Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_52. Kembar?


__ADS_3

Berlian melakukan smash untuk mengakhiri permainan. Ia mencetak poin terakhir yang membuatmu Timnya menang telak. Semua orang masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Berlian dalam permainan. Saat itu Berlian tidak seperti Berlian yang biasanya. Bahkan Clara ya gak sudah mengenal Berlian lama juga tidak mengetahui jika Berlian bisa mengeluarkan kemampuan seperti itu.


Memukul bola Voli pada dasarnya sangat menyakitkan. Para gadis yang tidak terbiasa akan mengeluh saat melakukan pukulan pertama mereka. Apalagi saat melakukan passing. Ini akan menimbulkan kemerahan pada tangan. Melihat Berlian, sepertinya tidak memiliki kemampuan untuk menahan. Lalu bagaimana dia bisa melakukan begitu banyak?


Berlian melirik semua orang yang menonton tidak percaya. Ia mendengus kesal. "Sudah selesai kan?"


Setelah menyelesaikan kalimatnya, tanpa menunggu jawaban siapapun, Berlian berbalik dan pergi dengan cepat. Meninggalkan kerumunan yang menatapnya tidak percaya.


"Memang pantas menjadi gadis ku." Daniel yang ikut menonton menjentikkan jarinya. Memandang bangga punggung Berlian yang tampak seperti seorang pahlawan wanita.


Berlian langsung pergi ke ruang ganti untuk mengganti baju olahraganya. Ia sudah tidak tahan dengan keringatnya sendiri. Ia merasa tubuhnya lengket dan ingin segera membersihkan diri. Dia selalu tidak tahan dengan itu. Itulah mengapa ia tidak menyukai pelajaran olahraga sejak awal. Dia akan kesusahan untuk membersihkan diri di sekolah. Tidak nyaman rasanya untuk mandi di kamar mandi sekolah.


Setelah membersihkan diri, Berlian pergi ke kelas untuk istirahat. Sampai di kelas, Clara sudah menunggunya dengan khawatir. Rezvan juga duduk di sebelahnya. Ia menggenggam botol air mineral di tangannya. Saat melihat Berlian mendekat, ia mengulurkan nya. Berlian menerimanya dan meminumnya tanpa sungkan. Ia sudah menahan haus sejak tadi.


"Terima kasih." Berlian menyeka bibirnya setelah selesai menuntaskan dahaganya.


"Sama-sama. Bagaimana perasaanmu?" Rezvan memancing.


"Lumayan. Cukup baik." Berlian mengerucutkan bibirnya ke samping saat ia berpikir.


"Awalnya aku khawatir kamu tidak bisa menang. Aku sampai berdoa sepanjang pertandingan. Tidak disangka ternyata kecemasanku tidak ada gunanya." Clara mengetuk mejanya dengan kesal. Melihat apa yang dilakukan Berlian di akhir, tidak tidak mungkin jika Berlian akan memenangkan pertandingan hanya dengan beberapa menit saja. Jika dia tidak bermain-main, lalu apa? Ia merasa dibohongi.


"Uh! Jangan marah dong." Berlian segera duduk di samping Clara. Memegang lengannya saat ia mencoba membujuk. "Kamu memang sahabatku yang paling cantik. Jangan ngambek, nanti lekas tua hahahaha."


"Brily aku serius!" Teriak Clara kesal.


"Iya-iya aku tahu aku salah. Makanya maafkan aku ya."


"Sudahlah." Clara memalingkan gmana wajahnya saat ia mendengus. Ia mulai menatap Rezvan yang sejak tadi diam. "Dan kamu Rezvan." Clara menunjuk Rezvan dengan kejam.

__ADS_1


"Aku? Kenapa aku juga kena?" Rezvan menunjuk dirinya sendiri tanpa daya.


"Kamu tahu Ratih adalah pelakunya. Kenapa tidak bilang pada kami?" Berlian melirik Rezvan saat masalah ini diungkit.


"Aku juga baru tahu kemarin malam." Rezvan pun menceritakan bagaimana ia bisa mengetahui jika Ratih adalah pelakunya. Tetapi ia mengatakan bahwa ia lidah memilki kesempatan untuk memberitahu dan bukannya karena ia memiliki masalah di keluarganya.


"Jika memang seperti itu, Kita tidak boleh tinggal diam. Kutai harus paksa dia untuk mengakui perbuatannya." Clara mengepalkan tangannya di atas meja. Memukulnya dengan keras sampai ia mengaduh kesakitan. Rezvan dan Berlin hanya melirik nya saat ia meniup tangannya yang kemerahan terkena meja.


"Apa ada bukti?" Pertanyaan Berlian membuat Clara lemas. Mereka memang tidak memiliki bukti. Jadi Ratih tidak bisa dipaksa untuk mengaku.


"Masalah dia mengaku apa tidak, sudah tidak penting. Yang pasti forum OSIS tidak akan bocor lagi." Berlian berkata dengan tenang.


