Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_74. Johan Bertemu Maxim


__ADS_3

Bryan dan Justin datang segera setelah menerima kabar. Maxim dan Laura yang selama ini tinggal di pulau pribadi akhirnya keluar setelah bertahun-tahun memisahkan diri dari dunia luar. Maxim berjalan dengan tongkat di tangannya untuk mendukungnya. Wajahnya yang terlihat dingin nampak suram. Di sampingnya, Laura berjalan di sampingnya dengan rapuh.  Keduanya memiliki wajah yang tenggelam dalam kesedihan.


Saat mereka masuk ke dalam rumah, mereka disambut oleh dua tubuh tak bernyawa yang mereka kenali dibaringkan dalam peti mati. Laura segera berlari dan memeluk putrinya dengan isak tangis yang memilukan. Maxim melirik keduanya dengan dalam. Namun dari matanya jelas terlihat kesedihan yang mendalam. Lalu pandangannya berlatih pada dua gadis yang duduk diam di samping. Ia berjalan pelan mendekati keduanya.


"Semua akan baik-baik saja." Berlian mendongak saat merasakan elusan di kepalanya. Tatapan Teduh Maxim menatap matanya yang tabah. Maxim mengalihkan pandangannya pada pemuda di samping Berlian. Johan datang begitu menerima kabar. Sebagai calon suami Berlian, Johan tentu saja harus menemani calon istrinya di saat-saat sulitnya.


"Kakek." Sylvia yang juga merasakan elusan di kepalanya. Sylvia lebih muda dari Berlian. Dan dia sulit untuk menyimpan emosinya. Jadi wajahnya penuh dengan air mata. Maxim tersenyum menguatkan cucu perempuan kesayangannya.


"Jangan menangis lagi." Maxim mengulurkan tangannya dan menghapus air mata di sudut mata Sylvia.


Setelah semua sudah datang, mereka tidak mengulur waktu dan segera memakamkan Sean dan Evelyn. Suasana haru mewarnai prosesi pemakaman yang berjalan khidmat. Semua orang kembali ke mansion setelah upacara selesai. Mereka berkumpul di ruang keluarga. Mata para wanita sembab setelah mereka menangis. Bahkan Berlian yang tampak menjaga ketenangannya akhirnya menumpahkan air matanya di pelukan Johan saat melihat peti kedua orang tuanya dimasukkan ke dalam tanah.


"Tuan, ada yang harus saya laporkan." Charlos berjalan dengan tenang dan berdiri di samping Maxim. Semua orang meliriknya. Mereka semua dapat menebak bahwa apa yang dilaporkan Charlos adalah mengenai kecelakaan itu. Jadi semua orang diam.


Maxim mengangguk. "Kita bicara di ruang kerja. Kalian ikut aku." Maxim memberi isyarat pada Johan, Justin dan Bryan untuk mengikutinya.


"Aku ke sana dulu." Johan mengelus kepala Berlian sebelum ia mengikuti para pria ke ruang kerja.


"Nyonya Laura, makanan sudah siap." Kepala pelayan menghampiri mereka. Laura memang mengintruksikan dapur untuk memasak begitu mereka pulang. Setelah menerima kabar buruk, tidak ada seorang pun yang akan bisa makan. Tetapi manusia butuh makan tidak peduli apapun.


Laura memandang kedua cucu perempuannya yang tidak bergerak sedikitpun dan menghela napas. "Ayo makan." Laura berdiri dan meraih tangan keduanya.


"Aku tidak lapar nek." Jawab Berlian sendu.


"Aku juga tidak nek." Sylvia juga tidak berselera. Mereka memang tidak merasa lapar sedikitpun saat ini.


"Kalian belum makan. Pasti lapar." Laura mengelus kepala Sylvia.

__ADS_1


"Daddy dan mommy juga belum makan." Laura berhenti setelah mendengar jawaban Sylvia.


"Sayang, daddy dan mommy sudah tenang di surga. Mereka tidak membutuhkan makanan lagi. Yang mereka butuhkan hanyalah dapat melihat kalian bahagia. Dengan cara menjalankan hidup kalian dengan baik. Daddy dan mommy kalian akan bersedih melihat kalian menyiksa diri seperti ini. Apa kalian mau membuat mereka bersedih?" Sylvia segera menggelengkan kepalanya. Dia segera menoleh pada Berlian yang masih diam. Sylvia dimanjakan sejak kecil. Jadi dia tumbuh menjadi gadis yang polos dan dapat dengan mudah dibujuk. Sedangkan Berlian berbeda. Dia berpikir realistis dan tidak mempan dibujuk dengan cara seperti itu.


"Sayang, ayo." Laura menepuk pundak Berlian. Menatapnya dengan penuh harap. Berlian menoleh dan melihat Sylvia. Ia menghela napas dan akhirnya setuju dan berdiri. Melihat Berlian yang setuju, Sylvia juga ikut berdiri dan berjalan ke meja makan bersama Laura dan Berlian.


Di tempat kerja Charlos melaporkan temuannya. Truk yang menabrak mobil mereka akhirnya ditemukan setelah mengerahkan banyak kekuatan. Tapi truk ditemukan dalam keadaan terbakar di lahan kosong yang terletak jauh dari tempat kejadian untuk menghilangkan bukti. Dan setelah ditelusuri akhirnya pemilik truk itu dapat diselidiki.


