
...AREA 21+...
...YANG MERASA MASIH DI BAWAH UMUR ATAU YANG KAGAK KUAT BACA YANG HOT2 SILAHKAN DI SKIP 🔥...
...ANDA AKAN MEMASUKI AREA...
...PACUAN KUDA 🏇...
...PANJAT TEBING🧗...
...RAFTING🚣...
...DANCING💃...
...YANG BISA:...
...BIKIN NGILER 🤤...
...BIKIN SALFOK 😳...
...BIKIN BAPER 🥰...
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!
“Apa maksudmu Sean?!” teriak Evelyn panik saat merasa ada sesuatu yang keras yang menempel di perut bawahnya.
“Kita sama-sama dewasa sayang. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya agar kamu paham.” Sean semakin bersemangat. Sudah lama senjatanya tidak ia ajak bermain. Apalagi melihat wajah panik wanita cantik di bawah kungkungannya yang yang terlihat semakin menggoda.
“Jangan lakukan itu Sean.”
“Kenapa?”
“Aku tidak mencintaimu.”
“Jika kamu tidak mencintaiku, aku bisa menggantikanmu mencintaiku.” Jawab Sean asal.
“Jangan gila Sean!”
“Aku memang sudah gila saat kau pergi enam tahun yang lalu. Apa kamu tahu kamu pergj membawa semuanya besamamu.” Tangan Sean semakin bergerak aktif. Perut datar Evelyn ia elus dengan lembut.
“Sean jangan seperti ini. Kita bisa...”
“Ya kita bisa.” Potong Sean cepat. Tanpa membiarkan Evelyn menyelesaikan kalimatnya ia sudah membungkam bibir itu dengan bibirnya. Me lu mat bibir itu dengan nikmat. Menyelundupkan lidahnya ke dalam mulut dan mengabsen setiap isinya.
__ADS_1
Sesapan ia berikan, bibir mungil yang tipis itu ia gigit kecil hingga memerah dan membengkak. Lidah di dalamnya juga ia ajak bermain. Bergelut di dalam dan saling bertukar saliva.
“Bernapas sayang.” Ucap Sena saat ia melepaskan tautan bibir mereka.
“Kamu ba ji Ngan Sean.” Umpat Evelyn sambil memukul dada Sean setelah ia menghirup oksigen puas-puas. Wajahnya memerah akibat kehabisan oksigen, marah dan juga malu.
Sean menyentuh wajah memerah Evelyn yang terlihat sangat cantik saat itu. Menyentuhnya perlahan tanpa menghiraukan umpatan-umpatan yang dilayangkan Evelyn.
“Ev, aku tahu aku ba ji Ngan, tapi yang aku tahu aku sangat menginginkanmu.” Ucap Sean sebelum kembali menyerang Evelyn dengan ciuman di setiap inci wajahnya. Kelopak mata, hidung, pipi dan juga bibir.
Evelyn hanya terus meronta di bawah kekuasaan Sean yang tidak terpengaruh. Saat ciuman intens diberikan, tangan Sean sudah berhasil melepaskan pakaian Evelyn dengan cara merobeknya. Memperlihatkan gunung kembar yang berdiri menantang di balik bra berwarna hijau tua.
“Aku akan melakukannya dengan lembut.” Tangan Sean semakin menggila. Membuat Evelyn tidak lagi memberontak. Nyatanya, setiap sentuhan Sean membuatnya hilang akal. Perlahan ia semakin menikmati dan mengimbangi apa yang dilakukan Sean padanya. Tanpa sadar ia pun mulai membalas ciuman dan juga memberikan ciumannya pada Sean.
Evelyn me le nguh saat ia mencapai klimaksnya yang pertama. Sean mengangkat tangan kanannya keluar dari dalam Gua. Menjilat cairan yang tersisa dengan nikmat.
“Ini manis.” Sean menyeruak kan wajahnya di antara ************. Mereguk nikmat dari asalnya. Membuat Evelyn semakin mengila dan bergetar.
“Se..an.” teriak Evelyn saat senjata Sean masuk menerobos inti tubuhnya.
“Ya sayang. Panggil namaku seperti itu.” Ucap Sean tanpa menghentikan gerakannya di bawah sana. Bibirnya masih sibuk menyapu setiap permukaan yang ia sambangi.
“Kamu ba ji Ngan. Aah.”
Malam itu benar-benar gila. Dua orang di atas ranjang bergerak layaknya perahu sampan yang ada di tengah lautan. Men de sah, me le nguh dan me nge rang berirama. Sean yang terus mengucapkan kata-kata manis dan Evelyn yang selalu mengumpat Sean.
“Argh!” erang Sean saat ia telah mendapatkan pelepasannya yang memuaskan. Tanpa mencabut senjata nya, ia membungkukkan badannya dan menciumi wajah Evelyn yang sudah setengah sadar.
“Terima kasih sayang.” Ucap Sean setelah puas menghujani wajah Evelyn dengan ciumannya.
“Kamu ba ji Ngan Sean.” Umpat Evelyn sebelum menutup kedua matanya yang hampir tidak kuat ia buka.
Dengan perlahan Sean mencabut senjatanya yang masih menancap di bagian inti Evelyn. Membersihkan cairan yang keluar setelah itu. Turun dari ranjang dan memakai celana boxer yang terserak di atas lantai bersama dengan pakaian lainnya.
