
Sean menatap dua anak kecil di depannya. Keduanya tersenyum menang padanya. Soni yang dari tadi mengamati yang terjadi diam-diam membandingkan tampilan tiga orang yang sedang saling memandang dengan serius.
Pada tahap ini, Soni menemukan banyak kemiripan antara tiga orang itu. Dan yang lebih mengejutkan adalah, adanya satu lagi wajah yang mirip di sini. Wajah itu tiba-tiba saja muncul saat ia melihat gadis cilik itu dengan seksama.
“Apa maksud kalian? Bicara dengan jelas. Apa tujuan kalian menjadikan Kingston Company sebagai lahan bermain?”
“Aish! Brily sepertinya kita salah orang. Kita sudah mencarinya sejauh ini tapi dia bahkan tidak bisa melihat. Lebih baik kita kembali saja dan lupakan tentangnya.” Bryan turun dari kursinya.
Berlian mengemasi barangnya dan ikut turun. “Kita lupakan ide ini. Membuang-buang waktu saja.” Ucapnya sambil berlalu.
Melihat dua bocah itu beranjak pergi, Sean mengernyitkan alisnya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Berlian dan Bryan.
“Tuan, sepertinya ada yang aneh dengan mereka berdua.” Ucap Soni pada akhirnya.
“Apa maksudmu?”
“Apa tuan tidak berpikir jika mereka berdua itu mirip dengan anda?” Soni yang melihat Bryan dan Berlian pergi entah mengapa merasa sakit di hatinya. Apalagi melihat wajah kecewa mereka membuatnya tidak tenang. Sepertinya kedua anak kecil ini memiliki rahasia besar yang akan mereka tunjukkan pada bosnya.
Mendengar perkataan Soni membuat Sean menyadari sesuatu bahwa apa yang dikatakan Soni benar. Ia juga merasa familiar pada kedua bocah cilik itu. Tapi ia sendiri tidak mengerti apa itu.
“Kamu benar! Dimana mereka?”
Soni menunjuk pintu keluar. Bryan dan berlian sudah keluar dari kafe sepuluh menit yang lalu.
“Cari tahu identitas mereka.” Perintah Sean segera beranjak. Tetapi belum sampai ia melangkahkan kakinya, seorang pelayan menghampirinya.
“Maaf tuan, kedua anak kecil itu berkata jika anda yang akan membayar pesanan mereka sebelum mereka pergi tadi.” Seorang pelayan menyodorkan bill pada Sean. Namun Soni yang menerima bill itu.
“Eh? Kalian mencoba menipu kami?” sarkas Soni yang terkejut melihat nominal yang harus ia bayar.
“Tidak salah tuan. Anak kecil tadi memesan seratus menu spesial dan memintanya untuk dibagikan pada anak jalanan selama satu bulan ke depan. Jadi kami juga menghitung biaya pengiriman. mereka berkata itu adalah perintah tuan. Apakah ada yang salah?” Jelas pelayan itu.
“Jelas salah! Ini tidak masuk akal. Apakah kalian ini bisa dibodohi anak kecil dengan begitu mudah? Apakah nanti jika ada anak kecil mana saja yang memesan makanan kalian juga akan memberikannya?” Soni tidak habis pikir.
“Ini...ini...begini tuan, salah satu dari mereka tadi memberikan kartu nama ini sebagai buktinya. Jadi kami pikir itu memang benar. Apalagi kami melihat mereka mirip dengan tuan ini. Penampilan mereka juga terlihat seperti anak orang kaya.”
__ADS_1
Sean menatap kartu nama yang ditunjukkan pelayan itu. Seingatnya ia bahkan tidak pernah memberikan kartu itu pada anak-anak itu sebelumnya. Mereka pasti mengambil ya dengan sembunyi-sembunyi tadi. “Bayarkan saja Soni. Jangan membuang waktu untuk hal sepele.”
“Baik.” Sean segera meninggalkan keduanya. Berjalan masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan kafe.
Dari dalam mobil, Sean memandang bangunan TK yang berdiri dengan angkuh. Bangunan modern dengan dua lantai itu terlihat megah. Taman luas yang terlihat indah dengan bunga-bunga yang tertata rapi. Serta berbagai jenis mainan yang ada di sekeliling bangunan.
Dari jauh saja dapat disimpulkan jika yang bisa bersekolah di sekolah itu adalah anak dari golongan atas. Jika kedua anak yang tiba-tiba menemuinya dengan cara yang unik dapat bersekolah di tempat itu, kemungkinan besar jika mereka berasal dari golongan atas.
Sean kembali mengingat Bryan dan Berlian. Mengingat keduanya, Sean baru menyadari jika logat bicara kedua anak itu tidak sama seperti anak-anak lainnya. Kedua anak ini fasih berbicara bahasa Indonesia, tetapi memiliki aksen luar negeri. Ini semakin menguatkan dugaannya jika kedua anak ini memiliki hubungan dengan Evelyn. Yang juga baru datang dari luar negeri.
