
"Tunggu!" seru Sean menghentikan Evelyn dan Justin yang kembali merekatkan diri.
Evelyn berbalik dan bertanya dengan santai. "Ada apa?"
Sean menghampiri keduanya dan melepaskan tangan Evelyn yang mengait di lengan kokoh laki-laki bernama Justin itu.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?" Justin merebut kembali Evelyn yang ada di samping Sean. Kembali menariknya ke sisinya. Namun Justin juga tidak mau melepaskan adik yang sangat ia rindukan itu. Ia pun menarik tangan Evelyn mempertahankan adiknya.
"Aku sudah lama tidak bertemu dengan Evy. Seenaknya saja kamu mau menguasainya. Huh! Minggirkan tanganmu!" lanjutnya. Tangannya pun melepas paksa tangan Sean yang menarik erat tangan Evelyn.
"Kamu yang lepaskan tangan Evelyn! Aku adalah calon suaminya." kekeuh Sean.
"Aku tidak peduli siapa kamu. Yang terpentinga adalah lepaskan Evy sekarang!"
Sean hendak membalas. Namun teriakan keras dari Evelyn menyadarkanya jika ia dan Justim secara tidak sadar telah menyakiti Evelyn.
"Lepaskan tanganku!" Sungut Evelyn kesal. Ia menarik kedua tangannya lepas dari pegangan kedua laki-laki tampan yang sedang memperebutkannya.
"Apa kalian pikir aku ini barang yang bisa ditarik-tarik seenaknya saja? Huh! Lebih baik aku pulang sendiri. Kalian jangan mengikutiku lagi!" Lanjut Evelyn sambil memberi kode pada dua orang serba hitam yang selalu mengikutinya untuk menghalangi Sean dan Justin untuk mengikutinya. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Evelyn meninggalkan dua orang yang berusaha mengikutinya namun segera dihadang bodyguard Evelyn.
"Maaf tuan. Kalian berdua tidak boleh mengikuti nona."
"Hum. Lihatlah akibat perbuatanmu. Evy meninggalkanku." Justin memandang Sean dengan kesal.
"Bukan urusanku." Ucap Sean acuh sambil melenggang pergi meninggalkan Justin yang juga berlalu mengikuti bodyguard Justin untuk mengantarnya ke vila keluarganya.
**
Tepat setelah Sean keluar dari bandara, ia mendapatkan kabar dari soni bahwa Evelyn dalam perjalanan kembali ke kantornya. Buket bunga yang dipesannya juga sudah siap. Sudah tertata rapi di depan kantor Marcus Corp. Sekretaris pengertian itu atas inisiatofnya sendiri bahkan menambahkan hujan kelopak bunga agar semakim mendramatisir situasi yang mendukung surprise bosnya itu.
Mendapat kabar itu, Sean memerintahkan pada sopirnya untuk menambah kecepatan mobilnya. Mencari jalan tikus agar dirinya dapat sampai di kantor Evelyn tebih dulu dari pada pemilik kantor itu sendiri.
"Tuan, semua sudah siap." lapor Soni begitu Sean turun dari mobilnya. Sean mengangguk. Ia melihat puluhan buket bunga yang ditata membentuk kata "I Love You" di pelataran depan kantor Marcus Corp.
Melihat persiapan yang sudah sempurna ini Sean merasa puas di hatinya. Ia mengangguk sekali lagi dan menengadahkan tangannya di depan Soni. Dan Soni, tanpa Sean memberitahu maksudnya ia segera menyerahkan satu buket bunga mawar kuning kepada Sean.
__ADS_1
"Berapa lama lagi Evelyn akan sampai?" tanya Sean.
Soni melihat jam di tangannya. Berfikir sebentar sebelum menjawab dengan pasti. "Tiga menit lagi." Lagi-lagi sean hanya mengangguk.
Sean segera menempatkan dirinya di depan semua buket bunga. Menebunyikan buket mawar kuning di belakang tubuhnya.
Sesuai dengan perkiraan Soni tiga menit selanjutnya Mobil yang membawa Evelyn masuk ke area Kantor. Berhenti di depan Sean dan buket-buket miliknya yang memang ditata di tengah jalan.
Evelyn pada awalnya sedang mempelajari dokumen yang dikirm Rosi lewat Emailnya saat ia merasa mobilnya berhenti.
"Maaf nona, ada tuan Sean di depan mobil." ucap sopir yang melaporkan keadaan sesungguhnya.
Evelyn mengangguk, ia pun mendongakkan wajahnya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Sean berdiri dengan senyum maksimalnya di depan mobilnya.
"Apa yang dilakukannya di sana? Apa dia menjemur giginya?" gumam Evelyn sambil membuka pintu mobil dan turun dengan perlahan.
"Apa yany kamu lakukan disitu Sean?" tanya Evelyn heran sebelum ia menutup mulutnya yang terpekik melihat apa yang ada di depan Sean. Tadi belum terlihat karena tertutup bemper mobil. Dan saat ia melangkah maju, buket-buket bunga yang tertata indah itu terlihat begitu menakjubkan.
Dengan senyum yang menawan, Sean melangkah sambil mengeluarkan buket mawar kuning dari balik tubuhya. Ia mendekati Evelyn yang masih menutup mulutnya dengan tangan.
