Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_46. Ancaman Evelyn


__ADS_3

Berlian bersandar di kursi mobil setelah sambil menunggu Johan yang menebus obat untuknya. Perutnya sudah tidak terasa sakit setelah mendapat suntikan. Namun sekarang dia mengantuk akibat efek obatnya. Johan yang baru masuk ke dalam mobil dan melihat Berlian tidur begitu saat di dalam mobil tidak bisa membantu selain merasa simpati. Dia memang tidak ikut merasakan sakit seperti yang dirasakan Berlian, tetapi dengan melihat Berlian yang tidak biasanya memperlihatkan ketidakberdayaanya menjadi terlihat lemah bukanlah rasa sakit yang biasa.


Dengan hati-hati Johan menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil itu kembali ke jalan raya. Ia juga menjalankan mobil dengan pelan-pelan untuk meminimalkan goncangan yang diakibatkan oleh jalan yang tidak rata.


Berlian tertidur dengan lelap hingga mereka sampai di rumah. Johan lihat ke belakang dan masih mendapati Berlian yang tidur di kursi belakang. Ia menghela napas dan keluar dengan hati-hati untuk memberi tahu Evelyn mengenai keadaan Berlian.


"Biasanya dia tidak seperti ini." Ucap Evelyn setelah mendengar laporan Johan.


"Kata dokter itu mungkin karena Berlian terlalu banyak pikiran dan kelelahan."


"Itu mungkin. Anak itu sejak kecil tidak bisa diam otaknya. Sekarang ini aku bahkan tidak tahu apa saja yang dilakukannya. Anak gadis orang lain akan melakukan hal-hal di luar rumah. Tapi itu lebih baik karena masih bisa diawasi. Kalau Brily, dia melakukannya di dalam kamarnya. Dia selalu mengunci kamarnya Saat ia bermain dengan komputer dan alat-alat menyebalkan itu. Aku kan tidak sepandai dia, mana bisa aku Mengawasinya. Daddy nya juga terlalu sibuk dengan urusan kerjaan." Evelyn malah berakhir dengan curhat pada Johan. Johan hanya bisa mendengarkan.


"Tuan Sean sebenarnya. ." Juga sangat mengmengkhawatirkan Berlian. Tetapi kalimat terakhirnya tidak bisa diselesaikan dan berakhir tercekat di tenggorokan.


"Iya iya aku tahu." Evelyn menyela ucapan Johan. "Kamu memang anak didikan Sean, jadi pantas saja kamu akan membelanya." Johan berkedut mendengar ucapan Evelyn. Sean memang sangat sibuk. Tetapi selama ia mengenal Sean,  bagi pria itu keluarga adalah prioritas utamanya. Meskipun Sean sibuk di perusahaan dan menghabiskan hampir seluruh harinya di sana, ia tidak pernah lupa untuk memperhatikan keluarganya.  Menggunakan waktunya yang berharga untuk bersama dengan  keluarganya sebanyak yang ia bisa.


Bukan hanya mengkhawatirkan Berlian, Sean juga selalu memikirkan Bryan dan Sylvia. Sean selalu mengawasi Bryan meskipun putranya itu berada di luar negeri. Dan tidak ada yang tahu jika Sean juga menyuruh orangnya untuk melindungi Sylvia.


"Johan, aku tahu Sean mempercayakan Brily padamu. Tapi sebagai ibunya, aku juga memiliki hak untuk memutuskan Siapa yang bisa bersama dengan Brily. Aku memperingatkan kamu untuk pertama dan terakhir, aku hanya ingin memastikan padamu untuk memperlakukan Brily dengan tulus. Jika kamu memperlakukan Brily hanya karena Sean, lebih baik kamu menjauhi Brily sekarang. Aku tidak akan membiarkan putriku menderita." Evelyn menatap tajam Johan. Sudah lama Evelyn tidak menggunakan otoritasnya untuk mengancam seseorang. Meskipun begitu, Johan yang ditatap seperti merasakan aura mendominasi yang kuat dan tahu bahwa ucapan Evelyn tidak main-main.


Johan menegakkan punggungnya. Semakin menguatkan tekad di hatinya untuk menjaga Berlainan sepenuh hatinya. "Nyonya bisa percaya pada saya. Saya akan memenuhi harapan tuan Sean dan nyonya." Ucap Johan dengan tegas.


"Bagus! Aku pegang janjimu." Evelyn menganggukkan kepalanya. "Sekarang kamu bisa kembali ke mobil. Bangunkan dia. Kalau tidak bisa, bawa dia ke kamarnya."

__ADS_1


"Baik." Johan mengangguk dan segera kembali ke mobil untuk melakukan seperti yang diperintahkan Evelyn.


Evelyn menatap punggung Johan yang pergi ke luar. Ia menghela napas. Setelah ia mengetahui niat Sean untuk menjodohkan Berlian dengan pria muda ini, Evelyn telah memerintahkan Carlos untuk mencari tahu informasi mengenai Johan. Dan dari hasil itu dia tahu bahwa Johan sebenarnya adalah anak yang dilahirkan dengan tidak disetujui oleh keluarga besarnya. Namun, ia mendapatkan kasih sayang dari ayahnya karena ia lahir dari wanita yang dia cintai.


Meskipun mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, ia masih harus mendapatkan perilaku buruk dari orang-orang di sekitarnya karena pengaruh dari istri sah ayahnya cukup kuat dan menekan ayahnya. Namun begitu, meskipun ia tumbuh dengan keadaan yang tidak menguntungkan untuknya,  ia justru tumbuh menjadi pria yang cakap. Ia lebih bisa diandalkan dari anak yang dilahirkan oleh istri sah yang tumbuh dengan sendok emas di mulutnya yang tidak berguna.


