Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_55. Keyakinan Daniel


__ADS_3

Daniel menghabiskan sisa hari itu dengan memikirkan perkataan Bryan padanya di pagi hari. Sebelumnya dia begitu yakin jika dia mencintai Berlian seperti yang selalu dia ucapkan. Jika dia tidak mencintai Berlian, dia tidak mungkin terus memikirkan gadis kecil yang dingin itu hingga sekarang. Juga, dia tidak akan mati-matian membujuk papanya untuk membiarkannya kembali saat ia berhasil menemukan informasi mengenai Berlian.


Semua keluarganya sudah pindah ke luar negeri. Dia hanya tinggal seorang diri di tempat ini. Jika bukan karena cinta, untuk apa dia melakukan hingga seperti ini?


Daniel meremas kaleng kosong minuman sodanya dan melemparnya tepat masuk ke dalam tong sampah di bawah pohon. Saat ini dia neraka di tangga menuju ke lantai dua. Berdiri bersandar pada pembatas yang menghadap ke luar. Randy yang berdiri di sampingnya menggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah melihat Daniel begitu kacau seperti sekarang. Sejak tadi yang Daniel lakukan hanya melamun.


"Kenapa kamu hari ini? Tidak menemui Berlianmu itu?" Randy bertanya saat melihat Daniel menghela napas untuk ke sekian kali.


"Aku sedang tidak ingin melihatnya." Jawab Daniel. Dia memejamkan matanya lagu untuk berpikir.


"Kenapa? Apa karena pemuda yang mengantar nya hari ini?"


"Ya." Daniel mengangguk. Daniel membenarkan. Dia memang seperti ini karena perkataan Bryan hari ini.


"Hehehe. Sepertinya kamu salah orang. Dia adalah saudara kembarnya. Yang harus kamu khawatirkan justru pria tampan yang menjadi sopir nya selama ini." Randy salah paham. Ia mengira Daniel cemburu pada Bryan. Jadi dia mengutarakan masalah Johan padanya. Meskipun Sudah lama tidak ada gosip lagi mengenai Berlian dan Johan, berita terakhir kali saat Johan datang membawa pulang Berlian saat itu membuatnya yakin bahwa hubungan antara Berlian dan Johan tidak sesederhana bawahan dan majikan. Apalagi saat itu Johan mengenakan pakaian formal yang tidak menunjukkan dia adalah seorang sopir.


"Sopir apa?" Daniel terkejut. Ia tidak pernah mendengar hal ini. Lebih tepatnya dia tidak pernah mau memperhatikan. Baginya itu tidak penting. Beberapa saat lalu memang ramai orang-orang membicarakan Berlian yang dibawa pulang oleh sopir nya.  Tetapi dia tidak mengira hal ini ternyata cukup serius.


"Sopir Berlian. Bukankah kamu tahu sopir Berlian itu cukup tampan? Bahkan lebih tampan dari pria di sini. Kalau masalah orang yang mengantar Berlian pagi ini, dia kemarin juga menjemput Berlian dan dia mengatakan bahwa dia adalah saudara kembarnya. Aku tidak menyangka Berlian memiliki saudara kembar. Dan dia bahkan juga tampan."


"Kalau dia aku tahu. Dia musuh bebuyutanku." Daniel mencibir.


Sejak kecil ia sudah dibandingkan dengan Bryan. Mulai dari penampilan dan kemampuan. Keduanya berasal dari keluarga yang tidak bisa diremehkan. Juga merupakan pewaris keluarga itu di masa depan. Jadi semua orang akan mulai membandingkan keduanya jika melihat mereka bersama. Dan yang membuat Daniel selalu kesal adalah karena dia memiliki nilai yang selalu berada satu tingkat di bawah Bryan.


"Benar juga. Kamu sudah mengenal Berlian sejak TK." Randy menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong apa kamu sudah mengajak Berlian datang ke promnite bulan depan?" Daniel menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya akan menanyakan hal ini pada Berlian hari ini. Tetapi karena pertanyaan Bryan yang mengganggu pikirannya, ia melupakan hal ini.


"Bagaimana bisa? Kamu tahu kan Berlian itu cukup terkenal meskipun dia cuek. Akan banyak yang akan mengajaknya pergi bersama. Belum lagi Raka itu. Jangan sampai kalah Start." Randy memandang Daniel yang masih linglung di tempatnya.


