Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_80. Dilarang Masuk


__ADS_3

Johan tinggal di hotel ketika ia mengurus hal-hal bersama dengan Bryan. Berlian bahkan belum bertemu dengannya karena kesibukan Johan. Pria itu membantu Bryan karena ia jelas lebih profesional dibandingkan dengan Bryan. Apalagi Johan adalah murid Sean sehingga cara kerja dan pemikiran Johan sama cepat dan tepatnya dengan Sean. Dengan adanya Johan juga menguatkan posisi Bryan di perusahaan yang masih rentan menimbulkan perdebatan.


Pagi itu Johan datang pagi-pagi sekali sebelum Berlian pergi ke kampus untuk bertemu dengannya. Malam harinya ia sudah harus kembali karena pekerjaan yang ia miliki juga tidak bisa ia tinggalkan terlalu lama. Lagipula segala sesuatu mengenai pemindahan kepemilikan perusahaan milik Hardi juga sudah selesai.


Johan mengetuk pintu tiga kali sbelum pintu itu terbuka.


"Tuan Johan." Pelayan yang membukakan pintu untuk Johan segera mengenalinya. Ia adalah kepala pelayan di keluarga. Jadi dia mengetahui identitas sebenarnya dari Johan. Panggilan untuknya pun secara otomatis berubah.


"Hem." Johan mengangguk.


"Nona Berlian dan semuanya ada di ruang makan." Pelayan itu berkata dengan hormat.


"Ya. Aku akan ke sana." Pelayan itu segera mundur dan memberi jalan untuk Johan masuk ke dalam rumah.


Laura adalah orang yang pertama melihat Johan datang. Ia segera berdiri dan tersenyum menyambut pria muda yang dia ketahui sebagai calon cucu menantu masa depannya. Laura juga sudah bertemu beberapa kali dengannya setelah kematian putri dan menantunya. Dia juga telah melihat karakter Johan dan menyukainya.


Maxim juga tidak mengatakan keberatannya dan mengatakan bahwa pilihan Sean 'tidak buruk'. Standar Maxim cukup tinggi. Untuk mendapatkan pujian dariya harus memiliki cukup usaha untuk melakukannya. Jadi saat Laura mendengar suaminya memuji calon cucu menantunya ia sangat senang.


"Nak Johan datang dan duduk di sini." Semua orang di meja makan segera menengok dan melihat Johan yang perlahan mendekat.


"Tuan Maxim, nyonya.." Johan membungkuk kan badannya saat ia sudah dekat.


"Panggil aku nenek. Seperti Berlian. Oke." Johan belum selesai menyapanya dan Laura sudah memotong nya


"Iya nenek."


"Bagus-bagus. Kita akan menjadi keluarga cepat atau lambat. Tidak perlu terlalu formal. Kamu datang pagi-pagi sekali kemari. Pasti belum sarapan kan? Ayo-ayo duduk di samping Brily." Laura menunjuk kursi di samping Berlian melirik nya. "Sayang layani nak Johan dengan baik."


"Baik nenek." Berlian yang sejak tadi hanya memperhatikan pertukaran mereka segera melihat Johan yang duduk di sebelahnya. Ia segera mengambil piring di sana dan dengan hati-hati mengambil nasi dan lauk untuknya.

__ADS_1


Johan duduk di kursi yang ditunjuk Laura untuknya. Ia memperhatikan Berlian yang dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk untuknya. Semua yang dipilihkan Berlian adalah semua jenis makanan kesukaannya yang ada di meja meskipun pada dasarnya ia tidak pilih-pilih makanan. Perasaannya menghangat. Meskipun ia dan Berlian tidak banyak bertemu beberapa tahun terakhir, tetapi setiap pertemuan mereka meninggalkan kesan pada keduanya.


Semua orang makan dengan tenang setelah itu. Semua orang yang duduk di kursi hanya hampir semuanya adalah tipe orang yang sedikit bicara. Bryan yang biasanya ramai kini memiliki kebiasaan baru saat sarapan. Membaca koran pagi dengan serius untuk memperhatikan perkembangan terbaru dalam dunia bisnis. Maxim juga melakukan hal yang sama. Laura cemberut melihat pasangan kakek dan cucu laki-laki di sekitarnya.


Di masa lalu ia memiliki Bryan bersamanya. Sekarang ia merasa bahwa cucunya yang ceria sudah direnggut paksa darinya. Dia melirik dua kursi di sampingnya dan menemukan bahwa Berlian dan Johan juga dengan tenang makan dan duduk di sampingnya. Mereka hanya fokus pada makanan di depan mereka.


Laura menghela napas. 'Oh Tuhan... sebenarnya apa yang aku lakukan di kehidupan sebelumnya? Apakah aku telah menggali lubang di kutub Utara dan membuat dunia marah sehingga keluargaku saat ini begitu hening seperti tinggal di pedalaman kutub Utara?' Ratap Laura dalam hatinya. Ia menggigit sendoknya dengan marah.


"Nenek ada apa?" Berlian yang duduk di sampingnya merasa neneknya dalam hati yang tidak baik.


Laura menoleh dan bertemu dengan wajah khawatir Berlian meskipun hanya terlihat samar di wajahnya yang memang selalu tampak kaku. Lagi-lagi menghela napas dan meyakinkan hati bahwa yang terpenting adalah keluarganya bahagia. "Tidak apa-apa nak. Nenek hanya merasa makanan pagi ini menjadi Menjadi lebih lezat." Laura dengan cepat memasang senyumnya."


