Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_3. Siswa Baru


__ADS_3

Lima belas menit kemudian upacara akhirnya selesai. Sesuai dengan janjinya, Clara lang menyusul Berlian di ruang UKS. Ia menemukan temannya duduk sendirian di atas ranjang dengan telinganya yang sudah tertutup oleh earphone. Matanya juga terpejam tapi Clara tahu dia tidak sedang tidur.


"Bagaimana keadaanmu?" Merasakan sentuhan di lengannya, Berlian segera membuka matanya.


"Tidak apa-apa."


"Huh! Senin depan tidak usah ikut upacara. Melihat wajah pucatmu itu membuatku takut." Clara memegang lengan Berlian.


"Tidak apa. Jika aku tidak membiasakannya sampai kapanpun aku akan dikalahkan oleh panas matahari itu." Jawab Berlian. "Ayo kita pergi ke aula. Jangan sampai kita berdua dihukum." Lanjutnya yang segera diiyakan oleh Clara.


Berlian turun dari ranjang setelah memasukan ponselnya ke dalam saku dan pergi bersama dengan Clara menuju ke Aula.


Setelah kepergian dua gadis itu, ranjang di sebelah ranjang Berlain tadi bergerak. Seseorang bangun dan merenggangkan tubuhnya. Wajahnya tampan dengan sentuhan malas dimanapun tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya. Bahkan malah membuatnya terkesan acuh dan tak tersentuh.


Dia juga siswa baru, sama seperti Berlian dan Clara. Semua orang di sekolah lamanya tidak ada yang tidak mengenalnya. Rezvan Valeeqa Uxayr. Panggilanya Rezvan. Meskipun nama Rezvan memiliki arti seseorang yang menyukai ilmu pegetahuan, Rezvan jauh dari kata itu. Dia sama sekali tidak suka belajar.


Rezvan selalu malas melakukan apapun untuk memperbaiki nilainya yang pas pasan. Dia tidak pernah mengikuti upacara sejak ia masuk ke sekolah sejak ia kecil. Ia akan memiliki banyak ide untuk kabur dna bersembunyi di yempat yang paling aman tanpa diketahui.


Pekerjaan Rezvan selama di kelas sebagian besar dihabiskan dengan tidur. Tidak peduli apa yang terjadi di kelas, ia akan tidur. Bahkan jika ia dihukum berdiri di depan kelas pun, ia akan menggantinya dengan tidur. Ia pun tidak akan keberatan untuk tidur di dalam kamar mandi jika ia dihukum untuk membersihkannya. Hingga pada akhirnya, semua guru menyerah untuk menghukumnya dan membiarkan tingkahnya itu.


Meskipun Rezvan memiliki segudang citra buruk, tetapi ia sangat handal dalam permainan basket. Dia adalah pemimpin team kebaggaan sekolah yang telah membawa SMP nya dulu mnejadi juara nasional dua tahun berturut-turut. Jadi meskipun bidang akademiknya rendah, masih ada nilai plus yang dapat diambil.


Dengan wajahnya yang tampan pula, ia menjadi idola para gadis.


"Siapa dia?" Gumamnya sambil menyibakkan gorden yang menjadi pembatas antara ranjang satu dengan ranjang lainnya.

__ADS_1


Awalnya Rezvan sedang tidur saat Berlian masuk ke dalam ruangan. Rezvan sudah ada di sana sejak bel masuk belum berbunyi. Jadi tidak ada yang tahu jika dia bersembunyi di sana. Baru saat dokter itu bertanya pada Berlian, ia terbangun karena suata dokter yang keras.


Saat Rezvan mendengar jika dokter telah keluar, ia berniat untuk membuka gorden dan melihat siapa tetangganya di UKS karena penasaran pada gadis yang dipuji cantik oleh dokter yang sangat sulit mengakui kecantikan orang lain. Tapi saat tangannya baru terangkat, ia mendengar suara ponsel tetangganya berbunyi beberapa kali sebelum tetangganya itu terlihat sibuk dengan ponselnya.


Rezvan semakin penasaran saat mendengar suara yag cukup merdu itu mengumpat untuk hal yang tidak ia tahu.


"Heh... sepertinya angkatan tahun ini tidak sesederhana yang terlihat." Rezvan tersenyum saat ia memgambil tas miliknya dan keluar dari ruang UKS dengan santai. Menuju ke aula juga.


