Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_30. Pengakuan Berlian


__ADS_3

"Raka?" Berlian mengerucutkan bibirnya saat ia merasa tidak mengerti. Mengapa tiba-tiba Johan berbicara mengenai Raka.


"Iya. Siapa Raka?" Johan mengulangi pertanyaannya matanya yang menyipit memberi perasaan Berlian bahwa ia sedang diinterogasi atas kesalahan yang begitu besar.


"Dia kakak kelasku. Ada apa? Apa kak Johan mengenalnya?"


"Tidak. Dan aku juga tidak mau kamu dekat dengannya." Nada bicara yang Johan gunakan adalah nada bicara yang memperingatkan.


"Kenapa?"


"Semua kejadian ini terjadi gara-gara laki-laki bernama Raka itu. Jadi tidak baik untukmu dekat dengannya." Johan memperingati.


"Iya." Berlian mengangguk dengan malas.


"Bagus." Johan menepuk kepala Berlian sambil ersenyum puas.


"Terima kasih sudah datang membantu."


"Sama-sama. Aku tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini di sini. Tuan Sean mengatur acara ini karena dia tidak bisa menemanimu pergi ke sini."


"Daddy tahu?"


"Hem. Saat kamu menghubungiku, aku sedang ada di kantornya."


"Ooh...." Berlian mengangguk paham.


"Apa kamu diganggu disekolah?" Tanya Johan tiba-tiba setelah dia mendengar percapakan dari luar.


"Tidak."


"Lalu mereka?"


"Mereka tidak penting."


"Aku tidak menyukai mereka." Berlian melirik Johan. "Di usia yang begitu muda sudah mampu membuat rencana yang jahat untuk mencelakai orang lain. Dan sekarang dia malah membayar orang lain untuk melakukan hukuman yang seharusnya mereka tanggung."


"Apa yang diharapkan dari mereka? Sudahlah, jangan dibahas lagi." Membahas Vivi dan teman-temannya membuatnya kesal. Ia masih tidak bisa menerima apa yang terjadi pada Aspradia. Berlian mendekati Aspradia dan mengelus surai putihnya. Johan mengikutinya dari belakang.


"Sepertinya Aspradia sudah membaik. Apa kamu tidak ingin menunggangi nya?" Berlian menoleh dan menoleh ke dampingi dan mendapati Johan menepuk punggung kokoh Aspradia.


"Tidak hari ini kak. Aspradia  baru saja pulih. Aku tidak mau mmenekannya." Berlian beralih mengelus kepala Aspradia.


"Baiklah kalau begitu. Tapi Aku janji aku akan membawamu nanti saat ada waktu luang."

__ADS_1


"Baik."


"Sepertinya mereka sudah pergi, kita bisa keluar sekarang." Ucap Johan. Ia membuka sedikit pintu itu dan melihat ke luar. Benar saja, semua orang sudah pergi. Berlian yang melihat itu entah mengapa ia seperti sedang bersembunyi.


"Setelah ini, aku akan pulang dulu. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku." Ucap Johan serius.


"Aku janji." Berlian mengangguk.


"Baiklah. Aku pergi dulu."


"Ehm...." Berlian mengangguk. Saat melihat Johan hendak pergi, ia memanggilnya lagi.


"Ada apa?" Johan berhenti dan berbalik.


"Terima kasih." Berlian menarik bibirnya dan tersenyum tulus.


"Sama-sama." Johan mengangguk sambil tersenyum sebelum ia berbaik dan berjalan menjauhi Berlian. Berlian Menatap punggung Johan yang menjauh sebelum ia menghela napas dan pergi dari kandang ke penginapan yang tidak jauh dari lokasi peternakan.


"Berlian, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Berlian baru saja hendak masuk saat ia mendengar suara Rezvan.


"Emm. ..ada apa?" Berlian menaikkan alisnya.


"Kamu kan pemilik dari peternakan ini?"


"Aku tahu aku masih baru menjadi sahabatmu dan aku mengerti jika kamu tidak bisa seratus persen percaya padaku. Jadi aku hanya merasa sedikit kecewa saat mengetahui latar belakangmu bukan dari dirimu."


"Memangnya kenapa? Tidak ada hubungannya antara aku adalah pemilik dari peternakan ini dengan rasa percaya diriku padamu. itu hal yang berbeda. ."


"Kalau kamu percaya padaku, katakan padaku apa kamu memiliki perasaan pada Johan?" Rezvan memicingkan matanya.


"Perasaan apa?"


