
Acara pernikahan Sean dan Evelyn tinggal satu Minggu lagi. Namun Sean masih saja sibuk di kantor karena masalah mengenai peretasan masih terus gencar dilakukan. Apalagi beberapa proyek besar yang diambil perusahaannya juga membutuhkan dirinya untuk menangani.
Malam ini Sean kembali lembur. Ia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya agar ia bisa pergi bulan madu setelah semua urusan dapat dia serahkan pada anak buahnya dengan tenang.
“Tuan, tuan Frans dan tuan Joe ada di sini.” Soni masuk setelah mengetuk pintu. Di belakangnya, dua pria tampan masuk begitu saja.
“Hei calon pengantin. Kenapa masih sibuk bekerja? Bukanya menemani calon istrimu yang cantik itu?” pria tampan bernama Frans. Pria itu tanpa dipersilahkan duduk dengan santainya di atas sofa.
“Menemani bagaimana? Apa kamu tidak mendengar jika calon istrinya itu sedang menyegel dirinya sendiri?” Joe ikut duduk di samping Frans dengan senyum mengejeknya.
“Oh aku sampai lupa! Hahahaha.” Keduanya tertawa bersama sambil melakukan tos.
“Soni! Keluarkan dua makhluk yang membuat gaduh ini.” Sean mendesis kesal.
Soni yang selalu malaksanakan perintah Sean langsung bergerak dan menghampiri dua teman bosnya itu.
“Santai bro! Kami hanya bercanda. Lagian kami kemari karena undangan bosmu sendiri.” Frans yang paling dekat dengan Soni segera menjauh.
“Aku meminta kalian kemari untuk membantuku. Bukan mengolokku.” Sean mendesis kesal.
“Apa masalah peretasan itu belum selesai?” Joe segera merubah nada bicaranya menjadi serius.
“Sebenarnya putriku sudah memblokirnya. Tapi aku akan lebih tenang jika semua dapat selesai sampai akarnya. Semua ini juga demi harga diriku. Mana mungkin aku terus bergantung pada putriku yang baru melewati masa balitanya.”
“Aku salut padamu Sean. Hanya sekali goal langsung mendapatkan dua anak sekaligus. Itupun dengan anak-anak yang menggemaskan dan hebat dan juga ibu mereka yang cantik.” Frans mengedipkan matanya.
“Wanitaku tidak perlu orang lain untuk memujinya.” Sean manatap tajam Frans yang malah terkekeh dibuatnya.
Sean melemparkan berkas hasil penyelidikan tim IT nya pada Joe. “Itu hasil penelitian kami selama satu Minggu. Meskipun sampai sekarang Brily selalu berhasil menggagalkan tapi aku tidak mungkin membiarkan anakku terus bekerja. Jadi cepat selesaikan Sebelum acara pernikahan ku.”
Joe Segera membuka berkas itu. Mempelajarinya dengan serius. Frans juga ikut mendekat dan mempelajarinya.
“Bagaimana? Apa kalian sanggup?” Sean menatap tajam kedua sahabatnya itu.
“Ini mudah. Tergantung apa yang akan kamu berikan sebagai imbalan.” Joe tersenyum mempermainkan.
“Apa yang kalian inginkan?”
“Biarkan perusahaan ku bekerja sama denganmu dalam proyek pembangunan water Park di daerah J.” Frans berkata serius. Sean tipe orang yang serius dalam pekerjaannya. Ia tidak pernah memandang teman atau keluarga saat berbisnis. Yang terpenting untuknya adalah kemampuan.
__ADS_1
“Oke.” Sean mengangguk setuju. “Soni, segera perbaiki berkasnya. Kita tambah DG Corporindo sebagai mitra kita.” Lanjutnya menatap Soni serius.
“Baik tuan.” Soni mengangguk dan segera mencatat poin yang harus ia benahi di dam notebook yang dibawanya.
“Kalau aku tidak sulit.” Joe berkata dengan senyum ambigu.
“Cepat katakan! Jangan bertele-tele.” Sean menjadi tidak sabar. Mendengus kesal mendengar jawaban Joe.
“Sebentar lagi kamu akan menikah. Malam ini Aku ingin mengajakmu keluar sebelum kamu ditahan oleh istrimu.” Joe berdiri dan mendekati meja Sean.
“Aku memiliki banyak pekerjaan sekarang. Proyek pembangunan hotel K dan proyek bersama pemerintah untuk membangun jalan tol di daerah F masih banyak yang harus aku tangani.” Tolak Sean langsung.
