Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_43. Metode Kebiri Seperti Apa Yang Kamu Inginkan?


__ADS_3

Soni berdiri di samping Sean. Di depan mereka berdua, dua orang laki-laki dari bagian IT sedang melaporkan perkembangan keadaan yang terjadi mengenai peretasan keamanan di Kingston Company.


"Virus tipe ini tidak bisa disebarkan dari jarak jauh. Virus ini hanya bisa disebarkan dengan cara langsung. Intinya, selain karyawan yang bisa keluar masuk secara bebas ke dalam kantor yang memasukkan virus langsung pada perangkat yang dirusak tidak akan bisa."


"Kalau sudah diketahui seperti itu kenapa sampai sekarang belum dapat diketahui?" Sean sangat kesal sekarang. Sejak kemarin Evelyn masih menolak panggilannya. Terakhir wanita itu bahkan memblokir nomornya.


"Nona kecil sudah melacak pelakunya. Tapi dia masih merahasiakannya. Katanya PR untuk kami.." pria dewasa yang diberi PR oleh anak usia lima tahun itu hanya bisa berkata dengan pasrah. Sampai sekarang pun ia dan timnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melacaknya dan belum berhasil sampai sekarang.


"Sudahlah. Lanjutkan pekerjaan kalian." Sean mengibaskann tangannya agar dua orang yang dari tadi merusak pemandangan matanya segera pergi. Lagi pula Sean yakin jika Brily sudah memblokir gerakan pelaku. Masalah ini hanya digunakkan gadis kecil itu untuk mempermainkan pria dewasa yang levelnya berada jauh di bawahnya.


"Soni, pesan enam puluh delapan buket bunga mawar merah yang langsung dipetik dari kebunnya dan kirimkan ke kantor Evelyn. Dan satu buket mawar kuning padaku. Aku akan menyusul ke sana jika semuanya siap." Sean mengetuk meja dengan pena yang dipegangnya.


"Jangan lupa pastikan kelopak bunga itu besar dan harum.


"Baik tuan." Soni segera pergi melaksanakan tugasnya.


**


Di saat Sean sedang memikirkan cara untuk mendapatkan maaf dari Evelyn, wanita itu justru sedang ada di bandara untuk menjemput seorang laki-laki tampan.


Wanita itu terseyum menatap laki-laki yang berjalan ke arahnya. Keduanya berpelukan cukup lama. Saling melepas rindu.


"Aku kira kamu sudah melupakan adikmu ini." ucap Evelyn manja saat ia sudah melepaskan diri dari pelukan Justin.


"Mana ada! Aku baru bisa sampai di sini setelah selesai melaksanakan hukumanku asal kau tahu!" Justin merangkul bahu Evelyn dan mengajaknya berjalan bersamanya.


"Awalnya aku ikut merasa prihatin mendengar hukuman yang kamu terima. Tidak menyangka papi akan tega mengirimmu ke pedalaman Afrika untuk menangkap Unta besar itu." ucap Evelyn. "Tapi sepertinya setelah melihatmu yang tidak merasa bersalah itu aku jadi merasa kamu memang pantas menerimanya.


"Mana mungkin aku tidak merasa bersalah. Aku sudah merenungkan kesalahanku itu selama ada di Afrika."


"Tapi yang aku lihat tidak seperti itu." Evelyn memicingkan matanya melirik Justin yang menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Ayolah Ev! Jangann terlalu kejam pada kakakmu ini. Jika kamu belum memaafkanku, pria tua itu juga pasti akan mengirimku kembali." Wajah Justin benar-benar tidak berdaya. Bertugas di pedalaman Afrika bukan hal mudah sama sekali. Medan yang berat, sinyal yang tidak mendukung. Dan juga binatang disana yang kasang datang tiba-tiba. Belum lagi penduduk asli yang melihatnya seperti melihat santapan mereka saja. Sungguh menyebalkan!


"Baiklah-baiklah. Aku akan bicara pada papi untuk mengirimmu ke negara lain nanti." Evelyn menetuk dagunya dengan telunjuknya.


"Huh Ev! Aku merasa seperti anak tiri."


"Justin. Kamu adalah pemimpin Big Lion masa depan. Bagaimana kamu bisa bersikap seperi anak kucing seperti ini." Evelyn mencibirnya.


"Jika keluargaku tidak menindasku, bagaimana aku bisa menjadi anak kucing?"


"Hahaha. Sangat menghibur. Sini aku beri pelukan untuk menghiburmu juga." Evelyn memeluk Justin sekali lagi. Kali ini ia juga menepuk punggunh Justin dengan lembut.


