
Melihat kecemasan di mata Clara yang begitu tulus, Berlian tidak tahan untuk tidak tersenyum hangat dan memegang tangan Clara.
"Tenanglah Cla. Tidak apa-apa selama mereka tidak mengganggu. Biarkan saja mereka mengatakan apa yang mereka inginkan." Berlian mencoba menenangkan Clara. Berlian tidak mau repot mengurus masalah yang menurutnya tidak berguna. Menghabiskan waktu dan tenaga.
"Tapi mereka sudah keterlaluan. Mereka bahkan mengatakan jika kamu sama seperti seorang jal2ng di luar sana. Mereka bicara tidak pakai otak." Clara mencebikkan bibirnya. Awalnya ia tidak mau memberitahukan itu pada Berlian takut menyakitinya. Tetapi melihat respon Berlian yang acuh tak acuh membuatnya kesal. Jadi biarkan saja Berlian tahu sejauh apa mereka telah merendahkannya.
"Aku tahu kamu marah. Aku juga sama. Tapi apa? Aku juga tidak bisa memaksa orang berpikir bagaimana mengenai aku. Jika aku pergi berbicara pada mereka, itu malah menunjukkan Jika aku merasa bersalah dan mencoba membela diri."
"Tapi kalau kamu hanya diam saja seperti ini, mereka akan semakin menjadi-jadi." Clara kehilangan kesabarannya.
"Percaya padaku. Semua akan baik-baik saja. Kita tunggu saja mereka membuat sedikit celah. Dan aku akan keluar untuk menyelesaikan semuanya. Hm?"
"Terserah. Pokoknya aku sudah mengatakan semuanya padamu. Itu terserah padamu." Clara yang kesal menghempaskan tangan Berlian dan berdiri.
"Cla..."
"Aku pulang dulu. Tidak usah diantar. Kamu pikirkan baik-baik bagaimana baiknya." Clara menahan Berlian yang hendak berdiri lalu berbalik dan pergi.
Berlian menghela napas panjang saat ia melihat punggung Clara yang menjauh darinya. Temannya ini meskipun sering memarahi nya seperti ini tetapi itu karena dia menyayanginya. Ia beruntung memiliki sahabat seperti Clara.
"Sampai kapan mau bersembunyi kak Johan?" Berlian melirik tempat duduk Johan yang berada di Balik pohon.
Berlian awalnya tidak mengetahui jika ada seseorang yang bersembunyi di sekitar. Hingga saat ia mendengar Dengusan Johan saat Clara menceritakan bahwa banyak gadis yang mengolok nya, ia naturalisasi menyadari ada seseorang selain mereka di tempat itu. Lalu, ia menemukan sedikit kaos yang dipakai Johan terlihat dari balik pohon. Tapi ia tidak berniat mengekspos nya karena melihat Clara yang sepertinya ingin berbicara serius dengannya. Lagipula, ia merasa tidak perlu menyimpan rahasia ini dari Johan.
Johan yang terkejut berdehem saat ia perlahan keluar dari tempat persembunyian nya. Johan terkejut saat ia mengetahui bahwa sebenarnya Berlian sudah tahu bahwa dia ada di sana dan mendengarkan percakapan mereka sejak awal.
"Apa menyenangkan menguping pembicaraan orang lain?" Berlian berdiri dan melipat tangannya saat ia menyipitkan matanya menatap Johan yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku benar-benar tidak berniat untuk menguping. Lagipula aku sudah di sana sejak awal. Jadi bukan salahku jika aku mendengarkan percakapan kalian. Kalau aku keluar begitu saja bukankah itu akan sangat tidak baik?" Johan membela dirinya. Alasannya logis. Memang tidak akan nyaman jika tiba-tiba Johan keluar di saat dua gadis sedang berbicara.
Berlian mendengus mendengar alasan Johan. Ia memalingkan wajahnya kesal.
__ADS_1
"Tapi di sini bukan itu intinya. Melainkan kenapa kamu tidak bilang kalau ada lalat di sekolah?" Johan dengan cepat membalikkan keadaan. Dari yang tadinya bersalah berganti menjadi dia bertingkah seperti sedang memergoki pacar yang selingkuh. Ia memandang Berlian butuh penjelasan.
