Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
Bab_51. Louis Ferginand


__ADS_3

Seorang laki-laki tua memukul meja di depannya dengan keras. Laporan yang diterimanya dari anak buahnya membuatnya sangat marah. Membuat dua orang yang duduk di depannya gemetar ketakutan.


“Tuan Louis, beberapa investor ada di luar dan ingin bertemu dengan anda.” Teddy, Sekretaris laki-laki tua itu masuk dan membungkuk dengan hormat.


Louis Ferginand adalah seorang pria tua yang merupakan saingan bisnis terbesar Sean. Dengan usia yang sudah tua ia masih sangat hebat dalam mengelola bisnisnya. Bukannya tidak memiliki anak ataupun penerus yang bisa menggantikannya, namun ia masih sangat penasaran dan ingin mengalahkan Sean sebelum dirinya pensiun.


Lagipula, kedua pewarisnya sama-sama tidak bisa diandalkan.


Sejak awal Sean terjun dalam dunia bisnis, saat itu Sean masih sangat muda. Baru lulus dari sekolah menengah atas dan baru akan menginjak bangku perkuliahan. Louis sendiri adalah teman dari papa Sean dan telah mengenalkannya pada calon penerus perusahaan milik temannya itu.


Secara otomatis, Louis mengetahui kemampuan Sean dalam berbisnis. Ia sangat kagum pada putra sahabatnya itu. Sejalan dengan itu, ia menginginkan jika salah satu dari di putranya memiliki kemampuan seperti yang dimiliki Sean.


Akhirnya demi ambisinya, Louis menekan kedua putranya untuk selalu bersaing dengan Sean. Membuat keduanya merasa tertekan. Salah satunya melarikan diri saat belajar di luar negeri dan satunya lagi malah mengabaikan Louis dan mengejar mimpinya untuk menjadi dokter.


Karena kedua pewarisnya sama sekali tidak bisa ia harapkan, ia pun berniat Menjodohkan Sean dengan putri sulungnya. Namun Sean menolaknya karena menganggap Ana adiknya sendiri karena ia tumbuh bersamanya.


Mendapatkan penolakan dari Sean tidak lantas membuat Louis menyerah. Ia terus mendesak putrinya untuk menggoda Sean. Apalagi Ana juga memiliki perasaan pada Sean. Jadi, Gadis itu mengejar Sean dengan tanpa malu.


Lama kelamaan, karena ambisi dan tekanan baginya, Ana pun menjadi tidak waras karena selalu mendapatkan penolakan dari Sean. Mengetahui penyebab dari penderitaan sang putri, Louis mendatangi Sean dan meminta Sean untuk menikahi putrinya.


Namun jawaban yang diterimanya dari Sean sungguh membuat harga dirinya sebagai seorang ayah terluka. Sampai saat ini, Louis masih mengingat setiap kata yang diucapkan Sean saat itu.


“Anda ingin saya menikahi putri anda yang gila itu? Apa itu layak?”


“Ana menjadi seperti ini karena mu Sean. Ana adalah seorang gadis yang baik. Dia juga cantik dan pintar. Apa salahnya kamu menikahinya?”


“Hehehehe.” Sean terkekeh mendengar ucapan Louis saat itu.


“Jika mamang putri anda cantik dan pintar seperti yang anda katakan, apakah anda kira putri anda akan berada pada tahap yang sangat memalukan seperti ini?” lanjutnya dengan nada penuh ejekan pada Louis.


Louis sangat marah mendengar ucapan Sean. “Jaga bicaramu Sean! Kamu sama sekali tidak seperti papamu yang sangat menghargai seorang wanita!” sentaknya. Sebagai seorang ayah, tentu saja ia tidak akan terima jika putrinya direndahkan.


“Ooh. Saya rasa anda benar-benar tidak mengenal putri anda. Wanita seperti putri anda yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri tidak perlu dihargai. Kenapa saya harus repot-repot melakukan hal tidak berguna itu?” Sean menarik sudut bibirnya. Menatap remeh laki-laki yang usianya dua kali dari usianya.

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Apa Anda tahu berapa kali putri anda datang ke hadapan saya dengan keadaan polos?”


“Jangan bicara sembarangan Sean! Hentikan omong kosong mu itu!”


“Hei tuan! Sudah saya katakan anda tidak mengenal putri Anda dengan baik.”


“Jangan mencoba mempermainkan saya Sean!”


“Saya tidak pernah mempermainkan anda tuan. Mainan tua seperti anda tidak menarik untuk saya.”


