Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_33. Ketahuan Johan


__ADS_3

Babak ketiga yang merupakan babak penentu berjalan membosankan bagi Berlian. Cara bermain Rezvan akan sama seperti cara bermain Bryan saat dia memiliki keinginan. Keduanya akan melakukan tujuannya dengan cepat. Sejak peluit wasit dibunyikan, Rezvan dalam sekejap akan menguasai bola dan memasukkannya ke dalam ring.


Pelatih yang bertindak sebagai wasit tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Awalnya ia berniat untuk melihat perkembangan kemampuan anak didiknya. Tetapi, Rezvan yang bukan merupakan anak basket malah menguasai bola sejak awal babak ketiga. Membiarkan para pemain seperti menjadi boneka di tengah lapangan yang sedang menganggur.


Di sisi lain, Raka dan teman-temannya tentu saja tidak bahagia. Mereka merasa dipermainkan oleh Rezvan. Apalagi Raka yang selalu bertemu dengan senyum mengejek milik Rezvan.


Melihat permainan yang membosankan, Berlian meninggalkan lapangan saat pertandingan baru setengah jalan. Ia berkata pada Clara bahwa ia ingin ke kamar mandi. Ia memang ke kamar mandi pada awalnya,  tetapi ia tidak langsung kembali ke lapangan dan memilih untuk menghabiskan waktu di kantin dan memesan satu gelas es teh manis.


Begitu berlian duduk di kantin, ia menenggelamkan dirinya dalam dunianya sendiri dimana dia akan memiliki julukan Diamond sebagai ID nya.


Organisasi Deep Line sudah satu bulan terakhir bekerja sama dengan pemerintah untuk menangkap pemilik perusahaan yang memproduksi barang-barang terlarang. Tidak disangka, setelah penyelidikan yang dalam, pelanggaran lain juga ditemukan.


Berlian tidak begitu aktif dalam organisasi. Ia hanya akan bergerak jika ada yang memintanya atau jika ia tertarik. Semua urusan ia serahkan kepada rekan-rekannya dan membiarkan mereka yang mengurus sisanya. Tugas berlian paling banyak adalah artis di belakang layar.


Satu persatu pesan dia baca. Ekspresi wajahnya berubah-ubah seiring isi pesan yang ia baca. Kebanyakan, pesan yang masuk adalah mengenai kasus yang ditangani Berlian sebelumnya.


Star Menari [Diamond, bukankah sudah aktif sejak tadi?]


Mari Berbicara  [Kenapa dia malah diam saja?]


Diamond  [Aku hanya ingin melihat ada apa saja.]


Mari Berbicara  [Diamond, mengenai kasus itu sekarang sudah bisa dikatakan selesai. Semua bukti sudah terkumpul. Pelaku juga tidak akan dapat kabur. Kami sudah memasang jebakan di beberapa tempat untuk memaksanya]


Diamond [Inilah yang aku inginkan]


Setelah mendapat apa uang diinginkan,  Berlian langsung keluar dari akunnya.


Berlian tidak menyadari berapa lama ia berada di kantin hingga ia melihat sebuah sosok berdiri di depannya.

__ADS_1


"Ada apa?" Berlian mendongak dan melihat sosok tampan dengan keringat bercucuran di tubuhnya.


"Kamu kan yang memanggil Rezvan?" Berlian menaikkan alisnya saat mendengar pertanyaan Raka. Ia tahu Raka memperhatikan jika ia sempat main mata dengan Rezvan. Tapi tidak menyangka reaksinya akan secepat ini. Ini benar-benar perkembangan yang baik. Setengah kemenangan taruhannya sudah ia genggam di tangan.


"Aku tidak mengerti." Jawab Berlian malas. Ia kembali menundukkan kepalanya menunjukkan ia tidak tertarik.


"Aku lihat, di awal pertandingan kamu sama-sama menyemangatiku. Iya tandanya kamu tertarik padaku. Kenapa tiba-tiba memanggil Rezvan? Apa karena kamu merasa aku tidak memperhatikanmu?"


Berlian semakin merajut alisnya. Kakak kelasnya ini benar-benar memiliki tingkat kenarsisan yang hampir tidak tertolong.


"Sebenarnya kamu tidak perlu khawatir. Aku telah memperhatikanmu sejak awal. Dan aku lihat kamu berbeda dan cukup menarik." Lanjut Raka. Kini kantin sudah ramai. Pertandingan sudah selesai. Tentu saja para penonton dan pemain akan merasa haus.


