
“Bagaimana? Apakah kamu senang sekarang?” Tanya Sean melihat wajah Evelyn Yang sumringah memeluk album foto yang diambilnya dari Tomy. Saat ini, keduanya sedang dalam perjalanan pulang.
“Um.” Evelyn mengangguk puas. “Sejak papa menikah dengan laki-laki itu, semua hal mengenai mama sudah dihilangkan. Semua barang-barang mama dimasukkan gudang dan dikunci. Sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi.” Cerita Evelyn sedih.
Sean mengusap kepala Evelyn. Ia ikut bahagia melihat wanita itu bahagia.
“Aku bahkan sempat melupakan wajah mama hingga beberapa tahun. Tapi akhirnya Tuhan berpihak padaku. Saat aku sedang membersihkan foto papa, aku tidak sengaja menemukan foto mama dibaliknya. Wanita itu pasti tidak mengetahuinya.” Evelyn mengingat kejadian di saat dia berumur lima belas tahun.
Saat itu ia baru pulang sekolah, dan Ani menyuruhnya untuk membersihkan pajangan yang tertempel di dinding rumah. Jika ia menolak, ia tidak akan mendapat makan siang dan juga makan malam. Saat itu Tomy sedang ada di luar kota, jadi Ani bebas menyiksa Evelyn.
Untuk memastikan agar semuanya bersih, Evelyn melepas pajangan dari gantungannya. Dan tanpa ia duga, saat ia hendak membersihkan pigura foto Tomy, di belakangnya tersimpan foto Maria.
Evelyn sangat senang saat itu. Ia seperti menemukan harta Karun yang begitu banyak. Dan kebetulan, tidak ada siapapun di sekitarnya, ia pun segera menyembunyikan foto itu di balik bajunya.
Selama ini, Evelyn menjaga foto itu sebaik mungkin. Ia menjaganya seperti itulah harta paling berharga yang ia miliki. Saat keluar dari kediaman Winata, foto itu juga ia bawa pergi dengan cara ia sembunyikan.
“Sayang, aku jadi berpikir jika album foto ini ada, mungkin album foto lain atau barang-barang penting lain juga masih ada.” Ucapan Sean membuat Evelyn juga memikirkan hal yang sama.
Benar juga apa yang dikatakan Sean. Kemungkinan-kemungkinan besar selain album foto yang dibawanya ini, orang-orang di keluarga Winata juga masih memiliki barang-barang peninggalan Maria.
“Jika seperti itu, aku harus mendapatkannya kembali.” Tekad Evelyn.
“Aku mendukungmu. Sayang.” Sean mengelus kepala Evelyn dengan sayang.
“Terima kasih Sean.” Evelyn mengangkat kepalanya dan menatap Sean dengan haru.
“Sayang bisakah memanggilku dengan cara yang lebih mesra?” Sean mulai menuntut. Apa Evelyn tidak bisa memanggilnya dengan panggilan sayang seperti dirinya? Mereka sudah sama-sama saling mengungkapkan perasaan mereka. Setidaknya Evelyn merubah panggilan untuknya.
“Tidak. Aku sudah terlalu biasa memanggilmu seperti itu.”
“Yah sudahlah. Yang penting saat kamu men de sah kan namaku terdengar indah.” Sean tersenyum mesum. Di dalam telinga nya bahkan suara de sa Han Evelyn seperti sedang menggema.
“Dasar mesum!”
“Sayang, malam ini menginaplah di rumah.”
__ADS_1
“Tidak Sean. Kita belum menikah.”
“Apa bedanya? Kita juga akan menikah kan?”
“Itu tidak sama sama sekali. Mulai sekarang sebaiknya kita tidak melakukannya sampai kita benar-benar menikah. Ini tidak baik juga untuk anak-anak.”
“Mereka anak-anak kita juga. Mereka tahu kita mommy dan Daddy mereka.”
“Tapi mereka juga tahu kita belum menikah Sean.”
“Tapi....”
“Ayolah Sean, hanya dua Minggu.”
“Aku rasa aku tidak akan sanggup.” Ucap Sean sendu.
“Mulutmu....! Memangnya bagaimana kamu sanggup selama ini?” Evelyn memutar tubuhnya dan menghadap Sean yang ada di sebelahnya.
“Sejak kejadian malam itu, senjataku seperti soket yang kehilangan colokan. Jadi sudah lama tidak digunakan. Dan sekarang, setelah menemukan colokannya, dia mulai ketagihan.”
“Intinya aku tidak akan sanggup sayang.”
