
Sean menatap wanita yang terbaring tak sadarkan diri di atas brangkar rumah sakit. Tangan kanan wanita itu terpasang selang infus. Wanita itu adalah Evelyn. Hampir dua jam Evelyn pingsan.
Sejak masuk ke dalam rumah sakit, Sean tidak meninggalkan rumah sakit sama sekali. Mengenai kedua anaknya yang diculik oleh pihak yang masih belum diketahui sudah ia percayakan pada Frans dan Joe untuk sementara waktu. Untuk saat ini, Evelyn lebih membutuhkan dirinya.
Pintu di belakang Sean terbuka. Sean menoleh dan mendapati kedua mertuanya masuk. Laki-laki itu berdiri. Membiarkan Laura duduk di tempat duduknya tadi.
"Bagaimana keadaanya?" Tanya Maxim khawatir. Ia langsung datang begitu selesai memerintahkan anak buahnya untuk bergabung dengan anak buah Sean untuk menemukan Bryan dan Berlian.
"Syukurlah semua baik-baik saja. Tidak..." ucapan Sean terhenti saat mendengar Evelyn yang memanggil namanya. Sean langsung menghampiri Evelyn yang baru sadar. Diciuminya seluruh wajah istrinya dengan haru.
"Sean mana anak-anak?" Tanya Evelyn begitu ia mendapatkan sedikit kekuatannya.
"Maafkan aku sayang, aku masih berusaha. Kamu tenang saja."
"Aku ingin mencari mereka." Ucap Evelyn seraya berupaya untuk bangun. Namun kekuatannya seakan habis. Sean segera membantunya kembali berbaring.
"Sayang tenangkan dirimu. Tolong percaya pada papi dan Juga suamimu. Kami sedang berusaha." Maxim ikut mendekati Evelyn.
"Tapi mereka dalam bahaya pi. Mereka pasti ketakutan sekarang." Evelyn kembali berusaha untuk bangun.
"Sayang tolong jaga kondisimu dan adik si kembar." Ucap Sean membuat ketiga orang di ruangan itu memandang Sean dengan tidak percaya.
"Adik si kembar?" Evelyn bertanya tidak percaya. Tanganya mengelus perutnya yang datar.
Sean mengangguk. Lalu ikut mengelus perut Evelyn. "Saat ini di dalam perutmu ini ada adik si kembar. Jadi kamu jangan terlalu banyak berpikir. Jika terjadi apa-apa pada adik mereka, mereka bisa marah nanti." Sean mengelus kepala istrinya.
"Tapi mereka akan ketakutan." Evelyn tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Ketakutan seperti apa yang kamu maksud? Anak-anak kita berbeda dari anak-anak orang lain yang penakut. Yang seharusnya takut malah para penculik itu. Mereka sudah berurusan dengan orang yang salah." Sean menghibur Evelyn.
"Benar yang dikatakan suamimu sayang. Cucu-cucuku sangat hebat. Mereka tidak akan ketakutan sekarang. Mereka mungkin sedang menikmati permainan ini." Maxim terkekeh membayangkan aksi Cucu-cucunya.
"Aku harap yang kalian bicarakan ini benar-benar terjadi." Evelyn menghela napas. Pasangan menantu dan mertua ini sangat kompak.
"Dokter berkata usia kandungan sekitar empat minggu. Masih sangat rawan. Jadi harus dijaga dengan hati-hati. Hampir dapat meradang dalam bahaya karena kondisi emosimu yang memuncak. Kali ini dapat selamat sudah sangat beruntung." Jelas Sean saat Evelyn menanyakan tentang kondisinya.
"Maafkan aku Sean. Maafkan mommy nak. Mommy erlambat menyadari kehadiranmu dan hampir saja mencelakaimu." Evelyn mengelus perutnya merasa bersalah. Ia memang baru menyadari jika ia telat datang bulan. Tapi karena kesibukannya akhir-akhir ini membuatnya tidak sempat untuk memeriksanya.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting kalian berdua selamat." Evelyn mengangguk dan tersenyum lega.
"Selamat untuk kehamilan ini. Tuhan sangat adil, memberikan musibah tapi tidak lupa juga memberikan anugerah untuk keluarga kita." Laura mengelus lengan Evelyn.
