
Setelah mendapatkan lokasi terkahir Berlian, Johan bergegas datang. Namun, saat Johan dan anak buahnya sampai di sana, mereka hanya menemukan Bryan yang terikat dalam keadaan terluka. Johan segera menghampiri Bryan untuk memeriksa keadaannya.
"Brily dibawa mereka." Ucap Bryan saat ia melihat Johan mendekat.
"Apa kamu tahu siapa mereka?" Tanya Johan sambil melepaskan tali yang mengikat Bryan.
"Tidak. Tapi aku Aku berhasil mendapatkan ponsel mereka." Bryan menunjuk ponsel hitam yang tergeletak di dibawah semak belukar yang diam-diam ia ambil dari pemimpin tiga orang itu dan melemparnya ke sana.
Anak buah Johan mengambil ponsel itu dan memberikannya pada Johan. Johan membukanya tapi ponsel diamankan dengan menggunakan sidik jari.
"Suruh mereka periksa." Johan melemparkan ponsel itu kembali. Anak buahnya menangkap dan memasukkannya ke dalam saku.
Bryan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Johan kembali ke kantor untuk memberi tahu Sean dan mengatur strategi. Tidak mungkin melakukan tindakan untuk saat ini. Mereka tidak memiliki petunjuk apapun mengenai keberadaan Berlian. Bahkan pelaku yang menculik Berlian kali ini.
Di tempat lain, Berlian yang baru saja sadar mengerang kesakitan. Luka kakinya terasa sangat nyeri. Ia membuka matanya dan mendapati dirinya duduk di sebuah kursi di dalam ruang gelap. Tidak ada siapapun di sana selain dirinya. Berlian cemberut melihat luka kakinya yang dibiarkan. Itu tidak diobati sama sekali. Rasa sakitnya hampir tidak bisa ia tahan.
Berlian tidak menyangka ia akan diculik untuk kedua kalinya. Pada saat ini dirinya bahkan sendirian. Tidak bersama dengan Bryan seperti saat mereka kecil. Tapi ia bersyukur untuk Bryan karena dia tidak ikut diculik bersamanya. Jika tidak, dengan luka Bryan yang parah, dia tidak akan bertahan jika tidak diobati dengan segera.
Berlian memperhatikan ruangan itu. Tidak ada apa-apa di sana selain kursi yang dia duduki saat ini. Ruangan itu juga tidak memiliki jendela. Bahkan ventilasi kecil juga tidak ada. Hampir tidak ada cahaya yang masuk ke dalam ruangan selain dari celah kecil di bawah pintu. Membuat ruangan pengap dan bau. Melihat kondisi itu, Berlian sepertinya tidak memiliki cara untuk kabur. Apalagi dengan kakinya yang terluka. Ia akan kesakitan jika bergerak.
Biasanya Berlian akan malas untuk berpikir dengan keras. Ia lebih suka semuanya berjalan dan dia menjalaninya. tetapi sekarang nyawanya berada di dalam bahaya. Dia tidak boleh hanya diam dan menunggu penjahat itu mengambil keuntungan darinya.
Berlian ingat bahwa ada GPS di gasper ikat pinggangnya. Ia bisa menggunakan itu untuk memberitahu keberadaannya pada anggota Deep Line agar mereka menyelamatkannya. Sekarang ia hanya harus melepaskan ikatan di tangannya.
Saat pertama ia bergabung dengan Deep Line tiga tahun lalu, ia menerima hadiah sambutan dari Sun Bercahaya. Sebuah cincin dengan fungsi khusus. Jika ditekan mata cincinnya, sebuah kawat kecil akan keluar. Tapi itu bukan kawat biasa, melainkan pisau tipis yang sangat tajam tetapi juga sangat kuat. Berlian menggunakan itu untuk memotong tali di tangannya.
Setelah tangannya terbebas, Berlian menundukkan tubuhnya dan memeriksa kakinya yang terluka. Berlian meringis ngeri melihatnya. Bagaimanapun, Berlian tumbuh dengan kasih sayang. Dia hampir tidak pernah terluka. Jadi luka yang cukup parah itu sebenarnya sangat menyiksanya. Dia berduka untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Baru setelah memastikan keadaan kakinya yang meskipun sakit ternyata tidak begitu parah hingga mungkin akan mematahkan tulangnya, Berlian segera mengirim lokasinya ke anggota Deep Line agar mereka segera mengirimkan bantuan untuk menyelamatkannya.
Berlian kembali merebahkan dirinya setelah itu. Ia harus menghemat tenaganya untuk saat ini. Namun, hanya beberapa saat hingga ia mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup. Berlian perlahan membuka mata dan melihat seorang wanita cantik dengan pakaian seksi berdiri di depannya. Tangannya yang melipat di depan dada memegang cambuk. Bibir merah yang seksi tersenyum jahat dengan mata yang penuh dengan ejekan. Berlian mengernyitkan Alisnya saat ia tidak bisa mengingat bahwa ia mengenal atau bahkan melihat wanita yang berdiri angkuh di depannya itu.
"Wah aku tidak menyangka kamu bahkan bisa tidur dalam keadaan seperti ini." Wanita itu mencibir.
"Lalu, memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan dengan keadaan seperti ini selain tidur?" Berlian menjawab dengan malas. Ia masih memindai wajah dan tubuh wanita itu. Mencari tahu kelemahan lawan.
"Huh! Sadar diri juga ternyata." Wanita itu berjalan mendekat. Melihat wajah Berlian dan mulai mengitarinya.
