Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_20. Libur


__ADS_3

Ada belasan bis yang berjajar di halaman sekolah. Hari ini, siswa kelas sepuluh dan sebelas akan mengikuti study tour yang rutin diadakan setiap tahunnya. Sedangkan kelas dua belas tidak diizinkan untuk mengikuti acara ini karena mereka harus fokus pada pelajaran mereka. Beberapa bulan ke depan adalah bulan-bulan terakhir mereka menjadi siswa SMA.


Meskipun saat ini standar kelulusan tidak berdasar pada nilai semata, tetapi bagi pihak sekolah justru ini akan menjadi beban mereka sendiri. Bagaimanapun, siswa-siswi mereka akan melanjutkan study mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Di sinilah martabat mereka akan dipertaruhkan. Jika hasil siswa didikan mereka tidak memenuhi standar, nama baik sekolah mereka menjadi taruhannya. Jadi mau tidak mau, pihak sekolah akan lebih memilih menekan siswa mereka untuk belajar dengan giat sebelum mereka lulus dari sekolah ini.


Berlian duduk bersama Clara di dalam bis selama perjalanan. Rezvan duduk di belakang mereka bersama Tedi. Beberapa siswa bergantian untuk maju ke depan untuk bernyanyi dan menari. Di dalam bis itu semuanya adalah anak IPS. Kelas Berlian dan kelas Unggulan 2. Di dalam bis itu sendiri ada dua orang guru wali kelas masing-masing kelas.


Sepanjang perjalanan, bis itu tidak pernah dalam keadaan diam. Gelak tawa dan suka cita tidak hentinya terdengar.


Perjalanan menghabiskan waktu hingga tiga jam. Belasan bis yang tadi terlihat seperti semut yang sedang berbaris kini berjalan di sebuah lapangan hijau yang luas. Satu persatu penumpang turun dan memenuhi lapangan. Mereka mengambil napas perlahan untuk merasakan segarnya udara yang masuk ke dalam rongga hidung mereka dan memenuhi paru-paru mereka dengan cepat dengan oksigen paling bersih yang mungkin pernah mereka rasakan.


Setelah puas dengan udara di sekitar, mereka bertahap memindahkan lokasi. Tempat ini berada di sebuah lereng gunung. Dengan pohon-pohon raksasa yang bisa terlihat dengan mudah. Tidak heran udara di sini sangat menyegarkan.


Study tour tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana mereka akan pergi ke Bali atau Lombok. Tahun ini, sekolah mereka agustus memboyong siswa mereka ke sebuah tempat yang tidak begitu jauh dari tempat asal mereka tetapi memiliki perbedaan yang sangat jauh. Setidaknya lingkungan di sini sudah pasti lebih asri.


Namun, tujuan dan alasan pihak sekolah dalam agenda ini masih dirahasiakan sampai sekarang. Namun begitu beberapa siswa, tujuan ini lebih baik daripada membawa mereka utk sekedar mengunjungi pantai yang bisa mereka kunjungi kapanpun. Sedangkan di sini, mereka mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk pergi ke tempat seperti ini setelah ini.


"Kita istirahat sebentar di penginapan. Satu jam lagi kita akan berkumpul kembali di sini. Saat itu, saya ingin kalian sudah mengganti pakaian kalian dengan pakaian yang sederhana. Dan ingat, para gadis jangan lupa untuk memakai sepatu yang sesuai." Suara dari guru penanggung jawab kegiatan terdengar. Lalu, masing-masing guru wali kelas membawa anak didik mereka menuju penginapan yang dimaksud.


Sementara Berlian menghabiskan waktunya di penginapan, Johan yang memiliki waktu libur sementara karena tugasnya untuk mengawali Berlian juga tidak dibutuhkan hari ini segera pulang ke rumahnya. Dengan memakai motor sportnya, ia pergi ke luar kota dengan paper bag di dalam bagasi yang berisi hoodie dan jam tangan dari Berlian untuk mengganti hadiah untuk adiknya.


Gerbang besar yang terlihat angkuh Itu terbuka begitu motor Johan berbelok untuk masuk. Dua orang satpam langsung berdiri dan menyapa anggota keluarga pemilik rumah yang baru saja kembali. Johan hanya menganggukkan kepalanya yang tertutup helm untuk membalasnya.


Motor Johan berhenti depan rumah besar yang terlihat mewah. Ia sengaja tidak membawa masuk motor miliknya ke dalam garasi karena ia tidak berniat untuk tinggal lebih lama. Ia hanya ingin bertemu dengan papa dan adik tersayangnya saja. Setelah itu, ia berniat untuk mengikuti Berlian ke tempat study tour sekolahnya. Dia berusaha dengan keras mencari tahu dimana lokasinya berada. Tentu saja itu ia lakukan secara sembunyi-sembunyi.


