
Berlian menyesali keputusannya saat memberi Rezvan kesempatan untuk mengganti ucapan terima kasihnya. Memang selama sisa kegiatan Berlian selalu lolos meskpun Rudi berulang kali menargetkannya. Tetapi saat pulang sekolah, Berlian terpaksa harus melakukan apapun yang diminta Rezvan.
Entah dari mana Rezvan mendapatkan sebuah jepit rambut berwarna pink dengan bentuk bunga sakura. Terlihat indah memang. Tetapu Berlian tidak suka memakai benda-benda seperti ini di rambutnya. Ia bahkan melarang Evelyn meletakkan hiasan rambut di rambutnya saat ia masih duduk di kelas tiga sekolah dasar.
"Tuh kan benar apa yang aku duga. Jepit ini sangat cocok denganmu." Komentar Rezvan saat Berlian baru memasangnya di rambut sebelah kiri.
Rezvan memang tidak berbohong. Jepit rambut itu erlihat semakin indah saat berada di atas rambut Berlian yang hitam berkilau. Dengan japit rambut itu juga Berlian tampak lebih manis.
Namun apa yang dilihat Rezvan tidak sama dengan yang dirasakan Berlian. Gadis itu mendengus dengan kesal. Clara menahan tawanya melihat ekspresi kesal Berlian.
"Besok aku masih ingin melihat ini." Rezvan berkata saat ia hendak berbelok ke tempat parkiran.
"Jangan melebihi batas." Sahut Berlian jengkel. Rezvan tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya. Ia melambaikan tangan sambil me gukas senyum jahilnya. Ia sangat puas melihat perubahan ekspresi Berlian.
Wajah cemberut Berlian masih bertahan sampai ia tiba di depan Gerbang. Apalagi Clara berulamg kali berkata bahwa itu memang cocok untuknya.
Di depan gerbang, Lagi-lagi, ia melihat siswi-siswi yang berkerumun. Namun kali ini dia sudah tahu. Jadi dia langsung menerobos kerumunan dan melihat Johan berdiri di depan mobil sambil fokus pada ponselnya. Pria itu mengangkat wajahnya begitu melihat Berlian mendekat.
"Ayo pulang." Berlian membuka pintu mobil dan masuk.
Johan sedikit heran melihat ekspresi kesal Berlian. Selama ia datang dua tahun lalu, ia belum pernah melihat wajah Berlian yang kesal itu. Wajah Berlian cenderung tidak berubah dari waktu ke waktu.
"Langsung pulang?" Johan menengok ke kebekang. Padahal ia biasanya tidak melakukan itu. Tetapi melihat wajah Berlian saat ini sepertinya gadis ini perlu mengganti suasana.
"Ya kak. Aku lelah." Berlian menyandarkan kepalanya dan menutup mata. Tidak ingin berbicara lebih banyak.
Johan membalik tubuhnya, tetapi ia sedikit terpaku saat ia melihat kembali jepit rambut pink di helaian rambut Berlian yag sangat kontras dengan warna rambut Berlian yang hitam.
"Jangan mengolokku kak." Suara Berlian membuat Johan sedikit terkejut saat mendapati Johan yang meliriknya dari spion.
"Tidak. Kenapa aku harus mengolokmu?" Johan berkilah.
"Aku terpaksa memakainya." Berlian meniup wajahnya. Johan kini paham apa yang membuat Berlian tampak kesal. Benar seperti apa yang ia duga jika ini ada hubungannya dengan jepit rambut pink di kepala Berlian.
"Kalau tidak suka, tidak perlu memaksa diri untuk memakainya."
"Tidak apa." Berlian adalah orang yang menepati janji. Ia sudah berjanji pada Rezvan bahwa ia akan memakai jepit rambut itu sampai malam ini. Meskipun ia tidak suka, ia masih harus memakainya. Johan menghela napas. Ia tahu bagaimana karakter gadis di jok mobil belakangnya.
__ADS_1
"Siapa yang memberinya? Sepertinya sangat berarti." Johan kembali melirik Berlian. Mencoba mengerti apa yang ada di hati Berlian.
"Hanya teman. Tadi dia memberi bantuan." Jawab Berlian datar. Benar-benar datar sehingga Johan yang menunggu tidak mendapatkan apa-apa.
"Memberi bantuan tetapi memberi hadiah? Bukankah ini aneh?" Johan memancing.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Kak, antar aku ke toko alat tulis." Berlian dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
Johan sebenarnya tahu jika Berlian sengaja memghindar. Namun ia juga bukan orang yang usil dan kurang ajar. Jadi dia tidak akan mengejar jika Berlian memang tidak ingin memberitahunya.
Waktu makan malam, semua yang ada di meja makan memperhatikan Berlian yang baru saja datang. Bukan karena ada sesuatu yang aneh padanya. Itu karena jepit rambut sakura yang ada di rambutnya. Semua yang ada di rumah tahu kalau Berlian tidak menyukai eksesoris wanita semacam itu. Jadi melihat oenampilan Berlian malam ini cukup menarik perhatian.
Sylvia yang sudah duduk di tempatnya bahkan berdiri hanya untuk mengeliling kakaknya. Jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan di bibir denga ibu jarinya yang ia letakkan di dagu. "Sepertinya kak Brily terlihat berbeda malam ini." Gumam Berlian sambil terus mengeliling Berlian.
