
Evelyn sedang sibuk dengan laporan keuangan yang sedang ia periksa saat Sean dan Soni tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Di belakang mereka, Rosi membungkukkan badan saat melihat raut kesal Evelyn menatap tamu tak diundangnya.
“Maaf nona, saya...” ucap Rosi menatap cemas Evelyn.
“Tidak apa Rosi. Kami bisa keluar sekarang. Seseorang mungkin tidak memiliki sopan santun bertamu.” Ucap Evelyn sambil melirik Sean menyindir.
“Terima kasih nona, saya permisi.” Rosi membungkukkan badannya sebelum keluar ruangan.
“Ada apa tuan Sean datang ke kantor saya?” tanya Evelyn saat Rosi sudah keluar.
“Kamu juga keluar.” Sean melirik Soni yang berdiri di belakangnya. Soni segera membungkuk dan keluar ruangan setelah menutup pintu dengan sangat pelan.
“Aku datang untuk meminta penjelasan.” Ucap Sean setelah dengan santainya ia duduk di depan Evelyn tanpa dipersilahkan. Ia meletakkan map di depan wanita itu.
Evelyn membuka map dan membacanya. Ia sedikit terkejut melihat isinya. “Lalu kenapa?” tanya Evelyn santai sambil meletakkan map kembali. Ia menatap Sean dengan acuh.
“Mengapa kamu berbohong padaku Evelyn?”
“Antara kita tidak ada apa-apa tuan Sean. Kita hanya Rekan bisnis di sini. Jadi tolong jangan mencampur adukkan masalah pribadi.”
Sean geram mendengar jawaban wanita itu. Ia segera berdiri dan menghampiri Evelyn yang duduk tenang di kursi kebesarannya. Ia menatap tajam wanita yang selalu hadir di dalam benaknya.
“Mereka adalah anakku Evelyn. Aku berhak tahu.” Sean menarik tangan kiri Evelyn agar wanita itu menghadapnya.
“Anakku tidak memiliki ayah tuan Sean. Sejak awal mereka adalah anak-anakku.” Evelyn balik menatap Sean yang menatapnya dengan tajam.
“Jangan keras kepala Evelyn.” Sean merendahkan suaranya. Mencoba meredam emosi yang sudah di ubun-ubun.
“Tuan Sean, pernah saya katakan jika apa yang terjadi enam tahun lalu hanyalah kecelakaan. Jadi lupakan semua itu. Hidup terus berjalan, jangan terus berkubang dalam masa lalu yang membelenggu.”
“Apa kamu sadar apa yang kamu katakan itu sangatlah egois? Anak-anak itu masih memiliki ayah. Kenapa kamu menjauhkan mereka dari ayahnya?”
“Itu karena mereka tidak membutuhkan ayah mereka yang baji Ngan itu. Jadi untuk apa masih mengingatnya?”
“Dari sisi mana kamu melihatku sebagai seorang baji Ngan!”
__ADS_1
“Orang yang dengan paksa meniduri seorang wanita sejak dulu adalah seorang baji Ngan. Jadi tidak perlu melihatnya dari sisi manapun lagi.”
“Aku sudah mencoba mencarimu setelah kejadian itu. Tapi kamu seperti menghilang ditelan bumi.”
“Untuk apa mencariku? Bukankah wanita bagi orang seperti anda tak ada bedanya dengan sebuah baju yang akan anda buang setelah digunakan?” Evelyn memalingkan wajahnya. Air matanya hampir keluar. Dan ia tidak ingin jika Sean sampai melihatnya.
“Apa aku seburuk itu di matamu, Evelyn?” Evelyn tidak menjawab. Ia masih meredakan rasa sakit yang masih ia ingat di masa lalu. Semua penderitaan yang ia alami di masa lalu seakan menyesakkan dadanya lagi.
“Sejak aku menyentuhmu tahun itu, sampai sekarang aku tidak pernah menyentuh wanita manapun lagi.”
“Itu bukan urusan saya tuan Sean. Mau anda menyentuh wanita manapun itu terserah anda.”
“Itu karena aku selalu mengingatmu.”
“Sayang sekali. Padahal saya tidak pernah meminta anda mengingat saya. Saya sungguh merasa tersanjung. Sa..emp..” bibir tipis yang sejak tadi berdebat dan membuatnya kesal dibungkam Sean dengan bibirnya.
Laki-laki itu menekan Evelyn di kursinya. Melingkarkan tangannya pada tubuh wanita itu.
Tangan Evelyn mendorong dada Sean. Namun kekuatan yang dimilikinya jelas tidak sebanding dengan kekuatan laki-laki yang tengah ******* bibirnya.
Setelah ciuman sepihak yang dalam itu, Sean menarik Evelyn dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang masih ia ingat sejak enam tahun lalu. Aroma yang terasa menenangkan.
“Ayo kita bersama Ev.” Ucap Sean sambil memandang lekat-lekat wanita yang terlihat kaget di depannya.