"Kakak!" Seorang gadis melompat memeluk Johan begitu pria baru saja mematikan mesin motornya. Adiknya ini langsung bergegas keluar saat ia mendengar suara motor sang kakak. Pelukan erat dan hangat yang begitu familiar itu menghilangkan kerinduan seketika.

__ADS_1


"Kenapa begitu lama? Tidakkah kakak tahu kalau aku kesepian di sini?" Gadis itu menekuk wajahnya dengan bibir yang dimajukan. Johan memandangnya dengan seksama. Semakin dilihat adiknya ini semakin mengemaskan ketika merujuk. Ia pun mengulurkan tangannya dan mengacak rambut sang adik yang seketika menambah Dengusan yang kesal.


"Jangan mengacak rambutku kakak!" Gadis itu merapikan rambutnya dengan seadanya. Menata pon di dahinya yang sedikit berantakan.


"Bukankah ada banyak orang di sini? Kenapa masih merasa kesepian?" Johan mencubit pipi adiknya.


"Memang. Tapi tidak ada yang seperti kakak." Ucap gadis itu merajuk.


"Bukankah sekarang kakak sudah ada di sini?" Johan memicingkan matanya.


"Uh hum." Gadis itu mengangguk senang sebelum ia mengulurkan tangannya ke depan. "Mana hadiahkan? Bukankah kakak sudah berjanji padaku?" Tanya nya dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata. Rapi dan kecil-kecil. Terlihat sangat indah.


"Tentu saja." Johan berbalik dia membuka jok motornya dan mengeluarkan paper bag.


Gadis itu tersenyum senang mendapatkan hadiah dari sang kakak. Ia memeluknya di dalam dadanya dengan posesif.


"Sama-sama. Oh ya, papa di mana?"


"Tentu saja papa ada di kantornya pada jam ini." Jawab Gadis itu tanpa berpikir.


"Tapi aku tadi sudah bertanya pada Paman Hugo dan paman Hugo bilang papa akan pulang. Jadi papa belum pulang?"


Tepat setelah Johan menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil putih perlahan masuk ke dalam halaman. Keduanya sudah tahu siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Itu adalah orang yang sedang mereka bicarakan sebelumnya.


Johan dan adiknya memandang papa mereka yang turun dari dalam mobil. Meskipun usianya baru genap lima puluh tahun, penampilannya terlihat jauh lebih tua dari usianya. Rambut peraknya yang bersinar saat terkena sinar matahari. Dan meskipun wajahnya masih terlihat tampan, itu terlihat lelah dan penuh keriput di beberapa tempat. Terutama di sekitar matanya yang cekung namun menyimpan aura yang bijaksana.

__ADS_1


Johan tidak melihat papanya satu tahun terakhir. Dan penampilan papanya ini jauh dari bayangannya terhadap penampilan papanya yang mengagumkan. Saat ini, papanya terlihat sangat rapuh.


"Pa.." Johan maju dan memandang matanya dengan sendu. Keadaan papanya saat ini pasti ada hubungannya dengan kondisi perusahaan yang terus menerus menurun dari waktu ke waktu. Papanya terdorong sampai sejauh ini pasti karena tuntutan para orang tua yang sok berkuasa itu. Johan mengepalkan tangannya saat dia tiba-tiba mengingat ketidakberdayaanya ini.


"Bagaimana kabarmu? Apa yang sudah kamu pelajari dari tuan Sean?" Papanya menepuk pundaknya saat ia melihat sorot mata putranya dengan hati-hati.


"Tuan Sean adalah pria yang luar biasa. Terlalu banyak yang bisa diambil untuk dipelajari."


"Bagus. Teruslah berada di sisi tuan Sean. Hargailah kesempatan langka yang kamu dapatkan ini."


"Woow kak! Aku tidak menyangka kakak bahkan tahu aku menginginkan jam tangan ini!" Ucap gadis itu membuat Johan kembali memperhatikan adiknya.


"Sebenarnya ini diberikan oleh teman." Jawab Johan. "Apa kamu menyukainya?" Lanjutnya.


"Akun sangat menyukainya.  Tapi bagaimana bisa hadiah dsri kakak malah pemberian dari orang lain?" Johan memperhatikan raut entah kesal sang adik dan tersenyum.


"Sebenarnya aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. Tetapi seorang teman lebih membutuhkannya. Jadi aku memberikan hadiah itu padanya dan dia memberikan hadiah ini sebagai gantinya."


"Teman? Apa ini seorang gadis?"


"Memang kenapa kalau itu seorang gadis?" Johan menjawab dengan sudut bibirnya yang tanpa ia sadari.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2