
Hari berlalu tanpa disadari. Semua orang bergerak dan berubah seiring berlalunya waktu. Bahagia dan sedih silih berganti mengisi hari. Orang datang dan pergi satu persatu. Roda kehidupan terus berputar. Tidak menunggu siapapun dan terus berputar pada porosnya mengikuti zamannya. Berlian menyaksikan semua perubahan itu dengan tenang.
Tanpa terasa, tiga tahun telah berlalu. Selama itu, Berlian dan Johan hanya berkomunikasi beberapa kali karena keadaan. Johan sibuk dengan pekerjaannya. Tapi Berlian tidak pernah mempermasalahkannya. Dan ia memilih untuk mengasah kelayakannya untuk menjadikannya layak berdiri di samping Johan dan tidak menjadi beban bagi Johan.
Namun terkadang, jalan hidup tidak pernah diduga sebelumnya.
Malam itu, di saat Berlian sibuk dengan tugas kampusnya. Sebuah berita yang dia terima menghancurkan rencananya.
Itu adalah telepon dari Charlos yang memberitahu nya bahwa mobil yang membawa Sean dan Evelyn terlibat dalam kecelakaan dan ia saat ini tengah membawa keduanya ke rumah sakit.
"Nona, apa nona baik-baik saja?" Tanya Charlos panik saat dia tidak mendengar tanggapan dari Berlian.
"Aku akan segera ke sana paman." Ucap Berlian dengan suara bergetar.
Menguatkan hati, Berlian segera merapikan bukunya dan berdiri. Ia segera berganti baju dan bergegas pergi ke rumah sakit. Pada saat ini dia hanya dialah tersisa untuk mengurus semuanya. Bryan ada di luar negeri dan tidak mungkin bisa pulang secepatnya. Jadi dia pergi setelah ia membagi kabar pada Sylvia dan mengajaknya pergi ke rumah sakit juga.
Mereka Mereka masih berada berada di perjalanan saat telepon dari Charlos kembali datang yang memberitahu nya bahwa Sean Sean dan Evelyn tidak dapat diselamatkan.
Berlian diam. Ia menurunkan ponselnya saat air mata jatuh di kedua pipinya.
"Kak Brily apa yang terjadi?" Tanya Sylvia panik saat ngelihat kakaknya yang tiba-tiba menangis setelah menerima telepon. Ia segera merebut ponsel Berlian karena Kakaknya tidak menjawabnya sama sekali.
"Halo paman Charlos. Apa yang terjadi?" Ucap Sylvia. Charlos yang ada di seberang mengenali suara Sylvia. Jadi Jadi dia mengulangi apa yang dia sampaikan pada Berlian.
__ADS_1
"Paman. Paman jangan bercanda! Ini benar-benar tidak lucu." Ucap Sylvia tidak percaya. Tapi air matanya sudah jatuh dikedua pipinya membentuk aliran yang lebih deras dari miliki Berlian.
Berlian melihat adiknya yang tampak hancur. Ia segera menarik Sylvia ke dalam pelukannya. Ia tidak mengatakan apa-apa untuk menghibur adiknya karena Karena dia juga merasakan hal yang sama. Tapi sebagai gantinya, ia menepuk punggung Sylvia berbagi beban dengannya.
Air mata yang hampir keluar dari matanya ia paksa masuk kembali. Sejak ia mengenal cinta, Berlian telah menjadi penggemar kebucinan daddy dan mommy nya. Ia selalu berharap ia memiliki cinta seperti milik mereka berdua yang tak lekang ditelan zaman.
Sean dan Evelyn telah memenuhi janji mereka untuk sehidup semati. Berlian menghormati cinta keduanya. Ia tahu betul kedua orang tuanya itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Inilah yang terbaik bagi keduanya yang tidak akan bisa menjalani hidup dengan hanya satu diantara mereka yang ada.
Sesampainya di rumah sakit, Charlos sudah menunggunya di depan ruangan. Charlos juga terluka dalam kecelakaan itu. Ia juga berada di dalam mobil yang sama. Perban terpasang terpasang di keningnya. Lengan kirinya juga terluka.
Wajah pria paruh baya itu jelas terlihat sedih dan khawatir. Dengan sedikit kesusahan karena betisnya yang terluka, Ia buru-buru berlari menghampiri Berlian yang Sylvia. Dua gadis yang ia saksikan pertumbuhannya dengan mata kepalanya. Melihat wajah Berlian yang tabah membuat Charlos menghela napas. Lalu melihat Sylvia yang tampak penuh dengan air mata di kedua pipinya membuat hatinya sakit.
"Nona, tuan dan nyonya ada di dalam." Charlos menunjuk pintu tantangan di belakangnya. Berlian mengangguk sebelum ia berjalan masuk dengan Sylvia yang menangis di sampingnya. Charlos mengikuti keduanya masuk ke dalam ruangan.