"Sean, aku tidak menyangka kamu melakukan semua ini." ucap Evelyn tidak percaya. Sean ini memang pandai merayu dan menggoda. Apalagi jika sudah di atas ranjang. Tapi dia bukan tipe romantis yang mengumbar kata atau melakukan hal yang manis seperti yang ada di depanya saat ini.
"Aku tahu aku bukan laki-laki baik. Masa laluku juga tidak baik. Tapi aku bisa menjamin jika aku yang ada di masa lalu tidak akan kamu temui di masa sekarang dan masa depan. Kata orang, mawar kuning melambangkan ungkapan maaf. Dengan memberikan bunga ini padamu, aku ingin meminta maaf padamu tentang semua yang ada di masa lalu. Aku ingin menutupnya dan memulai dengan kehidupan yang baru denganmu. Dengan anak-anak kita." Sean menyerahkan buket bunga yang dibawanya. Evelyn tidak bisa tidak menerimanya. Ia begitu terharu atas apa yang dilakukan Sean untuknya.
"Dengan kamu mau menerima buket bunga ini, aku anggap kamu memaafkanku Ev."
"Yah Sean. Aku memaafkanmu." Evelyn mengangguk pasti. Ia menatap Sean dengan haru.
"Karena kamu sudah memaafkanmu, aku ingin memulai lagi kisah kita. Satu bunga sudah kamu terima. Sisanya ada enam puluh delapan. Jadi jika dijumlah ada enam puluh sembilan. Enam puluh sembilan adalah angka yang unik. Jika diputar kemanapun, angka itu tidak akan pernah berubah selamanya. Begitu juga dengan masa depan kita nanti, meskipun banyak cobaan dan halangan yang mengganggu kita nanti, aku harap kita bisa bersatu seperti angka enam dan sembilan yang saling melengkapi dan bersama selamanya." jelas sean panjang lebar. Ini adalah kali pertamanya Sean berbicara panjang lebar menjelaskan sesuatu.
Sean berjongkok. Melipat kaki kananya dan menjadikan lututnya sebagai penopang beban tubuhnya. Ia meraih tangan Kanan Evelyn dengan mesra. Menatap mata Evelyn dengan penuh cinta.
"Evelyn Sylvayna Marcus, apakah kamu bersedia memulai semuanya bersamaku?" Sean bertanya dengan serius.
Mata Evelyn berkaca-kaca mendengarnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan langsung menghambur memeluk Sean. Entah sejak kapan Sean menempati ruang kosong di hatinya. Evelyn juga tidak tahu pasti apa yang membuatnya mencintai laki-laki yang ia kenal sangat menyebalkan itu.
__ADS_1
Laki-laki pemaksa. Mesum. Tidak tahu aturan. Arogan. Dan yang paling menyebalkan yang pernah Evelyn temui. Begitulah Sean di mata Evelyn hingga saat ini. Sepertinya hampir tidak ada hal baik yang dimiliki Sean di matanya.
Lalu bagaimana bisa ia menjadikan Sean sebagai orang yang memiliki hatinya? Memiliki cintanya?
Apa itu karena Wajah tampannya? Atau hanya karena Seanlah ayah kandung dari kedua anaknya? Atau kekuatannya? Paksaannya? Atau kepekasaannya saat sedang icik-icik ehem?
Tapi untuk saat ini, alasan apapun itu tidak penting. Yang ia yakini bahwa ia mencintai Sean dan ia juga yakin Sean mencintainya. Apalagi anak-anak mereka juga sangat bersemangat dan bahagia saat mendengarnya akan bersatu dengan daddy mereka.
"Bagaimana Ev?" tanya Sean menyadarkan Evelyn dari lamunannya.
"Kamu tahu Ev, meskipun posisi seperti ini terlihat sangat mesra dan indah. Tapi percayalah, kakiku mulai mati rasa. Apalagi dengan tambahan beban kamu di depanku. Jika ini berjalan lebih lama lagi, aku menyerah." Sean tersenyum kesakitan.
"Ah maaf Sean. Aku tidak menyadarinya. Lagi pula aku kira kamu perkasa di setiap hal. Ternyata ada hal yang membuatmu menyerah juga. Kamu takut tidak bisa berjalan?" ucap Evelyn menarik dirinya. Dia merasa bersalah. Tapi tetap saja mengejek Sean dengan kata-katanya.
"Aku bukannya menyerah karena takut tidak kuat berjalan, sayang." Sean tersenyum jahil.
"Aku takut tidak bisa melayanimu dengan baik." Jawab Sean dengan senyum mesumnya yang membuat Evelyn sangat kesal.
"Dasar mesum!" Sungut Evelyn.
"Ahahahaha. Apakah ada yang pernah bilang kamu itu semakin manis saat marah seperti ini?" Sean terbahak-bahak. Melihat wajah Evelyn yang memerah karena matah bercampur malu sangat menyenangkan.
"Aku membencimu!" sarkas Evelyn.
"Baiklahaafkan aku. Aku hanya bercanda." Sean segera membawa Evelyn ke dalam pelukannya. Ia bahagia saat ini. Sangat bahagia.
Evelyn pun juga bahagia. Ia tersenyum dengan manisnya di dalam pelukan Sean. Hari ini hari yang sangat indah.
*
*
*
Terima Kasih sudah mampir π
__ADS_1