“Kamu bukannya memiliki banyak anak buah yang dapat diandalkan. Kenapa tidak suruh mereka saja?” Frans mengernyitkan Alisnya heran.
“Sudahlah kalian pergi saja. Aku akan mengadakan malam lajang sebelum pernikahan. Kita akan puas malam itu.”
“Itu berbeda Sean. Kita sudah lama tidak memiliki waktu bersama.”
“Benar. Kamu selalu saja dengan calon istrimu itu.” Dengus Joe.
“Aku masih laki-laki normal yang akan lebih memilih ditemani wanita cantik daripada sekelompok pria mesum.” Sean menarik sudut bibirnya.
“Aku bukannya hidup menduda. Tapi aku hanya tidak mau wanita sembarang menikmati keindahan tubuhku.” Ujar Sean bangga.
“Huh! Terserah kau lah.” Joe mengibaskan tangannya. “Kalau begitu berikan lahan di daerah H yang pernah aku minta darimu.” Lanjut Joe.
“Cih! Kamu masih bersikeras dengan lahan itu.”
“Tentu saja. Penasehat perusahaan ku mempresentasi jika kawasan itu akan segera menjadi pusat perindustrian. Jika aku membangun apartemen di sana sekarang, aku yakin satu dua tahun lagi harganya akan melambung.”
“Baik.” Sean mengangguk setuju. Sebenarnya ia juga sudah memprediksi hal yang sama. Itulah mengapa ia masih mempertahankan lahan kosong itu menganggur sampai bertahun-tahun lamanya.
“Soni segera atur itu. Jangan lupa untuk membuatkan sertifikat nya sekalian untuk ku.” Joe dengan sombong memerintah Soni yang hanya diam tak bergeming.
“Ck! Kamu ini hanya mendengarkan perintah Sean saja. Sean urus anak buahmu itu.” Lanjutnya kesal.
“Soni lakukan seperti apa yang diminta Joe.” Sean menggeleng kan kepalanya.
“Baik tuan.” Soni mengangguk dan kembali mencatat di notebook nya.
__ADS_1
“Kalau sudah tidak ada apa-apa cepat keluar dari sini.” Sean mengibaskan tangannya Mengusir kedua temannya.
“Masih ada satu hal lagi.” Frans menyipitkan matanya. “Untuk acara pesta lajang itu tetap diadakan bukan?”
“Tentu saja. Satu hari sebelum pernikahan ku, datanglah ke bar biasanya.”
“Benarkah? Jangan lupa undang juga para gadis cantik untuk menemani kita.” Joe berbinar senang.
“Jangan macam-macam. Apa kalian mau aku dinonaktifkan Evelyn?” Sean tiba-tiba bergidik mengingat ancaman Evelyn padanya.
“Cuma sehari bro! Masak tidak ada kelonggaran sedikit sih?” Joe yang sudah membayangkan dikelilingi para wanita segera protes. Gadis-gadis yang dibawa dan biasanya cantik dan menantang. Dan sudah lama Sean tidak mengadakan pesta dengan para gadis.
“Tidak ada. Kalian juga tidak boleh membawanya.” Ucap Sean menebak apa yang dipikirkan Joe dan Frans.
“Sean! Apa gunanya pesta tanpa para gadis?” Frans yang dari tadi hanya menyimak ikut protes.
“Setuju tidak setuju aku tidak peduli. Sudah sana pergi. Jangan ganggu aku lagi.” Sean mengibaskan tangannya.
“Aku tidak menyangka akan ada waktu dimana Sean takut pada sesuatu. Dan itu adalah seorang wanita.” Joe mengelus dagunya yang penuh dengan ****** halus.
“Aku tidak menyangka akhirnya wanita itu kembali. Bahkan dengan membawa dua anak.” Frans menganggukkan kepalanya.
“Wanita itu memang sangat cantik. Pantas saja Sean tidak pernah berpaling.”
“Iya. Kalau aku juga akan melakukan hal yang sama. Wanita secantik itu aku rela menunggunya...” ucapan Frans berhenti saat keningnya dilempar bolpoin oleh Sean.
“Cepatlah pergi. Jika kalian tidak berhasil selesaikan tugas yang aku berikan, jangan pernah berharap bisa bekerja sama dengan Kingston Company selamanya.” Nam Sean serius.
“Baik-baik. Kami pergi sekarang.” Joe dan Frans segera keluar sambil membawa berkas yang diberikan Sean.
*
*
*
Terima kasih masih setia 😘
Maaf kemarin nggak up. Putri akoh panas. Jadi dianya minta dimanja 🙏
__ADS_1