"Lalat?" Berlian tidak mengerti.
"Ya. Lalat."
"Bukankah lalat memang ada di mana-mana? Apa anehnya jika ada di sekolah juga? Kenapa aku harus bilang? Apa kak Johan mau beralih pekerjaan jadi pengusir serangga?"
"Aku tidak masalah dengan itu. Aku tidak keberatan untuk mengusir lalat bernama Daniel itu menjauh dari kamu." Johan berdiri di depan Berlian. Mengintimidasi Berlian yang lebih pendek darinya.
"Jangan bicara macam-macam kak." Berlian baru mengerti lalat yang dimaksud Johan.
"Baiklah. Lupakan lalat tidak penting itu. Sekarang apa rencanaku pada mereka?"
Berlian mengernyitkan Alisnya. Ia mengerti mereka yang dimaksud Johan mengacu pada siapa. Itu pasti adalah para gadis yang mencemarkan nama baiknya.
"Tidak ada." Berlian menggelengkan kepalanya. Ia kembali duduk di tempatnya semula.
"Apa maksudmu tidak ada? Lalu, apa yang kamu katakan pada Clara tadi?"
"Kak Johan, tidak ada bedanya mereka menggunjingku atau tidak. Itu tidak ada hubungannya denganku."
"Kamu mungkin tidak peduli. Tapi aku peduli." Berlian menoleh dan melihat wajah Johan yang serius.
"Sudahlah kak, aku tidak selamat itu yang akan terluka hanya karena omongan orang lain."
"Aku tahu kamu kuat. Tapi yang kamu juga harus tahu adalah bahwa orang-orang yang menyayangimulah yang terluka jika mendengar semua ini."
"Aku tahu kak. Tapi apa? Kita tidak bisa membungkam mereka satu persatu."
"Ada satu cara. Tapi ini tergantung kamu bersedia atau tidak." Johan menatap Berlian serius.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Kamu harus memiliki kekasih. Dengan itu, mereka akan diam sendiri." Johan mencoba keberuntungannya. Sudah beberapa kali ia mencoba mengungkapkan perasaannya pada Berlian, tetapi gadis itu selalu mengalihkan pembicaraan dengan cerdik dan membuatnya kehilangan kesempatan untuk itu.
"Ini bukan ide yang baik. Juga, aku tidak berencana memiliki pacar."
"Kalau tidak pacar, bagaimana kalau tunangan?" Berlian menoleh seketika saat mendengar ucapan Johan. Namun yang ia dapati tetap wajah Johan yang serius.
"Lian...aku menyukaimu. Waktuku di sini tidak lama lagi. Aku ingin memberimu status sebelum aku bisa pergi dengan tenang. Jika mereka semua tahu jika kamu memiliki tunangan, masalah semacam ini tidak akan muncul lagi di masa depan." Johan memegang bahu Berlian dengan kedua tangannya.
"Kak Johan, sudah aku katakan bahwa aku belum siap dengan hubungan ini. Tolong jangan seperti ini." Berlian tahu jika Johan sudah memanggilnya dengan cara seperti ini berarti pria ini sedang membicarakan masalah pribadi dengannya. Dia segera menepis tangan Johan dengan memalingkan wajahnya. Ia tidak berani memandang wajah Johan.
"Jujur padaku, kamu belum siap, apa karena Clara?" Johan tidak akan membiarkan masalah ini berlarut. Ia tahu Berlian cukup cerdas untuk mengetahui perasaannya. Dia tidak percaya bahwa gadis itu tidak memahaminya.
Johan menangkup wajah Berlian dan memandangnya dengan serius.
"Jangan paksa aku kak." Berlian menepis tangan Johan lagi.
"Lian kamu tahu perasaanku kan? Kamu tahu ada kamu di dalam hatiku, kenapa kamu masih berniat mendekatkan aku dengan sahabatmu itu?" Johan kecewa.
"Clara adalah sahabatku. Aku tidak akan mengecewakannya."
"Apa aku tidak penting?" Tanya Johan dengan tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Kak, jangan paksa aku memilih. Karena kak Johan sudah pasti tahu jawabannya." Berlian berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....