
Hari-hari selanjutnya sangat penuh dengan warna bagi semua orang. Semua bahagia, semua gembira. Bryan dan Berlian sangat senang mengetahui jika mommy dan daddy mereka akan bersama.
Pernikahan Sean dan Evelyn sudah ditentukan. Hanya kurang dua minggu acara sakral itu dilaksanakan. Persiapan sudah dimulai satu bulan sebelumnya. Mereka ingin membuat acara pesta yang megah setelah acara pertunangan yang sederhana.
Kabar pernikahan Sean juga sudah menyebar. Beritanya bahkan menjadi tranding topik setelah kabar itu resmi dibagikan. Apalagi identitas Evelyn yang juga tidak sederhana. Siapapun masa lalu Evelyn, semua orang tidak akan bisa menyangkal jika orang bernama Sandra sudah tiada, hanya ada Evelyn Sylvayna Marcus. Seorang Presdir muda pemilik Marcus Corp.
Berita ini juga sampai di telinga Vina dan membuat wanita muda itu begitu emosi. Setiap pulang kerja ia akan selalu marah dan berteriak karena kesal setelah mendengar rekan-rerkannya yang selalu membahas pernikahan Sean dengan Evelyn.
"Hentikan sayang. Jangan marah seperti ini.'' Ani yang megetahui jika Vina pulang dalam keadaan marah langsung menyusul ke dalam kamarya.
Vina yang hendak melempar vas bunga menghentikan aksinya. Ia menurunkan vas dan menatap Ani dengan kesal.
"Memangnya dia siapa ma? Sudah sampai di titik terendah masih saja bangun sna mencapai puncak saat ini."
"Dia memang memiliki keberuntungan yang bagus. Tapi keberuntungan seperti itu tidak akan terus berlanjut."
"Aku sudah lama menyukai Sean. Mama tahu itu. Aku bahkan lebih memilih bekerja di perusahaan Sean untuk bisa lebih dekat dengannya. Tetapi apapun yang aku lakukan tidak cukup untuk membuat Sean melihatku. Tapi si Ja lang Sandra itu justru malah bisa mendapatkan perhatian Sean dengan mudah."
"Itu pasti karena wajahnya yang cantik iu. Bagaimana kalau kita hancurkan saja wajahnya yang ia gunakan untuk merayu tuan Sean."
"Bagaimana?"
Ani memberi isyarat pada Vina untuk mendekat. Ia punya rencana yang bagus untuk membuat wajah Evelyn rusak seperti keinginan mereka.
**
Sore ini, Evelyn mengajak Bryan dan Berlian ke butik untuk mengukur baju mereka yang akan digunakan untuk acara pernikahan orang tua mereka. Sebagai anak, penampilan mereka juga harus sempurna.
Nantinya, berlian akan mendapatkam gaun yang mirip dengan milik Evelyn. Sedangkan Bryan akan mendapatkan setelah yang sama dengan Sean.
"Wah Evelyn, kedua anakmu begitu manis dan lucu." puji Tomas. Designer yang membuatkan gaun untuk satu keluarga itu.
"Terima kasih Tom."
__ADS_1
"Mereka memang pantas menjadi anakmu. Mereka begitu tampan dan cantik. Kalau kamu mau aku akan membantu mereka menjadi model. Dengan wajah dan kharisma alami seorang pangeran dan putri mereka yang alami, aku yakin mereka akan sampai di puncak dalam waktu singkat." tawar Thomas berbinar. Pria kemayu itu sudah membayangkan dua bocah cilik itu memakai busana yang bermacam-macam dan berjalan dj atas catwalk. Pasti sangat keren sekaligus lucu.
"Tidak." tolak Evelyn cepat.
"Kenapa menolak tanpa berpikir? Mereka punya potensi. Jika tidak dikembangkan akan sangat rugi."
"Thom, jika masih sayang dengan pemerjaanmu, lebih baik kamu diam." Evelyn berkata dengan jengah di balik majalah yang ia pakai.
"Oh oke! Aku akan menutup mulutku sekarang." Thomas menggerakkan jarinya seperti sedang menarik retsleting dan mengunci pintu di sudut bibirnya.
Sejak Laura dan Maxim datang ke Indonesia, dialah yang mengurus semua pakaian yang dikenakan kedua orang itu. Meskipun ia tidak tahu pasti, tapi dengan melihat banyaknya orang berpakaian serba hitam di sekitar mereka, Thomas sudah menebak jika keduanya bukan orang biasa.
