
Ketika Johan keluar, ia mendapati dua anak buahnya yang berjaga di depan ruangan. Salah satu dari Salah satu dari mereka adalah Terry. Mereka memastikan Johan sudah menemukan Berlian dan sudah berhasil menyelamatkannya.
"Bos." Dua orang itu mengangguk sopan. Johan hanya bergumam sebelum ia melihat anak buahnya yang lain berdiri dengan santai dengan beberapa orang yang sudah diikat di beberapa tempat.
"Orang-orang itu yang telah melumpuhkan mereka." Ucap Terry hati-hati. Johan tahu siapa pihak yang dimaksud. Johan mengangguk mengkonfirmasi.
"Lalu dimana mereka?" Johan ingat bahwa ia telah mengambil kunci mobil mereka.
"Mereka sudah pergi." Johan mengangguk lagi. Setelah mengingat kemampuan mereka, tidak heran jika masalah kunci seperti itu mudah ditangani oleh mereka. Untuk identitas mereka, Johan merasa mereka tidak perlu mencari tahu. Yang pasti, mereka datang untuk membantu dan pasti ini berhubungan dengan Berlian.
"Baiklah. Kalian masuk. Di dalam ada seorang wanita. Bawa dia ke markas."
"Baik." Johan berbalik dan masuk ke dalam ruangan. Bersiap untuk menggendong Berlian saat Terry memberitahu nya bahwa Marta mungkin telah Mati.
"Mati?" Johan berhenti di depan Berlian dan melihat mayat Marta. Melihat Terry berjongkok untuk memeriksa denyut nadi dan juga napas Marta.
"Ya. Sepertinya keracunan." Terry mengangguk yakin.
"Dia bunuh diri." Suara Berlian terdengar. Ketiga orang di dalam ruangan itu menoleh menatap ke arahnya tidak percaya. Dari mana Berlian menyimpulkan hal seperti itu?
"Dia menggigit racun yang disembunyikan di dalam mulutnya." Mendengar penjelasan Berlian, Johan memakai sarung tangan karet di tangannya dan dengan hati-hati membuka mulut Marta. Setelah melihat bahwa mulut Marta memang berwarna hitam, Johan menghela napas. Dia tidak percaya ada orang yang lebih memilih untuk mati daripada tertangkap.
"Kalau sudah mati ya sudah. Kita masih bisa membawa yang lainnya." Johan melepas sarung tangannya dan membuangnya begitu saja. Anak buahnya mengangguk sebelum mereka mengangkat mayat Marta.
"Ayo pulang." Johan menghampiri Berlian dan mengelus kepalanya saat tiba-tiba Berlian mendesis kesakitan. Johan reflek melihat tangannya yang ternoda darah segar. Ia segera memeriksa kepala belakang Berlian.
"Kenapa tidak bilang? Apakah ini sakit?" Johan bertanya saat ia dengan hati-hati memeriksa luka besar itu.
__ADS_1
"Sakit." Berlian mengangguk. Melihat Berlian yang pucat Johan tidak menunda lagi dan segera mengangkat Berlian.
Sebelum pergi, ia mengintruksikan pada anak buahnya agar membawa dua orang yang terlihat paling kuat di antara mereka untuk dibawa ke markas mereka untuk diinterogasi. Sisanya tetap berjaga di sekitar. Menunggu polisi datang untuk menangani masalah. Anak buah Johan semuanya cakap. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Termasuk untuk melindungi identitas bos mereka.
Johan masuk di kursi belakang. Dengan Berlian masih berada di gendongan nya dan Terry menjadi sopir mereka. Berlian merasa canggung dan meminta untuk diturunkan. Lagipula, perjalanan dari pabrik ke mobil cukup jauh. Dengan dia berada di gendongan Johan, pria itu pasti kelelahan.
Tapi Johan menolak dengan tegas dan memaksa Berlian untuk tetap berada di pelukannya.
"Jalan di depan bergelombang. Mobil akan mengalami goncangan yang kasar. Lukamu akan terasa sakit setiap kali mobil berguncang. Jadi akan lebih nyaman jika seperti ini." Ucap Johan. Pelukannya semakin kencang. Memastikan Berlian tidak akan melawannya lagi.
Melihat bahwa dia tidak bisa menghindari, Berlian pun pasrah. Johan memang benar. Jalan di depan bergelombang. Dan kakinya akan sakit nantinya. Berlian benci rasa sakit!