"Apa maksudmu? Dia menyewa hacker. Dengan mudah bisa masuk lagi." Clara tidak mengerti.


"Apa kamu tidak memperhatikan tidak ada lagu berita yang muncul akhir-akhir ini?" Berlian menatap Clara.


"Aku juga mendengar hacker yang disewa Ratih tidak bisa lagi masuk ke dalam forum.  Apa ini ada hubungannya denganmu?" Rezvan memandang Berlian.


Demi keselamatan Berlian, tentu saja hal ini harus dirahasiakan. Hanya beberapa orang kepercayaan  saja yang tahu fakta mengenai ini. Bahkan, kepala Tim IT dengan senang hati menyembah Berlian sebagai gurunya.


"Sudahlah. Anggap saja masalah ini iin berakhir. Jika Ratih melakukan hal lain lagu,  dia akan tahu berhadapan dengan siapa." Ucap Berlian tidak main-main. Melihat keseriusan di wajahnya, Clara dan Rezvan hanya bisa menyerah.


Dalam sekejap, pandangan orang pada Berlian sedikit berubah. Mereka tidak lagi menilai Berlian tidak memiliki kemampuan. Meskipun itu tidak bisa begitu dibanggakan, itu tetap menjadi poin positif untuknya. Namun, masih banyak gadis yang tidak menyerah untuk menyerang Berlian dengan kalimat bahwa ia tidak setara dengan Daniel.


Pulang sekolah, Berlian terkejut saat melihat keadaan seperti saat pertama kali ia masuk sekolah dengan Johan yang menampakkan diri. Para gadis kembali berkerumun di depan gerbang seperti dulu. Berlian tidak bisa tidak berpikir jika Johan kembali menunggunya di depan mobil saat ia masih membelah kerumunan dan bersiap untuk mengeluh.


Rahangnya hampir jatuh saat ia membuka mulutnya lebar. Yang ada di depannya bukan Johan sama sekali. Juga, bukan Bentley yang terparkir di depannya. Melainkan Bryan dengan motor sport ya gak ditungganginya.


Bryan terlihat tampan dengan kaca mata hitam bertengger di matanya. Mencegah semua orang melihat kemana dia melihat. Wajah tampannya memikat. Hidungnya yang panjang menutupi sebagian bibir merahnya saat ia menunduk untuk bermain ponselnya dengan santai. Alisya matanya yang tajam bergerak indah saat ia mendongak dan melihat kembarannya. Bibirnya terangkat. Menghasilkan senyuman manis yang memabukkan hati setiap gadis. Mereka serempak memegang untuk hatinya karena berdebar-debar dibuatnya.

__ADS_1


Di sisi lain, Berlian memiliki wajah yang jelek. Kenapa Bryan harus muncul di saat seperti ini?


"Hai. Merindukanmu?" Ucap Bryan tanpa dosa saat ia turun dari motor dengan gagah dan menghampiri Berlian. Ia membuka kecamatanya sehingga menampilkan mata yang indah. Tangannya menyugar rambutnya yang dia cat pirang. Para gadis bersorak ramai. Memuji ketampanan Bryan yang memukau.


Di samping itu, mereka kembali tidak menyangka gua ternyata cowok tampan itu lagi-lagi mengenal Berlian. Dan sepertinya mereka dekat satu sama lainya. Mereka diam-diam merasa iri. Mengapa semua cowok tampan berputar di sekeliling Berlian dan bukan mereka?


"Sudah selesai?" Berlian menatapnya dengan kesal.


"Apa sikap ini? Aku sengaja menjemputmu. Aku bahkan belum meletakkan ****2* tampan ku di rumah. Dan kamu?  Malah tidak menghargainya sama sekali?" Bryan tidak percaya sambutan yang ia dapatkan.


"Oke-oke. Aku menyerah. Hentikan tampang konyolnya itu." Berlian melambaikan tangannya melihat wajah Bryan yang menyedihkan. Ia membuka tangannya dan membiarkan Bryan memeluknya. Seketika, kerumunan berteriak histeris. Mereka tidak percaya Berlian Berlian akan memeluk seorang pria tepat di depan mata mereka.


"Ayo pulang. Aku sudah lapar." Berlian  melirik kerumunan yang berbisik-bisik. Mengabaikan mereka, melewati Bryan Bryan dan naik di jok belakang.


"Bye Bye. Sampai jumpa lagi." Bryan suka mencari perhatian. Ia memandang pada gadis dan memberikan cium jauh pada mereka sambil mengerlingkan mata nakal. Para gadis hampir pingsan dibuatnya.


"Ayo cepat!" Teriak Berlian kesal saat melihat Bryan mulai terbaru pesona.


"Saudari kembarku sudah memanggilku. Dadah." Bryan dengan sengaja memberitahu pada mereka identitasnya. Dari Johan uang melimpah getahnya jika Berlian mendapatkan banyak masalah dengan gosip yang beredar tak terkendali.


"Saudari.....?"


"Kembar....?"


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....


__ADS_2