Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_26. Ada Masalah dengan Aspradia


__ADS_3

Dari tempat latihan terdengar keributan. Para gadis berteriak ketakutan saat seekor kuda terlepas dan berlari tak tentu arah. Entah apa yang terjadi pada kuda itu, tetapi kuda itu terlihat sangat agresif. Seorang joki senior mengejarnya. Sambil berteriak memanggil nama kuda tersebut.


Kuda yang sejak awal berada di dalam kandang berbeda tiba-tiba terlepas entah bagaimana dan berlari seperti kuda gilang yang mengamuk. Kejadian begitu cepat. Keadaan yang tadinya kondusif dalam sekejap mata berubah menjadi mencekam.


"Aspradia!" Teriak joki itu sambil terus mengejar. Semua orang segera menyingkir dari lokasi.


Di tempatnya, pandangan Berlian menggelap. Aspradia adalah kuda miliknya yang merupakan keturunan langsung dari Betty. Karena kuda Berlian sebelumnya sudah mati, Evelyn memberikannya padanya. Dia mengenalnya sejak kecil. Dan dia tentu saja menyayangi kuda putih itu. Aspradia tidak pernah seagresif itu sebelumnya. Kuda itu memang sulit didekati, tetapi dia akan lebih suka menghindar jika dia tidak menyukai orang yang mendekatinya. Tetapi hari ini kuda putih yang elegan itu bertindak sangat aneh. Berlian tahu ada yang sengaja membuat Aspradia menjadi seperti itu.


Jika hal ini terus dibiarkan, Aspradia bisa membahayakan bukan hanya bagi orang lain, tetapi dirinya sendiri. Jadi mau tidak mau dia harus bertindak.


Berlian dengan tenang berjalan memasuki arena. Mengabaikan teriakan peringatan yang diberikan orang lain padanya. Di sini, dialah yang paling dekat dengan Aspradia. Dia harus menolongnya.


Berdiri di depan jalur Aspradia yang berlari kencang sambil meringkuk dengan keras, Berlian mengangkat kedua tangannya. Matanya menatapnya itu dengan tajam. Pandangannya terlihat gelap dan dingin. Tapi ada kekhawatiran yang terpancar darinya.


Clara dan Rezvan segera bergegas mendekat dan mendapati Berlian menatap tanggal bahaya. Clara tidak bisa hanya diam menyaksikan. Dia hendak berlari dan menarik Berlian dari sana. Tetapi Rezvan menahan tangannya.


"Lepaskan aku Van! Bahaya jika Brily tetap berdiri di sana! Aku harus menariknya keluar." Clara mencoba menghempaskan tangan Rezvan yang menahannya.


"Jangan bertindak bodoh! Kamu tahu di sana bahaya dan tetap mau pergi?" Rezvan menatap Clara dengan galak.


"Brily temanku. Aku tidak bisa membiarkannya dalam bahaya." Clara terus meronta. Menarik tangannya yang ditahan Rezvan hingga pergelangan tangannya memerah sakit.


"Kalau kamu temannya, seharusnya kamu tahu bagaimana dia kan? Brily tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak dia yakini." Mendengar perkataan Rezvan, Clara berhenti meronta dan menoleh pada Rezvan. Menatap mata Rezvan yang penuh waspada.


"Tapi Brily..." Clara hendak meronta lagi. Tetapi Rezvan mengencangkan genggaman tangannya.


"Percayalah pada Brily. Jika kamu ke sana, kamu tidak bisa membantu dan malah akan menambah beban untuknya." Rezvan menatap Clara dengan intimidasi.


Menyadari apa yang dikatakan Rezvan adalah sebuah kebenaran membuat Clara akhirnya diam. Jadi dia dengan tenang menoleh pada Berlian yang masih berdiri dengan tenang sementara Aspradia terus berlari mendekat. Tidak.bisa dipungkiri jika dirinya merasa takut sesuatu akan terjadi pada Berlian. Meskipun dia pandai bergaul, tetapi hanya Berlian lah yang bisa mengerti dia. Baginya, Berlian adalah sahabat terbaiknya.


Hati Clara semakin takut saat Aspradia hanya tinggal beberapa meter dari Berlian. Rezvan yang masih tidak melepaskan tangannya justru mengencangkan tangannya. Namun kali ini Clara merasa jika Rezvan sedang berusaha memenangkannya. Jadi dia menoleh dan mendapati Rezvan mengangguk padanya. Pandangan matanya seperti mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Clara mau tidak mau menghela napas dan mulai berdoa.


Semua yang ada di lokasi tidak ada yang merasa tenang. Jantung mereka berpacaran dengan kencang. Para guru khawatir. Para siswa juga takut. Sedangkan para karyawan peternakan juga khawatir sekaligus takut. Kejadian ini benar-benar di luar kendali.

