
...🎺🎺Selamat Tahun Baru 2022🎺🎺...
...Semoga di Tahun baru ini semua harapan kita akan tercapai. Aamiin...
Evelyn menatap dengan jengah seorang wanita cantik yang berdiri dengan angkuh di depan lift. Wanita itu baru turun dari sana. Wanita itu juga sedang menatap Evelyn. Menatapnya dengan penuh ejekan.
"Apa masalahmu? Aku tidak mengenalmu bahkan aku belum pernah melihatmu. Kenapa mencari masalah denganku?" Evelyn bertanya dengan heran.
"Aku Lola Fransisca. Pacar Sean. Aku masih single. Dan kamu sudah punya anak. Masih beraninya menggoda Sean. Dasar tidak tahu malu." jawab gadis bernama Lola itu percaya diri.
"Oh pacar Sean."
"Iya. Aku pacar Sean. Jadi aku peringatkan jangan menjadi pelakor deh!"
"Dimana pacarmu sekarang?" Evelyn bahkan tidak menganggap serius peringatan Lola.
"Ada. Dia ada di ruangannya. Jangan harap bisa bertemu dengannya." Lola melipat tangannya di depan dada.
Ting...
Pintu lift terbuka. Sean keluar dari dalam bersama Soni. Wajah Sean sudah tidak terlihat baik. Lola pasti berbicara macam-macam pada Evelyn. Dan ini pasti berdampak buruk padanya.
"Aku kira ada masalah apa? Ternyata ck ck ck. Ayo sayang kita pulang." Evelyn mencibir. Ia segera berbalik dan mengajak dua anaknya untuk segera pergi.
"Sayang, jangan tertipu wanita liar ini. Dia pasti berbohong dengan mengatakan jika anak-anak ini milikmu. Kamu kan selalu menggunakan pengaman." Lola segera menghampiri Sean.
"Selalu menggunakan pengaman ya? Baiklah." Evelyn menggertakkan giginya.
"Sayang tunggu dulu. Dengarkan penjelasanku." Sean menghempaskan kasar tubuh Lola yang menempel padanya. Dengan segera ia menghampiri Evelyn.
"Sayang wanita ini selalu seperti permen karet yang selalu menempel dan sulit dilepaskan."
"Kalau sulit ya biarkan saja. Nikmati saja permen karetmu itu."
"Bukan! Bukan begitu maksudku. Aku akan segera memerintahkan orang unuk mengusirnya." ucap Sean segera. "Seseorang cepat bawa keluar wanita ini! Lain kali jika dia datang lagi cepat tendang pergi!"
Seorang pria segera menghampiri Lola dan menyeretnya keluar. Lola meronta ingin dilepaskan.
__ADS_1
"Sean kamu tidak bisa melakukan itu padaku. Kamu meninggalkan aku demi wanita yang sudah punya anak! Apa kamu gila Sean!? Sean!? Tarik kembali perintahmu!" teriak Lola yang semakin tidak terdengar.
"Kamu sudah puas?" Sean memberanikan diri menghampiri Evelyn.
"Tidak. Aku mau pulang." Evelyn berbalik. "Bryan! Brily! Dimana kalian?" Teriak Evelyn mencari dua anaknya yang tiba-tiba hilang dari pandangan matanya.
"Nyonya, putra putri nyonya tadi dibawa Tuan Soni." seorang karyawan perempuan yang sedari tadi dengan canggung melihat dan menunggu berakhirnya drama kisah lama dan kisah baru segera angkat bicara.
Sebelumnya Soni membawa Bryan dan Berlian untuk pergi ke pusat IT mereka. Sistem diterobos. Dan kali ini berdampak besar bagi perusahaan. Kebocoran data menyebabkan masalah serius. Proyek yang seharusnya ada di tangan hampir lepas begitu saja.
Dan sebelum Soni pergi, ia meminta karyawan itu untuk menyampaikan pada Evelyn dan Sean jika ialah yang membawa dua anak bosnya itu.
"Huh." Evelyn mendesah pasrah.
"Sayang jangan marah lagi. Ayo kita tunggu mereka di ruanganku." Evelyn tidak menjawab. Tapi ia berjalan dan masuk lift. Sean tersenyum dalam hati dan mengikutinya masuk lift.