“Ayo kita besarkan anak-anak kita bersama.”
“Tidak. Kita tidak bisa.” Tolak Evelyn seketika.
“Kenapa?” Sean memandang Evelyn tak percaya. Selama ini ia percaya jika tidak akan ada wanita yang akan menolaknya. Namun Evelyn ini selalu saja berusaha menolaknya dan membuatnya frustasi.
“Tidak ada alasan.” Evelyn memalingkan wajahnya. Jujur, ia takut memulai hubungan dengan laki-laki. Meskipun ia tahu jika Sean adalah ayah dari anak-anaknya, ia masih memiliki kekhawatiran di hatinya jika ternyata Sean hanya memanfaatkan melemahnya kewaspadaannya dan saat itu Sean akan mengambil mereka dari tangannya. Meninggalkan ia sendiri.
“Ev dengarkan aku. Kita bisa mulai dari awal.”
“Maaf tuan Sean. Aku sangat sibuk saat ini. Jika tuan tidak ada urusan lagi, silahkan keluar. Lima menit lagi saya ada rapat penting yang harus saya ikuti.” Evelyn melepaskan dirinya dengan mendorong Sean yang masih memeluknya erat.
__ADS_1
“Huft, kali ini aku mengalah Ev, tapi aku tidak akan pernah menyerah padamu. Aku akan terus mengejarmu hingga kamu mau menerimaku.” Ucap Sean serius sebelum ia keluar dari ruangan Evelyn setelah mendaratkan bibirnya di kening Evelyn.
“Hiks hiks.” Isak tangis mulai terdengar tepat setelah pintu ruangan tertutup. Evelyn melipat kedua tangannya di atas meja. Wajahnya ia benamkan di atasnya dan mulai menangis. Tangis yang dari tadi ia tahan akhirnya lolos tanpa bisa ia tahan lagi.
“Kenapa harus kembali bertemu dengannya?” ucap Evelyn di sela Isak tangisnya. “Aku sudah bersusah payah meninggalkan masa lalu itu dan mulai membangun masa depan dengan anak-anak ku. Kenapa dia datang?” lanjutnya.
**
Setelah keluar dari kantor Evelyn, Sean meminta Soni mengantarkannya ke TK Internasional Matahari. Pagi tadi ia mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal untuk bertemu yang mengatakan jika itu adalah nomor Berlian untuk menemuinya dan Bryan sepulang sekolah. Berlian berkata jika ada sesuatu yang ingin mereka katakan.
Sean memijat pelipisnya yang terasa pening setelah mendapatkan penolakan dari Evelyn bahkan dengan bukti yang ia rasa akan mampu membuat Evelyn takluk di hadapannya. Tapi nyatanya wanita itu masih saja menolaknya.
“Tuan, kita sudah sampai.” Ucap Soni sesaat setelah ia mematikan mobilnya di parkiran.
Sean mengangguk dan segera keluar setelah pintu mobilnya dibukakan oleh Soni. Kali ini, mereka berdua tidak menuju kantor kepala sekolah terlebih dahulu karena tujuan mereka adalah menemui Berlian dan Bryan. Keduanya langsung menuju ke gudang. Kali ini, Soni membuka gembok pintu dengan kunci duplikat yang ia buat kemarin.
Tak lama menunggu hingga pintu gudang terbuka dan dua bocah cilik dengan tas di punggung mereka datang menghampiri.
“Kami tidak memiliki banyak waktu, paman. Kami sudah membantumu sejauh ini. Urusan mommy kami serahkan pada paman mulai sekarang. Karena ulah paman, mommy mungkin akan menghukum kami. Minimal mommy akan menyita barang-barang kesayangan kami. Paling parah pan tat kami mungkin akan menjadi datar setelah ini.” Ucap Bryan sambil menyerahkan sebuah kertas kecil dengan tulisan di atasnya yang menunjukkan salah satu nama restoran terkenal.
“Mommy akan ada di tempat itu malam ini. Kami pulang dulu.” Berlian berkata sambil menarik tangan Bryan untuk mengikutinya keluar dari gudang.
“Oh ya, ini adalah kunci gudang ini. Jadi kalian tidak akan lagi kesulitan saat akan masuk. Daddy juga akan mengirim orang untuk membereskannya dan menambahkan beberapa fasilitas di dalamnya agar kalian nyaman.” Ucap Sean menyerahkan kunci gudang pada Berlian.
“Sebenarnya ini tidak perlu. Kami tidak kesulitan apapun. Tapi terima kasih untuk itu.” Berlian berkata sambil memasukkan kunci yang baru saja diberikan Sean ke dalam saku seragamnya.
“Benar-benar putri tuan Sean, tidak pernah mau mengalah.” Gumam Soni dalam hati saat melihat tingkah arogan Bryan yang terlihat sangat mirip dengan Sean.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Akoh akan semakin suka jika kalian tidak lupa menyentuh jempol buat karya akoh 🤩
Jempolmu 👍 semangatku 🔥