
...AREA 21 +...
...BIJAKLAH DALAM MEMBACA!...
...SEMUA YANG TERTULIS DI SINI HANYA UNTUK HIBURAN SEMATA. BAGI YANG TIDAK SUKA SILAHKAN DI SKIP DARI PADA KOMEN YANG NYLEKIT...
“Sean jangan seperti ini.” Evelyn mendorong Sean sekuat tenaga saat laki-laki itu mendorongnya jatuh di atas ranjang besar kamar presidential suite yang baru mereka periksa.
“Aku merindukan mu sayang. Tiga hari aku sudah berpuasa.” Sean tidak peduli, ia meraup bibir Evelyn dengan agresif. Ia harus ke luar kota selama tiga hari untuk urusan perusahaan. Dan baru pagi tadi ia kembali dan langsung bekerja.
“Sean jangan seperti ini. Mereka semua ada di luar.”
“Biarkan saja.” Ucap Sean tidak peduli. Ciumannya sudah menurunkan ciumannya di leher Evelyn. Men ji Lat dan me Nye sap nya.
“Sean jangan buat tanda di sana. Malam ini ada pesta.” Larang Evelyn saat Sean akan membuat kissmark di leher jenjangnya.
“Sesuai keinginanmu sayang.” Sean tidak jadi membuatnya. Ia hanya men ji lat dan menyapu bagian itu tanpa membuat tanda.
“Emp Se..an.” desah Evelyn tertahan saat Sean menggigit strawberry di puncak gunung miliknya. Tangan Evelyn menutup mulutnya agar suara yang ia keluarkan tidak sampai terdengar orang lain.
“Jangan ditahan sayang. Keluarkan saja. Peredam suara yang dipakai disini adalah rekomendasi dariku. Sama seperti yang ada di kamarku.”
“Se..an.” Evelyn menjambak rambut Sean saat pria itu bermain-main di kedua bukit kembarnya. Yang satu di se sap dan yang satu di re mas. Sean seperti tidak membiarkan salah satunya merasa iri. Evelyn menggelinjang merasa kenikmatan.
“Apa kamu merindukanku?”
“Tidak.” Evelyn menggeleng. Mendengar jawaban Evelyn yang tidak membuatnya puas, Sean semakin mempercepat tempo permainannya. Evelyn bergoyang hebat di bawahnya.
“Em...ah...em...ah.”
“Masih berani bilang tidak merindukanku heh?” Sean tersenyum puas saat melihat wajah Evelyn dibanjiri peluh. “Ayo bilang lagi.”
“Ah..ah.. ak ku merindu.. kan..ah.”
“Apa?”
“Dasar mesum!” teriak Evelyn akhirnya. Sean. Laki-laki yang tidak bisa ia lawan.
**
Sean sudah berada di ruang tamu villa keluarga Marcus. Ini kali pertama laki-laki itu menginjakkan kakinya di villa besar tempat Evelyn tinggal. Di depannya Maxim duduk menatap Sean dengan penuh selidik.
Maxim mengetahui jika laki-laki yang datang untuk menjemput Evelyn adalah ayah biologis dua cucunya. Awalnya ia menentang jika Evelyn bersama dengan Sean. Tetapi melihat kesungguhan Sean selama ini, apalagi ia sudah mengetahui usaha Sean di masa lalu untuk mencari Evelyn, ia pun akhirnya membiarkan saja asalkan Evelyn tidak disakiti lagi.
“Aku tidak menyangka kamu dapat menemukan tempat ini.”
__ADS_1
“Terima kasih atas pujian tuan. Saya melakukan yang terbaik untuk menemukan keberadaan anda.” Balas Sean serius.
“Untuk menemukanku? Untuk apa?” tanya Maxim heran.
“Ehem. Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan diri secara resmi, nama saya Sean Henry Kingston. Saya adalah Presdir dari Kingston Company. Saya yakin anda pasti juga sudah mengetahui semua tentang saya. Dan juga, anda pasti sudah mengetahui jika saya adalah ayah kandung Bryan dan Berlian. Saya sangat berterima kasih selama ini anda dan keluarga telah merawat mereka dengan sangat baik. Bahkan, mungkin apa yang anda lakukan untuk mereka tidak akan bisa saya lakukan.” Sean menjeda kalimatnya.
“Tapi saat ini saya sudah menemukan mereka, saya berniat ingin bersatu bersama mereka. Tinggal bersama sebagai satu keluarga yang bahagia.” Lanjut Sean serius. Ia menatap Maxim tanpa ragu.
“Apa kamu mencintai Evelyn?”
“Ya. Saya sangat mencintainya. Jujur di masa lalu apa yang terjadi di antara kami memang berawal dari sebuah kesalahpahaman. Dan saya sangat merasa bersalah. Saya mencarinya selama ini. Tapi dia seperti hilang tanpa jejak. Dan saat saya kembali bertemu dengan Evelyn, saya sangat senang.”
“Jadi apa maumu?”
“Saya ingin meminta izin untuk meminang Evelyn untuk menjadi istri saya.” Ucap Sean tegas.
“Huh! Meskipun aku tidak rela untuk melepaskan Evelyn, tapi jika kamu berjanji untuk selalu menyayangi dan tidak menyakitinya, aku mungkin akan memberikan izin.”
