Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_25. Berlatih Menunggang Kuda


__ADS_3

Kejadian di kamar mandi semalam tidak ada yag mengetahuinya selain orang-orang yang terlibat. Tapi semua orang hanya diam tanpa berniat memberi tahu siapapun. Berlian bahkan juga tidak memberitahu Clara apa yang dia alami semalam. Kalau tidak, temannya ini akan segera bertindak untuk mencari keadilan untuknya. Berlin di sisi lain, dia tidak ingin membawa masalah ini terlalu jauh. Pelajaran semalam yang dia berikan ia harap cukup untuk membuat pihak lain jera untuk ukuran mencari masalah dengannya.


Pagi hari saat petugas kebersihan masuk ke kamar mandi untuk membersihkannya sebelum digunakan sangat erkejut mendapati yang terjadi. Tumpahan cat dan tepung belum dibersihkan sama sekali. Beberapa kamar mandi juga tertinggal noda yang sama. Jejak sepatu juga terlihat di lantai. Dengan bekas cat yang mengarah ke luar kamar mandi.


Petugas kebersihan segera melaporkan kejadian ini pada atasannya. Mereka langsung menuju tempat kejadian dan memeriksa keadaan.


"Ini adalah kerjaan anak iseng. Sekelompok siswa pasti membuat masalah pada temannya. Ini hanya kenakalan remaja. Abaikan saja." Ucap atasannya setelah melihat kekacauan yang terjadi.


"Tapi pak..." petugas kebersihan itu berpikir hal ini harus diselidiki lebih jauh.


"Tidak ada tapi-tapian. Lakukan saja seperti perintahku. Bersihkan saja seperti biasanya. Jangan tinggalkan bekas sedikitpun. Dan juga jangan beritahukan masalah ini pada orang lain." Siswa yang berkunjung ke penginapan ini bukanlah siswa dari sekolah biasa. Hanya anak-anak orang kaya yang akan bisa bersekolah di sekolah ini.


Di kalangan yang seperti itu, kekuasaan ditentukan berdasarkan status. Tidak jarang jika siswa dengan status keluarga yang tinggi akan bertindak arogan. Jika korban dalam kekacauan di kamar mandi memiliki status lebih tinggi daripada pelaku, tidak mungkin ia akan diam saja membiarkan kasus ini berlalu. Mereka akan melaporkan kejadian ini. Tetapi karena dirinya tidak mendapatkan laporan, ia menyimpulkan jika korban berasal dari golongan status yang lebih rendah. Jadi dia juga tidak bisa membantu dengan konsekuensi posisinya lah yang akan terancam nanti.


"Baik pak." Petugas kebersihan Itu tidak bisa berbuat banyak. Statusnya di tempat Itu juga berada di urutan yang paling bawah. Jadi apapun yang dia katakan, tidak akan ada yang mau mendengarkan. Jadi lebih baik ia cari aman dengan melakukan apa yang disuruh oleh atasannya.


Kejadian semalam memang sudah berlalu, tetapi Vivi masih kesal jika mengingat kegagalan mereka. Ia juga membuat kesimpulan jika memang benar Berlian tidak memiliki status keluarga yang tinggi. Jadi dia masih memiliki niat untuk membalasnya lagi.


Hari kegiatannya adalah mengenal kuda dengan lebih dekat. Jika berkenan, mereka juga dipersilahkan untuk mencoba belajar menunggang mereka.


Clara sudah bersemangat. Sejak pagi ia sudah bersiap. Sebelum berlatih menunggang kuda, mereka akan diberi penjelasan penting mengenai tatacara menunggang kuda. Kali ini, mereka tidak lagi dipisahkan menjadi beberapa kelompok. Mereka berkumpul menjadi satu. Melihat beberapa joki kuda menunggang kuda mereka dengan gagah. Semua siswa melihat mereka dengan kagum.


"Brily, sepertinya menunggang kuda itu mudah." Ucap Clara setelah ia memperhatikan para joki yang dengan santai mengarahkan kuda mereka.


"Cukup mudah. Kamu hanya harus mengerti apa keinginan kuda itu." Berlian menjawab dengan tenang. Rezvan yang ada di dekatnya melirik nya.


"Apa kamu bisa menunggang kuda juga?" Tanya nya.


Tunggu...


Juga? Kata itu berdengung di telinga Clara.


Apa itu artinya Rezvan juga bisa menunggang kuda dan hanya dia yang tidak bisa?

__ADS_1


"Juga?!" Sebelum Berlian bisa menjawab pertanyaan Rezvan, Clara sudah memotongnya cepat. Dia memekik tidak percaya. "Apa kamu juga bisa menunggang kuda Van?" Lanjut Clara.


"Sedikit. Apa kamu juga?" Rezvan melihat Clara.


"Tidak." Clara menggeleng dengan cepat. Wajahnya terlihat masam. "Tapi Brily bisa." Lanjutnya lemas.


"Ooh..." Rezvan melirik Berlian ragu. Tapi saat mengingat apa yang terjadi di sekolah saat ia mengalahkan kelompok Vivi, ia tidak ragu lagi.


Sebenarnya saat Berlian Diserang oleh kelompok Vivi ia ada di sana. Tapi saat ia hendak membantu, ia malah mendapati Berlian yang mampu melawan mereka dengan tanpa usaha yang berarti. Ia tidak menyangka Berlian akan mampu mengalahkan lima orang gadis sekalipun. Mulai saat itu, ia tidak berani meremehkan Berlian lagi. Gadis ini memang berbeda.