"Jangan kepo." Berlian mendorong kening adiknya yang berdiri di depannya memandangnya dari atas ke bawah dengan penasaran. Ia benar-benar tidak menemukan apa yang membuat kakaknya terlihat berbeda kali ini.
Berlian melewatinya dan duduk di kursinya. Yang tepat di samping Sean yang duduk di tempat kepala keluarga. Sylvia masih belum menyerah. Ia duduk di sampingnya dan terus menatap kakaknya.
Evelyn yang melihat tingkah Sylvia menggelengkan kepalanya. Kedua putrinya ini memiliki sifat yang sama sekali berbeda. Ia kemudian mengambil piring Sean dan mengisinya dengan nasi dan lauk.
"Aku tidak tahu." Berlian mengisi piringnya dengan ayam bakar yang ia letakkan di samping nasi.
"Lalu kakak dapat dari mana? Apa itu dari kak Clara? Kalau iya aku juga akan meminta darinya. Bagaimana bisa kak Clara memberi kakak tanpa memberiku juga." Sylvia mendengus kesal.
"Bukan Clara." Ucap Berlian singkat.
"Bukan kak Clara? Lalu siapa kak?"
"Bukan urusanmu." Berlian meminum segelas air putih lalu mengelap bibirnya. Dia sudah selesai.
"Kak beri tahu aku dong. Apa jangan-jangan dia adalah pria yang kak Brily sukai?" Tebak Sylvia. Ia memicingkan matanya menatap kakaknya.
"Omong kosong." Berlian sangat kesal."Mom, Dad aku sudah selesai." Berlain berdiri dan meninggalkan meja makan.
"Kakak kamu belum memberi tahu aku. Jangan-jangan memang benar ya kalau itu dari gebetan kakak? Kak Brily!" Berlian memgabaikan teriakan Sylvia dan melambaikan tangannya. Sylvia tidak menyerah. Ia juga menyelesaikan malannya dengan cepat dan pergi menyusul kakaknya. Masuk ke dalam kamar kakak perempuannya itu
"Sayang, panggil Johan. Minta dia pergi ke ruang kerjaku." Ucap Sean.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Evelyn bingung.
"Tidak apa-apa." Sean berdiri dan meninggalkan ruang makan. Evelyn juga seera berdiri dan pergi ke paviluin samping. Rumah yang digunakan untuk sopir dan pelayan laki-laki. Memanggil Johan dan memintanya pergi ke ruang kerja Sean seperti perintah Sean.
Johan masuk ke dalam ruang kerja Sean setelah ia memgetuk pintu.
"Duduk lah." Sean yang awalnya membelakangi Johan memutar kursinya dan menghadapap ke arah Johan. Menatap pemuda tampan di depannya yang duduk dengan tenang.
"Bagaimana hubunganmu dengan Berlian?" Tanya Sean setelah meletakkan tangannya di atas meja.
Enam tahun yang lalu adalah pertama kalinya Sean melihat pemuda di depanya ini. Saat itu, Sean memghadiri pesta ulang tahun papa Johan. Sejak pertama kali melihat Johan, Sean sudah tertarik pada pemuda ini. Apalagi melihat sikapnya yang sopan dan tegas. Saat itulah ia memutuskan untuk menjadikan Johan sebagai menantunya. Suami untuk Berlian.
Sean tahu sifat putrinya. Sikapnya juga dingin dan pendiam. Sean khawatir kalau-kalau putrinya ini pada akhirnya tidak memiliki pendamping hidup.
Semakin lama ia semakin mengukai sikap Johan. Itulah mengapa Sean berbicara pada Ronald. Papa Johan untuk menjodohkan Johan dengan Berlian. Ronald juga setuju. Tetapi ia tidak ingin memaksakan keinginannya pada putranya. Apalagi usia kedua anak itu masih terlalu kecil. Jadi kedua orang tua itu sepakat untuk mendekatkan anak mereka.
Dengan alasan untuk belajar Johan akhirnya setuju untuk tinggal di rumah Sean. Tetapi tentu saja ia tidak percaya sepenuhnya. Johan pun mencari tahu yang sebenarnya. Dan dia akhirnya mengetahui niat asli dari Ronald dan Sean. Serlah ia mengetahuinya, ia segera berbicara pada Sean.
"Tuan Sean, saya berpikir ini tidak akan baik untuk kami." Ucap Johan saat itu.
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai putriku?" Sean mengernyitkam alisnya. Johan tidak menjawab. Sebenarnya ia juga mulai menyukai Berlian. Tetapi selama ini Berlian tidak pernah memandangnya denga cara yang lain selain sebagai seorang manusia yang lain.
Johan menarik napas. "Berlian tidak menyukai saya."
"Jadi apa kamu akan menyerah?" Mendengar pertanyaan Sean, Johan merubah ekspresi matanya.
Menyerah? Tentu saja tidak. Tapi ia memiliki caranya sendiri. Dan bukan dengan cara perjodohan. Jika ia akan mendapatkan Berlian di sisinya, itu hanya karena Berlian mau. Bukan karena terpaksa.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
Mohon maaf, akoh sibuk akhir-akhir ini. Jadi jarang bisa ketik2 ria ☺
__ADS_1