
Karena kondisi Berlian, Johan membatalkan niatnya untuk kembali ke rumah dan bertarung dengan Alisya demi posisi tetertinggi di perusahaan. Meskipun Norman tidak setuju dan menginginkan Johan untuk segera pulang dan mengambil alih perusahaan, ia masih harus mengalah dengan putranya itu. Jika tidak putranya bisa saja marah dan tidak ingin lagi mengambil alih perusahaan. Dan jika hal itu sampai terjadi, ia hanya bisa melihat perusahaan keluarga yang turun temurun dari beberapa generasi akan hancur di bawah kendali putra keduanya.
Secara keseluruhan kondisi Berlian sudah membaik setelah dua bulan berlalu. Dan ia sudah bisa berjalan normal. Meskipun kadang masih terasa nyeri saat ia bergerak berlebihan. Ia juga sudah kembali masuk ke sekolah. Selama dia dalam masa pemulihan, Sean mengatur agar Berlian bisa homeschool.
Hari ini adalah hari pertama Berlian masuk sekolah seperti biasa. Dia diantar Johan seperti biasa. Setelah mereka resmi menjadi kekasih, Berlian kini duduk di kursi depan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah siap?" Tanya Johan setelah mereka sampai di depan gerbang sekolah.
"Ehem. Ini sedikit aneh setelah lama tidak ke sekolah." Berlian memandang anak-anak lain yang dengan riang memasuki gerbang sekolah. Berlian merasa pemandangan ini agak asing baginya setelah dia dikurung selama dua bulan.
"Tapi pasti lebih baik daripada kamu harus belajar seorang diri di rumah kan?" Ya Berlian mengakui itu. Johan mengelus kepala Berlian.
"Ayo aku akan mengantarmu." Johan membuka pintu dan turun tanpa menunggu Berlian. Ia pergi dengan cepat dan membuka pintu Berlian. Mengulurkan tangannya untuk membantu gadis di depannya keluar dari dalam mobil.
"Kak...." rengek Berlian sedikit protes. Sepertinya apa yang dilakukan Johan saat ini tidak pantas untuk dilakukan di depan sekolah. Akan memalukan jika ada yang melihat.
"Apa? Ayo. Mereka tidak akan berkata apa-apa. Kamu masih memiliki hak istimewa karena baru sembuh." Johan meletakkan tangan kirinya di atas dinding pintu mobil agar Berlian yang sedikit ia paksa keluar kepalanya tidak sampai terbentur.
Berlian meluncur keluar dengan cepat. Johan yang seperti itu tidak akan bisa ia bantah. Ia tidak mungkin membiarkan Johan mengulurkan tangannya seperti itu terus. Ini akan menimbulkan lebih banyak perhatian.
"Tuh kan." Wajah Johan berubah khawatir saat melihat Berlian mengernyit menahan sakit. "Tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa. Hanya sakit sedikit." Berlian mencoba menyeimbangkan kakinya saat ia berdiri. Ketika berdiri setelah duduk terlalu lama, kaki Berlian masih akan terasa sedikit nyeri.
"Baiklah. Tapi aku rasa kamu harus latihan menggerakkan kakimu agar sarafnya tidak kaku. Nanti malam aku akan menemanimu latihan." Johan sudah pernah mengatakan ini pada Berlian. Tetapi karena cidera Berlian belum sembuh ia masih menundanya.
Selain untuk membiasakan kaki Berlian, Johan ingin melatih tubuh Berlian agar kuat. Juga melatihnya beberapa gerakan bela diri untuk perlindungan diri. Ini sudah menjadi rencana Johan jauh-jauh hari sebelum penculikan Berlian.
"Iya." Berlian mengangguk patuh. Ini juga syarat yang diberikan Johan agar membiarkannya terus bergabung dengan organisasi Deep Line. Johan tidak ingin kejadian seperti sebelumnya akan terulang lagi. Dan lagi memiliki keterampilan membela diri juga tidak buruk. Ia berpikir jika suatu nanti Johan terlalu mendominasi atau macam-macam padanya ia bisa mencari perhitungan. Memikirkan ini Berlian tersenyum.
__ADS_1
"Ada apa?" Johan dengan heran bertanya.
"Tidak apa-apa." Berlian segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran anehnya. "Baiklah aku masuk dulu." Dengan cepat Berlian mengalihkan pembicaraan. Johan tidak tahu apa yang dipikirkan Berlian. Jika ia tahu niat Berlian mau belajar bela diri adalah untuk melawannya nanti, Johan mungkin akan segera membatalkan niatnya. Sebagai gantinya Johan akan membiarkan dua atau tiga bodyguard berkeliling di sekitar Berlian setiap harinya.
"Baiklah. Hati-hati. Belajar yang rajin." Johan menarik kedua sudut bibirnya. Tersenyum.dan menepuk kepala Berlian dua kali seperti seorang ibu yang mengantarkan anak mereka pergi ke sekolah untuk pertama kalinya.
"Emmm. Aku masuk dulu. Dadah." Berlian mengangguk sebelum melambaikan tangannya dan berbalik dengan cepat. Mereka berada di depan gerbang. Tempat paling ramai di jam-jam sekarang. Jadi dia tidak mungkin tidak menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian begitu mereka keluar.
Namun Keduanya tidak menyadari bahwa setelah mereka turun dari mobil, seorang gadis dengan cepat bersembunyi dan melihat keduanya dari awal hingga akhir.
Berlian berjalan di sepanjang koridor. Sekarang dia sudah tidak lagi di kelas pertama. Sekarang dia sudah baik di kelas kedua tingkat menengah atas. Berlian masih berada satu kelas dengan Clara dan Rezvan di kelas sebelas IPS Unggulan 1.
