Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_78. Bangunlah Sayang


__ADS_3

"Dad, kapan mommy akan bangun?" Tanya Bryan saat ia, Berlian dan juga Sean ada di kamar Evelyn untuk berkumpul.


Hari ini, tepat tiga bulan sudah mommy mereka tidak bangun. Luka di kaki Evelyn bahkan sudah dibuka perbannya.


"Tidak lama lagi." Jawab Sean menyemangati. Meskipun dirinya tidak yakin tetapi ia tidak boleh menunjukkannya di depan anak-anaknya.


"Tapi daddy sudah berkata seperti itu sebanyak ribuan kali." Berlian ikut menggerutu.


"Apa kalian merindukan mommy?"


"Tentu saja dad." Bryan dan Berlian mengangguk. Sejak kecil mereka tidak pernah berpisah dari Evelyn. Sekarang, meskipun mommy mereka ada di sisi mereka, tetapi mereka tidak merasakan hal yang sama.


"Kalau begitu kita tidak boleh putus asa. Kita harus membuat Mommy bangun dengan segera."


"Bagaimana caranya?"


"Kita harus tunjukkan pada mommy bahwa kita selalu mencintai mommy. Kita harus buat mommy merasa iri tidak bisa bahagia bersama kita.'


"Apa daddy yakin?"


"Tentu saja." Sean mengelus kepala Bryan dan Berlian.


Bryan dan Berlian naik ke atas ranjang. Memeluk Evelyn. Dua anak itu bergantian posisi untuk lebih dekat dengan Evelyn. Malam ini Berlian berada di sisi Evelyn dan Bryan ada dibelakangnya.  


Setelah memastikan jika Bryan dan Berlian tidur dengan nyenyak, ia keluar kamar untuk mengambil Sylvia agar bayi kecil itu bisa ikut berkumpul dengan saudaranya yang lain.


Ranjang di kamar ini diganti dengan ranjang yang sangat besar yang sengaja dipesan Sean agar semua anaknya bisa tidur bersama dengan dirinya dengan Evelyn. Sean berharap dengan begitu Evelyn akan merasa jika semua orang menunggunya untuk kembali.


Sean kemabli dengan membawa Sylvia dalam dekapannya. Dengan hati-hati meletakkan Sylvia di samping Evelyn baru setelah itu Sean Memiringkan tubuh Evelyn dan menata bantal dibelakang punggungnya untuk menahan agar tidak kembali terlentang. Setelah memastikan posisinya nyaman, Seaan membuka kancing baru Evelyn. Mengeluarkan sebelah payudara Evelyn agar Sylvia dapat dengan mudah menyesap ASI dari Evelyn. Selama ini, Sean sudah menjadi daddy yang sempurna untuk ketiga anaknya.

__ADS_1


Setelah memastikan Sylvia sudah menyusu dengan nyaman, Sean juga merebahkan dirinya di samping Sylvia. Mengelus putrinya itu dengan lembut. Berat badan Sylvia berangsur-angsur stabil. Apalagi semenjak Evelyn juga menyusuinya, perkembangan Sylvia sangat baik.


"Sayang, apa kamu tidak ingin segera menemani kami?" Sean mengulurkan tanganya menyentuh pipi Evelyn.


"Lihatlah ketiga anak kita sayang. Mereka sangat merindukanmu." Tangan Sean bergerak di wajah Evelyn. Menyentuh bibir, hidung, kelopak mata, alis dan dahinya.


Di luar sana, di depan banyak orang, semua orang akan menganggap bahwa Sean adalah seorang laki-laki yang tegar. Merawat istrinya dengan penuh cinta. Merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Tapi di depan Evelyn, Sean akan menunjukkan sisi terlemahnya. Sean tidak akan menutupi bahwa dirinya tidak bisa jika tidak ada Evelyn di sampingnya.


Pada saat seperti ini, Sean merasa ada di titik terendah dalam hidupnya. Tanpa sadar, air mata Sean mengalir untuk kesekian kalinya. Melihat penderitaan yang dirasakan istri dan anak-anaknya. Jika Sean tahu hal ini akan terjadi, di masa lalu Sean akan memilih untuk menjauhi Evelyn dan si kembar. Sean selalu merasa gagal sebagai seorang suami dan ayah karena dirinya telah gagal melindungi keluarga kecilnya.