Dua sosok terbujur di atas brangkar rumah sakit. Keduanya ditutupi oleh selimut putih dari kepala sampai ke kaki. Berlian maju dan membuka selimut satu persatu. Dua orang itu memang daddy dan mommynya. Masing-masing kepala mereka terbalut perban putih dengan darah yang tercetak di permukaannya. Wajah mereka benar-benar pucat pasi karena kehilangan darah. Tubuh mereka sudah dibersihkan dari darah dan menyisakan luka-luka terbuka di beberapa tempat di tubuh mereka.
Berlian menatap keduanya hampir tak percaya. Malam ini, itu hanya beberapa jam yang lalu ia masih melihat mommynya dengan centil mengaitkan tangannya di lengan kokoh daddy nya saat mereka keluar untuk menghadiri sebuah perjamuan, mommy nya bahkan masih memamerkan kemesraan mereka sebelum mereka berangkat. Tapi mengapa semua jadi seperti ini?
"Apa yang terjadi paman?" Berlian menoleh dan bertanya pada Charlos yang berdiri di belakangnya.
Charlos masih mengingat jelas kejadian yang terjadi satu jam yang lalu. Mereka dalam perjalanan untuk menghadiri perjamuan. Tempat perjamuan itu diadakan di sebuah Vila yang ada di lereng gunung. Butuh beberapa jam untuk sampai di tempat itu dari kediaman Kingston. Jalan berliku dan dikelilingi jurang dan hutan juga tidak dapat dihindarkan. Tapi perjalanan mereka lancar dan nyaman karena mobil yang mereka gunakan adalah mobil yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Sean demi kenyamanan Evelyn. Bukan hanya kenyamanan, keamanan dan kekuatan mobil itu juga dijamin.
Saat mereka baru setengah perjalanan, tiba-tiba sebuah truk mengikuti mereka. Tetapi karena jalan itu adalah jalan satu-satunya yang ada di gunung itu, mereka tidak merasa bahwa mereka sedang diikuti. Tetapi rasa tidak aman secara otomatis akan dirasakan saat mereka merasa bahaya mengancam, Sean yang pertamanya menyadari bahwa mereka sedang diikuti.
__ADS_1
Ia memerintahkan sopir untuk menambah kecepatan mereka. Dan akhirnya ia yakin bahwa mereka memang diikuti. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba muncul sebuah mobil yang memotong jalan mereka sehingga membuat sopir Sean membanting setir ke kiri. Mereka cukup beruntung karena mobil mereka masuk ke dalam hutan dan bukan ke dalam jurang yang ada di sisi kanan jalan.
Mobil berhenti beberapa saat sebelum truk Yang ada dari awal mengikuti mereka menabrak mobil dari belakang. Mereka tidak dapat menghindar. Mobil maju beberapa meter sebelum menabrak mobil. Karena bodi mobil yang kuat, butuh beberapa usaha sebelum mobil akhirnya ringsek dan menyebabkan pohon yang cukup besar hampir tumbang karenanya.
Setelah memastikan mobil ringsek, truk itu akhirnya mundur dan pergi meninggalkan tempat kejadian dengan cepat.
Sementara itu, Sean seandainya Evelyn sudah tidak sadarkan diri. Mereka berada di bagian belakang yang diserang. Jadi mereka berusaha mengalami cidera paling parah. Mereka berdua berpelukan dengan tubuh terjepit di badan mobil. Kepala mereka terluka dengan darah memenuhi wajah mereka dari luka di kepala mereka.
Charlos dan sopir lebih beruntung. Meskipun mereka terluka, itu tidak parah. Mereka segera keluar dan mencoba mengeluarkan majikan mereka dari mobil. Charlos menghubungi polisi dan meminta bantuan.
Setelah mendengar kejadian dari Charlos, Berlian terdiam. Ia berpikir keras sebelum memandang tubuh kedua orang tuanya yang tak lagi bernyawa.
"Paman, bantu aku menyelidiki masalah ini." Ucap Berlian serius. Orang-orang yang berkaitan menargetkan keluarganya terlebih kedua orang tuanya bukanlah orang sembarangan.
"Tentu. Kamu tenang saja. Semua orang yang terlibat di dalamnya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Aku akan mengusut kasus ini sampai tuntas." Charlos mengangguk. Ia lega melihat Berlian yang mampu mengatasi semuanya.
Setelah urusan mereka selesai Berlian memgajak Sylvia pulang dan membawa jenazah Sean dan Evelyn ke rumah duka untuk menunggu keluarga mereka. Sedangkan Charlos mengurus urusan nya untuk menyelidiki dalang dibalik kejadian nahas ini.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....