"E-VE-LYN!"


Mendengar namanya disebut dengan begitu keras dan penuh amarah, Evelyn berbalik dan mendapati Sean berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya tak jauh dari sana. Justin melihatnya dengan penuh tanda tanya.


"Ev siapa dia?" tanya Justin menaikkan alisnya. Siapa yang berani memanggil adiknya dengan nada penuh emosi seperti itu.


"Apa dia ayah Si kembar?" lanjutnya.


Sejak semalam berani menolak panggilannya. Pesannya saja tidak dibuka. Pagi hari nomor juga diblokir begitu saja. Dan saat ia hendak pergi ke kantor Evelyn untuk meminta maaf secara langsung, anak buahnya mengabari jika Evelyn ada di bandara menjemput seseorang.


Tidak berpikir lagi, segera pergi ke bandara. Tapi siapa yang akan menduga jika ia sudah disuguhi pemandangan mesra Evelyn dengan laki-laki tampan yang sedang bercanda. Bahkan berpelukan.


Sean segera berjalan mendekati Evelyn. Merebutnya dari Justin dan memeluknya posesif. "Ev! Kenapa kamu menolak panggilanku hah?"


"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya merasa suara ponselku terlalu berisik."


"Huh! Lalu bagaimana dengan memblokir nomorku? Apa itu juga tidak membutuhkan alasan khusus?"


"Oh itu karena aku merasa kontak di ponselku sudah terlalu penuh. Jadi aku rasa perlu untuk membuang beberapa kontak yang tidak perlu. Termasuk nomor dari tukang selingkuh."

__ADS_1


"Sayang kamu masih marah karena hal kemarin? Sudah aku jelaskan bukan jika dia hanya wanita di masa lalu." Sean menjelaskan dengan tidak berdaya. Hal ini ia sudah menjelaskannya beberapa kali hingga ia bosan. Apakah wanita itu tidak bosan mendengar alasan yang sama sebanyak ratusan kali?


"Aku tidak tahu berapa banyak wanitamu di masa lalu. Jika ada yang datang lagi nanti. Menurutmu apa yang akan aku lakukan?"


"Itu terserah padamu untuk mengurusnya. Kamu bisa mematahkan kakinya, tangannya, atau lidahnya jika mereka berkata omong kosong. Atau kamu juga bisa membuangnya ke tempat sampah." Ucap Sean bersemangat. Ia sendiri juga sudah lelah menghadapi para wanita yang kadang tidak mengenal takut itu.


"Apa kamu yakin?" Tanya evelyn menyakinkan.


"Tentu saja." Sean mengangguk setuju. Apapun yang dilakukan Evelyn terserah saja adal wanita itu tidak marah lagi padanya.


"Baiklah. Kalau ada yang datang lagi, silahkan pilih saja metode kebiri apa yang kamu inginkan?"


Sean mendadak kehilangan tenaganya. Kenapa jadi ia yang mendapatkan imbasnya?


Wanita yang pernah bersamanya dan menghangatkan ranjangnya juga tidak bisa dikatakan banyak. Tapi kebanyakan dari mereka keras kepala dan sulit diatur. Jika salah satu dari mereka bertemu dengan Evelyn di masa depan, bukankah masa depannya yang akan hancur?


"Kenapa? Mendadak mengingkari perkataan sendiri?"


"Tidak sayang. Tentu saja tidak. Mulai sekarang aku akan meminta Soni untuk menjauhkan lalat-lalat itu dari lingkungan kita yang damai."


"Terserah." Evelyn melepaskan dirinya dari Sean dan kembali mendekati justin yang diam menonton drama yang menyadarkannya sesuatu. Wanita baginya sepert baju saja selama ini. Tak terhitung jumlahnya berapa banyak jumlahnya yang datang dan pergi ke atas ranjangnya. Jika suatu saat nanti ia menikah dan memiliki istri seperti Evelyn, hidupnya tidak akan selamat.


"Kenapa diam Justin? Tidak ingin pulang bersamaku?" tanya Evelyn saat melihat Justin yang terus melamun.


"Oh ah. Ya! Ayo kita pulang." ucap Justin setelah menggelengkan kepalanya. Menyadarkan dirinya dari pikiran melanturnya. Dia pernah berkomitmen untuk tidak menikah. Kenapa membayangkan sesuatu yang tidak mungkin?


"Tunggu!"


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😊


__ADS_2