__ADS_1
"Terima kasih mami. Kami sangat berterima kasih kepada kalian. Jika bukan kalian yang membantu kami saat itu, kami tidak akan berada di titik ini saat ini."
"Pertemuan kita di masa lalu adalah takdir Tuhan yang luar biasa. Sampai saat ini kami masih selalu bersyukur akan hal itu. Mendapatkan putri dan juga Cucu-cucu yang begitu luar biasa adalah anugerah Tuhan."
"Sayang karena sudah ada mami dan papi, aku pergi dulu ya. Anak buatku sudah menemukan lokasi keberadaan mereka." Sean berkata setelah menerima panggilan dari anak buahnya.
"Baiklah Sean. Hati-hati. Bawalah anak-anak kita kembali berkumpul Bersama kita." Sean mengangguk. Lalu mencium kening sebelum keluar dari ruang perawatan Evelyn.
Di luar ruangan, Soni sudah menjadi menungunya. Laki-laki itu berkata jika mereka sudah menemukan lokasi keberadaan Berlian dan Bryan. Soni juga mengatakan bahwa semua yang diperlukan sudah disediakan.
Sean mengangguk puas. "Baik. Kita kesana dengan segera."
"Tuan ada sedikit masalah. "
"Ada masalah apa lagi?"
"Sebenarnya tempat itu berada di luar pulau. Sebuah pulau pribadi di lepas pantai." Soni berkata dengan sedikit takut. Takut jika ia menjadi pelampiasan amarah Sean nantinya.
"Huh! Itu juga bukannya bisa disebut masalah." Sean mendengus kesal.
"Masalahnya adalah sistem pengamanan pulau itu sangat ketat. Milik geng mafia...Rubah Merah yang terkenal kejam."
"Rubah Merah?" Soni dan Sean menoleh. Mereka melihat Macam mendekati mereka berdua. Sebenarnya jarak antara mereka dengan Maxim cukup jauh. Tetapi pendengaran Maxim sudah dilatih sejak masih muda. Jadi pembicara dua orang itu terdengar sampai di telinganya.
"Oh kalau itu benar Rubah Merah, mereka bukan tandingan kalian. Sekarang kalian ikutlah denganku." Sean mengangguk setuju. Meskipun saat ini ia sendiri belum mengetahui dengan jelas identitas mertuanya itu, Sean tahu jika laki-laki itu bukan laki-laki biasa.
Tanpa banyak pertanyaan, Sean dan Soni mengikuti Maxim. Ketiga orang itu keluar dari rumah sakit dan menuju ke villa Keluarga Marcus.
Mobil yang membawa Maxim terus melaju ke samping vila. Mobil Sean yang dikendarai Soni juga mengikuti di belakangnya. Sean memang hanya beberapa kali datang ke vila ini. Dan ia juga belum pernah berkeliling. Jadi ia tidak tahu seluk beluk tempat itu.
Di belakang vila ternyata lebih luas dari yang dibayangkan. Ada sebuah bangunan besar yang tampak seperti gudang. Sebelum itu ada juga lapangan pacu kuda lengkap dengan Kandang kuda berisi kuda-kuda yang terlihat gagah. Tempat yang paling dekat dengan bangunan besar itu sepertinya lapangan untuk berlatih senjata api. Ada beberapa papan bidikan di satu sisi.
"Saya tidak menyangka jika keluarga nyonya ternyata bukan keluarga yang sederhana." Soni berdecak kagum melihat apa saja yang ada di halaman belakang vila. Seandainya tidak berkata apapun. Yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah menyelamatkan Bryan dan Berlian.
Mobil Maxim berhenti. Disusul mobil Sean. Sean dan Soni segera menyusul Maxim yang sudah berdiri di depan pintu. Maxim masuk ke dalam bangunan setelah sopir yang tadi mengendarai mobilnya membukakan pintu bangunan. Sean DAN Soni mengikuti.
Di dalam bangunan ada beberapa ruangan. Dari dalam ruangan terdengar suara-suara yang tidak begitu jelas saat ketiganya melewatinya. Meskipun Sean dan Soni merasa penasaran, mereka hanya bisa menyimpangannya di dalam hati. Mereka mengikuti Maxim yang memasuki sebuah ruangan.
