
Rezvan melirik gadis di belakangnya dan terkejut saat melihat gadis itu tampak tenang. Rezvan terbiasa dengan Ekspresi Berlian bahkan tetap datar dan terlihat malas seperti biasanya. Dia acuh dan terlalu dingin. Tapi, dia tidak percaya bahwa dalam keadaan seperti itu Berlian bahkan seperti tidak terganggu sedikitpun.
Berlian menepuk pundak Rezvan dan memintanya untuk turun. Rezvan awalnya ragu dan ingin menolak. Tapi saat melihat wajah Berlian yang berangsur terlihat serius membuatnya tidak bisa untuk tidak menurutinya.
Rencana awal Rezvan adalah bahwa dia akan tetap melajukan motornya dengan cepat dan menghindari orang yang menghadangnya dengan seluruh kemampuannya. Menghadapi para pria bertubuh besar itu membuatnya sedikit merasa takut. Apalagi dengan Berlian yang ada bersamanya. Keselamatan Berlian bahkan lebih penting dari keselamatan dirinya sendiri.
Namun melihat keyakinan di mata Berlian, Rezvan akhirnya melepas helm yang dia kenakan dan turun dari motor. Berlian juga ikut turun dengan tenang.
"Siapa kalian?" Rezvan mengangkat dagu nya dan bertanya.
"Kalian tidak perlu tahu. Anggap saja kalian sedang tidak beruntung karena tidak sengaja memprovokasi orang yang tidak seharusnya kalian ganggu."
"Oh ya... tapi sayangnya kami tidak peduli." Rezvan mencibir.
"Kami akan melepaskanmu jika kamu meninggalkan gadis manis ini bersama kami." Preman itu terkekeh melihat Berlian.
"Jangan mimpi." Rezvan mendengus kesal. Ia segera memasang kuda-kuda untuk melawan para preman. "Brily kamu tetap di belakangku." Lanjutnya saat ia menoleh dan menatap khawatir gadis di belakangnya.
Rezvan menemukan jika ekspresi Berlian yang kini sudah kembali acuh tak acuh. Ia benar-benar tidak mengerti gadis ini.
Kenyataannya, Berlian sudah bersiap untuk menggunakan senjata rahasianya yang berupa gelang jam perak di tangannya. Gelang jam itu adalah pemberian Bryan saat ia akan berangkat ke Texas. Secara khusus Bryan telah mempersiapkan gelang yang sudah dimodifikasi dengan desain yang dirancang olehnya sendiri. Gelang itu berisi beberapa bilah pisau tipis yang akan keluar saat tombol kecil yang terbuat dari permata berwarna biru yang terlihat seperti sebuah hiasan.
Tapi saat tangannya hampir menekan tombol, Berlian melihat seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya. Dia adalah salah satu anak buah Johan. Berlian tipe gadis yang tidak akan mau repot mengurus masalah yang menurutnya tidak penting. Apalagi ada orang yang akan menyelesaikan masalah 'tidak penting' tersebut.
Sebelum Rezvan melakukan satu Gerakan pun, dua pria yang sejak awal mengikuti Berlian sudah berdiri di depan mereka dan membuat pagar hidup bagi keduanya.
"Nona, kami akan urus semuanya." Ucap salah satu dari mereka saat dia menoleh pada Berlian.
"Mm." Berlian mengangguk tipis.
Dua orang melawan tiga orang. Tetapi jelas terlihat kemampuan dua orang itu lebih baik dari tiga orang. Jadi dalam sekejap tiga orang berhasil di lumpuhkan. Rezvan melirik Berlian saat ia melihat pertarungan di depannya. Ini bukan pertama kalinya untuknya melihat hal semacam ini. Tetapi ia tidak pernah melihat yang memiliki kemampuan yang hebat. Dapat melumpuhkan lawan dalam waktu yang singkat.
Itu wajar. Rezvan belum banyak melihat dunia.
__ADS_1
"Apa kamu mengenal mereka Brily? " Tanya Rezvan dengan suara pelan. Hampir seperti berbisik.
"Tidak."
"Apa mereka anak buah orang tuamu?"
"Bukan. "
"Tapi mereka Memanggilmu nona."
"Aku memang tidak mengenal mereka. Tapi sepertinya aku tahu siapa mereka. "
"Siapa?"
"Orangnya kak Johan."
Rezvan terdiam. Dia memang Sudah menyadari jika Johan tidak sesederhana untuk ukuran seorang sopir. Meskipun pria itu memang mengakui jika dirinya adalah sopir Berlian, tetapi Rezvan menyadari jika ada sesuatu mengenai Johan. Dan sekarang dia yakin akan hal itu.
Sekarang, Rezvan menyadari jika antara dia, Berlian dan Johan tidak akan berada di titik gratis yang sama.