Dan saat Laura membawa Evelyn ke tempatnya dan mengenalkannya sebagai anaknya, di dalam hatinya sudah tertancap rasa hoŕmat dan takut dalam waktu bersamaan.
Akhirnya mulut cerewet Thomas bisa diam. Ia khawatir jika ia berbicara dan menyinggung wanita cantik yang diduk di depannya akan membuatnya tidak bisa berbicara selamanya.
Evelyn kembali melanjutkan aktivitasnya membaca majalah fasion. Meskipun ia abai masalah penampilan karena ia lebih sering tampil formal, tapi ia masih tetap wanita yang mencintai penampilannya.
"Mommy kami sudah selesai." teriak Bryan dengan ceria. Berlian berjalan di samping Bryan dengan santai. Melihat keduanya, kadang Evelyn berpikir putranya adalah Berlian sedangkan putrinya adalah Bryan.
Setiap bidikan Bryan tegas dan akurat. Sejak pertama kali memegang pistol, tak satupun ia pernah meleset menembak sasaran. Justin dan pelatihnya saja sampai heran dibuatnya. Pria kecil itu seperti dilahirkan memang untuk memegang pistol.
Sedangkan Berlian berada di sisi yang lain. Gadis muda itu dingin dan cuek. Evelyn bahkan sering kehilangan ide untuk berbicara pada anak gadisnya itu. Berlian irit berbicara jika ia tidak ingin.
Berlian akan memunculkan sisi cerewetnya saat dia sedang membahas mengenai komputer dan perangkat-perangkat lunak dan canggih yang sedang diminati. Pembahasan ini membuat Evelyn menjadi canggung karena ia bahkan tidak mengerti satupun.
"Mom daddy bilang ia akan menyusul kita." Ucap Bryan saat ia tidak melihat Sean dimanapun.
"Di kantor Daddy sedang ada masalah serius. Jadi dia tidak bisa menjemput kita."
"Oh. Bagaimana jika kita ke sana saja?"
"Untuk apa?" tanya Evelyn bingung."
__ADS_1
"Kita lihat masalah apa yang lebih penting untuk ditangani dibandingkan dengan menepati janjinya menjemput kita." sungut Bryan.
"Daddy tidak bermaksud seperti itu. Kamu jangan sepertu gadis yang mudah ngambek." Evelyn mengusap kepala Bryan gemas.
"Mom! Jangan memanggilku gadis. Aku sudah keren dan tampan seperti Daddy." Bryan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan bangga. Daddynya memang laki-laki paling tampan yang pernah ia lihat. Jadi secara alami Bryan akan menjadikan Sean sebagai idolanya.
"Dasar narsis." Berlian mencibir di sampingnya.
"Sudah jangan bertengkar. Kita ke kantor daddy sekarang."
"Yeah!" teriak Bryan senang.
Evelyn segera pamit pada Thomas dan meninggalkan butik bersama dua anak mereka.
**
Evelyn sudah beberapa kali datang ke kantor Kongston company sebelumnya. Tapi ia datang bersama Carlos untuk urusan pekerjaan. Saat ini datang bersama anak-anaknya membuatnya merasa sedikit malu. Entah dari mana muncul perasaan jika ia adalah seorang istri yang sedang berkunjung ke kantor suaminya.
Sapaan hormat ia terima sejak ia masuk. Meskipun semua karyawan mengenalinya sebagai calon istri dari bos mereka, para karyawan wanita tidak bisa menahan diri untuk tidak bergosip di belakangnya.
Apalagi dengan dua anak kecil yang mengikutinya. Ini semakin menambahkan bahan gosip di antara mereka.
Meskipun sudah dikonfirmasi jika dua anak itu adalah anak kandung Sean, masih banyak orang yang meragukan. Lebih tepatnya tidak ingin mempercayai.
"Oh rupanya si ja lang sedang membawa anak-anak haramnya pergi merayu pria." seru seorang wanita dengan keras.
Evelyn berbalik dan menatap tajam seseorang yang berbicara kurang ajar pada kedua anaknya. Di depannya, seorang wanita cantik berdiri dengan angkuh.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😉
Kira-kira siapa ya wanita yang sedang cari masalah itu?