__ADS_1


"Look at me Aspradia!" Suara Berlian terterdengar dalam. Tangannya telulur saat kuda betina itu mendekat.


Tidak ada yang menduga bahwa pandangan mata kuda yang tadinya nyalanya tak bernyawa seketika menjadi begitu menyedihkan. Ada air mata di sekitar matanya begitu mata kuda itu bertemu dengan mata Berlian yang penuh kekhawatiran.


Semua orang menahan napas saat jarak antara manusia dan kuda itu semakin menipis. Apalagi saat kuda itu semakin terlihat berlari dengan kencang demi mereka melihat bahwa kuda Itu tiba-tiba berhenti tepat di depan Berlian dan mengulurkan kepalanya. Meraih tangan Berlian yang mengelus surainya dengan lembut.


"Apa yang terjadi padamu Aspradia?" Berlian bertanya pada aspradia seperti kuda itu mengerti bahasanya. Kuda itu menggelengkan kepalanya. Memberitahu bahwa kuda itu merasa tidak nyaman.


"Nona." Joki yang dari tadi berusaha mengejar aspradia sampai di tepat Berlian dan mendapati kuda itu sudah tenang di tangan pemiliknya.


Berlian menoleh padanya. "Apa yang terjadi padanya?"


"Saya tidak tahu nona. Tadi baik-baik saja. Kami tidak tahu kenapa Aspradia bisa seperti ini." Joki itu menundukkan kepalaanya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kuda kesayangan Berlian dengan baik.


Semua orang tidak ada yang mengerti. Mereka menatap Berlian yang menuntun kuda itu pergi diikuti joki di belakangnya.


"Mohon maaf sebelumnya atas kejadian Yang tidak terduga. Kuda ini tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya. Tetapi kami menjamin tidak akan ada kejadian seperti ini lagi." Ucap seorang joki mengambil alih keadaan.


"Keadaan sudah terkendali. Kegiatan kita sebaiknya kita lanjutkan."


"Tolong periksa dia. Aku yakin ada sesuatu yang salah padanya." Berlian mengikat tali Aspradia sebelum ia berdiri agak jauh. Memberi ruang bebas bagi Dokter untuk memeriksa.


"Baik nona." Dokter itu mengangguk dan mulai pemeriksaannya.


Hati Berlian sakit saat melihat kondisi kuda itu. Berlian tahunku itu merasakan sakit. Apalagi mata yang biasanya menatapnya tajam dan penuh semangat kini yang tertinggal hanyalah bayangan air mata. Dia tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti Aspradia lolos begitu saja.


Berlian mengambil ponselnya. "Kak, tolong pergi ke peternakan." Ucap Berlian saat ia mendengar suara seseorang  di seberang sana.


"Ada apa?"


"Ada orang yang mencelakai Aspradia."


"Apa? Bagaimana mungkin?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Tolong bantu aku menyelidiki nya."


"Baik."


Berlian menutup teleponnya. Di kantor Sean, Johan yang baru saja melaporkan sesuatu pada Sean terdiam beberapa saat.


"Ada apa Johan?" Tanya Sean yang heran melihat Johan.


"Berlian memintaku pergi ke peternakan." Jawab Johan.


"Ada apa? Aku mengirimnya ke sana. Dia sudah meminta pergi ke sana sejak lama. Tetapi kita sedang sibuk di sini. Dan aku tidak bisa membiarkannya pergi sendiri. Jadi aku meminta sekolahan untuk mengadakan study tour di sana."


"Sesuatu terjadi pada Aspradia. Berlian curiga ada seseorang yang sengaja mencelakai nya. Jadi dia memintaku untuk datang menolong."


"Pergilah. Aspradia adalah kuda kesayangannya. Jadi dia pasti tidak akan diam saja jika kuda itu dilukai."


"Benar. Kalau begitu saya akan segera ke sana." Johan mengangguk setuju.


"Pergilah. Bantu dia dan menangkan hatinya. Hahahaha." Sean berdiri dsn menepuk pundaknya Johan.


"Terima kasih tuan." Johan sekali lagi mengangguk sebelum ia berbalik dan keluar dari kantor Sean.


"Sepertinya Berlian mulai percaya pada Johan hingga dia mulai sedikit menunjukkan kelemahan dirinya padanya. Aku berharap aku tidak salah menjodohkan mereka." Sean menghela napas.


Sean tahu betul siapa Johan dan statusnya dalam keluarga. Jalan Johan di masa depan tidak akan mudah. Tetapi ia percaya pada kemampuan pemuda itu. Dengan kegigihan yang dimilikinya, ia yakin Johan mampu.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~>(*,*)<~

__ADS_1


Siapa yang kangen sama Johan?


__ADS_2