Setelah itu ia kembali naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di samping Evelyn. Membawa wanita yang baru saja ia gagahi ke dalam pelukannya.
“Kamu benar-benar membuatku gila Ev.” Ucap Sean setelah mencium kening Evelyn. Merapikan anak rambut Evelyn yang menempel di pelipisnya.
“Aku tahu mungkin kamu akan membenciku setelah ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diriku setiap kali aku melihatmu. Apalagi melihat bibirmu yang selalu saja mengumpat itu. Terlihat lucu dan menggemaskan.” Sean menggerakkan jarinya menyentuh bibir Evelyn yang tertutup rapat.
“Maafkan aku selama ini tidak ada di sisimu. Dan ikan teri itu yang bahkan menemanimu selam ini. Mendengar anak-anakku memanggilnya ayah. Mengingatnya saja membuatku ingin menghancurkan senyum gombalnya itu. Dia memang tampan. Tapi aku lebih tampan."
Sean mengusap pipi Evelyn. "Aku menyesal tidak bersamamu selama ini.Tidak Menemanimu di saat paling berat dalam hidupmu. Menemanimu membesarkan anak-anak kita. Kamu wanita yang hebat Ev. Tapi aku berjanji, mulai sekarang aku akan mengganti semua masa yang berlalu, semua duka yang pernah kamu alami akan aku ganti dengan kebahagiaan yang akan membuatmu lupa jika kamu pernah menderita. Itu janjiku padamu Evelyn.” Sekali lagi Sean mencium kening Evelyn Dan membenamkan kepala wanita itu ke dalam dadanya.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Evelyn bangun dengan perut yang terasa lapar karena melewatkan makan malamnya. Belum lagi seluruh tubuhnya yang terasa remuk. Entah berapa kali pelepasan yang ia alami. Mengingat kejadian panas semalam, Evelyn memijit pelipisnya.
Ia pasti sudah gila semalam karena ikut terbuai.
Dilihatnya Sean yang tidur di sampingnya. Melingkarkan tangannya di pinggangnya. Dengkuran halus terdengar lirih dan sapuan napas hangat menerpa wajahnya.
Malam tadi, lamat-lamat ia mendengar semua yang dikatakan laki-laki di depannya ini. Selama ini, ia selalu takut untuk mempercayai laki-laki manapun. Ia takut untuk menyandarkan dirinya di bahu manapun. Tapi mendengar ucapan Sean semalam membuat hatinya menghangat. Ia merasa terlindungi.
“Apakah aku benar-benar bisa mempercayai mu?” gumam Evelyn dalam hati. Ia pun menghela napas panjang.
Evelyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia yakin jika tempat itu adalah kamar Sean. Matanya menatap jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul empat pagi. Suasana di luar juga terlihat masih gelap. Tapi saat ini ia sudah tidak mengantuk lagi.
“Mau kemana? Masih pagi. Tidur lagi saja.” Suara serak khas bangun tidur terdengar saat Evelyn memindahkan tangan besar Sean dari pinggangnya.
“Aku sudah tidak mengantuk Sean.” Balas Evelyn sambil mendorong tubuh Sean yang semakin menempel di tubuh telanjangnya.
“Sebentar lagi sayang.” Ucap Sean tanpa membuka matanya. Lagi-lagi ia mengeratkan pelukannya. Menepuk punggung polos Evelyn dengan lembut dan mencium puncak kepalanya. Sadar jika dirinya tidak akan bisa lepas, ia pun akhirnya mencoba menutup matanya dan kembali tidur.
Saat dengkuran halus Evelyn mulai terdengar, Sean membuka matanya. Ia tersenyum melihat wajah damai yang ada di dalam pelukannya. Diciumnya puncak kepala Evelyn dengan lembut.
Setelah memastikan jika Evelyn sudah kembali terlelap, Sean turun dengan perlahan. Tak lupa ia membenarkan selimut yang menutup tubuh polos Evelyn. Saat ia hendak menarik selimut itu, tidak sengaja matanya menatap bercak merah di sekitar leher dan dada Evelyn. Melihatnya, ia merasa bangga.
Sekali lagi, Sean membungkukkan tubuhnya, membuka selimut dan membuat satu kissmark di dada Evelyn yang masih kosong.
“Emh..” Evelyn me le nguh saat merasakan geli di tubuhnya. Buru-buru Sean menutup kembali tubuh polos itu dengan selimut.
Sean menggelengkan kepalanya, “Bisa-Bisa aku jadi benar-benar gila jika aku terus di sini melihatnya seperti ini. Memang wanita arogan, meskipun tubuhnya bereaksi lebih cepat, mulutnya masih saja sempat mengumpat.” Sean segera memunguti pakaian yang terserak di lantai. Ia masukkan ke dalam keranjang baju kotor sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
Maapkeun segala kekurangannya 😚
Jika Kurang hot? Bacanya sambil duduk di atas kompor. Ehehehe🤪
...Peringatan!...
...Hal-hal seperti di atas jangan ditiru! Hindari pergaulan bebas. Jangan berbuat yang melanggar norma yang berlaku di masyarakat....
__ADS_1
...Author tidak bermaksud untuk mengajak merusak moral. Adapun adegan di atas hanya untuk mendukung cerita. Bukan untuk ditiru apa lagi dipraktekkan dengan cara yang salah....