**


Sebagai publik figur, tentu saja kehidupan Sean selalu menajdi hal yang menarik untuk di bahas. Apalagi istri Sean juga bukan orang biasa. Kabar dari keduanya selalu jadi berita yang besar. Beberapa kali Sean ditemui wartawan yang menanyakan tentang keberadaan Evelyn, tetapi pria dengan tegas mengatakan jika Evelyn ada di rumah dan fokus merawat anak-anak mereka.


Meskipun jawaban itu tidak membuat para wartawan itu puas, tetapi mereka juga tidak bisa berbuat apaapa di depan Sean. Tidak ada yang berani membantah ataupun meminta penjelasan yang lebih.


Tetapi mereka bertindak di belakang Sean. Mereka memata-matai di sekitar kediaman Sean. Mereka bahkan diam-diam menemui teman-teman sekelas Bryan dan Berlian untuk menanyakan keberadaan Evelyn.


**


Sean dan Soni datang untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan rekanan mereka. Sebenarnya Sean enggan untuk pergi ke acara pesta seperti ini. Ia akan lebih memilih menemai Evelyn dan ketiga anaknya di rumah. Tetapi pemilik perusahaan itu sudah mengundangnya secara pribadi apalagi mereja sudah lama bekerja sama. Jadi akhirnya Sean pun datang sebagai bentuk rasa hormatnya.


Saat Sean dan Soni masuk, mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian. Hanya sedikit orang yang tahu bagaimana keadaab Evelyn. Dan orang yang mengetahui hal itu semuanya dapat dipercaya. Jadi banyak berita yang beredar mengenai ketidak hadiran Evelyn dalam beberapa acara yang dihadiri Sean.


Semua orang datang untuk menyapa Sean. Bahkan sebelum Sean bertemu dengan penyelenggara acara. Sean menanggapi mereka sekedarnya sebagai bentuk menghargai. Selain itu Sean tidak ingin banyak bicara.


"Akhirnya datang juga." Joe datang dan langsung menyenggol lengan Sean. Membuat pria itu mendapatkan tatapan maut dari temannya.


"Wois. Sorry Bro." Joe mengusap lengan Sean yang disenggeolnya.

__ADS_1


"Tidak perlu basa basi."


"Hehehehe." Joe hanya terkekeh mendengarnya.


"Minggir! Aku mau menemui tuan Darren." Sean pergi melewati Joe begitu saja. Soni mengikutinya dari belakang dan menundukkan kepalanya saat melewati Joe.


"Huh tamu gak ada aklak. Jarang ketemu malah bersikap menyebalkan." Joe mengomel entah pada siapa.


"Jangan ikut campur. Kau tahu sendiri kan bagaimana Sean. Dia sangat mencintai istrinya. Dia datang kesini pasti hanya untuk memberi muka pada tuan Tuan Darren." Frans datang dari belakang dan langsung menepuk bahu Joe.


"Aku sebenarnya juga kasihan padanya. Dia sudah lama menunggu untuk menemukan istrinya itu. Sekalinya ketemu baru saja mau bahagia sudah hatua ada kejadian seperti ini." Joe menghela napasnya.


"Nasib tidak ada yang tahu kan?"


Benar saja apa yang dikatakan Frans. Sean datang ke pesta hanya karena ingin menghormati Tuan Darren yang sudah lama menjadi klieannya.


Setelah pertemuan mereka dengan Sean, baik Joe maupun Frans tidak ada yang bertemu dengan Sean  bahkan Soni yang selalu mengimuti Sean lagi. Keduanya pun menyimpulkan bahwa Sean sudah pulang terlebih dahulu.


Namun mereka tidak tahu jika Sean pulang dengan keadaan hati yang sangat buruk. Penampilannya yang datang dengan wajah datar sudah beralih menjadi wajah yang gelap penuh dengan emosi. Orang-orang yang dilewatinya saat keluar dari ruangan pesta pun tidak ada yang berani bertanya bahkan menyapanya. Mereka semua takut pada wajah Sean yang menakutkan.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊


Apa yang membuat Sean pulang dengan marah ya?

__ADS_1


Apa jangan2 terjadi sesuatu pada Evelyn di rumah?


__ADS_2