"Kenapa begitu tidak adik? Kalian bisa! Tetapi aku tidak." Keluh Clara dengan kesal.


"Kenapa begitu kesal? Aku akan mengajarimu." Rezvan berkata dengan serius sebelum ia berbicara pada pembimbing untuk meminjam seekor kuda. Ia mengatakan bahwa ia bisa menunggang kuda dan akan mengajari temannya.


Pembimbing itu mengenal Berlian sebelumnya. Jika bukan karena ia diminta untuk merahasiakan dan berpura-pura tidak mengenalnya, sejak awal ia akan menyapa nona nya itu.


Pembimbing  itu melihat Rezvan sebelumnya seksama dengan Berlian, jadi saat pemuda itu datang padanya untuk meminjam kuda, ia tanpa sadar menoleh pada Berlian untuk bertanya. Baru setelah berlian mengangguk mengiyakan, ia mengizinkan Rezvan membawa salah satu kudanya.


"Nah, teman kalian sudah ada yang bisa menunggang kuda. Apa kalian juga ingin berlatih?" Pembimbing itu dengan cepat menguasai situasi dan bertanya dengan lugas.


"Baik. Tapi sebelum itu, apa ada yang memiliki pertanyaan?"


"Pak, kenapa kuda yang itu ditempatkan di tempat yang berbeda?" Tanya seorang siswa yang penasaran pada seekor kuda yang berada di sebuah kandang yang berbeda dengan kuda lainnya.


Seekor kuda betina berwarna putih bersih terlihat cantik di dalam kandang. Kuda itu dijelaskan di dalam kandang terbuka yang cukup besar. Dengan tali kekang di lehernya tetapi tanpa pelana di atas punggungnya. Kandangnya juga sangat bersih. Kuda ini tampak menyendiri di sana. Tetapi saat melihatnya, kuda ini memang tampak istimewa. Sikap dingin kuda ini tampak seperti kuda perang yang sulit didekati.


"Ooh. Itu karena kuda ini istimewa. Ini merupakan milik putri pemilik peternakan ini."


"Apakah kami juga boleh menunggang nya?"


"Ini... kuda ini sebenarnya tidak suka didekati oleh edaran orang. Selama ini, hanya nona kami yang pernah menunggang nya.  Itulah salah satu alasan kuda ini ditempatkan di tempat yang terpisah. Kuda ini sedikit agresif terhadap manusia."


"Ooh begitu."

__ADS_1


Di saat semua orang mengerti untuk tidak bermain-main dengan kuda putih di dalam kandang, Vivi malah memikirkan hal lain. Sepertinya dengan menggunakan kuda itu, ia bisa membalas dendamnya pada Berlian. Ah ia harus menemukan caranya.


"Karena tidak ada yang ingin ditanyakan, kalian bisa memilih slah satu kuda dan minta Pelatih untuk membimbing kalian." Semua berteriak senang. Mereka langsung memilih kuda dan meminta pelatih untuk mengajari mereka.


Rezvan dan Clara sudah meninggalkan tempat itu sejak awal. Mereka berada tidak jauh dari tempat itu. Rezvan mengajari Clara cara menaiki kuda. Memegang tali kekang yang benar. Juga, bagaimana cara mengendalikan kuda.


Sebelum itu, ia memperlihatkan pada Clara bagaimana menunggang kuda dengan benar.


"Sebelum menunggang kuda, yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mengelus kepalanya. Dengan begitu kuda akan merasa nyaman. Jadi dia tidak akan memberontak saat kita menaikinya." Jelas Rezvan sambil menunjukkan caranya pada Clara.


Rezvan mengulurkan tangannya untuk membelai kepala kuda. Lau menyentuh hidungnya dia mengelus kepalanya.


"Penting untuk menatap matanya. Berikan tatapan mata yang penuh keyakinan. Jangan menatapnya ragu-ragu. Yang paling penting, Jangan tunjukkan padanya tatapan mata seorang penakut. Kuda tidak menyukai seorang penakut." Rezvan menjelaskan tanpa menoleh pada Clara dan tetap fokus pada kuda di depan ya. Clara juga memperhatikan dengan seksama.


"Sini cobalah." Rezvan melambaikan tangannya. Meminta Clara untuk mendekat.


Awalnya Clara ragu. Namun saat melihat tatapan serius Rezvan yang belum pernah ia lihat, Clara akhirnya dapat menghilangkan keraguannya. Ia mulai mengulurkan tangannya dan membelai kepala kuda dengan nyaman. Melihat kuda yang nyaman dengan sentuhnya membuat Clara merasa senang.


"Bagaimana? Sudah siap?" Tanya Rezvan.


"Tapi aku takut Van."


"Tidak perlu takut. Aku akan memegang talinya. Aku akan menemanimu berkeliling.  Lagipula belajar berkuda tidak bisa langsung bisa."  Ucap Rezvan meyakinkan sebelum uas mengulurkan tangannya untuk membantu Clara naik kuda yag dipegangnya.


Setelah beberapa lama, Clara akhirnya mulai terbiasa. Dengan Rezvan memegang kudanya dan berjalan di sisinya, Clara sudah mulai bisa mengendalikan kudanya.


Namun.....


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2