Usia kedua bocah itu juga sepertinya sesuai dengan kejadian enam tahun yang lalu. Ia yakin jika mereka adalah anaknya dengan Evelyn. Sebab, hanya dengan Evelyn ia tidak menggunakan pengaman.
“Tuan, kita kemana sekarang?” Sean tersadar dari lamunannya.
“Kembali ke kantor.” Balas Sean tenang.
**
Sudah seminggu berlalu sejak pertemuan Sean dan kedua anaknya. Sama seperti Evelyn, data mengenai Berlian dan Bryan juga dirahasiakan. Di data yang diberikan pada pihak sekolah bahkan memberikan alamat rumah yang hanya dihuni oleh maid yang bekerja membersihkan mansion.
Selama bertahun-tahun sejak kejadian itu, ia tidak pernah lagi memiliki hasrat untuk menyentuh wanita manapun. Dia selalu saja teringat gadis dengan tompel palsu, alis yang digaris tebal dan memakai wig keriting saat ia menyentuh seorang wanita. Dan itu membuatnya kehilangan minatnya.
Meskipun sudah tak terhitung banyaknya wanita yang mencoba telanjang di depannya tidak pernah mampu membuat senjatanya bangun. Ini sedikit membuat frustasi. Dan waktu itu, hanya dengan melihat Evelyn saja senjatanya itu sudah bereaksi. Ini sepeti keajaiban.
Tapi sayangnya, Evelyn tidak lagi seperti wanita yang sama dengan wanita enam tahun lalu, saat ini wanita itu sangat sulit ia gapai. Bahkan untuk menemuinya saja sangat sulit karena wanita itu selalu saja menghindarinya.
Hanya dengan membuktikan jika mereka memiliki anaklah yang menjadi harapan agar dia bisa bersama dengan Evelyn.
“Siapkan mobil.” Perintah Sean melalui interkom. Tanpa mendengar balasan Dari seberang ia sudah menutup teleponnya.
“Makin kesini bos makin aneh saja.” Geram Soni dengan kesal meletakkan gagang telepon. Soni meraih telepon yang lain dan memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil Sean di depan lobi.
Soni baru saja menutup teleponnya saat Sean keluar dari dalam ruangannya. Ia segera bangkit dan berjalan mendekati bosnya itu. “Mobilnya sudah siap tuan.” Sean mengangguk dan berjalan mendahului Soni.
Mobil yang dikemudikan Soni masuk ke dalam area TK Internasional Matahari. Sudah terhitung tiga hari perusahaannya menjadi salah satu pemegang saham di sekolah itu. Sean melakukan itu untuk mendekati kedua anak yang ia yakini adalah anaknya.
__ADS_1
Sean dan Soni berjalan ke kantor kepala sekolah. Sean tidak bisa menemukan cara lain untuk menemui Bryan dan Berlian. Jadi keduanya hanya bisa menemui dua bocah itu dengan mendatangi sekolahnya.
Kepala sekolah menyambut Sean dengan hormat. Laki-laki itu telah menggelontorkan banyak dana untuk pengembangan sekolah yang sebenarnya sudah sangat maju itu.
“Tuan Malik, Saya akan melihat-lihat sekolah ini.” Sean berkata setelah basa basi dengan kepala sekolah membuatnya kesal.
“Baik tuan. Saya akan menemani anda.” Tawar Malik.
“Tidak perlu. Kami ingin lebih santai.” Tolak Sean dan keluar dari ruangan tanpa menunggu persetujuan. Soni segera mengikuti Sean setelah membungkuk memberi hormat salam pada Malik.
Sean dan Soni berjalan di koridor sekolah yang bergambar bermacam-macam karakter kartun dan berbagai jenis binatang. Ada juga tulisan-tulisan dengan berbagai bahasa.
Saat ini masih jam pelajaran, jadi hanya ada mereka berdua yang ada di koridor.
“Tuan sebaiknya kita pergi ke kantin sekarang. Sebentar lagi jam istirahat, kedua anak itu pasti pergi ke kantin.” Sean mengangguk dan berjalan ke arah kantin sesuai dengan penunjuk arah yang terpasang di ujung koridor.
Sean dan Soni duduk di salah satu bangku di depan kantin. Keduanya tidak masuk karena mereka akan terlihat aneh jika ada di dalam.
Benar saja, keduanya langsung menjadi pusat perhatian anak-anak TK yang mulai keluar dari kelas dan menyerbu kantin untuk membeli jajanan.
Dua bocah yang mereka tunggu akhirnya muncul. Keduanya berjalan dengan santai. Dari mulut mereka sesekali keluar gelembung permen karet berwarna putih. Sean dan Soni memusatkan perhatian mereka pada keduanya.
“Kalian berdua mencari kami?” tanya Bryan saat keduanya sampai di depan Sean dan Soni.
Sean mengangguk pelan. “Ikut denganku. Ada yang ingin aku bicarakan.”
“Oke. Tapi paman yang harus ikut kami. Kami punya tempat yang nyaman untuk berbincang.” Bryan mengangguk. Sebelum Sean menyetujui, dia dan Berlian sudah berbalik dan berjalan menuju tempat yang mereka maksud.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
__ADS_1