
Bel tanda masuk berbunyi. Satu persatu siswa baru memasuki aula. Clara dan Berlian juga duduk. Karena Berlian tidak begitu menyukai keramaian, Clara mengikutinya duduk di bagian belakang. Apalagi setelah kejadian tadi membuat suasana hati Berlian tidak baik. Di kantin juga ada beberapa siswa dan siswi yang berusaha mendekatinya. Berlian mendengus beberapa kali.
Berlian menundukkan kepalanya. Bermain dnegan game online di ponselnya untuk menghindari tatapan mata yang mengarah padanya. Ia tidak nyaman. Dia menoleh saat melihat seseoramg duduk.tepat di sebelahnya.
"Aku nggak nyangka kamu main gituan juga." Rezvan melirik layar ponsel Berlian.
"Hanya iseng." Jawab berlian singkat. Ia sudah fokus pada ponselnya lagi. Rezvan mengerucutkan bibirnya. Masih belum bisa ia terima jika ada gadis yang bisa mengabaikan ketampanannya. Meskipun pada dasarnya ia tidak akan peduli pada tatapan memuja setiap gadis padanya, tetapi jika gadis di sampingnya ini memgabaikannya, ia merasa tidak suka.
Suara seseorang terdengar keras dari depan. Seorang siswa berdiri dengan mikrofon di tangannya. Begitu suaranya terdengar, seruan keras langsung menggema. Yang berdiri di depan saat ini adalah Raka. Jadi bagaimana mungkin para gadis itu akan memgabaikannya?
Clara yang ada di sebelah Berlian juga antusias. Pria tampan memang beda. Hanya mengucapkan satu kata saja sudah terlihat menarik.
Selain Raka yang menjadi idola, seorang siswi juga cukup populer. Namanya Wanda. Kelas sebelas IPA unggulan. Cantik dan baik hati. Lemah lembut namun sekaligus tegas saat ia menjabat sebagai wakil sie Kegiatan. Kali ini ia berdiri di samping Raka untuk membuka acara yang kedua.
Wanda berbicara dengan jelas dan lugas mengenai apa yang akan mereka lakukan. Sesi kedua hari ini dijadwalkan untuk permainan. Akan ada lima bola yang dioperkan diantara peserta. Musik juga diputar sebagai tanda. Jika musik berhenti, siswa yang memegang bola harus maju ke depan.
Lima orang yang maju di depan nantinya harus menampilkan sesuatu atau memilih menerima hukuman. Setelah menjelaskan peraturan, Wanda bertanya apa ada yang belum paham. Permainan segera dimulai saat tidak ada yang bertanya.
Panitia memberikan bola. Lima bola diserahkan di baris-baris yang berbeda.
"Apakah sudah siap?" Raka bertanya dengan semangat. Semua menjawab bahwa mereka sudah siap. Musikpun dinyalakan. Yang berada di depan Mesin adalah Rudi. Ia mengawasi bola di barisan lima dari belakang. Menyadari jika bola itu masih jauh, ia bergerak sesuai peraturan. Mematikan musik secara acak.
Lima orang yang terakhir memegang bola memiliki ekspresi yang berbeda. Sebagian besar mereka enggan untuk maju. Sebagian lainnya malah antusias. Sedangkan mereka yang tidak mendapatkan bola akhir itu juga sebaguan kecewa, fan sebagian lagi merasa lega.
Ini sederhana. Mereka yang ingin menonjol tentu saja berharap untuk mendapatkan kesempatan untuk maju. Dengan begitu mereka bisa menunjukkan dirinya tidak peduli apa yang akan mereka tampilkan.
__ADS_1
Sebenarnya, peserta yang mendapatkan bola tidak harus tampil seorang diri. Mereka bisa berkolaborasi atau bahkan langsung tampil berlima. Tapi karena mereka belum mengenal satu sama lainnya, mereka lebih memilih untuk tampil sendiri. Dua di antaranya menyanyi bersama. Ada satu yang mempertunjukan gerakan silat. Satunya lagi menari. Sedangkan satu yang terakhir memilih untuk menerima hukuman. Ia menyesal tadi tidak imut bernyanyi bersama dua siswa yang menyanyi bersama. Siswa itu kemudian dihukum dengan melompat kodok.
Bola kembali dioper saat musik kembali dinyalakan. Tidak dimulai dari awal. Tetapi melanjutkan dari yang terakhir kali. Musik dinyalakan lebih lama. Meskipun begitu, bola itu masih jauh dari keberadaan Berlian yang tampak acuh dengan kondisi sekitar. Gadis itu hanya diam tanpa ekspresi di tempatnya. Sangat berbeda dengan gadis di sebelahnya yang terlihat semangat dan ceria. Clara bersorak dan bertepul tangan.
Musik berhenti. Sorakan kembali terdengar riuh. Merkea menyoraki siswa yang mendapatkan bola terakhir. Lima siswa kembali maju.
"Aku bosan." Clara menoleh. Melihat wajah Berlian dengan kasihan.
"Dibawa hepi saja Brily. Nikmatin keseruannya." Ucap Clara.
"Aku tidak tahu apa yang seru di sini." Berlian memindai sekitarnya. Hanya ada sekumpulan anak seusianya yang tertawa dan berteriak. Menurutnya ini sangat konyol.
"...." bibir Clara berkedut. Ibu bukan salah acaranya yang tidak mengasikkan. Tetapi iu karena Berlian yang tidak bisa menikmatinya. Berlian selalu menganggap semua hal serius. Ini masalahnya!
Rezvan melihat senyum licik Rudi. Ia juga memandang pergerakan bola. Bagaimana pun, ia harus melakukan sesuatu agar bola itu tidak berhenti pada Berlian. Tidak ada yang bisa menindas seseorang di depannya.
Rezvan memagang bola dengan cepat dan juga mengopernya dengan cepat pula. Bahkan ia hanya mendorong tangan Berlian untuk segera mengopernya pada Clara. Jadi ketika musik berhenti, bola itu ada pada Clara. Rudi menggertakkan giginya. Padahal ia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana bola iu bisa melewati Berlian, ia telah melewatkan satu kesempatan yang baik.
Clara tidak tahu apa yang terjadi. Jadi saat dia mendapatkan bola di tangannya ia merasa sangat senang. Ia segera melompat dari tempat duduknya dan berlari maju ke depan.
Clara bisa saja tidak melihat. Tetapi Berlian dengan jelas melihat bahwa Rezvan sengaja melewatkan bola darinya. Ia mengangkat alisnya penuh tanya. Menatap tajam Rezvan yabg duduk tanpa rasa bersalah.
"Mengapa kamu melakukan itu?" Tanya Berlian akhirnya saar Rezvan hanya diam saja.
"Apa?"
__ADS_1
"Jangan kira aku tidak tahu kalau kamu sengaja mendorong bola itu, kan?" Berlian memicingkan matanya.
"Oh...kalau kamu bisa melihat niatku, pasti kamu juga bsia melihat niat terselubung padamu kan?"
"Aku tahu. Tapi seharusnya kamu tidak melakukan hal itu padaku.
"Sederhana. Aku ingin menyelamatkan tuan putri dari masalah." Jawab Rezvan sambil tersenyum senang.
"Sayangnya aku bukan tuan putri. Tapi terima kasih untuk yang tadi." ucap berlian tulus.
"Sayangnya, Aku tidak menerima rasa terima kasih dalam bentuk ucapan." Rezvan tersenyum dalam hatinya.
"Apa yang kamu inginkan?"
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~
Kira-kira apa yang diminta Rezvan dari Berlian ya?
Jangan lupa klik jempol sebelum kembali π
__ADS_1