Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_5. Supir Tampan


__ADS_3

Berlian dan Clara berhenti saat mereka memandang heran kerumunan gadis-gadis di depan gerbang sekolah. Mereka berkerumun mengelilingi satu titik. Didengar dari apa yang mereka katakan, mereka memuji pria tampan yang berdiri di depan mobil dengan acuh.


Karena Berlian dan Claea belum melihat mobil jemputan mereka, mereka berdiri tak jauh dari kerumunan dan memperhatikan para gadis seusia mereka memuji pria tampan yang mereka lihat.


"Untuk siapa dia datang?" Suara salah satu gadis itu terdengar.


"Entahlah. Tapi aku berharap aku bisa menggantikannya." Sahut gadis lain.


"Waah... lihat caranya mengangkat telepon! Terlihat elegan dna menawan!" Teriak gadis lain bersemangat saat melihat pria tampan yang ia kagumi mengambil ponsel dari saku celana dan menempelkan ponsel itu di telinganya. Gerakannya meskipun sederhana tetapi terlihat sangat artistik dilihat dari manapun.


Berlian yang tidak tahu apa yang terjadi di tengah kerumunan itu tidak peduli lagi setelah merasakan getaran di saku kemejanya. Ponselnya berbunyi. Berlian mangambilnya dan melihat nama Johan menelepon.


"Halo nona Berlian. Anda dimana?" Suara pria di seberang telepon terdengar tegas.


"Halo kak. Aku di depan gerbang."


"Dimana? Kenapa saya tidak melihat anda? Tetap di sana. Tunggu saya kesana." Tanya Johan. Ia tidak memperhatikan kelompok gadis yang berkerumun di sekelilingnya. Jadi secara alami ia mengabaikan semuanya dan menganggap mereka tidak ada.


"Aku di sebelah kiri gerbang. Bersama Clara." Setelah ia selesai telepon ditutup. Berlian memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.


"Siapa?" Tanya Clara.


"Kak Johan."


"Ah! Kenapa kamu tidak bilang kalau kak Johan yang menjemputmu hari ini? Bagaimana penampilanku? Apa berantakan?" Tanya Clara panik sambil merapikan rambut sebahunya dengan jari. Berlian tersenyum ringan melihat sahabatnya itu. Dia tahu betul kalau Clara menyukai Johan sejak pria itu datang ke rumahnya dua tahun lalu. Tidak heran memang, Johan tampan. Apalagi Johan berusia lima tahun di atas mereka jadi terlihat lebih dewasa.


Johan berjalan membelah kerumunan. Para gadis secara alami memberikan jalan pada pria tampan itu ketika pria itu berjalan. Mereka memperhatikan kemana arah pria tampan itu berjalan. Dan akhirnya mereka tertuju pada dua orang gadis yang berdiri tak jauh dari mereka. Gadis dengan rambut sebahu langsung tersenyum manis. Dan satu gadia lainnya bediri tanpa ekspresi di sampingnya.


"Hai kak Jojo." Clara segera menyapa. Meskipun Jojo bukan panggilannya sehari-hari, Johan membiarkan saja gadis itu memangilnya dengan semaunya.


"Hai juga nona Clara. Belum dijemput?" Tanya Johan.


"Belum. Nah itu dia." Clara sedikit merengut saat mobil melihat jemputannya datang. Awalnya ia berniat akan menumpang pada Berlian agar ia memiliki banyak waktu untuk mendekati Johan yang sudah ia kejar dengan halus satu tahun belakangan.


"Baguslah kalau begitu." Jawab Johan.


"Ooh.. Brily, kak Jojo aku duluan ya." Clara dengan enggan berjalan dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Silahkan nona." Johan menatap Berlian. Tanpa menjawab, Berlian berjalan dan Johan mengikutinya. Keduanya benar-benar mengabaikan sekumpulan gadis yang masih saja berkerumun itu. Padahal mobil jemputan mereka sudah tiba. Mereka baru bubar hanya setelah keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


"Kak Johan, mengapa kamu berkata seperti itu pada Clara?" Tanya Berlian sambil memandang Johan dari kaca spion.


"Mengatakan apa?" Johan pura-pura tidak tahu. Ia memutar kemudi dengan santai saat berbelok. Namun ia tidak berani membalas tatapan Berlian dan terus menghindarinya.


"Jangan berpura-pura tidak megetahuinya kak." Berlian semakin tidak sabar.


"Mengatahui apa?"


"Aku tidak percaya jika kak Johan tidak mengetahui jika Clara sebenarnya mencintai kak Johan kan?" Berlian tidak mengalihkan pandangannya dari kaca spion. Jadi pasa saat mata Johan secara tidak sengaja bertemu dengannya, ia tahu pemuda itu berbohong.


"Huh! Saya melakukannya demi kebaikan nona Clara." Jawab Johan pada akhirnya.


"Apakah kakak berpikir itu akan menyakitinya?" Berlian semakin mendesak.


