Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_28. Seseorang Harus Bertanggung Jawab


__ADS_3

Berlian kembali ke kamarnya setelah kembali dari pusat kendali. Sejak ia masuk, wajahnya terlihat suram. Ia tidak menyangka jika seseorang yang masih begitu muda bisa melakukan hal yang mengerikan. Memang keadaan bisa terkondisikan pada akhirnya, dan tidak terjadi musibah dan kerusakan yang fatal. Tetapi, jika hal ini tidak dapat ditangani tepat waktu, kemungkinan akan ada banyak korban mengingat banyaknya orang yang berkumpul.


Clara mendekati Berlian dan duduk di sampingnya. Kemudian menepuk pundaknya dan meletakkannya di sana.


"Bagaimana? Apa pelakunya sudah diketahui?" Berlian menoleh dan menatap Clara penuh tanya.


"Mengapa seseorang bisa begitu jahat?"


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Beberapa hari yang lalu, dia mendatangiku dan berkata padaku bahwa aku merbut kak Raka darinya. Dia juga mengatakan padaku untuk menjauhi kak Raka. Padahal kamu tahu sendiri aku tidak pernah dekat dengannya. Lalu bagaimana bisa dia menyimpulkan hal itu begitu saja?" Clara sedikit terkejut. Ada hal begitu besar dan dia sebagai sahabat benar-benar tidak mengetahuinya.


"Tidak masalah jika dia mempermasalahkannya padaku. Tapi kenapa harus pada Aspradia? Dia hanyalah seekor kuda. Apa hanya karena seorang laki-laki harus begitu kejam?"


Clara kehilangan fokusnya. Saat Berlian berbicara, entah mengapa ia merasa jika ia juga sama jahatnya dengan orang yang ela meracuni Aspradia. Demi mendapatkan Johan, ia mengabaikan semuanya. Mengabaikan bahwa ia sebenarnya tahu jika bukan dia yang ada di hati Johan dan itu adalah Berlian. Mengabaikan rasa malunya dan dan berkeras untuk mengejar Johan. Dan yang paling penting adalah, mengabaikan persahabatannya dengan Berlian. Tiba-tiba dia merasa sangat jahat.


"Cla? Kenapa diam?" Berlian menggoyangkan tangan Clara dan menarik Clara dari pikirannya sendiri.


"Ti..tidak. Aku hanya merasa jika itu memang tidak masuk akal. Apa dia tidak tahu bagaimana kamu?"


"Itu bukan intinya. Intinya adalah, dengan usia semua ini sudah bisa merencanakan sesuatu untuk membahayakan orang lain." Berlian menghela napasnya. "Jika...jika aku memberinya sedikit pelajaran, apa aku keterlaluan?" Berlian melanjutkan.


Awalnya dia berniat untuk melepaskan saja dan melupakan kejadian itu. Tetapi Johan menolaknya dan mengatakan padanya bahwa jika dia memberinya kelonggaran dalam hal ini, dia tidak akan pernah mendapatkan pelajaran dan akan melakukan hal yang sama di kemudian hari. Dan itu bahkan bisa menjadi tindakan yang lebih berbahaya. Jadi, demi kebaikannya sendiri, sebuah pelajaran sederhana tidaklah berlebihan.


Tetapi Berlian memikirkan hal lain. Dia tahu bahwa Vivi bagaimanapun akan berada di bawah suatu saat nanti. Jadi dia akan mencoba mentolelir untuk kesalahan saat ini. Namun setelah mendengar penjelasan Johan, ia akhirnya memikirkan hal yang sama. Seseorang harus menerima hukuman dari apa yang ia lakukan sendiri.


"Tidak. Seseorang yang jahat memang perlu dibalas." Clara menggelengkan kepalanya. "Siapa orang itu? Apa dia teman sekelas kita?"


"Tidak." Berlian menggeleng lemah sebelum kembali menatap Clara. "Jika itu teman sekelas kita, mereka akan tahu bahwa aku tidak begitu suka bergaul. Jadi mereka tidak mungkin akan menuduhku merebut kak Raka dan berniat mendekatinya."


"Kamu benar juga. Lalu siapa?"

__ADS_1


"Vivi."


"Kelas sebelas?" Vivi adalah salah satu siswi terkenal. Bukan hanya karena kecantikannya, dia juga kaya dan memiliki keluarga berpengaruh. Jadi Clara dapat dengan mudah mengetahui siapa yang dimaksud Berlian.


"Ya. Apa kamu tahu?"


"Tentu saja. Dia adalah gadis populer di sekolah. Orang tuanya selain berbisnis juga memiliki jabatan yang tinggi di pemerintahan." Clara mengangguk.


