
Beberapa hari setelahnya, Sean dan Derry seperti saling berlomba. Keduanya mendatangi Evelyn setiap hari. Dari sekedar mengajak makan siang atau pun makan malam. Dan hal ini membuat Evelyn frustasi.
Keduanya sama-sama orang yang tidak bisa ditolak. Yang satu karena sikapnya yang ramah dan selalu pengertian membuat siapapun tidak akan enak hati menyakitinya. Yang satunya lagi tidak mengenal penolakan.
Evelyn mendesah panjang saat ia merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu saat ia pulang. Bryan dan Berlian yang melihat mommynya pulang segera menghampiri.
Sudah dua Minggu hukuman dari Evelyn untuk mereka berjalan. Dalam dua Minggu ini, hidup mereka seperti tidak berarti. Meskipun setiap hari mereka akan selalu merengek untuk mengeluarkan barang-barangnya dari gudang, Evelyn selalu menolaknya.
Dan sore ini, mereka seperti melihat celah saat melihat Evelyn pulang dengan tak bersemangat.
“Bagaimana kabar mommy hari ini?” Bryan segera menggelayut manja di lengan Evelyn.
Evelyn meliriknya malas. “Tidak perlu menjilat. Mommy tidak akan mengurangi masa hukuman kalian.”
“Kami tidak mommy. Kami benar-benar perhatian pada mommy.” Berlian ikut menggelayut manja.
“Lalu apakah mommy harus mengingatkan kalian siapa yang membawa semua masalah ini pada mommy?”
“Kami tidak membawa masalah pada mommy.”
“Jangan pikir mommy tidak tahu jika kalianlah yang mencari Sean lebih dahulu.” Evelyn berkata dengan jengah.
“Mom, itu memang salah kami. Tapi kami benar-benar tidak menyangka jika Daddy akan sehebat itu hingga membuat mommy kelimpungan.” Berlian berkata seperti menyesal. Padahal di dalam hatinya ia bahagia karena sejak datangnya Sean, Evelyn jarang memiliki waktu untuk mengajak mereka melakukan aktivitas yang menurut merek tidak menarik. Daddy mereka sering mengajak Evelyn pergi entah kemana. Dan pulangnya pasti mommy mereka seperti kehabisan tenaga dan memilih mengunci diri di dalam kamar.
“Lalu bagaimana dengan Derry? Tidak mungkin kan dia datang begitu saja!”
“Itu... Itu...” Bryan tidak menemukan alasan yang tepat. Untuk memberitahu alasan yang sebenarnya jauh tidak mungkin.
“Uh! Kalian merepotkan.” Evelyn berdiri dan berjalan dengan lemah ke kamarnya.
Berlian dan Bryan memandang heran mommy mereka yang berjalan dengan tertatih. Kaki mommy mereka terlihat gemetar. Bahkan saat naik tangga, tangan Evelyn harus berpegangan.
Sejak kejadian malam itu, Sean sering menjemput paksa Evelyn dari kantor dan membawanya pulang. Ada saja alasan yang digunakan Sean untuk kembali mengulang aktivitas yang menyenangkan itu.
Seperti apapun penolakan yang diberikan Evelyn tidak akan membuatnya mengurungkan niatnya. Dia akan tetap membuat Evelyn bergetar di bawahnya hingga ia merasa puas.
“Mommy kami akan membantu mommy.” Bryan dan berlian belum mau menyerah. Keduanya menyusul mommy mereka yang hampir masuk ke dalam kamar.
“Benar mommy. Kami akan membantu mommy menyelesaikan masalah ini.” Berlian ikut berbicara.
__ADS_1
“Apa yang kalian inginkan?” Evelyn membuka pintu kamarnya dan masuk. Bryan dan Berlian ikut masuk ke dalam kamar.
“Mommy pasti sudah tahu. Kami hanya ingin semua barang-barang kami.” Bryan berkata dengan serius.
“Lakukan saja apa yang kalian inginkan. Kalau mommy puas, mommy akan mempertimbangkannya.”
“Baiklah mommy. Mommy serahkan semaunya pada kami. Mommy tinggal terima beres.”
“Oke oke. Sekarang keluar kalian. Mommy ingin tidur.”
“Mommy, ini baru jam delapan. Mommy sudah mengantuk?” Bryan bertanya dengan penasaran.
“Ini semua salah Daddy kalian. Ia tidak melepaskan mommy sore tadi. Sekarang kaki mommy bahkan lembek seperti jely.” Keluh Evelyn.
Sore tadi, Sean dan Derry sama-sama menjemput Evelyn. Dan pemenangnya tentu saja Sean. Laki-laki itu membawa paksa Evelyn dan menggendongnya seperti karung beras dan membawanya pulang.
Sejak masuk kamar Evelyn Tidak memiliki kesempatan untuk menolak sedikitpun. Jika Sean dan Derry bertemu, yang menjadi korban pastilah dirinya. Sean seperti meluapkan emosinya padanya. Menghabisinya di atas ranjang hingga ia harus meminta ampun.
