
Sean baru saja menjalankan mobilnya saat ponsel Evelyn berbunyi. Istrinya itu langsung membuka tas tangannya. Mengeluarkan ponsel dari sana dan terlibat perbincangan dari seseorang di seberang. Sean hanya melirik sesekali dan mendapati wajah Evelyn yang serius terlihat sangat cantik. Kemarahan Evelyn sebelumnya juga sudah menghilang dengan tiba-tiba.
"Baiklah. Lakukan saja jika menurutmu itu yang terbaik. Jangan lupa konfirmasi hal ini pada Roberto."
"..."
"Hem.."
Evelyn menghela napas lelah. Hari ini hari pertama ia kembali ke kantor setelah mengambil cutinya selama satu minggu. Awalnya ia dan Sean berniat untuk pergi bulan madu. Tapi setelah dipertimbangkan, mereka akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di rumah. Bersama kedua anak mereka.
"Ada apa? Kenapa menghela napas begitu dalam?" Sean bertanya setelah melihat wajah suram Evelyn.
"Aku tidak ke kantor satu minggu. Tapi sudah ada masalah yang muncul." Evelyn mengeluh. Ia melirik Sean dengan wajah tersiksa.
"Masalah apa?"
"Produk yang baru akan diluncurkan bulan depan sudah beredar di pasaran imitasinya. Padahal semua produknya sudah siap. Jika gagal diluncurkan perusahaan akan rugi milyaran."
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Sekarang antarkan aku ke kantor. Aku harus segera melihat yang terjadi."
"Baiklah aku akan mengantarmu." Sean segera melajukan mobilnya dengan cepat. Ia juga langsung pergi ke kantornya sendiri setelah memastikan Evelyn masuk ke dalam kantor.
Hari-hari selanjutnya berjalan dengan sibuk untuk Evelyn dan Sean. Tapi mereka selalu menyempatkan diri untuk menemani Bryan dan Berlian di akhir pekan. Dan mengunjungi Keluarga Maxim juga.
Untuk menyelesaikan masalah yang muncul, Evelyn bahkan beberapa kali harus lembur di kantor. Siapa yang telah berbuat curang memang sudah diketahui. Bahkan sudah dipidana. Pihak Evelyn juga melaporkan perusahaan yang telah memplagiat produknya.
Perusahaan saingan telah ditetapkan bersalah dan semua orang yang harus bertanggung jawab juga sudah dihukum dan perusahaannya diharuskan membayar denda.
Tapi masalah itu tidak selesai sampai di situ. Masalah yang terpenting adalah bagaimana memasarkan produk yang terlanjur diproduksi.
Sebelumnya, masyarakat sudah mengenal produk yang berupa tumbler di lingkungannya. Bahkan banyak yang sudah memilikinya karena harganya yang murah. Jadi jika meluncurkan produk yang meskipun barang itu asli tetapi memiliki harga yang jauh lebih tinggi, itu akan jadi masalah. Tidak akan ada yang mau membeli meskipun barang imitasi itu sudah ditarik dari pasaran.
__ADS_1
Masalah inilah yang membuat kepala Evelyn pusing akhir-akhir ini. Ibu dua anak itu juga sering menghela napas. Bahkan saat ia sedang berada bersama keluarganya, dia tidak benar-benar ada di sana. Pikirannya melayang jauh memikirkan nasib produknya.
"Jangan terus menerus mengerutkan keningmu sayang." Sean yang menghampiri Evelyn yang sedang duduk sendiri di balkon kamar mereka sambil memijat kening istrinya yang mengkerut. Yang menunjukkan bahwa si pemilik sedang berpikir keras.
"Aku bingun Sean." Evelyn menyandarkan kepalanya di pundak Sean.
"Sekarang akhir pekan. Anak-anak menunggu di bawah untuk pergi keluar. Hari ini cuacanya cerah. Mereka mengajak kita untuk pergi ke taman hiburan." Sean membelai kepala Evelyn. Ia tahu istrinya ini sedang memiliki beban berat. Evelyn baru mengambil alih perusahaan, dan masalah sudah muncul begitu besar.
"Oh baiklah. Aku akan segera bersiap." Dengan berat mengangkat kepalanya dan berjalan masuk.
Bryan dan Berlian tersenyum senang. Mereka melihat pintu masuk area taman bermain dengan mata berbinar. Mereka sudah sangat lama tidak datang ke tempat seperti itu. Semenjak mereka tiba di Indinesia, mereka belum sekalipun datang ke taman bermain. Biasanya, Justin yang akan mengajak mereka. Tapi paman mereka itu tidak ikut ke Indonesia bersama mereka. Inilah satu-satunya alasan si kembar merindukan paman mereka yang satu itu.