"Siapa kamu sebenarnya? Aku tidak mengenalmu. Kenapa menculikku?" Berlian melirik wanita yang Mengawasinya dari samping.
"Kalau sudah tahu tidak mengenal, kenapa kamu berani menyinggung ku?" Berlian masih belum mengerti. Ia merasa bahwa ia tidak pernah menyinggung orang lain yang akan sampai membuat orang lain melakukan hal dengan begitu jauh.
Melihat Berlian diam, wanita itu mengerti bahwa Berlian masih tidak mengerti maksudnya, ia menyunggingkan bibirnya sebelum ia membuka mulutnya. Yang membuat Berlian terkejut. "Diamond."
Berlian segera menatap wanita itu tidak percaya. Bukankah wanita itu baru saja memanggilnya dengan panggilan 'Diamond' yang hampir tidak ada yang mengetahui nama lainnya ini?
Meskipun belum sepenuhnya mengerti, setidaknya Berlian sudah tahu mengenai masalah ini. Berbicara mengenai 'Diamond', Berlian sudah banyak menyinggung orang dengan identitasnya yang ini. Jadi dapat dimengerti ada yang akan melakukan sejauh ini untuk membalas dendam padanya.
Setelah melohat bahwa wanita itu cukup dekat, Berlian merasa mendapatkan kesempatan untuk menyerang wanita ini. Tangan Berlian mencengkeram tangan wanita yang memegang cambuk. Berniat untuk mengalahkannya. Tetapi ia tidak menyangka Jika wanita itu ternyata cukup kuat sehingga ia dengan mudah melepaskan tangannya dan berhasil menguasai Berlian sekali lagi. Lagipula, kaki Berlian sedang terluka dan tidak bisa bergerak bebas.
"Si4lan! Kalian masuklah. Ikat kembali gadis sial ini!" Teriak Marta marah ketika melihat bahwa Berlian berpura-pura bahwa tangannya masih terikat. Dua orang masuk dengn cepat dan juga membawa tali. Mereka segera mengikat Berlian kembali.
"Nona, biarkan kami saja yang menanganinya. Gadis ini sangat cantik. Akan sia-sia jika dia mati begitu saja." Salah satu dari pria itu memandang Berlian dengan penuh nafsu. Temannya yang lain mengangguk setuju. Ia juga merasa akan sia-sia membiarkan gadis secantik itu mati tanpa berguna.
"Tidak! Kalian keluar!" Wanita itu menolak. Ia semakin kesal. Setelah ide mereka ditolak, kedua orang itu keluar dengan enggan sambil terus menggerutu.
__ADS_1
Berlian tersenyum melihat wanita cantik yang sekarang terlihat aneh itu.
"Berhenti tersenyum!" Wanita itu berteriak. Ia menampar Berlian saat melihat Berlian yang tenang dan malah bisa tersenyum manis. Pipi Berlian memerah dengan cap lima jari yang mengerikan. Itu tamparan yang keras. Pipi Berlian terasa panas. Dan juga sakit. Berlian hampir mengeluarkan air matanya.
"Aku tidak suka melihat gadis yang cantik." Wanita itu menatap tajam Berlian. Mengangkat cambuknya tinggi dan bersiap untuk menyerang Berlian dengan cambuknya itu.
Wanita ini adalah Marta. Wanita cantik yang ada di sisi Wilson pagi ini. Dia langsung berkata pada Wilson agar membiarkannya menangani masalah kali ini karena ia merasa bosan. Wilson tertawa sebelum ia mengizinkan Marta pergi untuk memberi pelajaran pada hacker yang berani meretas miliknya dan menggagalkan operasinya.
Selain cantik, Marta juga seorang psikopat. Dia tidak akan tahan melihat wanita yang lebih cantik darinya. Dia akan membuat wanita itu menjadi buruk rupa. Banyak wanita di sisi Wilson yang menjadi korbannya. Tetapi karena dia mendapatkan kasih sayang dari Wilson dan juga mudah bagi Wilson untuk mendapatkan wanita manapun, dia pun selalu bebas melakukan apa yang ia mau.
Marta mengayunkan cambuknya dengan keras ke arah wajah Berlian. Berlian dengan reflek menghindarkan wajahnya sehingga yang terkena cambukan adalah kepala belakangnya. Membuat kulit kepalanya terkelupas dan mengeluarkan darah. Beberapa helai rambutnya juga tercabut dengan paksa. Membuat Berlian berteriak keras karena rasa sakit yang diakibatkan nya.
"Sial!" Umpat Marta marah saat cambukannya meleset dan tidak mengenai wajah Berlian yang menjadi sasarannya. Sekali lagi ia mengayunkan cambuknya dan kembali mengarahkannya ke wajah Berlian. Tetapi lagi-lagi Berlian memalingkan wajahnya sehingga sekali lagi kepala belakang Berlian yang menjadi korbannya.
"Kamu sungguh menguji Kesabaranku!" Marta berteriak kesal. Ia melemparkan cambuknya ke sembarang arah. Ia kemudian mengeluarkan pisau yang dia sembunyikan di balik paha dalamnya.
Bibirnya terangkat dengan tatapan mata yang nyalang saat ia mengarahkan pandangan mata benci pada Berlian. Mata pisau itu berkilau dengan menakutkan.
Marta memaksa Berlian mendongak dengan tangannya mencengkeram dagu nya. Kemudian dengan perlahan ia memainkan pisau itu di wajah Berlian yang indah.
"Kita lihat, setelah ini siapa yang akan menyebutnya cantik?"
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~
Jangan lupa like, komen dan Vote ya....