“Ikuti keinginanku apa kita batalkan saja pernikahan ini?” ancam Evelyn. Jika mereka terus bersama sebelum pernikahan, itu tidaklah baik. Meskipun banyak reader yang suka part yang ada icik2 ehemnya. Tapi kalo belum sah juga tidak baik kan? Nanti digerebek satpol PP akoh nggak tanggung jawab.
“Kamu sungguh tega sayang.” Sean mencebik.
**
Di sebuah rumah kerja di satu mansion mewah di tengah kota. Seorang laki-laki tua menggertakkan giginya. Di depannya, seorang pria paruh baya memegang berkas laporan dengan tangan gemetarnya.
“Aku sudah bilang untuk berhati-hati. Kenapa anak ingusan itu sampai menyadari?” murka si pria tua.
“Maaf tuan. Saya terlalu meremehkan dia. Tidak menyangka perusahaan IT yang disewanya mampu menyelidiki sampai ke titik penyebarannya.” Lapor pria paruh baya dengan sedikit cemas.
“Huh! Aku menyewamu dengan uang yang tidak sedikit. Jika begitu saja tidak bisa mengatasi lebih baik pergi saja.” Pria tua yang duduk di singgasana nya menatap tajam pria di depannya.
__ADS_1
“Tuan! Tuan jangan marah dulu. Saya berjanji akan segera mengatasi masalah ini dan menyelesaikan tugas dari anda.” Pria paruh baya segera menggenggam tangannya. Ia tidak boleh melepaskan klien yang mau membayarnya tinggi begitu saja. Jika tidak, kekurangan uang bayaran yang masih belum dibayarkan akan hangus.
“Huh! Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. Jika kali ini kamu juga tidak berhasil, lebih baik pergi saja dan aku akan melaporkanmu pada pemimpinmu.” Ancam pria tua itu sinis.
“Tolong jangan laporkan hal ini pada pimpinan. Tuan tenang saja. Kali ini pasti akan berhasil.” Sebagai seorang bawahan, pimpinan adalah seorang yang menggenggam nasibnya.
“Jangan Cuma banyak omong. Cepat lakukan dan buktikan padaku.” Pria tua itu mendengus.
“Baik! Baik tuan! Aku akan segera mengerahkan anak buahku untuk segera menyerang.” Pria paruh baya itu dengan cepat keluar dari ruang kerja yang seperti ruang interogasi untuknya.
Pria paruh baya itu bernama Roni. Pemimpin dari sebuah tim dari organisasi ilegal yang menerima upah untuk meretas sistem keamanan dan informasi pihak lain. Mereka juga mengembangkan virus yang bisa mereka kendalikan dari jarak jauh sebagai mata-mata digital. Karena itulah tim IT dari Kingston Company kesulitan melawannya karena dilihat dari kemampuannya, mereka masih berada di atasnya.
Roni segera kembali ke markasnya. Markasnya hanyalah sebuah apartemen sewaan sementara untuk mereka beroperasi. Markas pusat mereka sendiri berada di luar Jawa. Mereka dilindungi oleh geng mafia yang membuat mereka bertindak dengan berani.
Roni membawa sepuluh orang bersamanya untuk mengerjakan tugas yang mereka terima dari klien yang merupakan musuh Sean. Mereka tidak perlu tahu alasan klien mereka membayar mereka. Yang terpenting untuk mereka adalah menyelesaikan tugas yang telah mereka terima.
Sampai di markasnya, Roni segera memberikan perintah pada anak buahnya untuk memulai penyerangan yang sebenarnya sudah mereka lakukan tanpa henti.
“Bagaimana? Apa masih belum bisa diretas?” tanyanya tidak sabar setelah satu jam menunggu hasil.
“Maaf tuan. Sistem keamanan yang mereka pakai sangat ikut diretas. Bahkan mereka beberapa kali hampir berhasil menemukan keberadaan kita.” Lapor salah satu pria muda berkacamata yang duduk di belakang komputer.
“Huh! Bagaimana ini? Jika pimpinan tahu, hidup kita mungkin tidak akan selamat.” Kata Roni frustasi. Dan ucapannya berhasil membuat sepuluh orang lainnya yang ada di ruangan itu bergidik ngeri.
Di tempat lain, Berlian duduk dengan tenang sambil memakan eskrim pisangnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman saat menyadari pihak lain yang sedang ia permainkan dalam kondisi frustasi.
Sejak kejadian peretasan di kantor Sean, Berlian sudah menyambungkan sistem keamanan di kantor Daddynya itu dengan perangkat miliknya. Jadi saat ada yang mencoba menyerang kembali, ia akan segera tahu dan dapat mengatasinya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1