"Akh!" Berlian menoleh saat mendengar suara yang keras disertai suara teriakan di belakangnya. Begitu juga Rezvan yang terkejut saat melihat seseorang jatuh tersungkur di belakangnya.
Berlian segera menghampiri orang itu dan menemukan bahwa dia adalah Terry yang tengah menyamar. Berlian mengetahui jika dia sedang dibuntuti. Tapi dia tidak mengira jika salah satunya adalah Terry. Dia pikir itu hanya dua anak buah Johan yang baru ia temukan di saat-saat terakhir.
Sebetulnya ia tidak menyadari bahwa Terry juga Mengawasinya. Sepertinya kemampuan Terry cukup bagus!
"Kak Terry!" Berlian panik saat melihat darah mengalir dari kepalanya belakang Terry. Tak jauh darinya, berdiri seorang pria dengan balok besi di tangannya. Rezvan segera memblokir pria itu yang hendak memukulkan balok besi nya lagi. Pria itu hendak menyerang Berlian.
Kemampuan Rezvan cukup bagus. Dia bisa melumpuhkan orang itu dengan segera setelah ia menendang balok besi doang menjadi senjatanya. Berlian segera meminta anak buah Johan untuk menolong Terry dan membawanya ke rumah sakit.
Pria yang menyerang menggunakan balok besi adalah pemimpin dari kelompok itu. Dia awalnya hanya duduk di belakang kemudi dan melihat kesenangan dari dalam mobil. Saat ia melihat anak buahnya yang kalah ia harus menyelesaikan tugasnya. Jadi dia mengambil balok kayu dan segera menyerang. Siapa yang menyangka akan ada orang bodoh yang datang dan menghadang serangannya dengan tubuhnya sendiri.
"Ampuni kami! Kami tidak seharusnya menyinggung orang yang tidak seharusnya kami singgung. Kami telah salah memihak orang dan telah menerima uang untuk mengganggu kalian. Kami hanya orang suruhan. Ampuni kami!"
__ADS_1
Rezvan melirik Berlian dan menemukan Berlian hanya diam. Dia tahu Berlian tidak mau repot-repot untuk bicara. Jadi dia berinisiatif untuk mewakilinya.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"Seorang gadis. Dia berkata namanya Clara." Kata preman itu gemetar.
"Clara? Apa kalian yakin." Rezvan melirik Berlian untuk melihat ekspresinya. Dan dia hanya menemukannya menaikkan alisnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Apa dia percaya perkataan preman itu yang mengatakan bahwa mereka disuruh oleh Clara?
"Ya ya. Kami yakin." Preman itu mengangguk. Tapi setelah berpikir lagi, dia segera berkata. "Tapi..tapi kami benar-benar tidak tahu. Dia yang menghubungi kami terlebih dahulu melalui telepon. Kami juga tidak melihat wajahnya. Uang bayarannya juga diletakkan di suatu tempat yang kami sepakati."
Rezvan menghela napas lega. Ia baru mengerti sekarang. Orang itu sungguh licik. Menyiapkan sebuah rencana jahat untuk melawannya. Namun jika rencana itu gagal, dia masih memiliki rencana cadangan untuk melepaskan diri dan melemparkannya kesalahan pada orang lain. Tidak hanya itu, dia juga berniat untuk merusak persahabatannya.
"Cukup. Tidak perlu bertanya lagi." Ucap Berlian saat melihat Rezvan hendak memukul pria itu untuk mengaku. Rezvan berbalik dan menatap Berlian dengan penuh tanya.
"Apa kamu akan membiarkan mereka pergi begitu saja tanpa mengetahui siapa yang berniat mencelakaimu?"
"Tentu saja tidak. Prinsipku adalah jika aku tidak diganggu, aku akan diam. Tapi saat aku diganggu, aku tidak akan membiarkan orang itu pergi dengan mudah setelah aku menderita beberapa kerugian." Berlian tersenyum melihat pria itu yang entah kenapa merasa dingin di punggungnya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku hanya ingin tahu, apa yang dia inginkan kalian lakukan padaku?" Berlian mengarahkan pandangannya pada pria di bawah kaki Rezvan.
Mereka menerima telepon dari orang yang tidak dikenal. Dari suaranya dapat dilihat bahwa dia adalah seorang gadis muda. Dia meminta mereka untuk melakukan pelecehan pada seorang gadis SMA dan merekamnya. Dia berkata ingin memberi pelajaran pada gadis yang telah menginggungnya.
Gadis itu berkata bahwa targetnya adalah orang biasa. Jadi mereka menerima perintah itu apalagi ada imbalan uang yang besar. Ditambah lagi, mereka tidak sering mendapatkan tugas mudah dengan uang yang banyak. Dan...korban yang sangat cantik juga.
Awalnya mereka berpikir hari itu adalah hati keberuntungan mereka. Tapi sekarang, mereka menyadari bahwa itu adalah hati terburuk karena telah salah mengambil keputusan.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~