
Rezvan dan Clara menyusul Berlian yang membawa Aspradia pergi. Mereka mengikutinya hingga melihat dokter sedang memeriksa Aspradia. Tak jadi dari kuda putih itu, Berlian berdiri dengan cemas menatap kuda yang tampak tak berdaya.
"Saya menemukan sesuatu yang salah di tubuh Aspradia." Dokter mendekmendekati Berlian. Melepas sarung tangan karet yang ia pakai saat memeriksa kuda itu.
"Ada apa? Apa membahayakan?" Berlian melirik Aspradia. Matanya semakin gelap.
"Saya menemukan zat yang bisa membuat kuda menjadi agresif di tubuh Aspradia. Aspradia di doping dengan zat-zat untuk merangsang. Zat doping ini campuran antara opium dan narkotika. Zat ini dulunya biasa dipakai oleh seorang pembalap kuda untuk memberi tambahan tenaga pada kuda mereka saat bertanding. Tetapi zat ini sudah lama dilarang karena dapat menyebabkan masalah pada temperamen kuda."
"Bagaimana bisa zat semacam itu bisa ada di tubuh Aspradia?"
"Kamu curiga ada yang sengaja memberi Aspradia makanan yang sudah terkontaminasi." Mendengar penjelasan dokter, Berlian mengepalkan tangannya.
"Apa yang terjadi?" Semua orang menoleh saat mendengar suara laki-laki yang baru saja masuk. Semua orang tidak menyadari kedatangan laki-laki itu pada awalnya hingga mereka semua sedikit terkejut. Bahkan, Clara dan Rezvan yang ada di ambang pintu juga tidak menyadari kapan laki-laki itu masuk dan melewati mereka.
"Seseorang meracuni Aspradia kak." Berlian menatap Johan. Johan melirik Aspradia yang sudah mulai tenang. Kuda itu memang terlihat berbeda hari ini. Pandangan Johan juga menjadi dingin. Seseorang pengecut itu malah berani bertindak pada seekor kuda.
"Kamu tenang saja. Aku akan menemukan pelakunya." Ucap Johan menatap Berlian dengan serius. Tangannya ia gubakan untuk menepuk pelan pundak Berlian. Meyakinkan pada gadis itu semua akan baik-baik saja. Berlian menatap kesungguhan di matanya dan mengangguk penuh rasa terima kasih. Johan berbalik dan keluar dari ruangan. Membawa orang untuk mengantar nya ke tempat dimana Aspradia berada sebelumnya.
Johan melirik sekilas saat dirinya melewati Rezvan dan Clara. Menganggukkan sedikit kepalanya saat ia bertemu pandang dengan Clara. Setelah itu Johan menghilang dari pandangan. Sedangkan Berlian, dia baru saja melihat jika Rezvan dan Clara ada di sana. Melihat semuanya.
"Emm...apa yang terjadi?" Rezvan menyadari suasana canggung yang terjadi. Dia tahu betul Clara menyukai Johan. Dan sebagai sesama laki-laki, dia juga tahu betul dimana Johan telah meletakkan hatinya. Saat ini, Clara pasti tidak dalam keadaan baik setelah melihat perhatian Johan pada Berlian. Tetapi yang tidak diketahui Rezvan adalah bahwa Clara sudah lama tahu, tetapi dirinya berpura-pura untuk tidak tahu. Dia tidak percaya bahwa dia tidak bisa merubah kemana arah hati seorang Johan.
"Aspradia diracun. Seseorang sengaja memasukkan zat berbahaya padanya." Jawab Berlian melirik Aspradia yang sedang makan rumput dengan tenang. Bagaimanapun, isi perutnya telah dikeluarkan secara paksa beberapa saat yang lalu.
"Aspradia?" Rezvan menaikkan alisnya tidak mengerti.
"Kuda itu milikku. Namanya Aspradia. Aku sendiri yang memerintahkannya nama. Dari bahasa Yunani yang berarti putih telur." Berlian tersenyum mengingat pertama kalinya kuda itu dibawa ke tempat ini. Dia langsung jatuh cinta pada kuda cantik berbulu putih yang terlihat arogan. Awalnya dia juga kesulitan untuk mendekati Aspradia. Tetapi karena ia pernah menyelamatkan Aspradia yang saat itu badannya tidak sengaja terkena ranting pohon, kuda itu pun mau dia dekati. Kenangan itu sungguh indah. Dimana dia melihat rasa terima kasih yang tulus dapat ia lihat dari tatapan seekor kuda.
__ADS_1
"Jahat sekali orang itu." Clara yang diam sepanjang waktu berbicara. Ia melihat Aspradia dengan simpati.