Clara yang sudah tahu jika hari ini Berlian akan masuk sekolah sengaja berangkat lebih awal dan menunggu Berlian di depan kelas. Ia tersenyum dan segera menghampiri Berlian begitu ia melihat Berlian muncul di ujung koridor.
"Akhirnya kamu masuk juga. Aku sangat senang." Clara memeluk Berlian senang. Rezvan yang dipaksa Clara untuk datang juga berdiri menyambut Berlian. Ia menguap beberapa kali. Pagi-pagi sekali Clara datang ke rumahnya dan memaksanya untuk berangkat bersamanya. Gadis itu bahkan secara pribadi mengaplikasikan gel rambut di rambutnya yang terbiasa berantakan. Hari ini penampilan Rezvan adalah yang paling rapi selama sejarah Rezvan bersekolah. Berlian melirik nya dan tertawa kecil. Ia tahu kerjaan siapa yang merubah Rezvan.
"Kenapa?" Clara mengedipkan matanya tidak mengerti kenapa Berlian tertawa dan Rezvan terlihat kesal. Ia menatap Rezvan dan mengangguk puas setelah melihat penampilan tampan temannya ini.
"Lihatlah Brily bukankah Rezvan terlihat tampan hari ini?" Tanya Clara bersemangat. Rezvan lagi-lagi mendengus kesal. Tidakkah Clara melihat wajah kesal nya sejak tadi? Berlian bahkan lebih keras tertawa.
"Ada apa?" Clara masih tidak mengerti dengan kedua sahabatnya.
"Tidak apa-apa. Baiklah ayo kita masuk. Kakiku masih akan sakit jika berdiri terlalu lama." Berlian menggeleng dengan cepat. Wajahnya terlihat tidak nyaman.
"Ayo ayo." Clara memegang lengan Berlian. Membantunya berjalan masuk ke dalam kelas. Di belakangnya, Rezvan mengikuti sambil mengacak rambutnya dengan kesal. Lagipula Clara berkata bahwa ini untuk menyambut Berlian. Sekarang Berlian sudah datang jadi tidak perlu lagi di sambut. Dalam sekejap rambut Rezvan yang awalnya diatur klimis dan rapi sudah berubah gaya yang lebih cool. Diatur dengan gaya sehingga merubah penampilan Rezvan dari tampan yang rapi menjadi tampan yang keren.
Johan yang baru saja akan menjalankan mobilnya tiba-tiba mematikan mesin mobilnya. Ia kembali keluar dan berjalan dengan langkah cepat ke arah gadis yang bersembunyi di belakang pohon hias yang digunakan untuk pembatas di sisi gerbang. Ya. Gadis itulah yang mengintip Johan dan Berlian sejak tadi. Awalnya Johan tidak menyadarinya. Tetapi ia kemudian tidak sengaja melihatnya di detik-detik terakhir dia meninggalkan tempat itu dengan mobilnya.
"Keluar! Aku tahu kamu bersembunyi di sana." Johan berhenti di depan pohon hias. Menatap gadis kecil yang berjongkok di balik pohon hias yang dipangkas rapi setinggi pinggang. Ia menatap tajam ujung kepala gadis yang menundukkan kepalanya. Sepertinya gadis itu dengan susah payah bersembunyi darinya.
__ADS_1
"Maaf kak. Tolong jangan kirim aku kembali." Gadis itu berdiri perlahan dengan raut wajah bersalah. Ia menundukkan kepalanya tanpa berani bertemu dengan mata Johan.
"Apa kamu tahu papa sangat khawatir padamu? Kamu di sini malah dengan tenang berkeliaran. Mau kamu apa?" Gadis ini adalah Reina. Adik tiri Johan. Yang sudah menghilang sejak awal tahun ajaran baru.
"Maaf. Tapi itu karena papa tidak mengizinkan ku pergi. Jadi aku hanya bisa kabur." Ucap Reina meremas roknya.
"Huh! Bagaimanapun kamu seharusnya bicara dulu baik-baik pada kakak. Kakak akan membantumu bicara pada papa. Tidak dengan cara seperti ini. Semua orang cemas memikirkan kamu." Reina semakin dalam menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat bersalah sekarang.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Reina katakan.
"Sekarang beri kakak nomor barumu dan kirim lokasi tempat tinggalmu."
"Kak tolong jangan kirim aku kembali." Reina merasa tidak nyaman berada di rumah saat ini. Papa dan mamanya seperti terlibat perang dingin setiap hari. Mereka selalu mempermasalahkan posisi tertinggi di perusahaan. Dan Reina yang menonton di samping tidak diperhatikan. Jadi dia kesal dan meminta papanya untuk mengirimnya sekolah ke luar kota untuk sekolah menengah atasnya. Tapi Norman menolak permintaannya.
"Kita lihat nanti." Johan berbicara dengan tegas. Reina tahu kakaknya tidak bisa dilawan. Jadi dia mengambil ponsel dan menghubungi nomor kakaknya.
"Sudah kan? Boleh kan aku pergi sekarang?" Johan mengangguk melihat ponselnya yang berdering dengan nomor asing di layarnya yang berkedip. Reina keluar dengan sedikit kesusahan sebelum ia berjalan memasuki gerbang. Johan memandangnya dengan rumit. Melihat cara berjalan Reina yang sedikit pincang membuat punggung adiknya selalu terlihat kesepian.
Reina terbiasa sendiri. Jarang ada teman yang akan mau berteman dengannya secara tulus. Inilah yang membuatnya pergi dari rumah. Ia ingin teman yang tulus berteman dengannya. Bukan teman yang bersedia berteman dengannya hanya karena ia adalah salah satu keluarga Adiguna.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....
__ADS_1