Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_80. Evelyn Sadar


__ADS_3

Sean semakin menenggelamkan kepala Evelyn ke dalam dekapaannya sambil menghujani pucuk kepala istrinya dengan ciuman singkat.


"Aah... Rasanya aku sudah tidak tahan." Sean berteriak pelan. Setiap kali ia bersama Evelyn, pastri keinginan untuk menyalurkan hasra't pada istrinya itu muncul. Padahal dia tahu jika istrinya masih belum bisa melayaninya. Dan hal ini sering membuatnya frustasi.


Tak jarang, Sean mandi air dingin tengah malam saat ia harus membantu Sylvia mendapatkan ASI dari Evelyn. Menyentuh dan membelai bukit kembar yang sekarang ini mengeluarkan susu itu selalu bisa membuatnya tidak terkendali. Ingin sekali ia menikmati salah satu diantara keduanya bersama dengan putrinya itu.


Dulu bukit itu miliknya seorang. Ia selau suka bagian itu. Sekarang sepertinya ia harus merelakannya pada putrinya meskipun itu terlalu sayang untuk diabaikan.  Membayangkannya saja membuat senjatanya langsng turn on.


"Sayang, senjataku ini sudah terlalu lama menganggur. Apa kamu mau dia mencari tempat bersarang baru?"


"Jika kamu berani melakukannya, akan aku pastikan senjatamu itu akan turn off selamanya."


"Sayang!" Sean kaget mendengar suara yang sangat ia kenali. Suara yang sangat ia rindukan.


Sean segera bangun demi menyadari istrinya itu telah membuka matanya meski hanya sedikit. "Sayang kamu bangun? Aku tidak berhalusinasi lagi kan?" Sean segera menampar pipinya untuk memastikan. Selama ini Sean beberapa kali membayangkan jika Evelyn bangun. Tapi kenyataannya, istrinya itu masih setia tertidur cantik.


"Kalau aku tidak bangun apa kamu mau apa? Katakan sekali lagi." Bibir yang tertutup itu terbuka dan mengeluarkan suara bergetar. Sangat jelas jika si pemilik suara berusaha untuk berbicara.


"Tidak akan apa-apa sayang. Kamu jangan bicara lagi. Aku akan memanggil suster Citra dan juga Dokter. Anak-anak pasti akan sangat senang mengetahui kamu telah kembali.


Tangan Evelyn dengan lemah telulur hendak meraih lengan Sean untuk mencegahnya pergi. Namun lengan Sean tak terjangkau. Evelyn juga sudah tidak kuat berbicara lagi. Tubuhnya serasa lemah. Matanya sudah seperti sangat berat.


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Suster Citra datang dengan tergesa-gesa. Sean ada di belakangnya. "Suster tolonh periksa istriku dulu. Aku akan memanggil mami dan anak-anak."


"Sebentar tuan. Sebaiknya tunggu nyonya diperiksa dokter dulu. Kondisi nyonya masih belum stabil. Jangan sampai kondisi nyonya kembali drop karena kelelahan." Ucap Suster Citra melarang Sean untuk memanggil semua orang untuk masuk. Sean mengangguk mengerti.


"Sayang, jangan khawatir. Semua baik-baik saja." Sean mendekati Evelyn. Mencium keningnya dengan lembut. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia di dalam hatinya.


"Sean, dimana bayiku?" Tanya Evelyn.


"Bayi kita sudah lahir sayang. Cantik sepertimu." Jawab Sean mengelus kepala Evelyn. "Biarkan dulu dokter memeriksamu. Setelah itu aku akan membiarkanmu melihat putri kita." Lanjut Sean saat melihat dokter Rian yang mengambil alih untuk merawat Evelyn semenjak pindah ke rumah datang.

__ADS_1


"Rian periksa kondisi istriku." Perintah Sean begitu dokter muda itu mendekat.


"Kamu seharusnya ingat sedang membutuhkan bantuanku. Seharusnya kamu sedikit menghormatiku." Decak Dokter Rian kesal. Namun ia segera memasang stetoskopnya dan memeriksa Evelyn dengan teliti.


"Awas saja kalau kau sampai melakukan kesalahan!" Balas Sean tak terima.


"Kalau kamu disini hanya untuk menggangguku memeriksa istrimu lebih baik kamu keluar saja." Dokter Rian melirik Sean dengan kesal. Tidakkah ia tahu jika suaranya itu mengganggu konsentrasinya. Mendengar ancaman Dokter Rian, Sean pun diam. Ia mengamati dengan was-was.


"Bagaimana kondisimu Evelyn? Apa yang kamu rasakan?"


"Kamu kan dokternya kenapa malah tanya padanya?" Sean merasa kesal. Dokter Rian adalah dokter muda yang hebat. Jadi kenapa malah bertanya pada pasien? Sean mulai berpikir jika Rian mendapatkan gelarnya dengan cara curang.


"Diam Sean! Kalau aku tidak bertanya bagaimana aku tahu bagian mana yang perlu aku periksa." Jawab Dokter Rian dengan kesal. Lalu ia kembali memandang Evelyn.


"Aku hanya merasa lemas dokter." Jawab Evelyn.


"Apa tidak merasa keluhan lain? Pusing? Nyeri di bagian tubuh atau mungkin ada yang lain?"


"Keluar kamu. Kamu di sini mengganggu saja." Decak dokter Rian kesal. Sedangkan suster Citra yang sudah hapal dengan sikak kedua orang ini bila bertemu hanya bisa memasang senyumnya dengan terpaksa.