"Duduklah." Ucap Maxim sambil menunjuk sebuah sofa. Ternyata, selain mereka bertiga, di dalam ruangan itu sudah ada beberapa orang lainnya yang tidak Sean kenal. Hanya beberapa orang yang Sean lernah lihat saat acara pernikahannya dengan Evely. Itupun mereka sedang dalam melakukan tugas penjagaan.
"Sepertinya kalian memang sudah seharusnya tahu." Ucao Maxim setelah dua orang tamunya duduk.
__ADS_1
"Kalian pasti pernah mendengar kelompok mafia Big Lion sebelaumnya." Sean dan Soni mengangguk. Di dunia bisnis, siapa yang tidak mengenal nama itu.
"Sebelumnya akulah pemimpin kelompok itu. Dan sekarang Justin yang meneruskannya." Sean dan Soni tentu saja terkejut. Pasalnya selama ini mereka mengenal Maxim dan Justin, keduanya tidak pernah terlihat bermasalah. Memang aura mereka berbeda, tetapi Sean pikir itu memang aura seorang pemimpin. Tidak menyangka sama sekali jika yang dipimpin mereka adalah Big Lion yang terkenal hingga ke seluruh dunia.
"Rubah Merah adalah musuh bebuyutan kami. Tapi tidak menyangka ternyata mereka berani menargetkan cucu-cucuku. Mereka benar-benar menguji kesabaranku."
"Bagaimana cara kita menyelamatkan mereka papi?"
"Sebelum melangkah. Yang paling diperlukan adalah perencanaan. Rubah merah terkenal kejam. Mereka betindak tidak pernah memandang siapapun. Bahkan pada keturunan mereka sendiri. Jadi kita harus berhati-hati.
Sementara Maxim dan Sean membicarakan rencana untuk menyelamatkan Bryan dan Berlian, kedua anak yang mereka bicarakan baru saja selesai melakukan pemeriksaan.
"Nasib kalian tergantung hasil pemeriksaan kali ini. Jika kalian memang layak, kalian akan menjadi bagian dari kami. Sedangkan jika hasil kalian menunjukkan jika kalian tidak layak, maka...ck ck ck... ucapkan selamat tinggal pada dunia." Laki-laki berambut cokelat memandang dua anak yang duduk di atas ranjang dengan cermat. Meneliti ekspresi yang kedua anak itu perlihatkan. Ia sangat puas saat mendapati kedua anak itu bahkan tidan menunjukkan wajah ketakutan sama sekali. Bahkan wajah yang menantang yang mereka tunjukkan.
"Menarik. Benar-benar menarik. Aku sangat tidak sabar menunggu hasilnya." Ucap laki-laki itu. Ia keluar dari dalam ruangan yang mengurung Bryan dan Berlian setelah melihat wajah mereka.
Setelah pintu tertutup dan terkunci dari luar, Bryan dan Berlian saling memandang.
"Kita harus segera keluar dari sini." Bryan berkata sambik berdiri. Ia menuju jendela yang dilengkapi dengan teralis besi.
"Tidak perlu terburu-buru. Sekarang sudah sangat larut. Apa kamu tidak mengantuk?" Tanya Berlian dengan malas. Ia menguap sebelum membaringkan tubuh kecilnya di atas ranjang dan meringkuk di sana.
"Brily jangan tidur. Kita harus cari cara." Bryan menghampiri saudarinya. Menggoyangkan tubuh Bryan yang sudah berada dalam posisi nyaman.
"Jangan ganggu aku Bry."
"Apa kamu senang ada di sini? Bagaimana jika Mommy khawatir?"
"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini apapun yang kamu lakukan saat ini. Ruangan ini dilengkapi sistem yang canggih. Bahkan seekor tikus pun jika sudah masuk ke dalam sini juga tidak bisa keluar jika bukan karena kehendak mereka." Berlian dengan kesal duduk.
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa kita hanya bisa diam sambil menunggu mereka mencuci otak kita?" Saat mereka baru tiba di tempat ini, mereka mendengar beberapa orang berkata jika mereka akan dijadikan bagian dari kelompok itu dengan cara mencuci otak keduanya. Dengan begitu mereka akan dapat dengan sepenuh hati menjadi bagian dari kelompoknya.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka berhasil." Berlian tentu saja menolak.
"Jadi apa rencanamu?"
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😊