Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_64. Penculikan


__ADS_3

Malam ini, pertama kalinya Sean mengajak Bryan dan Berlian untuk menghadiri sebuah acara pesta. Biasanya jika ada undangan pesta, ia hanya akan mengajak Evelyn untuk menemaninya. Tapi karena pemilik perusahaan yang sedang berulang tahun adalah temannya dan juga rekan bisnisnya sekaligus, Sean berpikir akan lebih baik jika ia juga mengajak Bryan dan Berlian.


Sean dan Evelyn berjalan berdampingan. Tangan kanan Evelyn menggamit lengan kiri Sean. Bryan dan Berlian mengikuti mereka di belakang. Sean mengajak Evelyn dan anak mereka menghampiri ttuan rumah untuk menyapa dan memberikan hadiah yang sudah ia persiapkan.


"Selamat malam Frans." Sean menyapa. Dan seseorang yang tadinya membelakangi mereka membalikan badannya menghadap Sean. Matanya berbinar melihat siapa yang baru saja datang menyapanya. Beberapa orang yang tadinya berbicara dengan pria itu juga ikut memperhatikan kedatangan Sean dan yang lainnya.


"Wah Sean kamu sudah datang." Frans menjabat tangan Sean.


"Akhirnya kamu datang. Sejak tadi Joe sudah seperti induk ayam yang mau bertelur menunggumu." Frans berkata dengan melirik Evelyn yang berdiri di samping Sean. Juga dua anak kecil yang manis di sana.


"Sean apa kamu tidak berniat memperkenalkan istrimu padaku?" Frans menatap Sean.


"Sayang dia ini temanku. Frans. Dialah tuan rumah malam ini."


Evelyn mengulurkan tangannya yang segera disambut senang oleh Frans. "Selamat malam tuan Frans. Senang bertemu dengan anda." Ucap Evelyn sambil tersenyum.


"Memang pantas Sean menunggu anda sejak lama. Anda memang sangat cantik dan menarik." Ucap Frans yang langsung mengaduh karena tulang keringnya yang ditendang Sean dengan keras. Evelyn terkikik mendengarnya.


"Paman. Apa paman tidak malu menggoda wanita di depan suaminya?" Frans mengalihkan perhatiannya pada pria kecil yang sudah seperti temannya dalam versi mini.


"Apakah ini anakmu Sean? Dia benar-benar memiliki mulut beracun sepertimu." Frans mengetuk dagunya memperhatikan Bryan dengan seksama. Benar-benar seperti temannya.


"Jangan bicara sembarangan. Apa kamu mau anakmu diejek orang lain hah?" Sean berkata dengan marah. Ia sekali lagi menendang kaki Fran. Kali ini laki-laki itu beruntung karena bisa menghindar dengan cepat.


"Huh. Anak! Aku masih belum berpikir mempunyai anak dalam waktu dekat." Frans mendengus.


"Paman ini bisanya hanya suka bermain tanpa mau ada hasilnya. Hati-hati paman. Sekarang ini penyakit banyak macamnya." Evelyn hampir tidak bisa menahan tawanya saat mendengar ucapan putrinya. Frans bahkan membelalakkan matanya. Dari mana anak sekecil ini bisa memberitahunya hal-hal semacam ini.


"Brily tidak boleh berkata seperti itu." Evelyn memelototi gadis cilik itu hingga membuat nyali Berlian menciut.


"Maaf Mom, maaf Paman. Tapi niatku benar-benar baik." Berliam berkata dengan nada bersalah. Tapi dia juga tidak mau disalahkan begitu saja. Jadi dia dengan cepat mencari alasan yang masuk akal.


"Huh sudahlah. Ingat jangan katakan hal semacam ini lagi." Evelyn menatap putrinya tidak berdaya.


"Maafkan putra dan putri saya tuan Frans. Entah mereka belajar dari mana perkataan seperti ini." Evelyn meminta maaf dengan tulus. Memang apa yang dikatakan anak-anaknya benar. Tapi tidak bisa seenaknya saja diucapkan pada orang lain.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nona Evelyn. Anak-anak anda snagat manis. Sama seperti anda. Ach!" Lagi-lagi ia mengaduh. Frans tidak tahu sejak kapan Sean memiliki hobi menendang tulang kering. Apakah Sean tidak tahu jika itu sangat sakit?


"Apa mau marah?" Sebelum Frans meluapkan amarahnya pada Sean, kalimat yang sudah hampir keluar tertahan di tenggorokan saan melihat wajah Sean yang terlihat marah.


"Aku tidak. Siapa yang marah? Mana mungkin aku marah. Aku yang salah. Iya. Aku yang salah." Frans dengan cepatnya merubah raut wajahnya dari emosi menjadi penuh rasa bersalah.


"Sudahlah. Tidak ada gunanya berbicara denganmu lagi. Aku akan mencari Joe." Ucap Sean. Kemudian ia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya dan ia lempar pada Frans yang dengan cepat ditangkap oleh Frans. "Itu hadiah dari kamim tidak perlu terlalu berterima kasih padaku." Ucap Sean lalu membawa Evelyn dan kedua anak mereka meninggalkan Frans yang membuka dengan cepat hadiah yang diterimanya dari Sean.