Truk itu milik sebuah pabrik yang dicuri beberapa hari yang lalu dan pencurinya juga belum ditemukan. Jadi penyelidikan menemui jalan buntu untuk sementara.


"Sepertinya mereka sudah merencanakan hal ini sejak lama." Justin membelai dagu nya.


"Benar. Mereka melakukannya dengan rapi." Bryan mengangguk setuju.


"Tidak peduli serapi apa, pasti ada celah. Cari itu." Maxim mengintruksikan dari samping. Ia juga kesal.


"Periksa siapa saja yang hadir pada perjamuan malam tadi. Pelakunya pasti salah satu dari mereka. Perjamuan seperti ini tidak sembarangan orang bisa mendapatkan informasinya." Maxim memandang Charlos.


"Nama dengan garis merah adalah beberapa pihak yang dicurigai. Mereka adalah beberapa pengusaha yang memiliki konflik dengan Kingston Corp beberapa tahun belakangan." Charlos menunjuk beberapa nama. Semua orang mengangguk paham. Hanya Johan yang masih berpikir. Johan pernah berada di sisi Sean cukup lama. Jadi dia sedikit banyak tahu orang-orang seperti apa yang ditunjukkan oleh tanda merah itu. Selain itu, saat ini dia juga terjun di bisnis yang sama. Dan dia juga mengenal mereka.


"Nama ini, ini, ini dan ini bisa diabaikan. Meskipun mereka memiliki motif, mereka tidak akan berani melakukan apapun dengan nyali mereka." Johan menunjuk beberapa nama.


Dengan kekuasaan yang dimiliki Sean, meskipun banyak orang yang memiliki dendam padanya, tidak banyak yang akan memiliki nyali untuk pergi membalas. Alih-alih membalas, kebanyakan  dari mereka bahkan akan pergi menjilat dari pada membalas. Jadi setelah empat nama dihilangkan, itu dipersempit hanya meninggalkan nama dua orang yang paling memungkinkan.


Charlos berpikir sebentar sebelum akhirnya menyadari apa yang dikatakan Johan benar. Jadi dia menganggukkan  kepalanya dan kembali berpikir. Dua orang yang ditinggalkan memang paling memiliki kemampuan dan keberanian dari yang lain. Dan tingkat perselisihan mereka juga yang paling jelas.


"Baiklah kalau begitu aku akan pergi menyelidiki nya lagi." Charlos pamit dan berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


"Aku ikut." Justin tidak bisa hanya berdiam menunggu. Dia harus memberikan keadilan untuk adik perempuan tercintanya. Jadi dia pergi mengikuti Charlos.


"Aku juga ikut." Bryan mengikuti.


Hanya tersisa Johan dan Maxim di ruangan. Keduanya belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi Sean pernah menyinggung masalah Johan pada Maxim. Sean mengatakan padanya bahwa dia telah menemukan calon suami yang tepat tepat tujuan Berlian. Tapi Maxim belum percaya sebelum dia nisa melihatnya sendiri. Di masa lalu, dia masih belum memiliki kesempatan untuk itu.  Jadi karena saat ini mereka bertemu, Maxim memanfaatkan keadaan untuk memperhatikan Johan dengan seksama dan menilainya sejak pertama kali ia melihatnya berada di samping Berlian. Sejauh ini kesannya cukup bagus.


"Mohon maaf karena saya tidak ikut pergi. Saya ingin menemani Berlian." Ucap Johan. Ia takut jika Maxim salah paham padanya karena dia tidak ikut dengan Charlos dan yang lainnya dan menganggapnya tidak peduli.


"Tidak apa. Brily paling membutuhkanmu saat ini. Kamu temani dia." Maxim menganggukkan kepalanya. Ia memainkan jari-jarinya di atas kepala tingkat di tangannya.


"Gadis bodoh itu meskipun kelihatan kuat di luar, pada kenyataannya sangat rapuh. Dia mirip seperti ibunya yang sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Aku senang dia memilikimu di sisinya." Maxim berbicara serius dan menatap Johan dengan tajam.


"Terima kasih atas kepercayaan tuan." Ucap Johan tulus. Matanya terlihat keseriusan. Maxim puas dengan calon cicit menantunya.


"Tidak perlu berterima kasih. Tapi Aku harap kalian segera meresmikan hubungan kalian. Aku sudah tua, aku tidak yakin bisa melindunginya seberapa lama. Aku akan tenang jika dia sudah berada dalam lindungan orang yang dapat dipercaya."


"Saya mengerti. Jika Lian setuju, setelah masa berkabung berakhir, saya akan menikahinya." Johan juga berpikir demikian. Saat ini dia memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menjaga Berlian di sisinya. Lagipula dengan datangnya di saat ini, hubungan mereka pasti diketahui oleh Alisya. Jadi Jadi akan lebih aman menjaga Berlian di sampingnya.


"Bagus. Seperti yang kuharapkan dari menantu pilihan Sean. Memang tidak mengecewakan." Maxim berdiri, meletakkan tongkat yang sejak tadi dia pegang dan menepuk pundak Johan.


"Baiklah. Bicarakan ini dengan Brily." Johan mengangguk sebelum ia membungkuk kan sedikit badannya dan berbalik keluar dari ruangan.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2