"Wajar kalau dia menuduhku mendekati kak Raka. Sejak dia masuk ke sekolah ini, dia sudah tergila-gila pada kak Raka dan sudah lama mendekati kak Raka. Tetapi kak Raka sepertinya tidak memiliki perasaan padanya."


"Yang aku heran adalah darimana dia memikirkan ide bahwa aku mendekati kak Raka?" Berlian masih tidak mengerti hal itu. Dia hanya bertemu Raka tidak lebih dari hitungan jari sebelah tangan. Dan itu juga menurutnya karena ketidak sengajaan. Lalu dari mana pemikiran itu berasal?


Clara mengeluarkan ponselnya. Membuka akun Instagram  Raka. Di dalam postingannya, memang tidak disebutkan dengan jelas siapa gadis yang sedang didekati Raka. Tetapi mencocokkan dengan ciri-ciri yang disebutkan Raka, ciri-ciri iuran hampir sama dengan ciri-ciri yang dimiliki Berlian. Jadi semua orang yang mengetahui postingan itu langsung menghubungkannya dengan Berlian.


Saat melihatnya, Clara tidak memikirkannya. Dia juga tidak mencocokkan dengan sahabatnya itu. Ia juga tidak membaca komentar-komentar di dalamnya, jadi dia jugavtidak mengetahui jika kebanyakan orang akan menghubungkan gadis di postingan Raka dengan Berlian. Tetapi setelah mendengar cerita Berlian, dia jadi teringat postingan itu.


"Aku benar-benar tidak percaya ini."


"Tapi bagaimana?"


"Percayakan padaku. Aku akan melakukan semuanya untukmu."


Ketua panitia study tour dipanggil ke kantor pusat kendali. Johan sudah menunggunya di sana. Duduk dengan santai di sofa yang ada di ruangan itu. Di kursi kepala, duduk seorang pria paruh baya yang merupakan kepala penanggung jawab peternakan kuda itu. Dari dahinya, keringat dingin tidak berhenti keluar. Membuat sapu tangan di tangannya menjadi basah. Dirinya jelas ketakutan.


Meskipun ini bukan salahnya sepenuhnya, tetapi masalah yang terjadi malah berhubungan dengan kuda kesayangan pemilik peternakan. Dan, nona nya sendiri yang mendapati kuda itu dalam masalah. Memikirkannya membuatnya frustasi. Ia khawatir ia akan kehilangan pekerjaan.


Apalagi dengan kehadiran Johan di sana. Itu membuatnya merasa tekanan. Johan memang hanya diam di dalam ruangannya. Tetapi dengan diam saja sudah mampu membuatnya berkeringat dingin karena takut. Aura yang dikeluarkan Johan hampir sama dengan aura yang dimiliki Sean. Yang selalu membuatnya merasa dingin dan sulit mempertahankan dirinya.


"Sebelumnya saya meminta maaf karena telah mengganggu waktu istrirahat anda." Kepala peternakan bernama Santoso itu meletakkan kedua tangannya di atas meja. Berbicara dengan ekspresi yang serius. Ada Johan yang Mengawasinya.


"Tidak apa-apa pak. Tapi saya masih tidak mengerti ada apa?"

__ADS_1


"Sebelumnya, saya meminta maaf atas kejadian membahayakan yang terjadi di arena pelatihan."


"Itu adalah sebuah musibah. Tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi."


"Saya mohon maaf sekali lagi. Tetapi anda salah jika anda berkata bahwa tidak ada yang menginginkannya terjadi." Meski Santoso tersenyum, tapi senyumnya itu benar-benar tidak tulus dan terlihat jelas ada maksud tersembunyi di dalamnya.


"Apa maksud anda?" Pak Yono bertanya tidak mengerti.


"Penyebab kuda menjadi agresif di arena adalah karena beberapa siswa dari sekolah anda yang telah memberi kuda itu zat yang berbahaya dan dilarang." Johan mendengarkan dengan seksama.


"Apa maksud anda? Siswa kami tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Pak Yono tidak percaya. Dia tersinggung saat orang lain menuduh muridnya melakukan hal buruk.


"Kami memiliki buktinya." Santoso menunjukkan rekaman CCTV yang ada di dalam dan di sekitar kandang Aspradia.


Pak Yono begitu terkejut saat melihat Vivi dan teman-temannya diam-diam memberikan sesuatu pada makanan kuda itu. Tidak hanya itu. Mereka juga dengan sengaja membuka kandangnya.


"Kami sudah memberikan bukti. Bisakah anda memberi penjelasan?" Santoso menatap tajam Pak Yono.


"Ini... saya minta maaf atas nama siswa saya."


"Anda yang meminta maaf itu mudah pak. Tetapi apa pelakunya sendiri mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf?"


"Apa yang anda inginkan?"


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~

__ADS_1


__ADS_2