Evelyn juga sudah memasang senyum di bibirnya. Anak-anaknya sangat pandai. Mereka akan tahu jika mommy mereka memiliki masalah saat melihat wajah kakunya. Tidak masalah jika hanya tahu, yang Evelyn takutkan adalah jika mereka datang membantunya. Ini bisa membahayakan keduanya. Seperti saat mereka masih tinggal di Texas.
Sean yang berdiri di sampingnya menggenggam tangannya. Beberapa kali meremas tangan itu untuk menyalurkan kekuatan pada istrinya. Keduanya tentu saja tak akan membiarkan situasi bahagia kedua bocah di depan mereka menjadi berantakan.
"Dad ayo kita antri membeli tiket!" Bryan dengan semangat menarik tangan Sean.
Awalnya Sean ingin menggunakan kekuasaanya untuk membooking taman bermain itu untuk mereka berempat saja. Tapi ketiga orang kesayangannya menolak dengan tegas. Bahkan saat Sean ingin meminta bantuan Soni untuk menyiapkan keperluan mereka selama disana pun mereka tolak. Katanya mereka ingin liburan seperti orang lain pada umumnya. Bukankah jika taman hiburan sepi itu tidak akan mengasikkan lagi?
Karena gagasannya ditolak, Sean akhirnya hanya bisa diam-diam memerintahkan Soni untuk meminta pengelola membatasi pengunjung menjadi sepertiga dari jumlah kuota yang seharusnya bisa datang.
Hoek!
Hoek!
Hoek!
Evelyn memijat tengkuk Sean dengan lembut. Pria dewasa itu mual dan muntah setelah turun dari wahana roller coaster. Kedua anak mereka malah tertawa dan sibuk mwngejek daddy mereka yang mereka anggap kalah dengan seorang gadis kecil yang sedang memandangi Sean dengan aneh.
"Kalian diamlah! Ini gara-gara kalian juga. Jika kalian tidak bisa naik bukan alasan untuk membuat daddy kalian naik kan?" omel Evelyn kesal melihat kedua anaknya terus mengejek Sean.
Awalnya keempat orang itu berniat naik wahana rokker coaster. Tapi karena tinggi badan kedua anak itu tidak memenuhi syarat kedua anak itu pun tidak bisa naik. Evelyn sudah menyarankan agar tidak perlu naik dan memilih wahana lain yang tidak terlalu ekstrem. Tapi kedua anak itu menolak dan meminta Sean dan Evelyn saja yang naik. Tapi karena tidak mungkin meninggalkan dua anak itu tanpa pengawasan, hanya Sean yang naik dan Evelyn yang menjaga kedua bocah yang sudah tertawa saat melihat Sean dibawa naik turun dengan menutup matanya.
__ADS_1
"Maaf Mom, Dad, kami benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Tapi daddy benar-benar..."
"Sudah jangan diteruskan!" sentak Evelyn membuat bibir tipis Bryan menutup seketika.
"Sebaiknya kita istirahat sebentar. Mommy tadi sudah mempersiapkan Piknik untuk kita. Ayo kita ke taman." lanjutnya setelah melihat Sean yang sudah terlihat jauh lebih baik.
Di taman, mereka segera memasang tikar mereka. Menempatkan keranjang piknik di tengahnya. Mengeluarkan beberapa makanan dan minuman dari dalam keranjang. Ada juga camilan yang tersedia di dalam.
"Sean, makanlah roti ini atau kamu akan lapar." Evelyn mendorong roti ke depan bibir Sean.
Sean menolak makanan yang ditawarkan Evelyn untuknya sebelumnya. Evelyn menjadi khawatir karena Sean baru saja mengeluarkan isi perutnya.
Akhirnya dengan enggan Sean menggigit roti yang diberikan Evelyn padanya. Namun setelah itu, ia meraih tangan Evelyn dan mendorongnya untuk segera menyuapinya.
"Eh?"
"Ini enak sayang." kata Sean saat melihat wajah Evelyn yang terlihat bingung.
"Wah daddy sudah menyukai roti ya?" Berlian juga berseru senang. Daddynya dulunya tidak menyukai kue dan roti yang manis.
"Hm. Ini enak." balas Sean sambil membuka lagi bungkus roti yang lain dan memakannya dengan senyum di bibirnya. Wajah konyol yang tadi diperlihatkan sudah tidak terlihat. Digantikan wajah Sean yang terlihat menggemaskan.
Evelyn tersenyum melihat ketiganya terlihat bahagia. Mereka menghabiskan waktu di taman bermain hingga menjelang sore hari. Banyak moment yang mereka abadikan di dalam foto dan video.
Benar-benar hari yang sempurna!
*
*
*
Terima kasih sudah mampir π
__ADS_1
Jangan lupa dukung akoh dengan cara like, vote dan komentar ea....π