**
Pagi harinya Derry datang ke mansion Marcus dengan membawa koper besar di tangannya. Pagi ini laki-laki itu datang untuk berpamitan. Perusahaan nya yang ada di Texas sedang mengalami masalah. Dan itu membutuhkan dirinya untuk datang dan mengatasi masalah.
“Pasti Tante. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi.” Ucap Derry serius. Ia memang berniat akan segera kembali setelah masalah perusahaannya selesai. Ia tidak mungkin membiarkan Sean mengejar Evelyn tanpa perlawanan.
“Salam untuk Daddy mu Derry.” Maxim tersenyum pada anak temannya.
“Baik om. Akan aku sampaikan. Baiklah, aku harus segera berangkat. Jika tidak aku akan ketinggalan pesawat.”
“Hati-hati di jalan. Maaf tidak bisa mengantarmu hingga bandara. Jadwalku penuh hari ini.” Ucap Evelyn tulus.
Di dalam hatinya ia benar-benar memuji kedua anaknya. Hanya semalam keduanya mampu menyelesaikan salah satu tugas mereka. Entah apa yang terjadi di Perusahaan Derry. Tapi ia yakin itu kerjaan kedua anak nya.
Derry melambaikan tangan pada keluarga itu saat ia masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya.
**
Hari-hari selanjutnya, Evelyn bisa bernapas dengan sedikit lebih lega. Kembalinya Derry jelas membawa perubahan besar pada hidupnya. Hanya tinggal memikirkan Sean. Menyingkirkan laki-laki itu lebih sulit dari yang ia bayangkan. Sudah beberapa hari sejak Derry pulang, Sean tidak juga pergi. Bahkan laki-laki itu semakin menempel padanya di setiap kesempatan.
Hari ini, Sean dan Evelyn sedang meninjau proyek bersama. Pembangunan hotel bintang lima yang mereka kerjakan sudah selesai. Saat ini adalah tahap pengisian furniture dan dekorasi.
__ADS_1
Bangunan megah itu berisi berbagai macam fasilitas mewah seperti restoran yang ada di lantai satu, lantai empat dan lantai sepuluh. Ada juga bar dan fasilitas gym yang bisa dinikmati tamu hotel. Kamar-kamar yang dibedakan dari ketinggian lantai. Semakin tinggi, semakin mewah kamar yang tersedia.
Sean, Evelyn, Rosi dan Soni berjalan keluar masuk ruangan ditemani penanggung jawab proyek. Melihat dan memeriksa kualitas barang yang ada di ruangan tersebut. Sean dan Evelyn memberikan penilaian mereka pada tampilan ruangan.
Rosi dan Soni mencatat poin-poin yang perlu diperbaiki. Pada umumnya semua sudah sesuai standard.
“Wow kamar ini sangat indah.” Puji Evelyn saat mereka tiba di kamar presidential suite. Kamar mewah dengan semua fasilitas lengkap yang ada di dalamnya.
Ruang tamu yang didesain mewah, minibar dan dapur minimalis yang elegan. Kamarnya pun luas dan indah. Ranjang besar bernuansa putih senada dengan gorden dan balkon yang menampilkan view pemandangan kota yang indah.
“Ini kamar presidential suite dengan gaya terbaru. Didesain khusus untuk pasangan pengantin baru.” Evelyn mengangguk paham dengan penjelasan penanggung jawab proyek.
Evelyn menyentuh ranjang. Menepuknya perlahan untuk menguji kenyamanan. “Ini sesuai. Nyaman digunakan.”
“Bagaimana dengan pendapat anda tuan Sean?” Evelyn menoleh pada Sean yang juga sedang meneliti ruangan.
“Kamar ini kurang dekorasi. Bisa ditambahkan tumbuhan hidup di balkon dan mungkin bisa ditambahkan lukisan untuk mengisi sisi dinding yang kosong ini. Dinding ini terlalu luas untuk dibiarkan kosong. Apalagi dinding menghadap ranjang.” Sean mengutarakan pendapatnya.
“Saya setuju.” Evelyn mengangguk membenarkan ucapan Sean.
“Baik, kami akan menambahkan lukisan di sisi ini.”
“Oh ya, bagaimana dengan peredam suara yang digunakan? Kita harus menjamin keamanan dan privasi tamu.” Evelyn mengingat poin penting saat mereka Baru saja keluar dari kamar.
“Nona Evelyn tenang saja. Kami menjamin telah menggunakan teknologi yang paling canggih saat ini.” Ucap penanggung jawab dengan bangga.
“Bagus.” Seru Evelyn.
“Kamu tenang saja. Kita bisa memeriksanya secara langsung.” Selesai bicara, Sean mendorong Evelyn kembali masuk ke dalam kamar. Menutupnya dengan keras.
Soni dan Rosi yang terbiasa dengan tingkah keduanya hanya bisa melongo. Keduanya buru-buru mengajak penanggung jawab proyek untuk segera pergi dari sana. Mereka tidak bisa memperkirakan kapan keduanya akan keluar.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
__ADS_1