika dia pernah bertemu dengan gadis yang bersama dengan kakaknya sebelumnya. Bahkan dia pernah ditolong olehnya. Dan melihat perilaku kakaknya yang memperlakukan gadis baik itu dengan cukup baik, dia menebak bahwa gadis Inilah yang telah dijodohkan dengan kakak kesayangannya.


Setelah menggeser gambar berwarna hijau, Reina menempelkan benda pipih itu di dekat telinganya.


"Kakak sudah memindahkan semua barangmu. Kakak akan mengirim alamatnya padamu."


"Kak ini tidak perlu. Aku menyukai tempatku tinggal saat ini." Reina mencebikkan bibirnya. Ia hanya ingin mandiri untuk saat ini.


"Menurutku atau kamu pulang." Reina mendengus.

__ADS_1


"Kamu juga tidak perlu bekerja menjaga kedai minuman lagi. Kakak akan mengirim uang untuk kamu gunakan."


"Kaaak. .. kak Johan tidak bisa melakukan itu padaku. Ini keterlaluan. Ini tidak adil." Rengek Reina.


"Kalau aku keterlaluan, aku sudah menyeretmu dan membawamu kembali."


"Iya-iya." Reina tidak bisa menolak lagi. Jika ia menolak siapa yang akan tahu apa yang akan kalanya lakukan padanya.


"Aku masih banyak pekerjaan." Sebelum Reina menjawab, bunyi 'beep' yang dingin dia dengar saat sambungan teleponnya terputus.


Tak lama berselang, ponselnya yang gelap kembali bersinar. Itu adalah pesan dari Johan yang memberinya informasi mengenai tempat tinggal yang diatur oleh Johan untuknya.


Reina berdecak. Itu adalah salah satu apartemen elit di daerah itu. Bagaimana jika orang menemukan tempat tinggalnya nanti?


"Hei culun! Belikan kami minum." Reina yang masih kesal segera mengubah ekspresinya dan menoleh. Dia sudah terbiasa dipanggil culun di sini. Jadi dia sudah paham jika dialah yang mereka maksud.


"Ini uangnya. Hati-hati jangan sampai tangan kotormu mengkontaminasi minuman kami nanti." Selembar uang seratus ribuan melayang setelah dilemparkan ke arahnya.  


Reina meliriknya sebelum ia menunduk untuk mengambilnya. Namun sebelum ia berhasil mengambil, sebuah tangan putih telusur mengambilnya terlebih dulu. Reina masih terkesiap dan terkejut saat melihat punggung yang kokoh di depannya. Melindunginya.


"Kalau kalian begitu takut terkontaminasi, pergi dan buat pabrik minuman kalian sendiri." Reina melihat pria di depannya melipat uang itu sedemikian rupa membentuk pesawat terbang dan melemparkannya dan masuk tepat ke dalam saku Gita.


"Ka...kak Daniel!" Ucap Gita gugup. Wajahnya pusat pasien saat melihat tatapan Daniel yang biasanya ia lihat hangat saat ini terlihat begitu dingin dan menusuk.


Reina hampir tak percaya. Selama ini ia hanya mendengar beberapa gadis menggosipkan pria di depannya ini. Dia belum pernah melihatnya sekalipun sebelumnya dan Sekarang tanpa diduga berdiri di depannya menjadi penyelamatnya.


"Kenapa? Bukankah sebelumnya kalian begitu sombong?"

__ADS_1


"Maaf kak."


"Apa salahnya kalian padaku?" Daniel menatap tajam keduanya. "Minta maaf padanya?" Lanjutnya saat ia melirik Reina yang berdiri di belakangnya tanpa bergerak.


Gita dan Tiara menggertakkan giginya mereka saat mereka mengucapkan kata maaf dan berbalik sebelum Reina menanggapi.


"Terima kasih kak." Ucap Reina tulus. Ia menundukkan kepalanya.


Daniel berbalik dan melihat gadis kecil berdiri sambil menjauhkan kedua tangannya kui depan. Daniel melihat Reina sekilas. "Lain kali kamu harus melawan jika ada yang menggertakmu. Jika kamu diam saja, mereka akan lebih berani karena menganggap kamu lemah." Ucap Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari Reina.  


"Iya. Aku akan mengingat itu. Sekali lagi terima kasih." Reina mengangguk sekali lagi. Ia mendongak dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Kedua mata mereka bertemu. Namun Daniel segera memalingkan wajahnya Setelah ia menjawab dengan 'hem' samar dan pergi.


Reina menatap punggung Daniel yang juga terlihat sama kesepiannya seperti punggungnya berjalan menjauh hingga berbelok di ujung koridor dan menghilang.


Daniel berjalan melewati kelas Berlian dan tanpa sadar melirik ke dalam. Ia menemukan Berlian duduk di dalam kelas dengan wajah tertunduk dengan tangan bergerak menulis sesuatu. Di sampingnya Clara menyuapinya sesekali dengan camilan ringan. Dan di depannya Rezvan yang menumpuk kepalanya ke meja menghadap buku yang berdiri tegak. Membacanya dengan suara keras.


Saat Berlian merasa bahwa ada yang menatapnya, ia berhenti dan mendongak demi melihat Daniel yang berdiri si depan kelas. Clara dan Rezvan juga ikut menoleh dan menemukan Daniel berdiri di tempatnya beberapa saat sebelum ia berbalik pergi dari sana.


Berlian melihat tingkah aneh Daniel dan mengernyitkan alisnya. Merasa aneh. Tapi itu hanya sebentar sebelum ia kembali menulis laporan hasil kerja kelompok yang mereka bertiga kerjakan mendadak pagi ini.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2