
Tomy segera mempersilahkan Sean dan Evelyn untuk duduk. Pria tua itu kedua matanya berbinar bahagia. Ia segera meminta pelayan untuk menyajikan makanan yang sudah ia pesan sebelumnya.
Tak perlu menunggu lama, makanan yang terlihat lezat memenuhi meja.
“Ayo mari makan. Papa sengaja memesankan semua ini untukmu Sandra.” Tomy memandang Evelyn dengan hangat.
“Sudah aku bilang orang dengan nama itu sudah mati enam tahun lalu. Yang ada di depan kalian ini adalah Evelyn.” Mengingat nama Sandra yang disebut berulang kali membuatnya mengingat setiap perkataan pedas yang diluncurkan oleh pria tua itu.
“Uh maaf. Papa sudah terbiasa memanggilmu seperti itu. Lagipula nama itu mamamu yang memberinya untukmu.” Tomy memandang Evelyn dengan sendu.
“Mamaku tidak pernah memberiku nama itu. Sejak awal andalah yang berkuasa. Memangnya anda pikir aku tidak tahu akan hal ini?” Evelyn memicingkan matanya. Saat kecil dulu ia pernah menanyakan hal ini pada mamanya.
“Uhuk!” Tomy terkejut Evelyn mengetahuinya. “Benarkah? Aku benar-benar lupa.” lanjutnya dengan canggung.
“San..”
Belum sempat Tomy menyelesaikan ucapannya, Evelyn segera memotongnya. “Anda sebenarnya bodoh apa pikun?”
Tomy tertegun beberapa saat. Putrinya ini sungguh berubah saat ini. Putrinya yang dulu penurut dan pendiam kini tidak dapat dia sentuh.
“San... Evelyn, apa begini caramu memperlakukan papa kandungmu sendiri?” Ani yang melihat sikap kurang ajar Evelyn segera naik pitam.
“Sudah-sudah. Tidak baik bertengkar di depan makanan. Ayo kita mulai acara makan malam ini.” Tomy segera menghentikan perdebatan ini.
Dia belum memiliki cukup kesempatan untuk berbicara pada Sean dan bahkan Evelyn masalah yang terjadi di perusahaannya. Mana boleh rencana yang sudah dibuatnya hancur begitu saja.
Akhirnya perdebatan berakhir. Mereka mulai mengambil makanan dan mengisi piring kosong mereka.
“Tuan Sean biarkan aku mengisi piringmu.” Vina yang duduk di sebelah Sean hendak mengambil piring Sean.
“Tidak perlu bantuan mu untuk melayani calon suamiku Vina. Aku bisa melakukannya sendiri.” Evelyn yang duduk di sebelah Sean di sisi satunya dengan cepat merebut piring yang sudah dipegang Vina dengan kasar.
Evelyn mengisi piring Sean dengan makanan kesukaan Sean. Setelah itu memberikan piring itu pada Sean kembali.
“Terima kasih sayang. Kamu tahu semua yang aku mau.” Sean tersenyum lembut pada Evelyn.
“Tentu saja.” Evelyn mengangkat dagunya dengan bangga. Kemudian ia juga segera mengisi piringnya dengan makanan.
“Tuan Sean, udang balado di sini sangat lezat. Cobalah.” Vina meletakkan beberapa udang di atas piring Sean.
“Kalau kamu suka makanlah sendiri.” Sean memberikan piringnya pada Vina. Ia tidak suka barangnya disentuh orang lain.
__ADS_1
Vina memandang piring Sean di depannya dengan kesal. Apa bedanya dirinya dengan Evelyn. Jelas-jelas penampilan nya lebih menarik daripada wanita itu. Sebagai laki-laki normal seharusnya Sean akan dengan mudah ia taklukkan.
“Apa yang kamu lakukan Vina? Jangan mengganggu tuan Sean lagi.” Tomy menegurnya.
“Maaf tuan Sean, Vina sangat senang memiliki kakak ipar seperti anda, jadi dia sedikit bersemangat.” Ani mengelus lengan Vina.
“Makanlah yang ini Sean.” Evelyn sudah mengambilkan Sean makanan lagi. Tidak mempedulikan apa yang ketiga orang lainnya bicarakan.
“Kenapa anak-anak tidak kalian ajak ke sini?”
“Tidak perlu membawa mereka.”
“Bagaimanpun aku juga kakeknya San.. Evelyn.”
“Anak-anakku tidak memiliki kakek yang akan membunuhnya saat masih di dalam kandungan.”
“Uhuk uhuk.” Tomy terbatuk. Ia bahkan hampir melupakan fakta itu. Ani segera memberikan air putih pada Tomy.
Dulu ia tidak mengetahui siapa ayah dari janin kembar yang dikandung Evelyn dan dengan terburu-buru memintanya untuk melakukan aborsi. Siapa sangka jika ayah dari kedua bayi yang hendak ia bunuh itu adalah orang besar yang sangat berpengaruh. Dan saat Evelyn kembali membahasnya itu seperti tepat mengenai jantungnya. Sean tidak akan membantunya jika laki-laki itu mengetahui fakta jika ia pernah berniat membunuh anaknya.
“Ehm. Itu semua adalah masa lalu Evelyn. Papa sangat menyesal setelah itu. Apalagi saat orang-orang itu datang dan meminta persetujuan pengalihan identitas. Itu sangat melukai hati papa.”