"Tentu saja perasaan antara laki-laki dan perempuan."


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Katakan saja."


"Huh." Berlian mendengus kesal. "Aku tidak memiliki perasaan seperti yang kamu katakan. Di usiaku, aku merasa aku tidak perlu memikirkan hal-hal semacam itu. Jadi aku tidak mengembangkan perasaan apapun padanya."


"Benarkah?"


"Sebenarnya apa tujuanmu menanyakan hal itu padaku?" Berlian melirik Rezvan kesal. Dia masih lima belas tahun! Tidak ada gunanya memikirkan hal yang belum waktunya dipikirkan. Berlian juga tidak pernah berpikir dia akan jatuh cinta pada siapapun! Dia nyaman menjalani hidupnya seperti ini.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin salah satu temanku terluka."


"Clara?"


"Ya."


"Aku tahu Clara menyukai kak Johan. Dan aku tidak akan berebut pria yang sama dengan csahabatku sendiri. Aku masih bisa berpikir. Aku akan memilih sahabatku daripada laki-laki."


"Aku tidak bermaksud seperti itu Brily. Aku hanya..."


"Aku tahu. Kamu tidak perlu khawatir." Berlian melewati Rezvan dan masuk ke dalam penginapan.


Rezvan menatap punggung Berlian yang menyendiri. Punggung itu terlihat kecil dan rapuh. Meskipun Berlian berkata bahwa dia tidak memiliki perasaan pada Johan, tetapi ia tahu jauh di dalam hati Berlian, Johan memiliki tempatnya sendiri. Rezvan tidak berniat untuk menghalangi Berlian untuk mencintai Johan. Atau meminta Berlian untuk mengalah pada Clara, dia hanya ingin Berlian memahami hatinya. Agar dia tidak menyesali keputusan yang dia ambil.


Clara pernah berkata padanya bahwa Berlian pernah berjanji untuk mendekatkannya dengan Johan. Itulah alasan mengapa Clara tidak menyerah padanya bahkan setelah mengetahui jika Johan tidak memiliki perasaan padanya. Melihat ini, Rezvan merasa bahwa sesuatu tidak akan berjalan dengan baik.


Clara memang bersalah karena memaksakan dirinya. Tetapi Clara bukan satu-satunya yang bersalah. Di satu sisi, Berlian tidak memahami perasaannya sendiri. Ini juga menjadi sebuah kesalahan meskipun tidak dapat disalahkan.


Di masa depan, saat Berlian memahami hatinya, saat Clara sudah memperdalam perasaannya, ini akan menjadi saat-saat yang menyakitkan untuk kedua sahabat itu.


"Aku tahu masalah antara wanita dan pria tidak akan pernah sederhana. Untuk apa aku ikut campur?  Biarkan saja mereka."  Rezvan menguap dan pergi ke gedung peginapan yang berbeda.


Vivi dan teman-temannya baru saja selesai dengan pekerjaan mereka. Sebenarnya, mereka bahkan hampir tidak mengerjakan apapun. Semua pekerjaan dilakukan oleh orang yang telah mereka bayar.


Bisa saja Johan mempermasalahkan hal ini. Tetapi Berlian mengatakan padanya bahwa tidak akan ada gunanya meminta lebih anda Vivi. Dibesarkan dengan sendok perak di mulutnya membuatnya merasa berada di puncak dan menganggap semua orang ada di bawahnya dan harus melakukan apapun yang dia inginkan.


Memaksa Vivi untuk menyerah dalam sekali tekanan tentu tidak akan berhasil. Sebagai gantinya, itu akan menumbuhkan bibit kebencian pada gadis sombong seperti Vivi yang tidak akan dengan mudah menerima kekalahannya.


"Aku tidak pernah menerima penghinaan seperti ini sebelumnya." Vivi mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan kasar. Wajahnya penuh dengan emosi.


"Kamu benar. Mereka berani sekali meminta kita membersihkan kandang yang begitu kotor." Lita ikut menggerutu.


"Kita dihukum. Tapi Berlian masih baik-baik saja."


"Benar! Aku masih tidak percaya jika Berlian dapat dengan mudah menjinakkan kuda yang mengamuk itu." Candra berkata dengan serius.


"Huh! Tidak peduli apa, Masalah ini  harus mencari Berlian untuk membalas dendam." Kesya dan Dea hanya diam mendengarkan teman-temannya. Sejak kejadian Aspradia, mereka semakin sadar bahwa Vivi adalah gadis yang kejam yang tidak akan melepaskan siapapun yang menghalangi jalannya.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2