Di dalam aula, kegiatan MOS sudah dimulai. Sudah beberapa tahun sekolah tidak mengizinkan kegiatan MOS seperti biasanya karena dapat menimbulkan senioritas selama prosesnya. Jadi mereka menggantinya dengan pegenalan sekolah dan lingkungannya. Jadi selama dua jam, mereka akan berada di dalam aula dua hari ini. Dan hari ketiga, mereka akan diajak berkeliling sekolah untuk pengenalan.


Berlian duduk dengan tenang sejak ia masuk ke dalam aula. Sebaliknya, Clara yang sudah lama diam sudah mulai merasa gatal di mulutnya. Ia ingin segera keluar dan berteriak sampai puas. Clara hampir mati kebosanan hingga saat seorang siswa laki-laki baik ke atas panggung sederhana di depan. Mata Clara langsung kembali terlihat hidup.


"Hai semua... " sapa pemuda tanpan itu.


Kerumunan langsung membalasnya dengan semangat. Sepertinya bukan hanya Clara yang hampir kehilangan nyawanya beberapa saat yang lalu.


Kerumunan langsung bersemangat. Mereka berbisik-bisik.


Di depan, pemuda bernama Raka itu memperkenalkan dirinya. Raka adalah siswa kelas XII IPA unggulan yang merupakan ketua OSIS yang merupakan siswa tertampan di sekolah itu. Setelah memperkenalkan dirinya dengang singkat, ia mempersilahkan jika ada yang ingin bertanya.


Clara langsung bereaksi. Dia berteriak sambil melompat-lompat di tempatnya karena ia dan Berlian datang terlambat, mereka mendapatkan duduk di bagian belakang.


"Yah. Gadis manis di belakang sana. Apa yang ingin ditanyakan?" Semua orang langsung memperhatikan Clara. Awalnya tidak ada yang memperhatikan karena duduk di pojok belakang.


"Apa kakak sudah memiliki pacar?" Tanya Clara dengan tersipu. Ia menggerakkan tubuhnya dengan lucu.

__ADS_1


"Huuuu..." semua bersorak. Padahal mereka juga sebenarnya memiliki pertanyaan yang sama.


Clara acuh tak acuh dengan sorakan itu. Setelah bertanya, ia kembali duduk. Awalnya posisi Berlian terhalang oleh Clara. Jadi tidak ada yang melihatnya. Sekarang, setelah Clara duduk Berlian pun terekspos apalagi pandagan mata semua orang masih mengarah ke mereka.


Clara bingung saat semua orang sepertinya terdiam. Apakah ada mesin waktu yang menghentikan waktu? Lalu ia sadar apa yang terjadi saat menyadari tatapan mata semua laki-laki mengarah ke sampingnya. Berlian yang duduk dengan tenang tanpa bergerak sedikitpun sejak tadi.


"Ehem-ehem." Clara berdehem untuk menyadarkan semua orang. Akhirnya semua menarik pandangan matanya pada gadis cantik yang bahkan tak terganggu dengan tatapan mereka. Namun mereka tidak berhenti untuk meliriknya dari waktu ke waktu.


"Eh oh... belum. Saya belum memiliki pacar." Kerumunan kembali berteriak senang dengan histeris.


"Tenang saja kak! Aku sudah datang untuk menghentikan kejombloanmu." Teriak salah satu gadis cantik di barisan depan. Semua kembali bersorak.


"Aku siap jadi pacar masa depanmu kak." Teriak gadis lain. Dan banyak lagi gadis yang berteriak untuk itu.


Rezvan yang duduk di barisan yang barisan belakang memperhatikan gadis yang berada di barisan yang sama tampak tenang sejak tadi. Gadis itu bahkan tidak menunjukkan reaksi apapun seperti gadis-gadis lainnya.


Berlian yang merasa diperhatikan segera menoleh. Dan mendapati siswa tampan tersenyum manis padanya dengan kedopan mata menggoda. Alih-alih memberinya balasan senyum, Berlian malah mengerutkan alisnya sebelum ia memalingkan wajahnya untuk memeriksa pesan baru yang masuk ke dalam ponselnya.


Rezvan tidak pernah diacuhkan oleh seseorang sebelumnya. Apa lagi oleh seorang gadis. Dengan ketampanannya yang di atas rata-rata, ia dapat dengan mudah mendapatkan gadis manapun.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2