Anak Genius: Perfect Daddy

Anak Genius: Perfect Daddy
S2_78. Amarah Berlian


__ADS_3

Hari itu cuaca cukup panas. Berlian baru saja keluar dari kelasnya setelah menghadiri pelajaran yang diberikan oleh seorang dosen di sebuah universitas swasta. Berlian mengambil jurusan manajemen yang tidak pernah disangka oleh siapapun. Bagaimanapun semua orang tahu bahwa Berlian tidak ertarik pada hal seperti itu. Tetapi tanpa ada yang menduga bahwa Berlian akhirnya memilih jurusan manajemen untuk gelar S1 nya.


Berlian masih dingin dan acuh seperti sebelumnya. Penampilannya yang cantik dan sederhana seperti biasanya menampilkan kesan dingin dan jauh karena efek aura yang dikeluarkannya. Belum lagi caranya memandang sesuatu yang tampak acuh membuat semua orang memandangnya mendapatkan gambaran bawa ia adalah pribadi yang angkuh dan sulit didekati.


Berjalan sendirian di sepanjang koridor sudah biasa baginya. Ia hanya mengenal satu dua teman sekelasya yang paling dominan. Satu adalah ketua kelas dan yang lainnya adalah sekretaris kelas. Ada beberapa teman sekelasnya di SMA. Selain itu ia hanya tahu bahwa dia adalah teman sekelasya.


Berlian mengayunkan langkahnya ke kantin untuk membeli minuman dingin di sana. Hari panas dan matahari bersinar cerah. Kantin penuh sesak. Banyak orang yang juga kehausan seperti Berlian. Mereka mengantri di depan stan dan beberapa lemari es yang berjajar di dalam kantin.


Setelah mendapatkan minumannya, ia langsung keluar dari kantin dan membuka teh oolong kemasan instan dan menengggaknya sambil mencari tempat duduk. Ia belum bisa pulang karena masih ada satu pelajaran yang tersisa di sore hari.


Berjalan sepanjang koridor Berlian masih belum menemukan tempat yang sesuai. Bangku-bangku di luar terisi penuh dengan mahasiswa yang juga mencari angin di bawah pohon. Berlian terus mengayunkan kakinya ke perpustakaan. Yah. Tempat persembunyian terakhirnya.


Berlian mememilih buku dan menemukan tempat di pojokan. Tidak ada Rezvan atau Clara yang menemaninya. Hem... mengingat mereka Berlian cukup merindukan mereka.


"Hai bolehkah aku duduk?" Berlian mendongak saat ia mendengar seseorang yang berdiri di depannya. Ia mengenali pria itu. Dia adalah Ferry. Menurut usia Ferry seharusnya pria ini tidak ada di sini. Tapi Berlian tidak repot berpikir untuk apa pria yang telah berkontribusi pada meninggalnya kedua orang tuanya . Berlian mendengus dan kembali larut pada bukunya. Dengan sekuat hati ia mencoba untuk tenang.


Melihat Berlian yang mengacuhkannya, Ferry berdehem sebelum mulai berbicara. "Aku dulu kuliah di sini. Hari ini aku diundang sebagai pembicara seminar mahasiswa di gedung empat."


"Oh..." Jawab Berlian singkat. Ia memang mendengar hal itu dari pembicaraan teman sekelasnya. Lagipula ada juga pengumuman di Web resmi universitas mengenai seminar dengan teman kepemimpinan itu. Tetapi  Berlian tidak menyangka Jika Ferry lah pembicaranya.


Awalnya Berlian ingin mengikuti seminar itu sambil menunggu kelasnya di sore hari. Tetapi setelah mengetahui siapa pembicaranya, bagaimana mungkin ia akan mendengarkan omong kosong orang yang telah membunuh orang tuanya?


"Aku turut berduka cita. Aku tidak menyangka. .." Berlian bagaimanapun mencoba yang terbaik untuk meredam emosinya melihat pelaku pembunuhan orang tuanya. Tapi sepertinya pihak lain begitu tidak tahu malu dan menganggap dirinya tidak ada hubungannya sama sekali atas kehancuran kedamaian rumahnya.


Berlian menumpuk buku yang hendak dibacanya ke atas meja dengan keras. Perpustakaan seperti pada umumnya adlaah tempat dimana kesenyapan adalah segalanya. Suara keras yang dibuat Berlian membuat semua orang melihat ke arahnya. Beberapa orang terkejut sambil memegang dada mereka. Sebagian diantaranya membicarakan etika Berlian di perpustakaan. Sedangkan petugas penjaga perpustakaan mengangkat kacamata berbingkai hitam yang bertengger di pucuk hidungnya sambil menatap Berlian sambil memperingatkan.


"Maaf. Tadi ada kecoa yang lewat." Sebelum semua orang mengucapkan sepatah katapun untuk memarahi nya,  Berlian sudah menjatuhkan bom dan mengangkat bukunya bersiap untuk pergi. Ini perpustakaan, bukan kantin. Kecoa mana yang berkeliaran di perpustakaan? Apalah kecoa jaman sekarang merasa bosan untuk makan dan mulai membaca buku untuk menghabiskan waktu?