"Aku tahu. Pelakunya keji. Apapun alasannya, tidak seharusnya ia membahayakan seekor kuda."
"Apa kamu mencurigai seseorang?" Rezvan memicingkan matanya.
"Benar. Pasti orang itu." Berlian tiba-tiba mengingat hal ini. Lalu tanpa berkata ia segera berlari meninggalkan Clara dan Rezvan yang memperhatikan kepergiannya. Ia harus memberitahu Johan.
"Apa kamu baik-baik saja?" Rezvan melirik Clara.
"Tidak apa-apa. Ayo kita susul mereka." Clara menjawab dengan acuh sebelum ia mulai berjalan cepat.
Mendengar jawaban yang diberikan Clara, Rezvan sedikit tidak percaya. Cinta memang sesuatu yang harus ia hindari. Di depannya, dua orang gadis bodoh yang telah dibutakan cinta. Dan satu pria bodoh yang menjadikan cinta alasan untuk mempermainkan. Setidaknya, inilah yang ia lihat di matanya.
Johan membawa orang untuk memeriksa kandang Aspradia. Mereka bahkan memeriksa rumput sisa makanan Aspradia. Lalu, salah seorang menemukan satu botol mncurigakan yang ditemukan di semak-semak.
"Kak Johan, apa sudah menemukan sesuatu?" Johan mendongak dan melihat Berlian berdiri didepan enaknya dengan rasa penasaran.
"Kami menemukan botol kosong ini. Memang benar ada yag sengaja memberikan ini pada Aspradia." Johan menyerahkan botol kosong itu pada Berlian.
"Aku rasa aku tahu siapa pelakunya, tetapi aku harus menemukan bukti." Berlian menganggukkan kepalanya. Matanya bersinar dengan cahaya jahat.
"Ikut aku. Kita pergi ke pusat kontrol." Johan memberi isyarat agar Berlian mengikutinya. Keduanya lagi-lagi pergi. Meninggalkan Rezvan dan Clara yang berdiri terpaku di tempatnya.
"Sebaiknya kita kembali." Rezvan menepuk pundaknya Clara. Clara menoleh dan menganggukkan kepalanya.
Saat ini, Dea mondar-mandir di kamarnya. Dia dan Kesya tahu apa yang dilakukan Vivi pada kuda itu. Awalnya mereka juga mencegah Vivi untuk memberi obat pada kuda putih itu. Saat mereka berkeliling dan melihat kuda itu untuk pertama kali, Mereka juga ada di sana saat joki memberitahu mereka kuda di dalam kandang adalah kudabyang tidak suka didekati.
__ADS_1
Mereka juga tidak tahu Vivi mendapatkan obat dari mana. Ya gitu dia tahu adalah, pagi-pagi sekali Vivi menerima telepon dari seseorang dan meminta Candra untuk menemaninya pergi ke depan penginapan. Lalu setelah kembali, Vivi memberitahu mereka bahwa ia akan memberi obat pada kuda yang akan ditunggangi Berlian nantinya.
Tetapi Berlian sepertinya tidak berniat untuk menunggangi salah satu kuda di sana. Jadi Vivi memerintahkan candra untuk memberi obat pada kuda di dalam kandang. Tidak lupa, ia juga mengingatkan Candra untuk tidak lupa membuka pintu kandang agar kuda itu bisa terlepas.
Lagipula, apapun yang akan terjadi nanti, mereka tidak akan disalahkan jika kuda lah yang mencelakai Berlian.
Itu menurut Vivi.
Tetapi hal ini bertentangan dengan Dea dan Kesya yang langsung menentang idenya. Banyak orang yang akan ada di sana. Dan bukan hanya ada Berlian. Tindakan itu juga sangat berbahaya. Sangat membahayakan. Banyak orang yang bisa terluka karenanya. Dan bisa jadi malah Berlian tidak terluka sama sekali. Mereka juga tidak bisa mengendalikan gerakan kuda.
"Bagaimana Sya?" Dea berhenti di depan Kesya yang duduk merenung.
"Aku tidak tahu." Kesya menggelengkan kepalanya.
"Selama ini aku bisa mentoleransi sikap Vivi. Tapi untuk yang ini, aku benar-benar tidak bisa hanya diam saja. Dea duduk di samping Kesya.
"Sama. Aku juga begitu. Tapi. .. Vivi..."
"Vivi memegang kartu kita kan? Di maaf orang lain, kita adalah temannya. Tetapi yang sesungguhnya adalah bahwa kita adalah bawahannya yang selalu diinjak olehnya."
"Bagaimana lagi? Vivi memiliki kartu kita."
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~