"Saya tahu. Tapi lebih baik dia menyerah sekarang dari pada menunggu sesuatu yang tidak mungkin." Jawab Johan serius.


"Tidak ada yang tidak mungkin kak. Hati manusia bisa saja berubah. Saat ini mungkin kakak memang belum menyukainya. Tapi siapa yang tahu suatu saat nanti."


"Saya tahu hati saya sendiri nona."


Sisa perjalanan, keduanya diam. Johan fokus pada jalanan di depannya dan sesekali melirik majikanya yang duduk dengan tenang. Menenggelamkan kepalanya menatap layar ponsel yang selalu ikut bersamanya di saat Berlian pergi.


"Nona, kita sudah sampai." Ucap Johan setelah ia mematikan mesin mobilnya di depan mansion sambil menoleh pada Berlian di kursi belakang.


"Iya. Terima kasih kak." Berlian mengangguk. Memasukkan ponsel ke dalam saku dan mengambil tas punggungnya yang ia letakkan di sebelahnya.


"Sama-sama nona. Sudah menjadi tugas saya. Apa setelah ini nona ada rencana untuk keluar?" Tanya Johan sebelum Berlian turun dari mobil.


"Tidak kak." Berlian menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa setelah mengantarkannya sekolah Johan tidak akan kembali ke mansion. Tetapi pergi ke kantor Kingston. Setelah mengantar pulang juga akan seperti itu. Kembali pergi ke kantor. Kadang Berlian penasaran apa yang dilakukan sopirnya itu di sana. Tapi Berlian tetap Berlian, ia tidak akan begitu menganggur untuk mencari tahu.


Setelah mengatakan itu Berlian turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam mansion. Johan menatap punggung gadis itu hingga hilang di balik pintu. Baru setelah itu, Johan menyalakan lagi mesin mobilnya dan pergi keluar dari halaman. Kembali ke kantor.


Semalam Berlian tidur agak larut setelah membantu Mari Berbicara menyelesaikan satu kasus. Jadi ia bangun agar terlambat dan turun dengan tergesa-gesa. Saat ia turun, adiknya bahkan sudah memulai sarapannya. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah dang daddy yang sudah rapi di meja makan. Namun karena ia terlambat, ia tidak memikirkanya pada detik berikutnya.


"Pagi Mom." Berlian mencium pipi Evelyn.

__ADS_1


"Pagi sayang." Evelyn tersenyum menyambut putrinya.


Lalu Berlian juga mencium pipi Sean. "Pagi Dad."


"Pagi sayang." Sean mengelus kepala Berlian. Putrinya ini tumbuh dengan cepat dan berubah menjadi gadis yang cantik. Sepertinya ia harus siap jika sewaktu-waktu ia bukan lagi pacar putrinya.


"Pagi sylvia." Berlian mengelus kepala Sylvia.


"Pagi kak."


"Mau sarapan apa sayang?"


"Aku sudah terlambat mom. Jadi aku akan meminum susunya saja." Berlian bahkan tidak melepas tasnya saat ia duduk dan memintum susunya dengan tergesa-gesa.


"Pelan-pelan. Nanti tersedak." Ucap Evelyn khawatir. Tapi Berlian masih melanjutkan minumnya dengan cara yang sama. Evelyn menggelengkan kepalanya. Lalu saat ia melihat susu di gelas telah habis, Evelyn mengulurkan tisu untuk merapikan bibir Berlian.


"Brily berangkat dulu mom, dad." Pamit Berlain sambil kembali mencium pipi Sean dan Evelyn.


"Jangan minta Johan untuk mengebut. Keselamatan jadi yang pertama." Teriak Evelyn saat melihat Berlian berlari kecil keluar dari mansion. Mendengar nasihat mommynya, ia mengangkat jempol tangannya sebagai jawaban.


"Pagi nona." Sapa Johan saat melihat Berlian keluar. Ia segera membukakan pintu mobil.


"Selamat pagi kak." Berlian segera masuk dan duduk dengan nyaman. Johan segera berlari dan masuk ke dalam mobil.


"Hari ini aku telat bangun kak. Tolong agak cepat ya." Ucap Berlian saat Johan baru duduk di belakang kemudi.


"Keselamatan nomor satu." Berlian tercengang. Mengapa pemuda ini memiliki nasihat yang sama dengan mommynya. Namun sebelum ia tersadar, ia kembali terkejut saat melihat kotak bekal terulur padanya.


"Jangan biarkan perut kosong saat belajar." Johan meletakkan kotak bekal itu diletakkan di samping Berlian.


"Eh..oh. Terima kasih kak." Berlian mengangguk.


Johan tersenyum sebelum melajukan mobilnya dengan tenang. Kali ini, ia sedikit menambah kecepatan laju mobilnya. Ia handal dala berkendara. Ia yakin tidak akan ada hal buruk menimpa mereka. Berlian diam-diam tersenyum saat ia tahu Johan menambah kecepatannya.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2