Suster Citra sebenarnya bukan suster yang biasanya menjadi asisten dokter Rian. Mereka berbeda rumah sakit. Tetapi ia cukup mengenal pribadi dokter muda yang tampan itu selama ia bekerja di rumah besar ini. Dan sifatnya biasanya tidak seperti yang ditunjukkan setiap bersama dengan Sean. Jika bersama orang lain, dokter Rian akan terlihat tenang dan ramah. Tetali bila dia bersama dengan Sean, kedua orang itu sudah seperti anak-anak saja.


Sean ingin menyangkal, tapi suara lemah Evelyn menghentikannya. "Diam atau keluar."


"Aku akan diam sayang." Sean langsung menurut. Ia menutup rapat-rapat mulutnya seberapa gatalnya mulutnya itu ingin kembali mendebat dokter pribadi sekaligus sahabatnya itu.


Melihat penampilan Sean yang seperti anak anj1ng yang sedang dihukum oleh majikannya itu membuat suster Citra semakin heran. Sean yang biasanya terlihat sangat berwibawa ternyata akan berubah saat berhadapan dengan istrinya. Sepertinya memang benar papatah yang mengatakan, 'Pria tercipta untuk menguasai dunia, sedangkan wanita tercipta untuk meguasai pria.'


"Semuanya normal. Cidera kaki juga sudah lebih baik. Kalau sudah kuat untuk bangun nanti cobalah untuk menggerakkan kakimu sedikit demi sedikit." Dokter Rian melipat stetoskopnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas dokternya.


Setelah mendengar bahwa kondisi Evelyn sudah stabil Sean keluar untuk memanggil semua orang yang sednag menunggu cemas di luar kamar. Di sana ada Maxim, Laura yang sedang menggendong bayi Sylvia dna juga si kembar. Mereka semua cemas sejak dokter Rian masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Terima kasih dokter." Evelyn tersenyum menunjukan rasa Terima kasih.


"Itu sudah menjadi tugasku Evelyn. Aku sangat senang kamu akhirnya bangun juga. Apa kamu tahu jika suamimu itu mengancam akan mengirimku ke Ukraina untuk menjadi relawan jika minggu depan kamu tidak juga bangun."


"Aku minta maaf dokter Rian. Sean itu kadang bersikap konyol."


"Tidak masalah. Aku tahu dia hanya bercanda. Itu juga karena dia sangat mencintaimu. Aku imut bahagia kalian akhirnya bersatu." Dokter Rian melirik Sean yang baru saja kembali masuk setelah keluar untuk memanggil semua orang. Dokter itu lalu mundur bersama suster Citra. Mereka tahu bahwa saat ini merupakan saat bagi keluarga untuk berbahagia.


Di tangan Sean, Bayi Sylvia yang saat ini sedang dipakaiakan pakaian berwarna pink yanh dibelikan Evelyn dulu. Di kiri dan kanan Sean Bryan dan Berlian tersenyum menatap monmy mereka yang akhirnya membuka matanya setelah sekian lama. Di nelakangnya, Maxim dan Laura yang menangis bahagia.


Mata Evelyn tertuju pada bayi mungil di tangan Sean. Ia dengan sekuat tenanga mengulurkan tangannya untuk menyentuh bayi kecil itu.


"Dia putri kita. Namanya Sylvia. Apa kamu suka?" Sean duduk di tepi ranjang. Sedangkan si kembar langsung naik ke atas ranjang.


Evelyn menyentuh pipi bayi mungil itu dengan lembut dan mengangguk.  "Aku suka. Dia lucu sekali." Ucap Evelyn. Ia ingin mencium Sylvia. Tetapi dia tidak kuat mengangkat kepalanya. Sean yang mengetahui itu segera mendekatkan bayi itu untuk membuat Evelyn bisa mencium bayi mereka.


"Maafkan mommy yang belum bisa merawatmu sayang." Ucap Evelyn berurai air mata.


Evelyn segera menghapus air matanya lalu ganti menatap Bryan dan Berlian yang dari tadi menatapnya dengan sendu. Keduanya langsung memeluk mommy mereka begitu Evelyn memberikan kode untuk mereka agar mendekat.


"Mommy kami merindukan mommy." Ucap Bryan dan berlian bersama. Mereka memeluk erat Evelyn. Air mata ketiga orang yang saling berpelukan itu tidak bisa lagi terbendung. Begitu juga dengan Laura yang sudah menangis sejak melihat Evelyn membuka matanya. Evelyn tidak bisa berkata-kata. Ia tidak tahu berapa lama ia tidak sadarkan diri. Tapi ia merasa itu adalah waktu yang sangat lama.


Malam ini semua orang bahagia. Maxim dan Laura akhirnya bisa tidur dengan nyenyak tanpa merasa khawatir lagi. Melihat Evelyn mempunyai keluarga kecilnya yang bahagia membuat mereka sebagai ornag tua ikut merasakan bahagia.


Begitu juga dengan ranjang besar yang beberapa saat lalu menjadi saksi kesedihan Sean malam ini nerubah menjadi saksi kebahagian keluarga kecil yang kembali bersatu. Kali ini dengan posisi yang berbeda dimana Evelyn dan Sean ada di kedua sisi pinggir. Di depan Evelyn, bayi Sylvia ditidurkan dengan nyaman di sana. Di tengah-tengah ada Berlian dan di depan Sean ada Bryan. Mereka tidur dengan senyum di wajah mereka.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2