
Kecanggungan menyita di antara Daniel dan Berlian sementara waktu. Meskipun Daniel sudah bisa menerima yang kenyataan, namun situasi tidak bisa mengabaikan hal-hal di masa lalu dan membuat keduanya merasa canggung untuk beberapa alasan. Terutama Berlian.
Berlian sudah merasa ada yang aneh saat mendapati Daniel yang tidak lagi berkeliaran di sisinya sejak ia kembali masuk ke sekolah. Tapi ia tidak memiliki kesempatan untuk bertanya. Lagipula dia juga tidak tahu bagaimana ia harus bertanya pada Daniel mengenai perubahan sikapnya. Atau ini akan memalukan. Sekarang setelah semuanya, Daniel yang sudah lama tidak ditemuinya yang dulu pernah ia hindari seperti sebuah noda yang malah datang membantunya saat ia benar-benar tidak tahu harus mengandalkan siapa. Perasaan bersalah muncul di hatinya.
Namun dia bisa apa? Cinta tidak dapat dipaksakan.
Setelah beberapa saat, Daniel berdehem dan mengajaknya untuk pulang. Berlian menyetujuinya. Johan juga sudah berangkat dan dia sudah bersedia untuk menunggu pria itu. Jadi tidak ada yang bisa ia lakukan lagi di tempat ini.
Baru saja mereka berbalik, suara-suara pertengkaran kecil yang familiar terdengar.
Rezvan dan Clara terlihat acak-acakan. Seragam mereka lusuh dengan banyak debu yang menempel. Wajah Clara yang terbiasa tampak cantik, lembut, terawat dan glowing tampak lusuh. Belum lagi rambut sebahunya yang lepek karena keringat. Penampilan Rezvan bahkan lebih buruk darinya. Di pipinya, meskipun sudah berusaha untuk menghapusnya nyatanya noda hitam karena oli tidak mudah dihilangkan. Noda hitam itu menodai beberapa tempat di wajah Rezvan.
Daniel dan Berlian saling memandang melihat keduanya yang masih saja berdebat tanpa menghiraukan diri mereka menjadi pusat perhatian.
"Apa yang terjadi pada kalian?" Suara Berlian menghentikan pertengkaran kecil keduanya.
"Brily... Rezvan menggertakku." Clara menatap Berlian dan berlari menggelayut di lengannya. Ekspresinya seperti ia baru saja mengalami kesedihan yang mendalam. Berlian hanya meliriknya sebentar sebelum ia menanyakan yang terjadi pada Rezvan yang terlihat lebih masuk akal.
"Kalian terkena badai di mana?" Daniel mengangkat alisnya saat ia menatap keduanya dengan aneh.
"Clara menyeretku datang ke sini dan di tengah perjalanan ban motorku tiba-tiba saja bocor." Jawab Rezvan.
"Hei itu bahkan belum sampai tengah perjalanan. Motor bututmu itu sudah waktunya masuk museum! Kalau bukan karena ban motor jelekmu itu meledak, aku tidak akan pernah mengalami kemalangan itu!" Teriak Clara tidak terima. Selama hidupnya, ia tidak pernah menaiki motor sebelumnya. Ini adalah pengalaman pertamanya. Dan dia harus merasakan beratnya mendorong motor sport Rezvan yang besar di bawah panas matahari yang mulai menyengat.
Keduanya berdebat sepanjang perjalanan. Clara tentu saja enggan untuk membantu mendorong motor pada awalnya. Tapi Rezvan memaksanya untuk melakukannya. Mereka berada cukup jauh dari tukang tambal ban. Beberapa kali Clara meminta pada Rezvan untuk beristirahat. Pada akhirnya Rezvan membebaskan Clara dari tugas mendorong motor. Tapi gadis itu masih saja mengeluh dan menggerutu di sepanjang jalan. Akhirnya Rezvan hanya bisa menganggap bahwa ia tidak mendengar apa-apa dan fokus untuk mendorong motornya.
"Motor siapa yang kamu bilang butut hah?" Rezvan tidak terima. Sejak ban motornya bocor, Clara terus saja menyebut motornya yang butut dan jelek. Padahal motornya adalah motor yang sudah dimodifikasi. Biaya yang dihabiskannya untuk memodifikasi motornya itu menghabiskan biaya yang setara untuk membeli mobil yang umum dipakai di masyarakat. Jadi bagaimana bisa motornya ini disebut motor butut hanya gara-gara ban bocor yang sudah memang biasa terjadi pada motor.
"Motor kamu lah. Motor butut!" Clara mencibir. Melotot mengejek Rezvan.
Rezvan hendak membuka mulutnya. Tetapi Berlian segera menghentikan perdebatan unfaedah mereka berdua.
__ADS_1
"Sudahlah Van."
"Tapi dia..." Rezvan segera berhenti setelah melihat tatapan mata Berlian yang mengintimidasi.
"Baiklah. Kali ini aku tidak akan beri pelajaran. Tapi awas kalau sekali lagi mengatai motorku. Aku akan...."
"Akan apa? Akan apa?" Clara yang merasa dibela tersenyum mengejek. Ia membalas tatapan Rezvan yang jelas sedang memperingatkanya.
"Kalian berdua cukup." Ucap Berlian dengan suara teredam. Rezvan menelan kembali kata-kata yang hampir ia muntahkan. Clara juga menyusut kembali dan meringkuk di samping Berlian. Namun keduanya masih saling menatap dengan tajam. Berlian memandang keduanya bergantian dan menggelengkan kepalanya. Kenapa Rezvan seorang cenderung seperti Clara yang kekanak-kanakan?