Frans memandangi gulungan kertas di tangannya. Itu adalah surat kepemilikan saham di Kingston Company. Tidak banyak. Hanya lima persen. Tetapi ini bahkan lebih berharga dari sebuah komtrak kerjasama yang sebenarnya ia harapkan menjadi hadiah dari Sean.


Pesta berjalan lancar. Karena Sean dan Evelyn adalah orang penting dalam dunia bisnis, banyak orang yang menghampiri mereka untuk menyapa dan berbasa basi dengan mereka. Membuat Bryan dan Berlian merasa bosan terjebak di dunia orang dewasa.


Bryan menarik gaun Evelyn dan berbisik dengan pelan. "Mom kami bosan. Bolehkah kami berkeliling?"


Evelyn memandang Berlian dan Bryan dengan rasa bersalah. Anak-anak itu benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Ia baru sadar jika sudah mengabaikan kedua anak itu. Evelyn bepikir sebentar lalu berbisik pada Sean untuk menyampaikan permintaan kedua anak mereka.


Sean memandang kedua anaknya. Lalu memandang sekeliling untuk memperhatikan situasi. Banyak anak-anak yang diajak orang tua mereka menghadiri pesta ini. Dan mereka berkeliaran bebas diantara orang-orang dewasa.


Belum sempat Sean mengatakan sesuatu, semua lampu tiba-tiba padam. Semua orang tentu saja merasa terkejut. Dalam sekejap, kegafuhan terjadi. Tapi Evelyn dan Sean bukan terkejut. Tetapi mereka khwatir. Keduanya langsung memanggil kedua anak mereka. Dan meraba-raba tempat dimana anak-anak itu berada sebelumnya.


"Blokir jalan masuk dan keluar. Anak-anak hilang." Ucap Sean pada anak buahnya yang ada di luar hotel.


Tak lama kemudian lampu kembali menyala. Sean ย dan Evelyn segera mencari keberadaan anak Bryan dan Berlian. Namun kedua anak itu benar-benar tidak ada.


"Sean..." Evelyn memandang Sean denganmata berkaca-kaca.


"Sayang, jangan panik. Kita harus berlikiran tenang." Sean memeluk Evelyn dan menenangkannya dengan mengelus lembut punggungnya. Evelyn mengangguk dengan lemah. Sekuat-kuatnya seorang ibu, ia tidak akan bisa kuat jika melihat anak-anaknya berada dslam bahaya.


"Sebaiknya kita segera menemui Frans. Hotel ini miliknya. Kita harus meminta bantuannya." Ucap Sean sambil memapah Evelyn mencari Frans yang kini juga sedang sibuk.


Frans yang menerima laporan dari Sean bahwa anak-anaknya telah hilang tentu saja sangat terkejut. Lalu ia dan Joe yang juga imut berkumpul membawa Sean dan Evelyn menunu ruang pusat CCTV hotel untuk mencari keberadaan hotel. Namun sayang, sistem CCTV hotel sudah dibajak sebelumnya hingga saat kejadian berlangsung, tidak ada yang terekam.


"Sial!" Umpat Sean geram.


Tak lama kemudian terdengar suara helikopter dari atas atap. Sean berlari kencang diikuti Frans, Joe dan anak buahnya yang sudah berdatangan menuju atap. Evelyn melepas highlissnya dan berlari mengikuti Sean meskipun ia tidak bisa berlari dengan cepat.

__ADS_1


Sean terlambat. Saat ia sampai di atap, helikopter itu sudah pergi. Laki-laki itu menatap helikopter yang sudah menjauh dengan tatapan bersalah.


"Periksa milik siapa heli itu." Sean berkata dingin pada anak buahnya yang ada di belakangnya.


Evelyn sampai di atap. Ia melihat Sean yang hanya berdiri diam di sana. Evelyn mendekati Sean. Joe dan Frans menatap Evelyn dengan merasa kasihan.


"Sean... dimana anak-anak?" Sean membalikkan tubuhnya. Menatap Evelyn dengan perasaan bersalah.


"Maafkan aku Ev..."


"Kamu berbohong. Katamu kamu akan melindungu mereka. Mana buktinya?" Evelyn berkata dengan air mata di kedua pipinya.


"Maafkan aku Evelyn. Aku benar-benar telah gagal." Sean mendekati Evelyn. Namun Evelyn menghempaskan tangan Sean.


"Hiks hiks hiks..." Evelyn akhirnya terisak. Sean yang memeluknya pun sudah tidak ia tolak lagi. Sean memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku Ev... aku tidak bisa melindungi anak-anak kita. Tapi aku akan segera menemukan mereka kembali. Aku berjanji." Ucap Sean setelah Evelyn tenang


"Evelyn... sayang..." Sean memanggil Evelyn saat tidak mendengar suara Evelyn. Sean melihat Evelyn dan betapa paniknya saat menyadari jika istrinya pingsan.


"Siapkan mobil! Kita pergi ke rumah sakit." Perintah Sean sambil mengangkat tubuh Evelyn yang tak sadarkan diri.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir๐Ÿ˜


Mau double up?๐Ÿ˜€


Boleh...๐Ÿ˜Š


Tapi ada syaratnya...

__ADS_1


Jika vote hari Senin bisa sampai 10 akoh akan double up jika 20 vote, akoh tambahin lagi. Begitu juga kelipatannya ๐Ÿ˜†


__ADS_2