"Aku tahu. Aku kembali ke kelas dulu."  Daniel berbalik dan berjalan menaiki tangga. Kelasnya di lantai dua. Tepat di sebelah kelas Berlian. Jadi saat ia hendak ke kelasnya, ia akan melewati kelasnya.


Daniel tanpa sadar melihat ke dalam kelas Berlian dan melihat Berlian yang sedang duduk sambil membaca buku di bangkunya. Di sampingnya Clara sedang bercanda dengan teman perempuan lain. Juga Rezvan yang tidur di bangku di depan Berlian.


Merasa ada yang mengawasi, Berlian mendongak dan pandangannya bertemu dengan Daniel. Berlian mendengus kesal. Ia sudah senang hari ini Daniel tidak mengganggunya. Ia sudah akan bertanya pada Bryan apa yang dia lakukan hingga Daniel tidak mengganggunya seharian itu. Hatinya yang baik mendung seketika saat melihat wajah Daniel yang tersenyum padanya seperti biasanya.


Melihat tatapan Berlian padanya, Daniel semakin tersenyum cerah. Kini ia yakin bahwa ia memang menyukai Berlian seperti yang dia yakini. Ia sangat menyukai Berlian. Meskipun gadis itu selalu jutek padanya, tidak pernah memperlakukannya dengan baik, itu tidak apa-apa selama ia masih dibiarkan untuk berada di sampingnya.


"Aku tahu sekarang. Aku akan memperjuangkan cintaku ini apapun yang terjadi. Kali ini aku tidak akan membiarkan Bryan menghalangi ku lagi." Daniel mengepalkan tangannya sebelum berbalik dan berjalan ke kelasnya sendiri karena belum tanda masuk sudah berbunyi.


"Brily bantu aku bujuk Kak Jojo." Clara yang baru saja keluar merajuk dan memegang lengan Berlian. Johan yang berada di dalam mobil diam-diam mendesah saat ia mendengar apa yang diucapkan Clara.


"Apa yang terjadi?" Tanya Berlian tak berdaya. Ia melirik Johan yang juga sedang melirik nya.


"Aku ingin Kak Jojo menemaniku ke promnite bulan depan. Tapi dia berkata bahwa dia tidak bisa karena harus menjagamu." Clara mencebikkan bibirnya.


"Waktunya masih lama. Siapa tahu kak Johan akan berubah pikiran." Ucap Berlian setelah ia berpikir sebentar.


"Kamu benar juga. Ya sudah aku pergi dulu. Dadah." Clara langsung ceria saat ia berbalik dan berjalan sambil bersenandung Saat ia menuju mobil yang menjemputnya.


Berlian  juga masuk ke dalam mobil setelah itu. Ia melihat Johan ragu-ragu sebelum ia berkata. "Kak Johan masalah Clara..."

__ADS_1


Johan memotong nya sebelum Berlian menyelesaikan kalimatnya. "Kamu seharusnya tidak memanjakan Clara seperti itu."


Berlian menyusut. Ia tahu dia akan keterlaluan jika memaksa Johan menuruti Clara kali ini. Johan mendesah pelan saat ia melirik Berlian yang terlihat sedih.


"Dia harus belajar bahwa tidak semuanya dapat ia dapatkan. Ada kalanya ia harus menerima jika sesuatu tidak berjalan seperti yang dia inginkan." Lanjut Johan sambil menatap Berlian dari spion.


"Aku tahu. Maafkan aku kak."


"Masalah janjimu pada Clara untuk membantunya itu sudah cukup. Setelah itu semua di luar kendalimu. Aku juga sudah menuruti apa yang kamu minta. Aku sudah menmencoba dekat dengannya dan itu tidak berhasil."


"Aku mengerti. Aku tidak akan ikut campur lagi." Berlian mengangguk. Ia menutup matanya.


"Apa kamu mau jalan-jalan terlebih dulu sebelum kembali?" Johan mengalihkan perhatiannya.


Berlian berpikir sebentar sebelum menjawab. "Hem. Tolong Antarkan aku ke toko G." Johan mengangguk.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan Vote ya....

__ADS_1


__ADS_2