__ADS_1


Berlian pergi dengan tenang setelah ia memenuhi prosedur untuk meminjam buku pada penjaga perpustakaan dan pergi dari sana dengan tiga buah buku tebal di tangannya.


Ferry tertegun melihat sikap Berlian padanya. Ia berpikir bahwa ia memang berbuat salah dengan mengingatkannya tentang kematian Sean dan Evelyn. Ia melihat Berlian yang berjalan keluar dan segera mengikutinya.


"Maaf jika aku membuatmu sedih." Tak  lama setahun Ferry akhirnya berhasil menyamakan langkahnya dengan Berlian. Dan kembali mendapatkan perlakuan dingin dari gadis di sampingnya.


"Bagaimana jika aku mentraktirmu sebagai permintaan maaf." Ferry masih mendorong keberuntungannya.


"Tidak dibutuhkan."


Ferry hendak mengucapkan sesuatu saat seseorang dari kantor dekan memanggilnya untuk menemui dekan sebelum ia memulai seminarnya.


"Baiklah aku akan segera ke sana." Ferry mengangguk sebelum ia berbalik dan mendapati Berlian yang sudah berjalan jauh di belakangnya.


Ferry melihat ke arah Berlian pergi sebelum ia berbalik dan mengikuti orang yang mencarinya dan pergi ke ruang dekan.


Berlian akhirnya membolos pada jam pelajaran terakhirnya. Moodnya sudah hancur ketika ia melihat Ferry yang menyebalkan. Ia tidak pulang tetapi ke kantor perusahaan untuk menemui Bryan.


Suasana kantor masih sama seperti sebelumnya saat Sean masih ada. Meskipun beberapa masalah muncul setelah kepergian Sean, Bryan dengan cepat belajar dan memenangkan hati pemegang saham, para investor dan juga karyawan yang bekerja di bawahnya. Secara perlahan situasi kantor yang sempat kacau bertahap kondusif di bawah kepemimpinan  Bryan yang masih berusia beberapa tahun di bawah semua karyawan.


Berlian secara alami masuk ke dalam lift eksekutif yang khusus untuk para petinggi. Ia sudah menghubungi Bryan dan sudah mengkonfirmasi bahwa saudara kembarnya itu sedang berada di kantornya yang tidak lain adalah kantor Sean sebelumnya. Berlian menekan nomor lantai dimana kantor Bryan berada.


"Nona anda di sini." Sony tidak terkejut saat melihat Berlian. Ia yang saat ini menjadi sekretaris Bryan sudah diberitahu tentang keberadaannya.


"Iya paman. Bryan ada?" Berlian tersenyum.


"Ya. Tuan muda ada di kantornya." Sony berdiri dan mengetuk pintu untuk memberi tahu Bryan bahwa Berlian sudah datang. Sony membukakan pintu Setelah mendengar jawabnya dari Bryan.

__ADS_1


"Terima kasih paman." Berlian mengangguk sebelum ia masuk ke disampaikan ruangan dan melihat Bryan duduk di belakang meja dengan setumpuk berkas tebal di depannya.


"Ada apa kamu datang? Bukannya kamu bilang ana sih ada kelas sore ini? " Tanya Bryan sambil melirik Berlian yang duduk di depannya.


"Aku bertemu dengannya."


Bryan menghentikan gerakan tangannya yang bersiap membubuhkan tanda tangannya di atas kertas. Tanpa diberitahu, Bryan sudah mengerti siapa yang dimaksud Berlian. "Dimana?"


"Kampus."


"Pantas saja kamu kesal. Apa dia memprovokasimu?" Bryan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ya. Tapi aku berhasil menanamkan virus terbaruku di ponselnya. Dengan itu bisa melihat isi ponselnya dan mengetahui siapa saja yang dihubunginya."


"Bagus. Apa yang kamu dapatkan?"


Berlian mengeluarkan ponselnya lalu berjalan ke samping Bryan. Bryan secara alami memberikan kursinya pada Berlian dan dirinya sendiri berdiri di sampingnya.  Melihat saudari kembarnya bekerja.


Berlian dengan mudah menyambungnya ke komputer di meja Bryan. Jari-jari Berlian menari dengan indah di atas keyboard setelah program mengkonfirmasi identitas Berlian. Segera, Kode- Kode yang sama sekali tidak dimengerti Bryan muncul di layar. Lalu bunyi 'klik' terdengar dan tampilan depan ponsel seseorang berhasil disadap dengan mudah.


"Good job Sister!" Sorak Bryan senang. Senyum lebar menghiasi bibirnya melihat isi ponsel Ferry yang cukup untuk menghancurkannya.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir ~*(^,^)*~


Jangan lupa like, komen dan  Vote ya....


__ADS_2