Selama berada di dalam lift Sean hanya bisa memandang Evelyn tanpa berucap dan mendekat. Ia masih khawatit jika Evelyn tidak mau mendengar penjelasannya. Lagipula ia punya rencana untuk membuat Evelyn mau tidak mau mendengarkan penjelasannya.
**
Berlian dan Bryan dibawa masuk ke dalam ruangan dimana ruang pusat IT Kingston Company. Kebanyakan orang yang bekerja di divisi ini berkaca mata tebal dan serius.
"Tuan Soni." seorang laki-laki paruh baya mendekati Soni. Dia adalah Pak Wildan. Ketua dari tim IT.
"Hem. Bagaimana? Apa kalian sudah bisa mengatasi kebocoran data ini?" tanya Soni serius.
"Maaf tuan. Kami masih mencobanya." jawab Wildan takut.
"Kerja kalian semakin lambat saja. Mau menunggu sampai perusahaan ini kembali merugi."
"Maaf tuan. Kami akan berusaha." Soni mengibaskan tangannya untuk mengusir Wildan pergi dari hadapannya. Wildan segera membungkuk dan undur diri. Dia juga memiliki pekerjaan yang harus ia lakukan.
"Brily kamu kan jenius dalam IT. Tolong bantulah perusahaan tuan Sean." Soni segera mengubah bicaranya yang tadi terdengar tegas dan berwibawa, saat ini terdengar seperti seorang penjilat.
"Tidak. Daddy sudah membawa wanita lain ke kantor. Membuat Mommy marah." jawab Berlian ketus.
"Dia bukan wanita nya tuan Sean. Percaya sama om Soni jika wanitanya tuan Sean hanya Mommy kalian."
__ADS_1
"Om bohong ya! Lalu siapa wanita Loading Lama tadi?"
"Loading Lama?" Tanya Soni heran.
"Itu wanita itu. Lola, Loading Lama. Ih Om Soni juga jadi lola deh!" sungut Bryan dengan kesal.
"Oh maaf-maaf. Om tidak mengerti. Loading lama tadi itu salah satu wanita yang tidak menyerah mengejar Daddy kalian. Padahal Daddy kalian sudah lama tidak berurusan dengan..."
"Tunggu om. Om bilang tadi salah satu? Itu artinya ada lebih dari satu?" Berlian bertanya tak percaya.
"Tidak heran. Daddy sama tampannya denganku. Pasti banyak wanita yang keras kepala mengejarnya meskipun sudah ditolak. Aku tahu bagaimana penderitaan yang Daddy alami untuk itu." Bryan manggut-manggut. Berlian yang mendengar ucapan sombong saudaranya hanya bisa memutar bola matanya malas.
Di ruangan Sean, dua orang yang barh masuk sudah tidak berada di sana. Ruangan kosong melompong seperti tidak ada penghuni. Jika tidak ada suara-suara ambigu yang terdengar, tidak akan ada yang tahu ada seseorang di ruangan itu.
Keduanya ada di ruang istirahat Sean yang ada di balik rak buku. Ada pintu rahasia di sana yang bisa dibuka dengan menggunakan remot.
Suara ******* dan suara yang sedang berbicara tidak jelas terdengar dari balik ruangan itu.
Pakaian Sean dan Evelyn sudah terserak di atas lantai. Keduanya berada di atas ranjang dengan peluh yang membasahi tubuh mereka.
Soni, membuka pintu setelah mengetuk beberapa kali dan tidak mendalat jawaban. Dua bocah yang dibawanya ada di belakangnya menunggu dengan cemas.
Dengan tergesa Soni menutup pintu setelah mendengar suara yang ada di dalam.
"Kenapa Om? Dimana Daddy dan Momny?" Bryan bertanya penasaran.
"E.. e..."
"Apa Daddy dan Mommy tidak ada di dalam?"
"Bryan, Berlian, mommy dan daddy kalian sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Biarkan om mengantar kalian pulang ya. Nanti mommy kalian akan diantar daddy kalian." Soni harus segera membawa dua bocah cilik ini pergi. Jika mereka memaksa masuk dan ia tidak bisa mencegahnya, akan gawat jika mereka mendengar suara-suara yang dibuat mommy dan daddy mereka.
"Baiklah om." Bryan dan berlian mengangguk setelah keduanya saling berbicara lewat pandangan mata.
*
*
__ADS_1
*
Terima Kasih Sudah Mampir 😊