“Saya berjanji tuan. Saya berjanji akan selalu mencintai dan melindungi Evelyn. Saya tidak akan menyakitinya apapun yang terjadi.” Ucap Sean semangat.
“Bagus-bagus. Aku sangat menyukai anak muda yang penuh semangat seperti mu.” Maxim menepuk pundak Sean.
“Tapi ada yang harus kamu ingat Sean. Keluarga kami bukanlah keluarga biasa. Evelyn sudah lama menjadi bagian dari keluarga kami. Banyak musuh yang mengincar keselamatannya. Meskipun selama ini aku telah menyembunyikan keberadaan Evelyn dan kedua cucuku, tapi itu tidak akan bertahan lama.”
'
“Itu bagus. Itu memang yang aku dan Laura harapkan dari calon suami Evelyn.”
“Sean, kamu di sini!” Evelyn terkejut saat melihat Sean duduk di ruang tamu dan berbincang serius dengan Maxim. Selama ini ia tidak pernah memberitahu keberadaan villa ini pada siapapun. Bahkan Sean. Bahkan malam ini mereka sudah berjanji bertemu di depan kantor.
“Ya. Aku ingin menjemputmu.” Sean menatap penuh takjub wanita yang malam ini terlihat sangat cantik.
“Oh...baiklah. ayo kita berangkat. Kita sudah hampir telat.” Evelyn segera turun dan mendekati Sean dan Maxim.
Sean segera berdiri di samping Evelyn. Melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu.
“Tuan kami berangkat dulu.” Pamit Sean.
“Pergilah. Jaga putriku dengan baik.” Sean mengangguk sebelum membawa Evelyn keluar dari villa besar itu.
Maxim melihat kepergian keduanya dengan puas. Ia terlihat puas dengan calon menantu yang akan ia dapatkan. Sean laki-laki yang tegas. Ia yakin jika Sean mampu melindungi Evelyn dan kedua cucunya.
Soni yang sudah menunggu Sean di samping mobil segera membukakan pintu untuk Sean dan Evelyn. Ia menutup pintu setelah dua orang itu masuk.
“Apa yang kamu bicarakan dengan papi tadi?” tanya Evelyn penasaran.
__ADS_1
“Bikan masalah besar. Hanya masalah kecil antar laki-laki.” Jawab Sean asal.
“Terserah.” Balas Evelyn kesal.
“Jangan marah. Aku akan memberitahumu.” Sean menarik Evelyn ke dalam pelukannya. Tetapi Evelyn mendorongnya.
“Aku tidak ingin tahu dan tidak peduli.” Evelyn memalingkan wajahnya. Melihat ke luar mobil yang menampilkan pemandangan yang selalu berganti.
“Jangan marah seperti itu.” Sean mendekap Evelyn dari belakang.
“Lepas.” Evelyn mencubit lengan kokoh Sean yang melingkar di pinggangnya.
“Aku membicarakan masa depan kita.” Jawaban Sean membuat Evelyn membeku. Ia tidak menyangka jika Sean memikirkan masa depan mereka.
“Aku tadi melamarmu pada tuan Maxim.” Lanjut Sean sambil menempelkan dagunya di pundak Evelyn.
“Kenapa kamu melakukannya Sean?!”
“Aku ingin menikah denganmu Ev, kita bisa memulainya dari awal. Kita akan tinggal bersama dengan anak-anak kita. Apakah kamu tidak menginginkannya?”
“Sean, aku rasa ini terlalu cepat. Kita baru saja mengenal.”
“Hal baik tidak boleh ditunda sayang.”
“Kamu tidak mengenalku. Aku...”
“Aku mengenalmu dengan baik. Semua tentangmu aku tahu betul sayang.”
“Tapi ini tidak cukup Sean. Aku tanya, apa kamu mencintaiku?” Evelyn membalik tubuhnya. Menatap Sean dengan teliti. Membaca setiap mimik wajahnya. Mencari kejujuran dari jawaban yang akan diberikan.
“Apa kamu tidak bisa merasakannya?”
“Merasakan apa? Kita sama-sama dewasa. Apa yang kita lakukan hanya karena memenuhi kebutuhan.” Evelyn menggigit bibir bawahnya. Bukannya ia tidak merasakan jika Sean mencintainya. Tetapi mengingat masa lalunya, ia takut Sean memperlakukannya dengan baik hanya untuk mendapatkan tubuhnya.
“Aku tidak seperti itu Ev. Aku akui jika aku seperti itu di masa lalu. Tapi saat ini aku sudah berubah. Aku pikir aku tidak perlu mengatakan jika aku mencintaimu. Aku pikir akan cukup hanya dengan caraku memperlakukanmu.”
“Wanita butuh kepastian Sean. Selama ini aku merasa hanya menjadi..” Sean menutup bibir Evelyn dengan jarinya.
“Jangan pernah berpikir seperti itu. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Ev.” Sean mencium bibir Evelyn dalam sebelum membawa Evelyn dalam pekukannya. Andai malam ini mereka tidak harus menghadiri undangan, mereka akan meminta Soni membelokkan mobil mereka ke hotel terdekat.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😘