“Aku sudah selesai. Mana album foto yang anda janjikan?” ucap Evelyn tanpa basa basi. Ucapan Tomy bahkan tidak ia anggap sama sekali.
Aroma harum menguar begitu penutup botol dibuka. Ani memesan anggur termahal di tempat itu. Dengan cekatan pelayan itu menyajikan anggur pada semua orang.
“Bersulang untuk pernikahan kalian.” Tomy mengangkat gelas anggurnya. Vina dan Ani segera mengangkat gelas mereka. Evelyn dan Sean mau tidak mau juga mengangkat gelas mereka.
“Pelayan tuangkan lagi.” Perintah Ani melihat gelas semua orang yang sudah kosong. Pelayan itu melakukan apa yang diperintahkan padanya.
“Jangan minum lagi sayang. Nanti kamu mabuk.” Sean merebut gelas milik Evelyn.
“Tenang saja Sean. Aku sudah terbiasa dengan ini.” Evelyn tidak terima. Ia mengambil gelas lain dan meminta pelayan mengisinya.
Tomy segera memulai rencananya. Ia segera mengeluarkan album foto yang dibawanya. Album foto yang sudah belasan tahun tidak tersentuh. Baru seminggu yang lalu ia Ani memiliki ide untuk membawa album foto itu untuk membuat Evelyn mengikuti kemauan mereka agar Sean Mau membantu perusahaan mereka yang sedang goyah.
Tomy mendekatkan kursinya di samping Evelyn. Membuka halaman demi halaman dan menceritakan kisah yang samar-samar ia ingat di masa lalu.
Halaman pertama terdapat foto Tomy dan Maria, mama Evelyn sedang menggendong bayi yang masih sangat kecil. Dalam foto terlihat kedua orang tua sangat bahagia.
“Ini foto keluarga kita yang pertama.” Tomy mengelus foto itu. Evelyn menyentuh potret sang mama yang lamat-lamat ia ingat kenangannya.
__ADS_1
Tomy membuka lembar demi lembar dan menceritakan foto itu dengan senang. Masa awal pernikahan nya dengan Maria, keduanya hidup bahagia. Apalagi ditambah dengan kehadiran Sandra diantara mereka.
Meskipun Tomy adalah tipe orang pemaksa. Tapi sifat Maria yang selalu mengalah membuat keduanya hidup dalam damai.
“Maria lah yang bekerja keras mengembangkan perusahaan. Maria melakukan apapun untuk membuat perusahaan itu berkembang. Saat ini perusahaan yang diperjuangkan oleh mamamu sedang dalam masalah Evelyn.”
Mendengar ucapan Tomy, pandangan mata Evelyn memicing. Ia melirik tajam papanya itu.
“Aku akan mengambil alih apa yang mamaku perjuangkan.” Evelyn menarik album foto yang dipegang Tomy. Tomy yang tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Evelyn terkejut dan tidak menyadari album foto yang menjadi senjatanya telah berpindah tangan.
“Kamu jangan kurang ajar Sandra! Perusahaan itu milik kami. Bagaimana kamu mau mengambil alih?” Ani tidak bisa lagi menahan diri.
“Oh...sepertinya setelah terlalu lama menikmati hasilnya anda jadi lupa pada pemilik yang sebenarnya? CK ck ck.”
“Evelyn, perusahaan itu adalah satu-satunya sumber penghasilan keluarga ini. Bagaimana kamu memiliki niat untuk mengambilnya?” Tomy tidak percaya. Putri lembutnya berubah menjadi kejam.
“Kamu kurang ajar Sandra!”
“Sudah aku bilang kan jika aku bukan Sandra yang kalian kenal. Aku mengambil apa yang menjadi hakku. Bagaimana bisa dianggap kurang ajar?”
“Tapi bagaimana pun, perusahaan ini berkembang seperti sekarang juga karena papa mu yang mengelolanya.” Ani tidak terima.
“Aku tidak melihat itu. Selama ini kalian sudah mengambil banyak dari perusahaan. Dan aku rasa jika itu dihitung akan lebih banyak dari apa yang seharusnya kalian ambil.”
“Tuan Sean, lihatlah wanita yang anda pilih ini memiliki hati yang kejam.” Vina tidak tahan.
“Oh ya? Tapi di mataku yang dilakukan Evelyn adalah hal yang hebat.” Sean tersenyum bangga pada wanitanya.
“Sandra itu tidak ada apa-apa nya dibandingkan denganku. Lihatlah aku cantik dan sexy. Aku juga tidak memiliki anak yang merepotkan.”
“Anak-anak kami dilihat dari mana merepotkan?” Sean memandang Vina tajam. Anak-anaknya adalah anak-anak terhebat yang pernah ia temui.
“Sudahlah Sean tidak ada gunanya lagi berbicara dengan mereka. Lebih baik kita pulang. Anak-anak pasti sudah menunggu kita.” Evelyn mendorong kursinya. Di tangannya, album foto itu sudah ia dekap di depan dadanya. Sean juga ikut berdiri.
“Dalam beberapa hari, orangku akan datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Sebaiknya anda persiapkan itu daripada orangku mengambilnya dengan paksa.” Ucap Evelyn sebelum pergi bersama Sean.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 🤩