“Jika papamu masih hidup dia akan sangat kecewa padamu Sean!” geramnya. Ia menunjuk Sean dengan telunjuknya dengan tajam.


“Aku rasa anda salah. Papa justru akan bangga pada saya karena saya tidak merusak nama baik putri anda.” Sean membuka laci mejanya. Mengeluarkan amplop cokelat dari dalamnya dan melemparkannya ke atas meja. Tepat di depan Louis.


“Itu hanya beberapa foto yang dikirimkan putri anda sendiri pada saya. Juga beberapa salinan rekaman CCTV ruangan ini yang menjelaskan bagaimana rendahan ya sikap putri kebanggaan anda.”


Louis membuka amplop itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat beberapa potret telanjang sang putri dengan latar belakang kamarnya. Di atas ranjang, di depan cermin, di ruang ganti, bahkan ada beberapa yang diambil di kamar mandi. Semuanya dengan pose yang sangat menggoda. Wanita di dalam foto seperti model dewasa yang sangat profesional.


Louis masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan putrinya. Ia menatap foto-foto itu dengan kecewa.


“Jika saya jadi anda, saya akan membawa Ana ke rumah sakit jiwa. Jika saya melihatnya ada di sekitar saya, jangan salahkan saya jika saya akan mengirimnya ke pedalaman Irian Jaya agar dia belajar bagaimana cara hidup dari penduduk lokal di sana. Saya rasa mereka akan menyukai penduduk baru yang cantik seperti putri anda.”


Kejadian itu sudah lima tahun berlalu, tapi dendam yang dimilikinya pada Sean bertambah seriap harinya. Mulai saat itu juga, ia menjadi musuh bagi perusahaan yang dulu adalah mitra yang paling dekat.


“Tuan...tuan...anda baik-baik saja?” pertanyaan Teddy membuat Louis tersadar dari bayangan masa lalunya.


Saat ini tingkat kebenciannya terhadap Sean kembali meningkat karena menganggap semua yang terjadi pada perusahaan nya semuanya karena Sean.


“Apa yang mereka inginkan?” Tanya Louis.


“Mereka... Mereka...” Pria muda yang menjadi sekretaris nya ragu memberitahunya.

__ADS_1


“Cepat katakan! Jangan bertele-tele dengan ku!”


“Mereka ingin menarik investasi mereka, tuan.”


“Kalian keluarlah.” Ucap Louis pada dua bawahannya.


“Baik tuan.” Ucap mereka dan segera berdiri dan keluar.


“Biarkan mereka masuk.” Kali ini, ucapannya ditujukan pada Teddy yang masih menunggu perintah.


Sekretaris muda itu segera mengiyakan dan keluar. Lalu kembali masuk dengan beberapa orang laki-laki lainnya. Setelah semua orang masuk dan duduk di atas sofa. Teddy berdiri di belakang Louis.


“Apa tujuan kalian kemari?” Tanya Louis dingin.


Lima orang yang masuk saling berpandangan. Kemudian salah satu dari mereka mengangguk dan mulai berbicara.


“Tidak perlu basa basi lagi tuan Louis. Kami kemari ingin menarik investasi kami sebelum nya karena kami melihat kinerja perusahaan nada semakin lama semakin buruk. Kami khawatir jika kami tidak segera mengambil uang kami, takutnya tidak akan ada lagi yang bisa diambil.”


“Kurang ajar kalian! Kalian seharusnya ingat bagaimana kalian dulu datang dan menjilat padaku agar aku membiarkan kalian berinvestasi di perusahaan ku. Sekarang saat perusahaan ini memiliki masalah, kalian ingin segera pergi menyelamatkan diri kalian masing-masing.” Geram Louis menatap lima tamunya yang menurutnya tidak tahu malu.


“Mau bagaimana lagi tuan. Bisnis adalah bisnis. Kami juga tidak mau dirugikan.”


“Benar tuan. Sore ini sekretaris kami akan datang untuk menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan.”


“Kalian benar-benar serigala bermata putih.” Louis mendesis.


“Kami sudah selesai. Kami pamit undur diri.” Tanpa menunggu persetujuan, satu persatu dari mereka berdiri dan keluar dari ruangan dan meninggalkan Louis yang duduk memegang dadanya yang terasa sangat nyeri.


“Semua ini salahmu Sean.” Gumamnya setelah kondisi nya membaik berkat pil yang baru saja ditelannya.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😘


__ADS_2