"Tidurlah. Aku akan membangunkan mungkin begitu kita sampai." Johan menekan kepala Berlian untuk bersandar di dadanya. Tapi tidak lupa dia memastikan tekanannya tidak keras dan melukai kepala Berlian yang terluka.
"Kak Johan, terima kasih." Berlian mendongak dan mendapati wajah tampan Johan yang kaku. Pria ini masih ketakutan. Di pasti cemas mengenai keadaannya.
"Bukankah aku sudah tidak apa-apa sekarang?" Berlian meraih tangan Johan dan meletakkannya di pipinya.
"Istirahatlah dulu. Kita bisa membicarakan ini semua nanti." Berlian mengerti Johan masih marah padanya. Jadi dia dengan patuh menutup matanya sambil mengerahkan pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma mint yang beberapa saat yang lalu dia rindukan karena Johan yang menjauh darinya.
Johan menepuk pelan tubuh Berlian seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya. Dengan perlakuan lembut Johan, dan fakta bahwa dirinya sudah terlalu lelah, Berlian akhirnya tertidur dengan cepat. Niat Johan membuat Berlian tidur sebenarnya agar Berlian tidak merasakan sakit jika dia bangun. Apalagi saat itu sudah lewat tengah malam dan hampir pagi. Berlian pasti sudah kelelahan. Perjalanan mereka cukup jauh untuk sampai di rumah sakit terdekat. Jadi akan lebih nyaman jika Berlian tidur.
Setelah memastikan Berlian tidur, Johan menghubungi Sean yang menunggu dengan cemas. Ia tidak bisa ikut pergi karena ia harus menemani Evelyn yang kondisinya down setelah mendengar kabar nahan putranya terluka dan putrinya diculik. Evelyn pingsan karena tekanan yang tiba-tiba dan harus dirawat di rumah sakit.
"Baiklah. Kamu urus Berlian baik-baik di sana. Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik. Aku akan segera meminta rumah sakit untuk mempersiapkan ruangan untuk Berlian." Ucap Sean setelah mendengar rencana Johan untuk membawa Berlian ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan di sana sebelumnya bisa dipindahkan ke rumah sakit milik keluarga Kingston.
"Baik tuan." Johan mengangguk meskipun Sean tidak akan melihatnya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan persetujuan dari Sean, Johan meminta Terry yang menajdi sopir untuk membawa mereka Mereka ke rumah Sakit terdekat.
"Kak Johan siapa orang-orang tadi? Mengapa mereka membantu kita menyelamatkan nona?" Terry penasaran sejak awal. Johan mengalihkan perhatiannya dari Berlian dan menatap Terry dengan serius.
"Aku juga tidak tahu. Tapi aku rasa mereka adalah teman-teman Berlian di organisasi itu." Terry adalah anak buah kepercayaan Johan. Jadi dia mengetahui mengenai Johan yang menyelidiki Berlian dan menemukan bahwa nonanya itu adalah salah satu anggota organisasi bawah tanah. Deep Line yang terkenal. Johan mulai curiga saat ia dengan mudah dapat menghubungi Deep Line dan membuat mereka menyetujui permintaannya. jadi ia terus menyelidiki dan akhirnya mengetahui jika Berlian adalah salah satu anggota intinya.
"Itu bagus jika nona memiliki teman-teman yang kuat seperti mereka. Tapi jika nona masih menjadi salah satu dari mereka, Nona akan berada dalam bahaya." Terry mengerti situasinya. Ia merendahkan suaranya pada kalimat akhirnya.
Penculikan kali ini tidak dapat mereka prediksi sebelumnya. Musuh tidak berada di sekitar dan juga tidak berhubungan dengan mereka sama sekali. Jadi dapat disimpulkan bahwa mereka menculik Berlian karena Berlian adalah anggota Deep Line.
"Kamu benar. Tetapi melihat temperamen Berlian, meskipun aku memintanya, ia tidak akan mau keluar dari organisasi itu." Johan juga setuju. Tetapi ia mengerti bagaimana Berlian.
"Lalu bagaimana?" Terry menjadi tidak sabar.
"Mau bagaimana lagi, kita harus meningkatkan kemampuan kita dan memperketat keamanan Berlian." Terry merasa setelah ini hari-harinya akan sulit untuk dijalani.
Terry melirik tanpa daya Johan yang dengan penuh kasih menyingkirkan anak rambut dari dahi Berlian.
Karena kasih sayang Johan pada Berlian, pria itu tidak ingin menekan Berlian dan membuat mereka berjuang keras sebagai gantinya. Terry menghela napas.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....