"Ooh... baiklah kalau begitu." Laura mengangguk dan kembali menenggelamkan dirinya ke dalam piring makanannya. Memakan mereka dengan cepat.


"Aku sudah selesai. Aku berangkat dulu." Bryan meletakkan koran di tangannya sebelum ia berdiri dan menoleh pada Johan.


"Kak Johan apa hari ini kakak masih akan pergi ke perusahaan? Kalau ya apa kita bisa berangkat bersama?"


"Oh oke kalau begitu aku berangkat dulu. Kek, nek aku berangkat." Bryan menatap Maxim dan Laura bergantian sebelum ia berbalik dan pergi meninggalkan meja makan Dengan tas kerja dan jas di tangannya.


"Aku juga selesai." Berlian mengelap bibirnya dengan tisu lalu membuangnya.


"Aku akan mengantarmu pergi hari ini." Johan yang juga sudah selesai berdiri dan memandang Berlian penuh arti.


"Baiklah. Aku ganti baju dulu." Berlian mengangguk. Ia tidak ada pelajaran pagi ini. Jadi dia berniat untuk tinggal di mansion sambil menunggu pelajaran setelah makan siang. Jadi ia memakai baju santai saat ia turun. Tapi setelah mendengar bahwa Johan akan segera kembali, ia harus menghabiskan waktu dengan kekasihnya yang sudah lama tidak ia harus temui.


Mendengar perkataan Berlian, Johan kembali duduk di tempatnya sambil mengobrol dengan Laura dan Maxim yang sesekali menimpali mereka.


Berlian turun setelah ia mengganti pakaian santainya dengan cardigan putih dengan celana Jeans. Rambutnya seperti biasa ia gerai tapi saat ini memiliki jepit berhiaskan mutiara menghiasi rambutnya yang indah. Setelah ia resmi menjadi kekasih Johan, Berlian secara bertahap mulai mengubah penampilannya. Bukan karena takut Johan akan berpaling. Tapi itu hanya karena ia tidak mau suatu saat nanti membuat malu jika penampilannya yang terlalu sederhana dan polos. Ia bahkan sudah mulai mengganti sepatu flat yang biasa ia pakai dengan highhills rendah seperti mahasiswi lain saat mereka pergi ke kampus.

__ADS_1


Johan segera bediri dan tersenyum melihat Berlian yang tampak segar yang sedang menuruni tangga. Wajahnya yang disapu dengan bedak tipis dan bibir lembab warna pink itu membuatnya terlihat semakin cantik. Berlangsung segera turun dan berdiri di samping Johan.


"Kakek, nenek Kami berangkat dulu." Berlian berpamitan atas nama Johan dan dirinya. Maxim dan Laura sudah selesai sarapan tetapi masih menghabiskan waktu bersantai di sana ssambil menemani Johan.


"Ya ya ya. Kalian berdua hati-hati di jalan." Laura menyahut dengan bersemangat. Matanya berbinar penuh kebahagiaan. Ia melihat pasangan serasi yang penuh kasih itu di depannya. Merasa puas.


Di tempat lain kekacauan sedang terjadi. Ferry yang hendak masuk ke dalam perusahaan diblokir dan dilarang masuk. Dia sangat marah. Bagaimana mungkin ia sebagai pemimpin di perusahaan, ternyata pihak keamanan melarangnya masuk. Ini benar-benar tidak masuk akal! Bukankah kemarin masih baik-baik saja? Perubahan ini terlalu cepat!


"Apa kalian sudah buta? Lihat siapa yang ada di depan kalian ini!" Teriak nya marah saat dua orang security mendorongnya hingga membuatnya hampir jatuh. Beberapa security di sekitar hanya menonton keributan dengan tenang.


"Mohon maaf. Ini adalah perintah khusus dari presdir kami bahwa Anda dilarang masuk."


"Presdir apa? Apa kalian tidak lihat akulah presdir kalian? Presdir mana lagi yang kalian maksudkan?" Ferry semakin baik pitam. Lelucon macam apa ini!


"Maaf ini perintah. Silahkan anda kembali." FerrFerry menatap dengan marah Dua orang security yang sama seperti yang biasa menyambutnya setiap dia keluar dari dalam mobil. Namun wajahnya keduanya jelas tidak menunjukkan rasa hormat seperti kemarin yang penuh dengan pemujaan. Itu sepenuhnya penuh dengan ejekan.


"Aku akan kembali. Tunggu dan lihat saat aku kembali dan kalian semua akan kehilangan pekerjaan kalian!" Teriak Ferry dengan kesal. Ia menunjuk semua tim security dan melihatnya penuh ejekan saat ia pergi dan masuk ke dalam mobil nya.


"Huh untung saja dia turun tahta dengan cepat. Sebagai pemimpin ia terlalu sombong dan arogan." Salah satu security memandang mobil Ferry yang perlahan menjauh.


"Sekarang bisa berbicara seperti itu. Aku masih ingat Siapa nyangka sejak dia resmi jadi pewaris selalu mencoba menjilati solat sepatunya?" Temannya mencibir. Manusia memang seperti itu. Setiap bawahan akan mencoba menyenangkan atasanya meskipun mengetahui jika atasannya bermasalah. Tetapi begitu orang itu jatuh, dia akan diinjak tanpa mengingat pemujaan nya sebelumnya.


"Diam lah."


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2