Dengan kriteria dan kemampuan Johan, Evelyn percaya bahwa ia mampu untuk membahagiakan Berlian. Namun Evelyn tahu jika Berlian pada akhirnya akan memilih bersama dengan Johan, jalan yang akan dilalui tidak akan mudah. Jadi dia harus memastikan bahwa jalan yang ditempuh Berlian tidak akan berakhir sia-sia dengan memastikan jika Johan akan ada untuk Berlian.


Seperti yang dikatakan Evelyn, Johan membangunkan Berlian. Tapi karena Berlian baru saja disuntik obat yang menyebabkannya tidur terlalu lelap, Berlian tidak bisa dibangunkan. Johan akhirnya menghentikan usahanya dan memutuskan untuk menggendong Berlian ke kamarnya. Ia segera turun dan membuka pintu belakang.


Johan menatap Berlian sekilas sebelum akhirnya ia mengambil napas dalam sebelum ia menyelinap kan tangannya di bawah lutut dan di belakang leher Berlian. Evelyn diam-diam mengintip nya dari balik korden dan melihatnya menghela napas lega. Sean memang tidak salah melihat orang.


Dengan mudah Johan membawa Berlian di tangannya dan memasuki rumah. Evelyn yang mengetahui bahwa keduanya akan segera masuk segera berjalan ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga. Mengambil majalah di atas meja dan berpura-pura membacanya.


Saat ia melihat Johan melewati ruang keluarga ia pura-pura terkejut dan segera bertanya. "Dia tidak bisa bangun?" Evelyn berdiri dan melihat Berlian yang masih tertidur dengan pulas.


"Oh begitu. Kalau begitu kamu bawa masuk dia ke dalam kamarnya. Kamu tahu kan?" Evelyn mengangguk.


Johan memang sudah beberapa kali masuk ke dalam rumah besar itu. Tetapi ia tidak pernah naik ke lantai dua. Jadi ia tidak tahu dimana kamar masing-masing orang di sana. Johan memperhatikan beberapa pintu di lantai atas. Memperhatikan mereka yang memiliki bentuk yang ukuran yang sama. Apalagi tidak ada apa-apa di pintu yang dapat membedakan satu dengan yang lainnya. Jadi dengan beberapa kali pandang pun akan sulit membedakan masing-masing dari mereka. "Saya tahu." Johan mengangguk dengan yakin sebelum ia melangkah dengan pasti menaiki tangga.


Evelyn memperhatikan Johan dengan seksama. Ia ingin tahu apakah Johan benar-benar mengetahui kamar Berlian.


"Lagi lihat apa sih mom?" Evelyn menepuk dadanya beberapa kali karena terkejut. Ia memukul lengan Sylvia yang sudah membuat jantungnya hampir copot.

__ADS_1


"Kamu ini! Apa tidak bisa tidak tiba-tiba datang?" Evelyn memarahi Sylvia.


"Aku datang dari tadi. Aku sudah memanggil mommy beberapa kali. Lagian mommy, lihat apa sih sampai tidak dengar aku panggil dari tadi?" Sylvia bertanya sambil melihat ke arah yang dilihat Evelyn sejak tadi. Awalnya ia terkejut melihat kakaknya yang dingin berada di gendongan cogan. Tapi akhirnya ia mengerti apa yang membuat mommy nya penasaran. Itu karena Johan benar-benar menemukan kamar Berlian dengan benar.


Di lantai atas ada empat kamar di sisi kanan dan empat di sisi kiri tangga. Kamar di bagian kanan tangga akan memiliki balkon yang menghadap ke arah timur yang akan mendapatkan sinar matahari yang baik. Jadi kamar yang ditempati pasti berada di sisi itu. Dua tahun tinggal di kediaman yang sama membuat Johan memahami setiap orang yang tinggal di sana. Jadi dia bisa memastikan jika kamar yang paling dekat dengan tangga adalah kamar utama. Di sebelahnya adalah kamar Sylvia yang paling manja diantara ketiga saudara. Apalagi Sylvia adalah kesayangan semua orang. Di sebelahnya lagi kamar Bryan. Dengan karakter Bryan, dia seharusnya membiarkan adiknya tinggal di kamar yang lebih dekat dengan tangga. Tetapi karena Sifat Berlian yang suka menyendiri pasti membuatnya lebih nyaman berada di kamar paling ujung. Jadi tidak begitu sulit untuk menemukan kamar Berlian dan lainnya.


"Kak Johan memang tidak mengecewakan." Sylvia bersorak senang.


"Johan memang orang yang tepat untuk kakak perempuanmu."


"Kenapa tidak untuk kakak laki-laki ku?" Sylvia terkikik mendengar pertanyaannya sendiri. Evelyn menarik telinga Sylvia hingga gadis kecil itu mengaduh.


"Bicara omong kosong sekali lagi akan aku tarik telingamu sampai putus!"


"Oke-oke. Aku tidak bicara omong kosong lagi." Sylvia mengelus telinganya yang baru saja dilepaskan Evelyn. Ia bersimpati untuk telinganya yang cantik.


"Mom, jangan terlalu kejam pada putri cantikmu ini. Semua keindahan ini adalah aset berharga untuk modal mengumpulkan cogan di masa depan." Ujar Sylvia tanpa dosa. Evelyn melotot. Putrinya ini benar-benar!


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....


__ADS_2