Melihat Raka yang terlihat berduaan bersama dengan seorang gadis, semua orang memusatkan perhatian mereka pada keduanya. Memasang telinga mereka dan beberapa mengabadikan momen itu ke dalam lensa kamera dan menyimpannya di dalam ponsel. Menunggu saat yang tepat untuk memikirkan kata-kata yang akan dirangkai bersama postingan mereka nantinya.


Berlian dan Raka ada di kantin yang sama dengan mereka. Tetapi mereka tidak berani mendekat dan mencuri dengar pembicaraan mereka. Jadi mereka hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi diantara keduanya.


"Memang benar aku yang memanggil Rezvan. Dan benar di awal aku bergabung dengan para gadis yang berdiri di pihak tim kak Raka. Tetapi, itu karena aku hanya mengikuti sahabatku Clara. Dan alasan aku memanggil Rezvan juga bukan karena aku khawatir kak Raka akan mengabaikanku. Tetapi aku ingin melihat kemampuan Rezvan yang selalu ia pamerkan padaku." Jawab Berlian panjang lebar. Raka yang mendengarnya seketika canggung dan malu.


"Aku pamit dulu kak. Mobil jemputanku sudah datang." Berlian mengambil tas ranselnya dan berdiri dari tempatnya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja seragam yang dia kenakan.


Berlian tidak lupa mengulas senyum sebelum ia benar-benar pergi dan melewati Raka dengan santai. Vivi yang sejak keluar lapangan mengikuti Raka tidak bisa untuk menggerutu kesal di tempatnya.


Berlian bertemu pandang dengannya. Bibirnya sedikit terbuka dan memberi isyarat bahwa ia telah menang sambil tersenyum mengejek gadis cantik itu.


"Vivi, bagaimana ini?" Candra memandang Vivi dengan khawatir.


"Aku akan meminta papaku untuk membantuku menyampaikan pesan pada wali kelas untuk memberinya pelajaran." Jawab Vivi mengepalkan tangannya dan pergi dari kantin.


Berlian menghela napas panjang saat ia duduk di dalam mobilnya. Johan melirik nya sebentar sebelum ia akhirnya melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Hati-hati dengan gadis bernama Vivi itu."  Ucap Johan dan membuat Berlian mendongak penuh tanya. Kenapa tiba-tiba Johan memperingatkannya?


"Hm..."


"Dia anak seorang pengusaha. Dan sekaligus politikus. Dialah pasti telah mempelajari banyak trik untuk dimainkan." Johan melirik Berlian yang tampak malas.


"Aku tahu. Kenapa kak Johan tiba-tiba memberitahu hal ini? Apa kak Johan semata-mataiku selama ini?"


"Sejak kejadian terakhir, aku tidak mau kecolongan lagi. Jadi aku memeriksa setiap detail mengenai gadis ini. Dia licik. Apalagi tangan kanannya itu lho...


"Ooh.. Tidak masalah. Dia memang licik. Tetapi, menghadapi gadis seperti itu, aku ini lebih licik dan berperut hitam. Aku tidak akan membiarkan diriku mengalami sedikitpun kerugian." Jawab Berlian yakin. Tetapi Johan hanya mencibir nya.


"Benarkah? Kenapa aku tidak melihat itu?" Berlian tidak mengerti apa yang dimaksud Johan. Dia negarawan dirinya tidak merasa rugi sama sekali.


"Dengan membuat taruhan dengan Vivi. Apa itu tidak merasa membuatmu rugi?" Berlian mulai paham. Ucapan dimana dirinya dirugikan adalah fakta bahwa ia telah menyetujui sebuah taruhan yang konyol hanya untuk membuat Vivi tidak mengganggunya.


"Aku..."


"Kak Johan.... Bagaimana kamu bisa tahu?"


Faktanya, Johan telah menyelinap ke dalam sekolah. Ia bahkan mendengar sendiri bagaimana taruhan itu dibuat. Dan dengan telinganya yang sangat sensitif, ia bisa mendengar apa yang dibisikkan Clara pada Berlian.


Awalnya, Johan ingin memaksa Berlian untuk pulang daripada ia harus menarik perhatian pria lain. Tetapi saat ia kemudian menyadari niat Berlian, ia sedikit lebih tenang  meskipun ia sebenarnya tidak ingin melihat Berlian didekati Raka.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~


__ADS_2