"Ehem. Sekarang lebih baik kita pulang. Lagipula jika kita kembali ke sekolah gerbang juga sudah ditutup." Ucap Daniel menggosok hidungnya yang tidak gatal.
"Oh benar! Bagaimana? Apa kamu bertemu kak Johan?" Clara seakan diingatkan mengapa mereka sampai di tempat itu. Ia segera melepaskan tangannya dari Berlian dan bertanya dengan antusias.
"Ya."
"Dimana dia?"
"Dia sudah pergi." Berlian menggigit bibirnya. Raut kesedihan tergambar begitu jelas di wajah cantiknya.
"Hem..." Berlian hanya mengangguk untuk menanggapi. Namun tangannya tidak sadar telah meremas satu dengan yang lainnya saat rona merah mulai menyebar di wajahnya.
Melihat wajah malu-malu Berlian, Rezvan menilik ada yang aneh dengan ini. Berlian jarang memiliki banyak wajah pada hati biasa. Dan raut wajah yang memerah ini jelas bukan karena marah. Namun dapat dipastikan itu Karena dia malu. Jadi, wajah Berlian benar-benar memerah karena malu!
"Huh! Bukankah lebih dari berbaikan? Lihat wajah merahmu itu! Apa kamu berniat menyembunyikan sesuatu sahabatmu lagi?" Daniel mengejek Berlian yang pada akhirnya sampai saat ini Berlian bahkan masih menyembunyikan fakta tentang hubungannya dengan Johan.
Diingatkan dengan ini, Berlian sedikit tersentak. Ia mengangkat wajahnya dan memandang Clara dengan hati-hati.
"Maafkan aku sebelumnya Cla. Aku benar-benar tidak berniat menyembunyikan semuanya darimu. Aku hanya tidak tahu bagaimana aku bisa menceritakan hal ini padamu. Aku takut persahabatan kita akan bermasalah karenanya."
"Gadis konyol! Apa aku seperti itu di matamu?" Ucap Clara sedikit marah. Ia memelototi Berlian dengan ganas. "Apa kamu pikir aku ingin ikut orang yang akan merusak persahabatan yang sudah berjalan baik selama bertahun-tahun hanya gara-gara masalah sepele seperti ini? Huh!" Clara mendengus. Namun wajahnya tampak seperti baru saja dikecewakan dengan sangat dalam. Orang akan merasa kasihan dalam sekali pandang saat melihat raut wajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih. Terima kasih atas semuanya."
"Tidak masalah. Jadi, apa yang terjadi sebelumnya?" Clara yang menyedihkan beberapa saat yang kaku telah menghilang sepenuhnya. Yang tersisa saat berikutnya adalah Clara yang antusias untuk mengumpulkan gosip saat dia kembali memegang lengan Berlian dengan posesif seperti itu takut sumber berita utamanya akan melarikan diri jika dia melepaskan tangannya darinya.
Berlian menatap Clara tanpa daya. Meskipun Clara biasanya suka bergosip dengan teman sekelasya, tapi dia mengerti memilah berita mana yang bisa disebarkan dan mana yang tidak perlu disebarkan. Clara memahaminya dengan baik. Jadi dia mengambil napas sebelum ia menjelaskan situasinya pasar Berlian.
"Dia pergi. Tapi dia memintaku untuk menunggunya kembali." Cerita yang panjang berhasil di ringkas. Itu singkat, padat dan jelas.
Clara mengangguk mengerti lalu tatapan nya menemukan sesuatu yang baru di leher temannya. Berlian tidak menyukai hal-hal semacam itu sebelumnya, dan Clara tahu dengan pasti. Jadi saat dia melihat kalung putih tipis yang terjatuh di leher itu, dia yakin kalung itu adalah pemberian dari Johan. Tidak heran Berlian mau memakainya.
"Itu bagus." Clara mengangguk sekali lagi dan tidak berniat untuk mengeksposnya. Ia hanya tersenyum samar melihat kalung yang berkilau itu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan ย Vote ya....
Akoh mau curhat dikit...
Entah kenapa beberapa hari terakhir akoh merasa gelisah. Perasaan yang tidak nyaman membuat pikiran sulit dibuat konsentrasi. Sepertinya akan ada hal buruk yang terjadi.
Firasat akoh benar. Kucing kesayangan akoh yang akoh rawat sejak masih bayi pagi ini mati kena racun tikus. Hiks Hiks๐ข๐ญ
Akoh mau pesen Buat semua orang, kalau kalian memang tidak tahan dengan banyaknya tikus di rumah dan enggan memelihara kucing, tolong kalau buang bangkainya jangan sembarangan. Juga pastikan tidak ada bangkai yang tidak ditemukan. Selain agar tidak bau saat bangkai itu membusuk, juga mencegah bangkai beracun itu dimakan hewan lain.
Mungkin bagi sebagian orang binatang peliharaan yang sepele seperti kucing tidak berarti apa-apa, tapi bagi orang lain tidak menutup kemungkinan akan memiliki arti yang lebih bermakna.
__ADS_1
Contohnya akoh, bagi akoh dan keluarga, kucing kami seperti adik kecil kami yang kami sayangi dengan sepenuh hati. Kalau dia terluka dan sakit, kami juga akan bersedih. Terlebih kalau mati dengan mengenaskan karena keracunan. Kami sangat bersedih dan merasa kehilangan.
So please bijaklah dalam berbuat. ๐๐๐